#RumahCokelat (bagian 2): Pencerahan!


Minggu ini saya membaca ulang buku Rumah Cokelat. Ternyata membaca kali kedua ini memberikan sensasi berbeda. Jika pertama kali membaca buku, saya masih cuti melahirkan, maka pada kesempatan kedua ini, saya sudah bekerja kembali.

Begitu membuka halaman-halaman awal, saya langsung tergugah. Saya sangat sangat memahami perasaan Hannah, yang terjebak dalam situasi antara karir dan membesarkan Razsya. Bagaimana ia berusaha menjadi ibu yang baik untuk Razsya, sekaligus ‘memenangkan’ hati Razsya yang dianggapnya lebih dekat dengan Upik. Meski dalam cerita saya Rasya baru tiga bulan, tetapi saya juga merasa sedih bila ia bisa terlelap begitu saja bila digendong orang lain. Sedikit merasa tersaingi, di samping juga lega karena ada yang membantu.

Awal minggu kembali bekerja, saya langsung sibuk diburu waktu untuk mempersiapkan mental murid kelas IX. Memang setiap istirahat saya sempat pulang untuk menyusui langsung, tetapi begitu ada acara ekstra pada malam hari dan saya bertugas, mau tak mau saya harus meninggalkan Rasya di rumah bersama ayahnya. Suami sih bolak-balik meyakinkan bahwa ia bisa menjalankan tugas itu (and he did it well!), tetapi saya tetap merasa bersalah dan tidak tenang meninggalkan Rasya di luar jam kerja. Malam itu pun setelah tugas selesai, saya buru-buru pulang. Benar saja, Rasya sudah terbangun dua jam. Meski sudah minum ASIP, tetap ia belum mau tidur. Ah, Rasya rupanya menunggu saya pulang. Sepuluh menit saya susui, ia langsung tertidur pulas. 

Pun ketika kami sudah mendapatkan PRT (Alhamdulillah!) sekaligus mengasuh Rasya, saya tetap memantau perkembangan Rasya setiap harinya lewat si ibu pengasuh. Syukurlah, ibu pengasuh Rasya ini cukup telaten mengurus Rasya. Yaaa, kadang seperti Hannah juga, sedikit iri bila melihat Rasya dengan anteng digendong ibu pengasuh atau bagaimana ibu pengasuh bisa kenal kapan Rasya masih mau main kapan sudah mengantuk. Namun, mau gimana lagi, konsekuensi yang harus saya tanggung sebagai ibu bekerja :)

Perbedaan lain antara saya dan Hannah adalah untunglah saya tidak tinggal di Jakarta! Terbayang betapa heboh dan ribetnya kalau saya tinggal di Jakarta dan punya bayi. Pasti senasib dengan para busui yang menjadi pejuang ASI, memerah ASI di kantor bisa sampai 3-4 botol, lalu menyetok ASIP sebanyak-banyaknya. Saya cukup memerah hari ini untuk stok besok, sehingga saya tidak sampai menyetok berbotol-botol ASIP. Di sisi lain, saya dan suami sama-sama masih punya waktu banyak untuk Rasya, tidak cuma saat akhir pekan. Di Jakarta? Bisa pulang saat matahari masih nongol saja itu mahal harganya! Saya lebih senang membesarkan Rasya di sini, kota yang tidak terlalu besar, tapi aman dan nyaman untuk kami sekeluarga. 

Selain itu, bila Hannah memutuskan untuk menjadi full-time mom (yang ternyata berbarengan dengan Wigra  pindah tugas ke Washington DC), sampai detik ini saya masih memutuskan untuk bekerja, dan seterusnya. Saya masih punya impian melanjutkan kuliah S2, bila Rasya sudah lebih besar nanti. Bukan, bukan berarti saya tidak bangga menjadi full-time mom. Ini pilihan saya. Saya punya passion tinggi untuk berbagi dengan murid-murid dan siapapun tentang apa yang saya pikirkan, saya sukai, dan saya lakukan. Saya suka mengajar, mendengarkan cerita, dan membantu mereka menemukan solusi. Saya merasa lebih hidup! 

Jadi, setiap ibu punya pilihan untuk diri dan keluarganya. Begitu pun Hannah, juga saya. Satu hal yang saya pelajari sejak menjadi seorang ibu, 
happy mom = happy baby
Kita senang, bahagia, maka anak pun juga akan merasakan hal sama. Bukan semata menjadi ibu yang terbaik, tetapi bagaimana menjadi ibu yang bahagia luar dalam! :)

Enjoy motherhood! 

No comments:

Powered by Blogger.