Thursday, August 28, 2014

Pulang ke Jogja

Sebagai orang yang kenyang menclok sana sini, kembali ke lingkungan yang dulu dikenal adalah kenikmatan tak terhingga. Terlebih lagi jika tempat itu bernama Jogjakarta. Saya yakin, siapapun yang pernah tinggal di Jogja, pasti selalu kangen untuk kembali. Katon, Lilo, dan Adi nggak bohong, suasana Jogja itu begitu melekat.
Betul sekali, Pak Anies! (dari sini)
Jogja bukan cuma penting bagi saya, tetapi bagi keluarga kecil saya. Di situlah saya dan suami bertemu. Makanya, Jogja selalu punya tempat di hati saya. Perjalanan kali ini boleh dibilang merupakan impian yang terwujud. Sejak menikah, saya belum pulang ke Jogja, suami sih lebih sering. Baru kali ini kesampaian pulang bertiga ke sana. Kami ingin berbagi kenangan dengan Rasya, ke mana dulu kami sering kencan, kampus tempat bersua, hingga keramaian kota.

Napak tilas, menelusuri lagi jejak-jejak kami dulu. Nostalgia perut, menikmati semua kuliner yang biasa kami makan dulu. Berkunjung ke rumah kedua di Jogja, kampus tercinta. Di sisi lain, saya juga ingin memberikan Rasya petualangan kecil. Dari rumah mertua di Bogor, kami berangkat dengan commuter line, turun di Gondangdia, disambung bajaj, naik kereta Bima dari Gambir. Di Jogja Rasya sempat naik bis dan andong alias delman. Petualangan kecil Rasya ditutup dengan naik pesawat kembali ke Jakarta.

Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan Rasya luar biasa senang menikmati beragam pengalaman baru. Saya dan suami juga sama-sama happy karena sempat mewujudkan beberapa rencana bertemu teman-teman. Reunited, and it feels so good! Tapi jujur nih, empat hari di Jogja kurang lama. Inginnya mah seminggu supaya bisa jalan-jalan ke pantai. Eh kalau seminggu pasti juga kurang ya? Akhirnya sih semua tergantung pada dompet. Jika sudah semakin tipis, maka itu tanda untuk kembali ke Jakarta dan menabung lagi supaya bisa liburan lagi! :D

Begitulah, liburan pasti harus berakhir. Sekarang saatnya saya dan suami memulai aktivitas baru di bulan September, sementara Rasya kembali bersekolah. 

Mudah-mudahan bisa ke Jogja dan reuni dengan lebih banyak teman. Bagi saya, banyak hal dari Jogja yang bikin kangen. Itulah kenapa setiap ke Jogja selalu terasa pulang ke rumah.




Sunday, August 17, 2014

Merdeka!

Pagi ini saya membaca sebuah posting seorang teman di timeline media sosial. Tertulis begini, "Independence can start early at home." Lalu ia berbagi tautan dari halaman Maria Montessori, tentang pekerjaan rumah tangga apa saja yang bisa dilakukan anak di rumah. Ya, bahkan anak usia 2 - 3 tahun pun bisa ikut melakukan pekerjaan rumah tangga. 
Semua pekerjaan rumah tangga kadang terlihat sederhana, tetapi masih ada orang yang tak terbiasa melakukannya. Ada banyak contoh hal itu di sekeliling saya. Apalagi tinggal di kota besar, umumnya setiap rumah tangga punya satu asisten rumah tangga (ART). Karena terlalu enak dibantu oleh ART, kita sering kewalahan jika nggak punya ART. Sampai lupa (atau malah nggak tahu) bagaimana mengerjakan pekerjaan rumah tangga. 

Bukan, bukan berarti saya anti ART. Butuh banget malah. Namun, saya merasa sangat penting mengajarkan anak sejak dini berbagai keterampilan urusan rumah. Mulai dari yang paling mudah: meletakkan kembali barang yang sudah dipakai di tempat semula, membuang sampah pada tempatnya, menaruh pakaian kotor di tempat khusus, dan membereskan mainan setelah bermain. Semakin besar anak, semakin bertambah pula 'tugas'-nya di rumah. Itu pun bukan 'tugas' semata, bukan juga pekerjaan rumah (PR), tetapi modal bagi anak untuk mandiri, berusaha memenuhi kebutuhan diri sendiri. 

Pada dasarnya, itulah peran orang tua, yakni mendidik anak untuk mandiri, sehingga anak mampu mengurus dirinya sendiri. Yang kadang terjadi malah sebaliknya, mengurus semua keperluan anak sampai hal terkecil, dengan alasan supaya cepat dan nggak ribet. Anak pun akhirnya jadi enggan dan tak tahu cara mengurus dirinya, karena TERBIASA diurus oleh orang tua. Bayangkan kalau ini berlangsung bertahun-tahun hingga si anak remaja, pusing 'kan? 

Usaha memenuhi kebutuhan diri sendiri itulah yang disebut merdeka, belajar untuk bergantung pada diri sendiri. Pelajaran ini susah susah gampang lho mengajarkannya. Ya itu tadi, balik pada hasrat orang tua ingin melindungi dan membantu anak sebisa mungkin. Sering merasa nggak tega minta tolong pada anak, atau merasa kasihan kalau anak diberi pekerjaan rumah tangga padahal sudah capek seharian sekolah.

Namun, pernyataan berikutnya adalah kita, orang tua, belum tentu bisa mendampingi anak terus menerus. Nanti ada masanya si anak akan pergi berkemah di gunung bersama teman-temannya, ikut kegiatan karyawisata seminggu, atau bahkan kuliah di kota lain dan harus nge-kost. Kalau semua urusan rumah, yang sebetulnya keperluan pribadi si anak, kita kerjakan terus, bagaimana ia akan melakukan itu nanti saat tak bersama kita? 

Jadi, yuk mulai memberikan kesempatan pada anak untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Sedini mungkin, seperti check list yang saya dapat dari posting teman saya di atas. Membiasakan suatu hal pada anak tak akan membuat pekerjaan itu terasa berat, karena sudah terbiasa dan tahu itu kebutuhannya. Dengan memberikan kesempatan, anak belajar mencoba melakukannya, sehingga tahu kalau melakukan pekerjaan rumah tangga itu nggak sulit. Ia pun akan percaya diri dan yakin bahwa ia bisa mengandalkan diri sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Sesekali pasti ia akan bertanya dan meminta tolong pada kita, tapi lambat laun ia akan terbiasa dan mau melakukan urusan rumah tangga dengan senang hati. Semua itu demi masa depan anak!

Bantu anak memperoleh kemerdekaan diri, ini tugas utama kita sebagai orang tua. :)

DIRGAHAYU KE-69 NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

MERDEKA!


Wednesday, August 06, 2014

Idul Fitri 1435 H

Alhamdulillah, tahun ini saya bisa berlebaran bersama keluarga besar di Jakarta, seiring kepindahan kami sekeluarga secara bertahap ke ibukota. Rasanya nikmat bisa berpuasa dekat orang tua, tetapi nggak enak juga jauh-jauhan sebulan dengan suami, hehehe. Semoga bulan ini kami segera kruntelan bertiga lagi, suami, saya, dan Rasya :)
Masih dalam masa transisi begini, semua masih abu-abu, belum terang benar. Namun, ada enaknya juga, waktu bersama Rasya lebih banyak dan saya banyak mengamati perkembangan bahasa Rasya yang luar biasa pesat! Sangat mengagumkan, mengingat tiga bulan lalu ia baru bisa mengucapkan 'Mama' saja. Nggak enaknya ya.....belum ada dana segar yang mengalir ke rekening hihihi. Mohon doa ya supaya saya lekas berjodoh dengan pekerjaan baru. Amiiinnn! 

Oya, saya juga berutang cerita soal sekolah Rasya nih, dan beberapa cerita lain yang masih tertunda. Tunggu ya! :D

Atas nama saya pribadi, saya menghaturkan:

Selamat Idul Fitri 1435 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Amplop, amploppp! Ada yang mau?

Powered by Blogger.