Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Monday, September 24, 2012

Perahu Kertas, merajut asa

Saya bukan penggemar fanatik Dewi 'Dee' Lestari. Beberapa karya Dee pernah saya baca, antara lain Filosofi Kopi dan Recto Verso. Namun, saya melewatkan Supernova. Nggak ada alasan khusus, cuma memang saya kurang suka saja. Pas orang-orang heboh dengan Supernova, saya adem ayem baca buku-buku Fira Basuki atau Remy Sylado. Seingat saya sih, hanya buku Recto Verso saja yang nangkring di rak buku di kamar saya zaman gadis dulu. Itu pun saya lupa cerita-ceritanya. Eh, Filosofi Kopi punya nggak ya? Lupa.

Sampai akhirnya saya 'diracuni' Pak Hakim untuk membaca Perahu Kertas. Guru favorit suami itu meyakinkan saya bahwa buku ini layak baca, selayak menonton filmnya juga. "Ini lain deh sama tulisan Dee sebelumnya," begitu kata Pak Hakim. Oke deh, saya pun meminjam buku itu dari perpustakaan sekolah. Hari kerja saya cuma meletakkan buku itu di meja kerja, baru menjelang weekend saya bawa. Pas suami juga lagi dinas, jadilah buku itu menemani kesendirian saya di malam minggu :p

Ternyata, memang cerita di Perahu Kertas ini 'beda' dengan cerita karya Dee lainnya. Saya sempat bertanya-tanya, ini beneran Dee yang tulis? Karena membacanya begitu ringan, mengalir, dan tanpa perlu berpikir berat-berat. Bahasa yang sederhana, apa adanya, dan semua imajinasi langsung tumpah ruah, mengalir dalam benak saya. 

Belakangan, saya tahu bahwa novel ini terinspirasi dari komik Pop Corn oleh Yoko Shoji, tentang bagaimana perjalanan hidup seorang Nakki dari remaja hingga tumbuh dewasa, lengkap dengan laki-laki yang dekat dengannya. Saya pun menyadari ada kesamaan ide cerita antara Pop Corn dan Perahu Kertas. Saya dulu fans Nakki dan Iwasaki. Sampai sekarang masih ingat ceritanya bagaimana. Makanya membaca Perahu Kertas bikin saya kesengsem cuma karena saya sukaaaa sekali cerita yang melukiskan kehidupan seseorang. Saya merasa ikut tumbuh bersama si tokohnya, seperti halnya pada Nakki dan juga Kugy.

Perahu Kertas terbitan lama sih, saya agak telat juga bacanya. Butuh 3 tahun untuk menanti waktu tepat membacanya, hehehe. Namun, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali 'kan?

Saya mah enggan membalas sinopsis Perahu Kertas di sini. Cari sendiri ya? Yang jelas, Kugy dan Keenan punya karakter kuat, begitu juga Noni dan Eko. Persahabatan mereka berempat mengingatkan saya pada kumpul-kumpul mahasiswa zaman muda dulu. Ketertarikan Keenan pada keunikan Kugy, ketertarikan Kugy pada gaya Keenan, atau hubungan Noni dan Eko yang terbilang settle, mapan, dibandingkan dengan teman-temannya. Begitu juga soal pilihan Kugy dalam berkarir, semua orang pernah mengalaminya, memilih antara passion atau pekerjaan yang nyata. 

Namun, memang sejak awal alur cerita mudah ditebak (atau memang sengaja dibuat demikian?), agak kurang menantang sih buat yang suka cerita penuh rahasia. Saya bisa menebak siapa kolektor lukisan Keenan sejak awal. Saya bisa mengira-ngira apa yang terjadi antara Kugy, Remi, Keenan, dan Luhde. Semua bisa terbaca. Kelihatan mudah dibaca, tetapi bukankah semua orang selalu menginginkan happy ending

Toh meskipun begitu, tetap bagian yang paling menyenangkan dari membaca novel ini adalah ramuan kata-kata ala Dee. Metafora sana-sini, tetapi bermakna dalam dan mengena bagi pembacanya. Ini favorit saya.

"Kamu tahu nggak, kijang yang larinya cepat kayak kilat bisa beku kayak patung kalau ketemu singa ...."
Di hatinya, ternyata Keenan masih menjadi Pangeran, bertakhta dalam sebuah kastil impian yang masih berdiri tegak hingga detik ini. 
Kenangan itu hanya hantu di sudut pikir, selama kita diam selamanya dia tetap jadi hantu, nggak akan pernah jadi kenyataan. 
Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-segalanya. 
Hati kamu mungkin memilihku, seperti juga hatiku selalu memilihmu. Tapi hati bisa bertumbuh dan bertahan dengan pilihan lain. Kadang, begitu saja sudah cukup. Sekarang aku pun merasa cukup. 
Bagi saya, Perahu Kertas mengajarkan bagaimana kita perlu menyiapkan diri pada beragam kemungkinan yang bisa terjadi dalam hidup. Manusia senantiasa berharap, punya asa, tetapi tidak selamanya asa itu bisa berbuah menjadi kenyataan. Untuk mencapai harapan yang kita inginkan, butuh perjuangan panjang yang rintangannya tak sedikit. Bukan cuma rintangan, tetapi bagaimana menghadapi dan melewati rintangan, serta menyiapkan diri untuk bertemu rintangan berikutnya. Akan tetapi, berbekal keyakinan dan terus keinginan merajut asa, pasti akhirnya kita bisa sampai pada penghujung perjalanan yang kita impikan.

Selamat membaca! :)

Friday, September 21, 2012

Cerita tumbuh gigi Rasya

Hari Kamis minggu lalu saat waktu istirahat siang, saya mendapati Rasya demam. Suhu tubuhnya menghangat dan ia terlihat lesu, enggan dilepas dari gendongan neneknya. Saya curiga, sepertinya ia tumbuh gigi atas, mengingat seorang rekan pernah bilang bahwa anaknya juga panas saat tumbuh gigi atas. Sebenarnya sih saya nggak terlalu senewen, tapi ya khawatir juga, apalagi suami sedang dinas ke luar kota. Dan Rasya demam persis di hari ayahnya berangkat! 

Akhirnya, Rasya pun ke dokter. Dokter periksa memang tidak ada tanda apa-apa, mungkin karena baru hari pertama. Bisa tumbuh gigi atau flu. Rasya bersin-bersin sih. Yang penting, tetap pantau suhu tubuhnya. Sobatan dulu yuk sama termometer. 

Seharian itu Rasya enggan makan. Maunya cuma menyusu saja. Ia ingin didekap terus. Baru menjelang malam saya beri Rasya sekeping biskuit Farley favoritnya. Ia pun mau makan meski sedikit. Cara menggigit biskuitnya juga tak seperti biasa, saya makin yakin ia mau tumbuh gigi. Malam itu Rasya masih hangat dan saya cuma bisa mendekap sambil membuka kaus Rasya sehingga terjadi skin-to-skin contact untuk 'memindahkan' panas tubuh Rasya.

Ekspresi lesu Rasya
Esoknya, saya memutuskan memasak sup kentang daging untuk makan Rasya. Mungkin kalau sedang sakit, beri makanan yang teksturnya lebih lunak lebih mudah ditelan. Apalagi kalau giginya benar mau tumbuh, pasti yang lunak lebih enak. Alhamdulillah, hari itu Rasya makan sangat lahap! Makanya hari Sabtu saya bikin sup jagung oatmeal dan sukses dilahap Rasya. 

Sabtu siang Rasya sudah tidak terlalu demam. Suhu tubuhnya berangsur normal, tetapi kadang kepalanya masih panas. Saya baru ngeh bahwa memang suhu kepala bayi biasanya lebih panas daripada suhu tubuh. Karena tangan dan kakinya tidak panas, sementara kepalanya panas. Namun, Rasya tetap terlihat aktif dan bergerak sana-sini.

Hari Minggu saat bermain dengan Rasya, saya melihat putih-putih pada gusi atas Rasya. Wuih! Apaan tuh?? Saya raba gusi atasnya dan voila! Yes, itu giginya tumbuh beneran *senyum lebar* Antara satu atau dua buah, yang jelas satunya sudah nongol sempurna dan besar, sementara satunya lagi masih mendem dalam gusi. Oalah, jadi ini toh penyebab Rasya demam.

Mungkin benar kata orang dulu, termasuk Mama. Katanya kalau anak demam (yang tidak terlalu tinggi alias belum sampai bikin panik se-RT) biasanya dia akan tumbuh gigi atau bertambah kepintarannya.

Tapiiiiiii................habis gigi nongol secara resmi, saya juga baru menyadari Rasya flu! Jadilah dia meler atas bawah, ihiks..... :( Gara-gara suami dan saya baru saja flu juga. Maaf ya, Lil', kamu jadi ketularan....*peluk sambil endus-endus bau asyemmm Rasya*

Selasa kemarin Rasya sudah dibawa ke dokter lagi. Kali ini diberikan obat untuk menyembuhkan flu. Sampai saat ini kadang masih meler dikit, tetapi Rasya terlihat lebih segar dan tentu saja semakin aktif. Mau ketemu Rasya? Silakan cari dia di ruang tamu/TV, pasti sedang asyik berantakin majalah atau DVD, atau merangkak cari pegangan dan mau berdiri. Kalau nggak ada di situ, ia pasti di kamar bersama saya dan sedang merambat di sandaran tempat tidur.

That's Lil'! :*

Sunday, September 09, 2012

Catatan Rasya (9): waktunya menjelajah!


Oleh-oleh yang dibawa Rasya sepulang dari Jakarta adalah perkembangan motorik yang luar biasa pesat. Bayi kecil yang sering dibilang cantik ini (iya, gara-gara garis wajahnya halus, mengikuti ayahnya) langsung unjuk kebolehan dan kelaki-lakiannya *ups!*

Konon, banyak mitos yang bilang bahwa bayi laki-laki lebih dulu bisa merangkak atau jalan ketimbang perempuan. Sementara bayi perempuan cenderung cepat bicara daripada jalan. Ada lagi kenalan saya berkata, kalau sudah tumbuh gigi, nanti lambat jalannya. Saya sih nggak percaya amat dengan mitos semacam itu. Saya lebih percaya bahwa setiap bayi punya waktunya sendiri. Tumbuh kembang tiap bayi itu unik. Panduan yang kita ketahui selama ini berlaku secara umum, tetapi kembali lagi pada keunikan perkembangan setiap anak :)

Nah, Rasya, si bayi 7 bulan ini, memang luar biasa. Saya tetap takjub dengan perkembangannya. Setiap hari ada saja keahlian baru yang ia kuasai. Layaknya seorang bocah laki-laki, kini ia aktif sekali menjelajahi segala hal yang ia lihat di sekitarnya. Apapun dilihat, dipegang, dan dimasukkan mulut. Ekstra hati-hati dan pengawasan adalah mutlak! 

Ini nih keahlian Rasya yang sudah ia kuasai dengan baik.
  • Duduk dengan tegak, tanpa bantuan tentunya. Repotnya, kalau di tempat ganti pakaian, ia sering enggan duduk. Maunya berdiri terus!
  • Berdiri dengan berpegangan. Kasur di boks bayi sudah diturunkan, itu pun ternyata ia tetap bisa berdiri nongol. Berdirinya tegak lho, kakinya sudah jejak, menapak ke lantai. Nggak jinjit sama sekali!
  • Merangkak dengan cepat. Awalnya masih merayap, ngesot deh. Sekarang bisa merangkak dengan cepat, apalagi kalau diimingi remote tv atau handphone. Langsung saja dia maju jalan tanpa ragu.
  • Mengambil semua barang yang tersusun rapi dan diacak-acak sesuka hati. Lucu sih melihat ekspresi Rasya saat sedang asyik melihat dan memainkan barang-barang itu, hehehe. Serius banget!
  • Memukul-mukul sesuatu, paling sering meja di high chair, tempat ia duduk saat makan.
  • Belajar menggenggam barang-barang berukuran kecil dan tipis, misalnya kertas atau tali. Oiya, caranya menggenggam makanan juga semakin pintar! 
  • Mengunyah. Sejak giginya semakin besar, ia juga semakin pintar mengunyah. Maka, saya tidak lagi hanya memberikan bubur tim saring, kadang saya saring separuh, separuhnya cukup dihaluskan dengan punggung sendok supaya bertekstur.
  • Mulai mengerti jika ditinggal sebentar. Pasti Rasya akan menangis heboh deh. Walaupun akhirnya kalau 'dicuekin' ya dia main sendiri juga :p

Minggu depan Rasya akan genap 8 bulan. Ayo, Lil', tunjukkan lagi keahlian baru kamu lainnya! Rasya cepat besar, cepat kuat, cepat pintar, jadi anak yang paling hebat! :D


Saturday, September 01, 2012

Oatmeal yummy!

Tepat pada usia 7,5 bulan, saya mengenalkan oatmeal pada Rasya. Kebetulan saat mampir Samarinda beberapa hari lalu saya membeli oatmeal untuk stok di rumah. Ya sudah ingin mengenalkan ini juga pada Rasya, sebagai variasi menu supaya tidak melulu bubur tim saring. 

Tadinya saya mau membeli Quaker Oat yang dimasak lebih dulu itu, tetapi ukuran kemasannya kok cuma ada yang besar. Weleh. Khawatir mubazir, saya membeli kemasan oatmeal merek lain yang lebih kecil. Sayangnya, saya kurang teliti membaca label, ternyata saya mengambil yang instant. Duh! 

Untunglah di buku panduan Variasi Makanan Sehat Bayi oleh Wied Harry Apriadji, bahan oatmeal yang digunakan juga oatmeal instant, tinggal diseduh. Fiuhh, berarti nggak apa-apa. Maklum baru coba, takut salah kan....

Oatmeal termasuk salah satu sarapan favorit saya. Dulu zaman masih sekolah, saya suka sekali sarapan oatmeal yang diaduk dengan susu hangat dan dimakan begitu saja. Kadang dicampur air hangat plus gula. Variasinya masih terbatas, paling cuma dengan pisang. Pikiran saya, oatmeal cocoknya dengan makanan serba manis. Oatmeal+susu= enak! Oatmeal+sayur/daging= aneh :p

Lucunya lagi, zaman ngantor di Personal Growth, oatmeal malah saya campurkan ke dalam kopi instant vanilla latte. Biar rasanya agak-agak kayak Energen gitu deh, cuma ini rasa kopi. Enak kok! 

Sekian lama absen makan oatmeal, akhirnya saya membeli oatmeal lagi. Buat Rasya, tapi pasti saya ikut menikmati, kemasan kecil pun isinya banyaaaaaaaaaakkkkkkkkk. Mungkin kalau ambil kemasan besar setahun juga belum tentu habis...
Pagi ini karena menginap di rumah mertua, saya memutuskan membawa oatmeal saja untuk sarapan Rasya. Karena di rumah cuma ada buah pepaya, jadilah pepaya parut saya jadikan pendamping oatmeal, sekaligus memberikan rasa manis alami ke oatmeal. Oatmeal saya seduh dengan ASIP hangat sampai kekentalan yang diinginkan, lalu ditambah parutan pepaya. Rasanya yaaa...rasa pepaya gitu, dan Rasya suka. Habis tuh 2 sdm oatmeal.

Sore tadi saya mencoba memasak oatmeal ini dengan kaldu. Ceritanya mau bereksperimen rasa gurih ke oatmeal. Oatmeal saya masak bersama kaldu dan sedikit air, setelah mengental, masukkan daging ayam cincang dan parutan wortel. Aduk rata di atas api kecil hingga meletup-letup dan ayam matang, lalu berikan daun seledri supaya lebih harum. Angkat dan diamkan hingga agak dingin. Supaya makin maknyus, saya berikan unsalted butter sebelum dipindahkan ke piring. Baunya menggoda lho, nggak kalah dengan bubur tim saring. 

Respon Rasya? DOYAN! Sekitar 2 sdm ludes bin tandas!


Wah, makin semangat nih saya berkreasi menu oatmeal untuk Rasya. Selain yang manis, dipadukan dengan sayur, kaldu, atau daging pun juga enak banget. Nilai gizi oatmeal sangat baik untuk kita, juga bayi. Oatmeal mengandung serat, kalsium, protein, dan beberapa vitamin B yang tinggi.

Nantinya, saya berniat memberikan oatmeal sebagai variasi sarapan Rasya. Siang dan sore baru makan bubur tim saring. Selingan berupa buah atau biskuit. Mulai hari efektif sekolah Senin besok, jadual mengajar saya kembali seperti semula, pasti ada beberapa hari di mana saya pulang agak siang saat jam istirahat. Akibatnya, saya memang harus detil nih menjelaskan menu Rasya ke pengasuhnya. Lebih baik sih kalau sudah saya siapkan semuanya sejak pagi seperti beberapa hari ini. Tinggal dipanaskan dan diberikan pada Rasya.

Yippiiiieeee, semakin besar si kecil, semakin banyak kesempatan kita berkreasi dan bereksprimen di dapur. Andai saja peralatan perang saya bertambah dua item idaman (dari zaman baru nikah lho!): mixer dan oven kompor! Minta beliin aahhh.......

*berharap suami baca blogpost ini :p*