Waiting for a miracle(4): Joget dalam perut

Memasuki 21 minggu, sepertinya gerakan si baby semakin heboh. Sampai dua minggu lalu sih hanya terasa kedut-kedut sana sini. Namun, sudah beberapa kali saya merasakan sesuatu yang heboh dari dalam perut, sampai perut saya terasa bergetar. Apakah itu tendangan si baby? ;)

Seperti kemarin malam, saat saya sedang beristirahat setelah memasak. Kulit perut memang terasa lebih tebal dan kencang belakangan ini, seiring pertumbuhan si baby. Ketika selonjoran, tiba-tiba ada jedug! Perut bergetar. Saya usap perut, eh...jedug! Saya pun tertawa geli sambil mengusap perut lagi. 
"Hahaha, kamu heboh amat, baby!"
Jedug!

Tepat tiga kali si baby ber-jedag jedug ria dalam perut. Sayang, saat saya minta suami pegang perut, si baby sudah lebih kalem. 

Tadi pagi pun saat terbangun dan mengubah posisi tidur saya ke sisi kiri, si baby bergerak lagi. 

Kamu lucu sekali deh, Nak! 


Nah, terkait aksi joget si baby, saya menemukan beberapa artikel di internet tentang gerakan janin, berikut bagaimana merangsang perkembangan janin sejak dini. Ada beberapa hal menarik yang baru saya mengerti dan paham, mengapa harus berlaku demikian. Ini nih yang saya dapatkan.
  • Selama ini saya dan banyak ibu lainnya percaya bahwa memperdengarkan musik klasik pada janin akan membantu perkembangan kecerdasan anak kelak. Saya pun melakukannya dengan meletakkan earphone di perut dan memutar lagu-lagu Mozart atau ayat Al Quran. Ternyata, anggapan itu belum terbukti benar 100%! Banyak ilmuwan yang bersikap skeptis terhadap pernyataan itu. Sementara, anggapan itu sebetulnya hanya kemasan jualan saja. Nah lho... Faktanya, ada banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan janin, sehingga terlalu dini untuk menyimpulkan apakah memperdengarkan musik pada janin dapat mempengaruhi bayi saat ia lahir nanti. Beberapa ahli dan dokter berpendapat, reaksi fisik janin (detak jantung, gerakan) pada musik bisa jadi cenderung mengarah pada rasa tidak nyaman daripada nyaman. Jangan sampai karena ibu merasa janin responsif pada setiap perlakuan ibu, lalu ibu merangsang janin secara berlebihan (overstimulate). Jadi, gimana dong? Salah satu artikel yang saya baca menyarankan, saat ibu sedang bekerja atau membaca, pasang musik dengan volume normal, tidak terlalu keras. Begitu juga dengan durasi aktivitas mendengarkan musik. Beberapa ahli menyarankan, bersantailah dan nikmati musik seperti yang normal ibu lakukan, dan lebih besar kemungkinan janin akan juga bersantai bersama ibu (Sumber: Pregnancy Music for Fetal Development: Mozart or Bach?).
  • Dr. Thomas R. Verny, seorang ahli yang meneliti efek lingkungan prenatal dan pasca kelahiran dalam perkembangan kepribadian, stimulasi pada masa prenatal (kehamilan) berdampak positif pada perkembangan kesehatan janin. Ada banyak cara yang membantu ibu dan juga ayah tentunya untuk berinteraksi dan memberikan stimulasi pada si baby. Yang penting, lakukan seperlunya, dengan takaran yang tepat, dan nggak berlebihan, sehingga nggak overstimulate tadi. Pertama, selalu ajak ngobrol si baby, seolah dia memang sudah ada di sebelah kita. Ngobrol, bernyanyi, atau bergumam tentang apa saja yang kita lakukan hari ini, kegiatan yang sedang atau akan kita lakukan. Mungkin kita menganggap merasa aktivitas tersebut adalah hal biasa, tetapi untuk si baby di dalam perut segala sesuatu yang ibu lakukan selalu menjadi hal baru dan menyenangkan! Kedua, berinteraksi lewat sentuhan dan usapan. Saya biasa melakukannya saat mandi, saat mengoleskan krim anti-stretch mark di perut, saat sedang mendengarkan musik, saat berbicara dengan si baby, atau menjelang tidur. Saya juga mengajak suami untuk ikut ngobrol. Biasanya lewat sapaan pagi, siang, sore, malam, atau setelah makan. Ketiga, kita sebagai ibu wajib hukumnya untuk menjaga kondisi mental untuk tetap berpikir positif dan menghindari stress. Semua kebutuhan si baby bergantung 100% pada diri kita: fisik, psikologis, dan emosional. Jadiii, kita harus selalu berusaha menciptakan lingkungan yang kondusif untuk si baby (Sumber: Make Happy Smart Baby Series: Make Smart Baby Since In The Womb).


    Ternyata memang si baby ini mengagumkan! Bahkan meski masih ngontrak sementara dalam rahim saya (sampai kehamilan 9 bulan nanti!), dia sudah dapat mendengar dan merasakan apa saja yang saya rasakan, lakukan, dan juga saya makan.


    You're amazing, baby! 
    You're really my star!
    I love you so much! :*



No comments:

Powered by Blogger.