Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Friday, May 30, 2014

Andien @MusicEverywhere - NET TV

Pas buka-buka Youtube, video penampilan Andien di NET TV langsung nangkring dengan manis.
Sampai sekarang tetep nge-fans dengan Andien! Masih ingat zaman kerja di Jakarta dulu ketemu Andien in person saat menemani Emak Ratih Ibrahim ke acara press conference salah satu brand perawatan kulit. Mengidolakan seseorang berarti kita tumbuh bersamanya. Melihat idola mengembangkan dirinya bikin kita terpacu untuk melakukan hal yang sama. Rasanya luar biasa lho mengikuti jejak Andien sejak remaja sampai sekarang dan tetap menjaga eksistensi diri dalam dunia musik Indonesia, plus kualitas musiknya makin ciamik! Penyanyi baru boleh datang, tetapi saya tetap suka Andien! :)

Enjoy!









Tuesday, May 20, 2014

Chicken Bulgogi

Terinspirasi dari resep Dak Bulgogi (Korean BBQ Chicken) Slow Cooker di web The Urban Mama, saya coba memasaknya di rumah. Namun, saya tidak pakai slow cooker. Sebetulnya sih enak pakai SC, pasti bumbunya lebih meresap, tapi penasaran juga kalau masak biasa dengan bumbunya yang sama hasilnya seperti apa.

Bumbu yang saya pakai sama persis dengan yang ada di resep, dengan beberapa tambahan kecil. Cara memasaknya sudah pasti berbeda karena saya pakai kompor dan wajan biasa. Rasanya tetap enak! Suami saya doyan banget, Rasya juga!

Chicken Bulgogi

Bahan:
300 gram daging ayam (bagian dada), iris memanjang
3 sdm kecap manis
1 sdm minyak wijen
1 sdm madu
1 sdm air jeruk nipis
1 sdm gula aren
1/2 buah bawang bombay, cincang kasar
3 siung bawang putih, iris halus
1 sdt jahe parut
1 sdt wijen sangrai
1/4 sdt lada hitam
Garam dan gula secukupnya
Minyak untuk menumis
Air secukupnya
Wijen secukupnya untuk taburan

Cara membuat:
  1. Panaskan wajan, beri minyak secukupnya. Setelah minyak panas, tumis bawang bombay dan bawang putih hingga harum. Masukkan daging ayam, masak sebentar sampai berubah warna.
  2. Tambahkan kecap manis, minyak wijen, dan madu, aduk rata. Lalu masukkan air secukupnya hingga ayam terendam. Baru tambahkan bumbu lain: gula aren, garam, lada hitam, gula, dan wijen yang sudah disangrai. Masak hingga air mengental dan bumbu terserap oleh ayam. Jika dirasa kurang mantap, boleh ditambahkan air lagi dan masak hingga air mengental serta ayam berubah warna menjadi coklat. 
  3. Panaskan wajan datar, panggang ayam, beri sedikit bumbu tadi atau kecap manis, masak hingga terkaramelisasi (ayam jadi mengkilap dan juicy, nggak tampak kering). Lakukan hingga seluruh ayam terpanggang baik.
  4. Letakkan dalam mangkuk saji, taburi dengan wijen, sajikan hangat.

Monday, May 19, 2014

Berkah :)

Momen yang ditunggu akhirnya tiba juga!
Saya butuh waktu dua tahun empat bulan untuk menantikan kata itu meluncur dari mulut Rasya.

Minggu lalu, Rasya memanggil saya 'Mama!' Iya, 'mama', komplit, nggak cuma 'Ma!' Pagi-pagi setelah bangun tidur, Rasya tiba-tiba memanggil saya untuk minta makanan, saat saya sedang bersiap berangkat kerja. Begitu mendengarnya menyebut 'Mama', saya langsung loncat kegirangan dalam hati. Senyum terus mengembang di bibir saya sepanjang hari. Ditambah rasa haru yang bikin hampir mewek sambil cium-cium Rasya terus.

Tapi ya namanya juga Rasya. Pas saya uji minta ia panggil saya dalam situasi biasa, ia nggak mau. Namun, kalau ia sedang minta sesuatu atau memaksa saya melakukan sesuatu, baru deh kata 'Mama' keluar *tepok jidat* 

Sejak saat itu, saya perhatikan ia sering sekali ngoceh saat bermain, melafalkan banyak hal. Koleksi huruf konsonan-nya pun makin banyak diucapkan. Begitu pula ketika ia menonton video Pocoyo, tiba-tiba saja ia menirukan kata yang diucapkan Pocoyo. 'Treasure?' dilafalkan begini, 'te-sour' :)


Saya terkesiap sejenak. Sekali lagi memastikan Rasya meniru kata tadi, dan ia mengulangnya dengan baik! Alhamdulillah!!! Jadi, ini saatnya untuk menambah lebih banyak koleksi video bahasa Indonesia di HP, bukan cuma Hi-5 atau Pocoyo!

Padahal, kami belum pergi ke dokter anak. Masih maju-mundur. Apalagi setelah Rasya mengalami kemajuan berarti. Saya terpikir untuk terus mendorong ia bicara dengan yakin setiap hari. Biasanya, setiap malam menjelang tidur, saya selalu bilang pada Rasya, 'Besok ngomong lebih banyak lagi ya. Rasya bisa ngomong kok, dikeluarkan (diucapkan) aja yang Rasya tahu,' sambil mendekapnya dan endus bau kecutnya :*

Misi masih berjalan. PR kami masih dua, membuat Rasya bicara lebih banyak dan melatih potty training. Semoga jika PR pertama mulai menampakkan hasil, PR berikutnya mengikuti. 

Oya, berkah lain juga mendatangi keluarga kecil kami. Rencana besar kami Alhamdulillah mulai menuju arah yang positif. Satu yang pasti, rencana tersebut memang rencana terbaik yang kami punya saat ini. Kami berharap rencana itu kelak bisa memberikan pengalaman luar biasa pula bagi Rasya. 

Amin.

Monday, May 05, 2014

Catatan Rasya (26): Menunggu

Dibilang pesimis sih nggak pesimis banget, tetapi optimis sekali ya juga tidak. Lebih tepatnya, harap-harap cemas. Iya, saya dan suami masih menunggu kapan Rasya lancar bicara. Bukan bermaksud membandingkan Rasya dengan teman seusianya yang perempuan, tetapi lebih pada rasa khawatir mengapa ia jarang sekali memproduksi kata, apalagi kalimat. Semua interaksi secara umum masih mengandalkan komunikasi non-verbal, ditambah kami juga selalu berusaha memahami maksud Rasya. 

Berkali-kali saya selalu bilang, makanya Rasya ngomong supaya Mama ngerti, tapi masih begitu saja. Sedih? Nggak sedih, gemas iya. Karena saya dan suami tahu persis, Rasya sudah tahu banyaaaaaakkk sekali kata. Tinggal membuatnya bicara. 

Seminggu ini saya menemukan ia mulai sering memanggil saya, terutama jika menginginkan sesuatu. 'Ma, Ma, Ma!' begitu ucapnya sambil menunjuk pada barang yang dimaksud. Ia juga (akhirnya) bisa bilang 'nenen' padahal sudah nggak nenen lagi :p Namun, ya itu.....masih sekali dua kali, dan sesuka hati. Giliran ditanya balik, malah nggak dijawab. Deuh :( 

Rasanya, saya sudah melakukan banyak hal: membacakan cerita (yang sama setiap hari sebelum tidur atau sore hari), selalu bertanya 'mau apa? ini apa? itu apa? ini siapa?', menyanyikan lagu, menyebut semua barang yang ditanyakan (ditanya balik belum bisa menjawab), juga pengenalan huruf. Sampai sempat terpikir untuk menamai seluruh benda di rumah karena Rasya sudah mengenal beberapa huruf. Tapi nggak jadi karena itu metode untuk mengajar anak membaca. 

Saya juga berusaha melafalkan benda dengan mantap, sambil memintanya meraba leher saya yang bergetar untuk tahu itu 'suara' apa. Saat saya minta ia menirunya, ia cuma berpaling. Sampai saya menemukan ia berusaha melafalkan kata 'apel' tetapi ia agak sulit mengeluarkan suaranya. Sudah membuka mulut tetapi suaranya seperti tertahan. Hmm....apakah itu berarti sesuatu?

Tadi saya membuka thread tentang anak terlambat bicara di Mommies Daily. Hasil baca pengalaman para mommies, ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan anak terlambat bicara (late-talking). Salah satunya, tentu saja TV dan gadget *jitak kepala sendiri*. Salah duanya, ada keterbatasan motorik dari alat bicara, yang kadang tak terdeteksi oleh orang awam. Salah tiganya, bisa jadi keturunan orang tua (umumnya ayah ke anak laki-laki). 

Lazimnya anak laki-laki, pencapaian milestone mereka cenderung fokus pada satu tahap. Setelah berhasil di tahap itu baru beranjak ke tahap lain. Ini saya setuju karena secara motorik, baik halus maupun kasar, Rasya sangat piawai dan handal. 
  • Mampu menyendok susu ke dalam gelas dengan takaran yang cukup sesuai (tumpah sedikit masih wajar lah)
  • Menuangkan air dari gelas ke gelas
  • Menjumput barang kecil seperti kacang atau potongan lego
  • Membalik halaman buku dengan mulus
  • Menyusun dan menumpuk semua benda
  • Memposisikan mobil-mobilan seperti antrian dengan mobil menghadap arah yang sama
  • Memanjat apapun 
  • Berlari 
  • Melompati lubang
  • Meniru seluruh gerakan ketika diberi contoh dengan mudah dan cepat
Secara kognitif pun, ia sudah mampu 'mengasosiasikan' suatu kata yang kita ucap dengan benda yang dimaksud. Artinya, ia mengerti itu kata apa dan itu benda apa. Contohnya, mencocokkan warna, meniru suatu gerakan saat saya menyanyikan penggalan lirik lagu, meniru gerakan dan suara hewan saat saya bertanya, dan menunjuk benda yang tepat sesuai nama. Untuk konsentrasi, Rasya tergolong cukup dan tetap bisa fokus pada saat saya membacakan buku, misalnya. 


Dari sini saya berkesimpulan sendiri, bahwa Rasya mampu menyerap dan mengerti apa yang diajarkan, dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami. Ia hanya kesulitan memproduksi kata. Huruf pun ia mulai menguasai beberapa huruf konsonan, seperti C, Q, Z, H, S, K, dan J, selain huruf vokal. Menilik dasar kedua dari penyebab late-talking dan usaha kerasnya mengucap kata 'apel', saya merasa ada yang perlu diperiksa lebih lanjut dengan alat bicara Rasya. Baca di thread tadi, ada anak yang nafasnya pendek, rahangnya perlu diperkuat, dll. Metode terapinya pun beragam, mulai dari meniup peluit, menyedot dengan sedotan ulir, pijat rahang, dan sebagainya. MUNGKIN saja ini yang menjadi kesulitan Rasya. 

So, agaknya saya dan suami akan membawa Rasya ke dokter spesialis anak untuk memeriksakan kesulitan ini lebih lanjut. Mudah-mudahan upaya ini bisa membantu Rasya lebih menguasai kemampuan berbahasanya. Tunggu perkembangan selanjutnya ya! :)



Artikel menarik seputar late-talkers:

Friday, May 02, 2014

Chicken Nuggets

Sebetulnya sudah lama banget ingin membuat nugget ayam, tapi masih malas. Kadang keinginan coba resep baru itu tahu-tahu muncul pada saat nggak terduga. Seperti kemarin, pas bahannya ada dan lagi mood, langsung intip resep di buku Wied Harry Apriadji, Buku Pintar Menu Balita 30 Hari. Pagi tadi langsung digarap deh!

Nih resepnya, yang sudah saya modifikasi :)


Chicken Nuggets (untuk 26 buah)

Bahan:
300 gr daging ayam giling
2 lembar roti tawar (saya pakai roti tawar gandum)
100 ml susu cair (kurang lebih saja, saya pakai ilmu kira-kira)
2 butir telur
5 siung bawang putih, cincang halus
50 gr bawang bombay, cincang halus
50 gr wortel, serut halus
Garam & merica secukupnya
Bahan membalur:
1 butir telur, kocok lepas
Tepung terigu protein rendah (Bogasari Lencana Merah)
Tepung roti/panir
Minyak goreng secukupnya

Cara membuat:
  1. Oles loyang kotak dengan minyak goreng, sisihkan. Panaskan dandang untuk mengukus.
  2. Rendam roti tawar dalam susu sampai empuk, lalu lumatkan hingga halus.
  3. Tumis bawang putih dan bawang bombay hingga harum (tadi saya skip yang ini, lupa :p). Campurkan ke daging ayam, tambahkan serutan wortel, garam & merica, telur, dan roti yang sudah dilumatkan. Aduk rata. Tuang dalam loyang, ratakan, kukus selama 20 menit. 
  4. Setelah matang, angkat dan dinginkan dulu. Kemudian potong sesuai keinginan (saya sih cuma kotak biasa). 
  5. Celupkan potongan nugget ke tepung terigu, lalu ke kocokan telur, baru ke tepung roti. Lakukan terus hingga selesai. Pada tahap ini nugget bisa disimpan dengan cara dibekukan dalam freezer untuk stok. Selain itu, dengan dibekukan balutan tepung roti akan lebih nempel. 
  6. Jika nugget masih beku, keluarkan dari freezer dan diamkan 10 menit dalam suhu ruang. Panaskan minyak, goreng hingga coklat keemasan. Sajikan hangat. 
Stok chicken nuggets, hayo bertahan berapa lama?

Thursday, May 01, 2014

Indahnya Masa Menyusui


Seorang sahabat lama mengirim pesan pada saya dua hari lalu. Setelah bertukar kabar, ia pun bercerita soal bayi mungilnya yang baru akan berusia 3 bulan. Setiap mendengar teman atau kenalan yang baru saja melahirkan, saya selalu merasa kangen dengan masa-masa menyusui. Apalagi baru sebulan ini saya berhasil menyapih Rasya.

Pun saat membaca ulang seluruh artikel di blog tentang menyusui, ada perasaan takjub pada diri sendiri bahwa saya dan Rasya berhasil menyelesaikan perjalanan ini! It was a long journey! Karena Rasya segitu addict-nya dengan ASI, sampai saya tak mengira menyapihnya terbilang relatif mudah, tanpa oles ini itu, tanpa drama panjang berhari-hari (dua hari drama saja cukup).

Maka, menyusui adalah pengalaman luar biasa bagi seorang ibu.
Juga bagi saya.
Pastinya, bagi Rasya, dan tentu saja suporter nomor satu kami, suami, Ayah Rasya.

Berikut saya kompilasikan berbagai tulisan tentang menyusui yang pernah saya buat, sekaligus merangkum momen-momen indah perjalanan menyusui kami :)
  • Melahirkan di RS yang pro ASI pastinya merupakan pilihan bijak. Kebetulan sekali RS terbesar di kota kami sudah pro ASI & rooming in, plus ada konselor laktasi. Dua minggu sebelum lahiran, saya sudah bertemu konselor laktasi. Setelah bisa duduk pasca operasi caesar pun saya diajarkan lagi oleh perawat tentang menyusui. Saya punya dua ibu yang mendorong saya untuk menyusui, mengajarkan bagaimana posisi menyusui yang benar dan nyaman, serta perlekatan yang tepat. Dan tentu saja, suami yang pro ASI. Bersyukur saya mengawali perjalanan menyusui dengan lancar.
  • Rasa syukur berikutnya adalah lokasi tempat kerja yang berdekatan dengan rumah. Keuntungan tinggal di kota kecil :) Saya tetap bawa thermal bag dan pompa saat bekerja karena saya harus memompa setidaknya sekali saat bekerja. Istirahat siang saya pulang membawa ASIP dan menyusui langsung di rumah. Dalam sehari saya memompa rata-rata 4-5 kali. Stok ASIP juga jarang saya bekukan. Saya hanya memompa untuk digunakan besok, jadi nggak kejar tayang, hehehe.
  • Drama pertama menyusui saya.......saat saya dirawat di RS karena demam berdarah! Sampai nangis-nangis memompa ASI yang menyusut karena sakit :( Huhuhu, benar-benar cerita sedih dan penuh drama. Apalagi Rasya masih 5 bulan waktu itu. Untunglah berhasil kami lewati dan tetap membuktikan kita bisa menyusui dalam kondisi apapun (kecuali penyakit tertentu yang menular yaaa).
  • Another drama, saat gigitan Rasya sukses bikin saya demam tinggi sampai menggigil! Ini terjadi saat Rasya sudah tumbuh delapan gigi. Nggak cuma sekali, tapi dua kali saya pernah demam tinggi gara-gara dada membengkak. Kalau sudah begitu rasanya serba salah, menyusui nggak nyaman, nggak menyusui juga sakit. 
  • Saat anak sakit, ASI menjadi salah satu 'obat' utama untuk menjaga anak tidak dehidrasi. Beberapa kali saya mengandalkan ASI ketika Rasya sedang nggak enak badan dan sulit makan. Makanya saya agak kehilangan momen ini kalau Rasya sakit, sekarang nggak bisa tinggal nenen
  • Kenikmatan lain yang tak terkira adalah enaknya jalan-jalan bersama Rasya tanpa perlu repot membawa tas berisi botol, susu, dan air panas :p Apalagi sejak bayi Rasya sudah beberapa kali naik pesawat untuk terbang ke kota. Menyusui itu praktis, cukup pakai baju menyusui yang nyaman, saat anak lapar atau haus tinggal buka, clep! Selesai! Malah, menyusui menjadi jurus andalan saya untuk menenangkan Rasya saat pesawat take off dan landing. It worked well!
  • Baju menyusui jadi salah satu barang andalan selama menyusui. Saya cinta banget dengan baju menyusui cantik Emeno Nursing Wear. Rasanya saya sudah punya lima buah baju menyusui dan selalu saya pakai ke mana-mana. Siapa bilang menyusui nggak bisa tampil keren?
  • Sejak jadi busui, saya semakin terampil menyusui di mana pun dan kapan pun. Setiap ngota dan ngemall yang dicari adalah nursing room. Lumayan juga sempat menjelajah beberapa nursing room, meski nggak banyak. Menyusui dalam baby wrap juga pernah, lantaran nggak ada nursing room di mall, saya pun berdiri di toilet dengan Rasya menyusui dalam baby wrap karena itu tempat terdekat dari saya berada. Hmmm...saya ingat betul, pengalaman menyusui pertama kali di tempat umum justru terjadi di sebuah restoran! Pokoknya, kalau sudah menyusui, yang diingat cuma anak, malu sih belakangan hihihihi :D
Setiap perjalanan sudah pasti akan berakhir. Menyapih dengan sedikit drama (tapi tanpa trik apapun) pada usia Rasya 2 tahun 2 bulan menandai akhir perjalanan menyusui kami dengan cukup mulus. Rasa haru kerap menyelinap saat melihat jagoan kecil saya kini lebih mandiri dan nggak terpusat pada nenen lagi. Kalau lagi kangen nenen, yang dilakukannya adalah memeluk saya dan tiduran dalam dekapan saya :') Namun, ia mengerti kalau sudah tidak nenen lagi. 

Guess what? Baru-baru ini Rasya sukses mengucapkan kata nenen dengan jelas! Oalah Lil', kenapa kata itu baru meluncur sekarang setelah kamu disapih? xD
Neko boy :3