Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Thursday, May 31, 2012

Cerita tentang Si Mbul :)

Si Mbul hadir dalam kehidupan saya sejak tahun 2006, tepat saat saya sedang diburu waktu untuk menyelesaikan kuliah. Kehadiran Si Mbul membuat saya harus mengistirahatkan saudara tua Mbul, plus diinapkan di Psikomedia (sepertinya masih ada tuh saudara tua Mbul). 

Si Mbul sangat spesial bagi saya. Spesial karena waktu itu memiliki Mbul adalah kebanggaan. Spesial karena dengan Mbul, hidup saya lebih mudah. Spesial karena dengan Mbul, saya bisa segera menyelesaikan kuliah. Spesial karena dengan Mbul, saya banyak merajut cerita bersama seseorang. 

Si Mbul selalu setia menemani saya, di manapun dan kapanpun. 

Dari Jakarta ia diboyong ke Jogjakarta dan menetap selama 2 tahun. Di Jogja pun sudah berkelana, nggak cuma rute kost-kampus, tapi juga ikut ke Banguntapan, tempat KKN saya. Belum lagi Mbul juga suka ikutan ngafe di Kedai Kopi atau Open Kitchen (yang ini sudah tutup). 

Dari Jogjakarta, ia pulang kampung ke Jakarta alias Tangerang alias rumah orang tua saya. Ia juga yang menjadi saksi perjalanan karir saya yang lompat sana sini. Dari freelancer illustrator ke senior staff event organizer, sampai terakhir menjadi assistant manager - Business Development

Di Kebon Jeruk, Mbul menjadi teman bertengkar, sekaligus teman diskusi setia. Mbul membantu saya melahirkan banyak program, artikel, desain materi promosi, sampai dengan video-video seru. Ada kalanya Mbul ngambek, sakit, sampai terpaksa di-opname. Mbul juga ikut naik turun TransJakarta, taksi, dan tentu saja mobil adik saya. Namun, Mbul selalu berdiri di garis terdepan ketika saya membutuhkannya.

Mbul juga menemani saya melewati hari-hari pingitan menjelang pernikahan, satu momen penting dalam hidup saya. Momen yang memang sudah ditunggu-tunggu Mbul! 

Pun akhirnya Mbul ikut bersama saya hijrah ke pulau seberang. Ia menjadi saksi karir baru saya, sebagai seorang guru BP. Mbul serumah dengan Oren, yang sama setianya pada suami saya. 


Sayangnya, Mbul hanya kuat menemani saya beberapa bulan awal saja. Saya juga yang bersalah, berpaling pada yang lain, dengan alasan yang lain itu lebih memudahkan saya. Mbul agak menyusahkan saya, apalagi saat saya hamil. Mbul pun teronggok lama di rumah, hampir setahun.

Sampai suatu hari, pasca melahirkan Rasya, suami saya mengajak Mbul untuk medical check-up. Mbul dicek kesehatannya, diterapi, dan... Alhamdulillah Mbul masih fit, sehat, sama seperti dulu!

Kini Mbul kembali hadir dalam hidup saya, berdampingan dengan saudara muda. Saya menata dan mendandani Mbul kembali, supaya tetap cantik dan rapi. Bagaimanapun, Mbul tetap tiada duanya, ia punya ketangguhan yang hanya dimilikinya seorang! 

Ya, selamat datang kembali, Si Mbul!! :D

Si Mbul duduk manis di meja kerja saya :)




Kami pun hobi bergaya! :D

Cuplikan kehebohan kami, para guru SMP YPK, dalam acara Perpisahan Kelas 9 Angkatan 26 SMP YPK, beberapa waktu lalu. Karena ini acara spesial, maka kami pun juga tampil spesial! :D


Sunday, May 27, 2012

Rasya's first photoshoot!

Long weekend dua minggu lalu kami habiskan dengan berfoto di salah satu studio foto di kota kami. Ehem, ini studio foto baru itu lho dan harganya sangat-sangat masuk akal (tidak menyebut studio foto kondang satunya). Suami sudah berencana kalau foto keluarga kami akan mengenakan pakaian motif kotak-kotak. Untuk Rasya, saya menyiapkan kemeja GAP (yang harganya sepersekian harga aslinya, hehehe) dan sebuah celana montir. Tadinya Rasya mau saya pakaikan sepatu merah-coklatnya, tetapi sudah ngepas. Jadilah sepatu prewalker Mothercare naik pangkat. 

Sepanjang sesi foto, saya dan suami bersusah payah membuat Rasya tersenyum atau tertawa. Mulai dari pasang wajah aneh, mengeluarkan suara lucu, sampai menggunakan boneka. Hasilnya? Aih, dia masih malu-malu untuk berekspresi. Padahal, kalau di rumah suaranya kencang sampai terdengar keluar rumah. Fotografernya sampai mati gaya juga membuat Rasya ketawa, hehehe. 


Untung Rasya nggak rewel atau menangis. Menurut saya, ia memang masih mengamati lingkungan jika berada di tempat baru. Jadi, nggak langsung on, panasnya lama. Wajar ya, masih bayi juga. Mungkin seiring perkembangannya nanti, perlahan ia bisa lebih cepat beradaptasi. Yang jelas, untuk sesi foto pertama kali, ini terbilang lumayan sukses. Meskipun hebohnya nggak berimbang antara Ayah-Mama dan Rasya, hehehe :D

Ini sebagian fotonya! 





Saturday, May 26, 2012

1001 Ekspresi Rasya

Oke, sebenarnya nggak 1001 sih, tapi ini menunjukkan bagaimana Rasya mulai punya beragam ekspresi. Senyum ganteng, lesyu, jengah, girang, galak, juga menangis. Eh, tapi saya baru sadar jarang punya foto Rasya menangis di HP. Habisss...kalau Rasya menangis, mana sempat foto? Hehehehe :)

Enjoy!


Thursday, May 17, 2012

Super Lil' beraksi! :D

Video-video berikut direkam dengan kamera HP saya. Memang dibuat dengan resolusi rendah supaya bisa segera dikirimkan pada Eyang Uti dan Atung Rasya di Jakarta. Maklumlah, sejak jadi mama Rasya, HP saya penuh dengan foto dan video Rasya. Tidak ingin terlewat satu momen pun!

Yuk, lihat bagaimana Rasya beraksi!

PS. Sepertinya Rasya 'sok ngerti' setiap direkam. Ada kalanya saya menunggu ia tertawa, eh yang ditunggu nggak muncul. Giliran sudah selesai direkam, Rasya malah ngoceh atau tertawa. Hadeuh....

Catatan Rasya(5): Lil' super aktif!

18 Mei 2012, Rasya persis empat bulan! Yeay! 
Lil' boy semakin aktif dan ramai! Setiap hari rumah selalu heboh dengan celotehan dan teriakan nyaring Rasya. Aktivitas kami bila hari libur pun berfokus pada Rasya: mengajak Rasya jalan pagi, mandi, bermain, sampai tidur bareng. Rasya juga mulai mengerti jika kami sibuk atau meninggalkannya sejenak, ia akan menangis minta diperhatikan. 

Setiap saya pulang kerja, Rasya juga paham. Mendengar suara saya, ia akan tersenyum senang. Rasya akan menangis jika memang ia tidak nyaman, mengantuk, dicuekin, atau lapar. Selebihnya, ia senang sekali tersenyum dan bermain. Energinya banyak! Kadang saya sampai kewalahan, hehehe. Padahal, ia baru empat bulan ya, pasti semakin besar semakin aktif!

Soal pola tidur, sudah sejak usia tiga bulan, Rasya tidur malam lebih teratur. Ia bisa tidur untuk waktu lama, kira-kira 5-6 jam, lalu terbangun sekitar pukul 2 pagi untuk mimik dan tidur lagi sampai subuh. Relatif mudah bagi saya juga untuk mengisi ulang energi selama Rasya tidur. Pun soal jumlah ASIP yang ia minum. Jika saya tinggal kerja setengah hari, ia bisa menghabiskan 2-3 botol ASIP rata-rata 90 ml/botol. Bahkan, jika sedang lapar, 90 ml itu pun bisa kurang! Alhamdulillah, ASI saya masih lancar, sehingga Rasya benar-benar hanya full ASI sampai enam bulan nanti.

Perkembangan fisiknya juga pesat. Begitu pun kemampuan motorik kasar dan halusnya. Ia kini hobi menggenggam segala benda yang diberikan padanya. Rambut saya saja ditarik kencang. Pernah sekali ia menarik kacamata saya saat digendong. Ia juga sedang senang-senangnya mengangkat kaki dan menjepit benda dengan kedua kakinya, seperti guling atau jerapah kesayangannya. Plus, tendangan kakinya itu mantap!!! Setiap mandi, Rasya heboh menendang-nendang bak mandi. Giliran kami yang deg-degan takut ia terantuk. Untuk tengkurap, sebetulnya sih Rasya sudah bisa balik sendiri dari posisi tengkurap ke telentang. Namun, dari posisi telentang ke tengkurap masih harus dibantu dimiringkan tubuhnya. Itu pun kadang ia malas kembali ke posisi telentang, dan lebih sering minta tolong dibalikkan (_ _)" Akan tetapi, mengesot alias merayap adalah keahlian Rasya saat tengkurap. Bisa lho ia berpindah tempat atau berputar 90 derajat dari posisi semula saat tengkurap!

Sejak tiga bulan pula, leher Rasya sudah kuat menopang kepalanya. Ia suka bergaya enggan bersandar saat dipangku atau digendong dalam posisi setengah duduk. Pasti ia mengangkat kepalanya, bahkan kadang seperti ingin bangun! Duduk adalah posisi favoritnya saat ini. Tentu saja tetap disangga, tidak dilepas begitu saja karena posisi duduknya belum bisa tegak. Namun,  ia senang sekali digendong posisi duduk. Rasya yang rewel pun langsung tenang jika dipangku demikian :D

Empat foto di kiri atas: Rasya dan mainannya
Empat foto di kiri bawah: Rasya's tummy time!
Foto kanan atas: sit like a boss!
Foto kiri bawah: jerapah bersahabat
Dua bulan lagi, Rasya Insya Allah akan lulus ASI eksklusif dan mulai makan. Saya sangat senang menanti hari itu! Semoga Rasya tumbuh sehat dan kuat! Sesuai namanya, Rasya memang super aktif!!


Featured on @MommiesDaily, yeay!!


Wohooo! Tulisan saya dimuat lagi di Mommies Daily! Jika dua tulisan sebelumnya bertopik kehamilan, kali ini pengalaman saya menjadi ibu berjudul Ibu, Sutradara Tumbuh Kembang Anak. Tulisan itu saya kirim saat Rasya masih berusia 1,5 bulan. Senaaaannnnggg!!!! 

Siapa bilang jadi ibu kita tak bisa melakukan hal-hal yang kita sukai? Untuk saya, MENULIS! 

That's my passion! :D

Enjoy!


Monday, May 14, 2012

Naik panggung, siapa takut? :)

Ya! Sejak bekerja di SMP YPK, saya sudah beberapa kali terlibat dalam kepanitiaan suatu kegiatan. Biasanya sih saya cenderung main aman alias jadi orang belakang layar saja. Ndilalah, saat kegiatan Malam Refleksi tahun lalu saya diminta menggantikan seorang rekan untuk menjadi moderator acara temu alumni. Karuan saya deg-degan, bingung, mesti apa. Persiapan kilat dan modal percaya diri rupanya membuahkan hasil manis. Rekan-rekan guru menganggap acara tersebut berlangsung sukses dan bagus. Alhamdulillah! Eh siapa sangka, pada acara Malam Refleksi bulan lalu, saya pun diminta menjadi moderator lagi. 

Belakangan, saya menerima tawaran menjadi pembicara pada arisan ibu-ibu suatu departemen PKT. Kebetulan topik yang diangkat adalah tentang remaja, yang mana memang cukup saya kuasai mengingat sehari-hari saya bekerja sebagai guru BP. Para ibu anggota arisan kebanyakan memiliki anak usia remaja. Eh ternyata, sebagian besar para ibu itu adalah orang tua murid di sekolah. Akhirnya, malah membuka kesempatan bagi para ibu untuk bertanya langsung tentang permasalahan putra-putrinya di sekolah maupun di rumah. 

Gambar diambil di sini
Sabtu kemarin saya diminta untuk menjadi moderator di acara Seminar Cenat-Cenut Remaja di SMA YPK. Acara ini sejatinya merupakan program Pusat Informasi dan Konseling Remaja YPK alias YCC (YPK Counseling Center). Seminar itu membahas bagaimana problematika remaja ditinjau dari tiga sisi, yakni hukum, kesehatan, dan psikologi. Peserta adalah para siswa SMA yang merupakan anggota PIK-R di sekolah masing-masing. Nantinya, anggota PIK-R ini akan menjadi tempat pertama bagi teman-temannya untuk konseling. Jadi, seminar itu ibarat training of trainers untuk para siswa, terutama seputar problematika remaja.

Pengalaman perdana menjadi moderator di luar SMP ini membuat saya bersemangat. H-7 saya sibuk menyiapkan 'contekan' untuk dibaca, termasuk berguru pada seorang rekan guru yang memang terbilang senior untuk dunia MC, yaitu Pak Abdul Hakim. Persiapan materi plus mental itu sukses membuat saya lebih tenang dan tidak grogi, hehehe. Lama-lama, saya akui, saya mulai terbiasa tampil di depan umum. 

Alhamdulillah, acara kemarin berlangsung sukses. Respon positif saya terima dari banyak pihak, termasuk peserta, panitia, dan para narasumber. Satu hal, saya senang mengikuti acara demikian, karena membantu saya memperluas jaringan di Bontang, yang memang masih saya bangun dari nol. 

Di sisi lain, saya semakin sadar bahwa saya memang memiliki kemampuan untuk menjadi moderator atau pembicara. Iya sih menjadi seorang guru banyak berpengaruh pada bagaimana saya berbicara di depan umum. Ini juga merupakan pembelajaran yang saya dapat ketika di Personal Growth dulu, saat Mbak Ratih Ibrahim 'memaksa' saya untuk berani menyampaikan materi. Seiring waktu, semakin sering saya mengajar, semakin meningkat pula kemampuan saya: menguasai materi, berinteraksi dengan audience, sampai bagaimana membangun suasana lewat humor dan aksi berani malu! Padahal, boleh percaya boleh tidak, dulu saya adalah orang yang amat sangat ja-im alias jaga image. Pemalu luar biasa dan cenderung nggak asyik. Namun, keinginan untuk bisa berkembang dan menambah keterampilan diri sejak di Personal Growth dulu membuat saya berani keluar dari tempurung yang selama ini mengkungkung diri saya. 

Kini, saya tengah menikmati serunya mengajar, sambil sesekali menerima tawaran naik panggung (tentu saja bukan menyanyi karena saya sadar betul suara ini cukup merdu di telinga Rasya saja). Practice makes perfect! Semakin banyak latihan, semakin banyak menjawab tantangan, semakin meningkat pula kemampuan kita! Oya, selalu mau belajar dan bertanya itu harus! Saya juga masih belajar lho.

Ehem, sepertinya saya harus mengakui bahwa keberanian saya naik panggung-tapi bukan menyanyi ini turunan juga dari Mama, yang selama ini kondang sebagai MC sewaktu masih bertugas di PLN Pusat maupun PLN Litbang. Well, buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya :)

Gambar diambil dari sini

Selamat datang passion baru saya! Public speaking!




Wednesday, May 02, 2012

#RumahCokelat (bagian 2): Pencerahan!


Minggu ini saya membaca ulang buku Rumah Cokelat. Ternyata membaca kali kedua ini memberikan sensasi berbeda. Jika pertama kali membaca buku, saya masih cuti melahirkan, maka pada kesempatan kedua ini, saya sudah bekerja kembali.

Begitu membuka halaman-halaman awal, saya langsung tergugah. Saya sangat sangat memahami perasaan Hannah, yang terjebak dalam situasi antara karir dan membesarkan Razsya. Bagaimana ia berusaha menjadi ibu yang baik untuk Razsya, sekaligus ‘memenangkan’ hati Razsya yang dianggapnya lebih dekat dengan Upik. Meski dalam cerita saya Rasya baru tiga bulan, tetapi saya juga merasa sedih bila ia bisa terlelap begitu saja bila digendong orang lain. Sedikit merasa tersaingi, di samping juga lega karena ada yang membantu.

Awal minggu kembali bekerja, saya langsung sibuk diburu waktu untuk mempersiapkan mental murid kelas IX. Memang setiap istirahat saya sempat pulang untuk menyusui langsung, tetapi begitu ada acara ekstra pada malam hari dan saya bertugas, mau tak mau saya harus meninggalkan Rasya di rumah bersama ayahnya. Suami sih bolak-balik meyakinkan bahwa ia bisa menjalankan tugas itu (and he did it well!), tetapi saya tetap merasa bersalah dan tidak tenang meninggalkan Rasya di luar jam kerja. Malam itu pun setelah tugas selesai, saya buru-buru pulang. Benar saja, Rasya sudah terbangun dua jam. Meski sudah minum ASIP, tetap ia belum mau tidur. Ah, Rasya rupanya menunggu saya pulang. Sepuluh menit saya susui, ia langsung tertidur pulas. 

Pun ketika kami sudah mendapatkan PRT (Alhamdulillah!) sekaligus mengasuh Rasya, saya tetap memantau perkembangan Rasya setiap harinya lewat si ibu pengasuh. Syukurlah, ibu pengasuh Rasya ini cukup telaten mengurus Rasya. Yaaa, kadang seperti Hannah juga, sedikit iri bila melihat Rasya dengan anteng digendong ibu pengasuh atau bagaimana ibu pengasuh bisa kenal kapan Rasya masih mau main kapan sudah mengantuk. Namun, mau gimana lagi, konsekuensi yang harus saya tanggung sebagai ibu bekerja :)

Perbedaan lain antara saya dan Hannah adalah untunglah saya tidak tinggal di Jakarta! Terbayang betapa heboh dan ribetnya kalau saya tinggal di Jakarta dan punya bayi. Pasti senasib dengan para busui yang menjadi pejuang ASI, memerah ASI di kantor bisa sampai 3-4 botol, lalu menyetok ASIP sebanyak-banyaknya. Saya cukup memerah hari ini untuk stok besok, sehingga saya tidak sampai menyetok berbotol-botol ASIP. Di sisi lain, saya dan suami sama-sama masih punya waktu banyak untuk Rasya, tidak cuma saat akhir pekan. Di Jakarta? Bisa pulang saat matahari masih nongol saja itu mahal harganya! Saya lebih senang membesarkan Rasya di sini, kota yang tidak terlalu besar, tapi aman dan nyaman untuk kami sekeluarga. 

Selain itu, bila Hannah memutuskan untuk menjadi full-time mom (yang ternyata berbarengan dengan Wigra  pindah tugas ke Washington DC), sampai detik ini saya masih memutuskan untuk bekerja, dan seterusnya. Saya masih punya impian melanjutkan kuliah S2, bila Rasya sudah lebih besar nanti. Bukan, bukan berarti saya tidak bangga menjadi full-time mom. Ini pilihan saya. Saya punya passion tinggi untuk berbagi dengan murid-murid dan siapapun tentang apa yang saya pikirkan, saya sukai, dan saya lakukan. Saya suka mengajar, mendengarkan cerita, dan membantu mereka menemukan solusi. Saya merasa lebih hidup! 

Jadi, setiap ibu punya pilihan untuk diri dan keluarganya. Begitu pun Hannah, juga saya. Satu hal yang saya pelajari sejak menjadi seorang ibu, 
happy mom = happy baby
Kita senang, bahagia, maka anak pun juga akan merasakan hal sama. Bukan semata menjadi ibu yang terbaik, tetapi bagaimana menjadi ibu yang bahagia luar dalam! :)

Enjoy motherhood!