Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Tuesday, April 08, 2014

Puding Karamel Kukus

Saya suka banget dengan puding karamel!
Dulu Mama saya pernah coba membuat di rumah, dengan menggunakan custard dan dipanggang di oven di atas loyang yang sudah diisi air. Tapi hanya sekali itu saja. Lalu saya juga belum pernah mencobanya karena dalam pikiran saya bikinnya rumit pakai oven dan loyang berisi air. Belum lagi menggosongkan gula sampai menjadi karamel. Jadinya, saya cuma bisa menikmati puding karamel buatan bude saya setiap arisan keluarga.

Minggu lalu saya nonton acara Bake with Anna Olson di AFC tentang puding kukus. Ia memperagakan bagaimana membuat puding kukus (steamed pudding), sebetulnya lebih cocok disebut cake kukus sih, dengan dua cara: memanggang di oven di atas loyang berisi air atau mengukusnya di dandang/panci. Nah, dari situ saya teringat proses bikin puding karamel. Berarti sama saja dong? Kalau begitu, tanpa dioven, puding karamel itu tetap bisa dimasak dengan kukusan!

Langsung deh berburu resep. Sayangnya, saya belum menemukan resep bahasa Indonesia yang memuat puding karamel kukus, kebanyakan dari blog Malaysia. Salah satu yang jadi acuan saya ada di sini, tetapi saya hanya mengambil cara memasaknya saja. Sementara untuk resep, saya mengacu pada Puding Karamel dari Sajian Sedap.


Puding Karamel

Bahan
Karamel
100 gr gula pasir
75 ml air

Puding
4 butir telur
1/8 sdt garam
1/2 sdt vanilla bubuk
60 gr gula pasir
400 ml susu cair

Cara membuat
  1. Untuk karamel, panaskan gula di atas wajan/panci dengan api sedang, tunggu hingga mulai meleleh, masukkan air sedikit-sedikit. Aduk rata sampai tercampur, matikan api. Tuang dalam cetakan yang sudah diolesi mentega/margarin tipis-tipis. Sisihkan.
  2. Panaskan kukusan, pastikan jumlah air cukup.
  3. Dalam wadah, pecahkan telur, tambahkan garam & vanilla bubuk, kocok lepas sebentar. 
  4. Masak susu dalam panci, panaskan hingga suam-suam kuku (tidak sampai mendidih).
  5. Campur susu ke dalam kocokan telur, aduk rata. 
  6. Masukkan adonan susu tersebut ke cetakan yang berisi karamel tadi, sambil disaring supaya adonan tetap bersih.
  7. Kukus puding selama 45 menit. 
  8. Setelah matang, angkat, diamkan dalam suhu ruang hingga uapnya hilang, dan simpan di kulkas dulu kira-kira 1-2 jam, lalu sajikan.

LESSON LEARNED!
  • Biasanya saya menggosongkan gula pasir pakai teflon, cuma kadang terlalu gosong. Jadilah kemarin pakai panci. Eh, tapiiiiii saya memasukkan air terlalu cepat sehingga gulanya malah kurang gosong dan terlalu cair hehehe. Next time, bikin karamel memang perlu ekstra sabar dan sepertinya pakai teflon atau wajan lebih sip!
  • Saya menggunakan dua kukusan: dandang dan kukusan Tupperware yang ditaruh di atas wajan. Hasilnya entah mengapa berbeda. Puding yang dikukus di dandang teksturnya berlubang dan kurang lembut. Sementara yang di kukusan hasilnya lebih lembut dan nyaris tanpa rongga. Memang sih saya sempat mengecilkan api kukusan karena kalau mengukus menggunakan wajan, airnya lebih cepat menguap. Baru di saat-saat terakhir saya besarkan apinya. Apa karena pengaruh itu? Nggak tahu juga ya. Ini masih jadi PR saya untuk puding karamel berikutnya. 
Biarpun setengah gagal, rasanya mah tetap enak! Ya ampun, saya sampai merem melek pas makan pudingnya, ternyata begini cara buatnya! Kenapa nggak dicoba dari dulu yaaa?

Monday, April 07, 2014

Catatan Rasya (25): Huruf Apa Ini?

Masih dalam cerita menunggu jebolnya tanggul bicara Rasya. 

Setiap membaca soal anak yang belum lancar bicara, saya langsung mengamati tips yang diberikan. Ternyata semua tips itu sudah saya lakukan, terutama membacakan cerita, menyanyikan lagu, dan sering berbicara pada Rasya. Memang sih ada hal yang belum bisa saya hentikan total, yaitu menonton TV. Sampai saat ini acara favorit Rasya banyak di Disney Junior, saya dan suami berusaha mengimbangi waktunya menonton TV dengan bermain. Toh Rasya tetap balita yang aktif. Ia nggak begitu tahan duduk manis nonton TV. Pasti sambil jalan-jalan atau mobil-mobilan. Kalau bosan ya ditinggal pergi dan asyik main hal lain (yes, giliran Mama nonton serial favorit!).



Rasya juga main tablet, tapi hanya pada hari libur. Salah satu permainan favorit Rasya di tablet adalah 'Tido di Negeri Huruf' dari Gobaksodor Interactive. Permainan ini mengajak anak belajar mengenal huruf bersama Tido, seekor komodo biru yang siap berpetualang di Negeri Huruf. Ada tiga belas area di Negeri Huruf yang dijelajahi Tido, setiap area memiliki dua huruf. Anak bertugas untuk menjalankan Tido dengan gerakan lompat (naik) dan ke kanan/kiri. Tido harus melompat pada setiap huruf yang ada dan akan mendapatkan poin jika berhasil. Setelah sukses pada satu area, anak akan berlanjut ke area selanjutnya, begitu terus dari huruf A sampai dengan Z.

Karena Rasya masih kesulitan menjalankan Tido, ia selalu minta tolong pada saya setiap ingin bermain ini. Maka, saya menjadikan permainan ini sebagai sarana kami berdua menghabiskan waktu bersama. Pada awalnya, Rasya hanya menyimak huruf yang muncul. Lambat laun, ia mulai bisa mengenali huruf apa ini, huruf apa itu. Seperti akhir pekan kemarin, Rasya sudah mulai bisa menyebut beberapa huruf konsonan seperti H, J, K, Q, dan S. Untuk huruf lain, ia sudah bisa menyebut huruf vokalnya, seperti (b)e, (c)e, atau (p)e, tetapi masih berlatih menyebut huruf konsonannya. Sementara huruf vokal A, I, U, E, O, Rasya sudah jago banget! Di mana-mana setiap melihat huruf itu ia akan lantang menyebutnya.

Wow, saya kagum dengan perkembangan bahasa Rasya. Meski hingga saat ini ia masih lebih banyak babbling dan berkata seperlunya saja, tapi daya serap Rasya terhadap kata cukup tinggi. Ia mengerti huruf, tahu nama-nama benda dan warna, serta bisa menyebutnya dengan tepat. Tinggal melafalkan kata-kata saja. Eh tapi kemarin saat minta kacang, ia sempat bilang 'ca-cang' lho! Mudah-mudahan saya nggak salah dengar :p

Ya, memang betul, punya anak balita itu tantangannya luar biasa. Kadang capek setiap kali ditanya orang, anaknya kok belum lancar bicara, kenapa mulutnya tertutup terus nggak bicara. Padahal, Rasya cukup komunikatif dan mampu memahami apa yang diminta orang lain. Berkali-kali pula saya menekankan pada diri sendiri, pasti sebentar lagi tanggulnya jebol, Rasya sebentar lagi bisa bicara, tunggu saja. Karena kita sebagai orang tua tidak bisa 'memaksa' anak untuk cepat-cepat mencapai milestone-nya 'kan? 

Pemberian puzzle huruf atau permainan huruf saya lakukan untuk merangsang Rasya bicara, bukan mengajarinya membaca. Jika Rasya lebih dulu kenal huruf daripada berucap kata, mungkin memang alurnya untuk berbicara demikian. Perkembangan setiap anak berbeda-beda, ada yang lancar bicara dulu baru belajar huruf, ada juga yang sebaliknya. Saya masih optimis Rasya akan segera berucap kata! 

Ayo, Rasya, Ayah dan Mama menunggu lebih banyak kata meluncur dari bibir mungilmu! :*