Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Thursday, December 26, 2013

Hello Jakarta!

LIBURAN!

Akhir tahun yang ditunggu-tunggu tiba juga. Saya dan Rasya memutuskan untuk pulang ke Jakarta tercinta. Berdua saja karena suami sedang ada pekerjaan. Oh, berdua naik pesawat dengan Rasya di usia yang mau 2 tahun itu jauh lebih bikin deg-degan daripada dulu. Pas berangkat kemarin saya sampai mual, mules, dan cemas luar biasa gara-gara hal ini. Anaknya sih santai, tapi saya yang khawatir.

Benar saja, pas dipakaikan seat belt ia meronta dan menangis. Butuh waktu 5 menit sampai akhirnya mau pakai persis sesaat sebelum take off *lap keringet*

Sampai Jakarta pun Rasya butuh waktu menyesuaikan diri dengan Uti, Atung, dan om-omnya. Untunglah nggak lama-lama. Mungkin karena jarang ketemu. Cuma masih ada drama lain kalau dia rewel, menangis melenting, yang bikin dia nggak mau sama siapapun. Wajar kok, namanya anak kan punya comfort zone sendiri. Ia belum terbiasa saja. Lambat laun ia juga sudah terbiasa, nggak kaget lagi, mau main, dan siap ditanggap!

Yap, karena jarang ketemu itu semua keluarga besar saya sibuk menanggap Rasya untuk bergaya ini itu, berpose ini itu. Lucu banget deh! Rasya sih dengan senang hati beraksi, kan calon artis :p *amin!*

Sepuluh hari di Jakarta mesti pintar-pintar atur jadwal nih. Supaya bisa belanja (diskon di mana-mana!), ajak Rasya jalan, dan silaturahmi dengan keluarga juga. Doakan Rasya dan saya sehat selalu ya! ;)

Tuesday, December 10, 2013

Yang Digoyang Digoyang Yaaaanngg...

Di televisi nasional sedang marak acara berhias goyang. Mulai dari goyang cesar sampai goyang oplosan. Setiap pagi nonton TV pun, acara musik ikutan dibuka dengan goyang bersama. Entah kenapa, goyang-goyang begini jadi trend. Padahal dulu zaman saya ABG, saya cuma tahu goyang poco-poco, goyang ngebor si Inul, sampai mobil goyang *eh* :p

Saya sendiri nggak suka goyang atau joget. Nggak tahu sih, tapi saya merasa badan ini terlalu kaku untuk mengikuti irama lagu. Makanya saya selalu berpikiran kecerdasan kinestetik saya nggak bagus-bagus amat, olahraga saja nggak suka (dan memang nggak bisa!) apalagi disuruh joget. Nggak heran juga kalau saya nggak suka clubbing ke klub, selain nggak doyan joget, saya selalu memilih tidur ketimbang ajep-ajep di sana, hehehe. 

Namun, sejarah goyangan saya sebetulnya nggak kering-kering amat. Siapapun di dunia ini yang pernah sekolah di TK, pasti pernah disuruh bu guru tampil di panggung, menari entah apa itu untuk acara sekolah. Saya dulu juga. Pas SD kelas 6, sekalinya ada acara 17 Agustus gede-gedean di lingkungan RW, saya disuruh ikutan menari juga. Yaaaa mirip modern dance deh, pakai lagu Informer dari Snow, ada di album Mega Hitz 5 apa ya? *beugh, jadul benerrrrr.........* 


Habis itu, saya mundur dari dunia pergoyangan. Mau meniru alias dance cover Super Junior pun saya nggak bisa. Cuma bisa mengagumi Siwon aja. Mengikuti musik dengan goyangan lebih sering gagal dan nggak enak dilihat. Jangan deh.

Sampai akhirnya, Rasya mulai suka bergoyang. Entah siapa yang ngajarin. Bukan saya yang jelas.
Mungkin memang milestone-nya untuk senang berjoget. Apalagi Rasya punya gaya sendiri saat bergoyang. Panutan gaya goyang Rasya nggak lain nggak bukan, ya Pocoyo-Pato-Elly. Oh juga Mickey Mouse saat goyang hotdog. Ditambah gerombolan Hi-5, kakak-kakak cantik dan ganteng dari Australia yang berpakaian cerah meriah. Walhasil, Rasya menciptakan goyangan sendiri yang saya pun nggak bisa meniru, aneh kalau ditiru, selain jatuhnya jadi nggak imut :p

Jadinya kayak begini nihhh....Silakan diintip di video ini pas Rasya joget dengan iringan tari Saman di pentas seni sekolah beberapa waktu lalu. Jadi, lagu apa saja, selama itu bertempo cepat dan rancak, Rasya pasti langsung bergoyang. Yuk mariiiiiiiii yang digoyang digoyang yaaaannnnggg..............

Cumi Goreng Tepung

Saya agak jarang mengolah makanan laut di rumah. Bukannya nggak suka, cuma malas. Apalagi kalau urusan bersih-bersih bahan makanannya sebelum masak. Padahal, masak makanan laut nggak lama-lama amat. Proses memasaknya lumayan cepat, mengingat kalau kelamaan dimasak tekstur makanan laut lebih cepat berubah dan jadi kurang enak.

Beberapa minggu lalu, saya iseng membeli cumi di pasar. Dalam bayangan saya, beli cumi ya dimasak cumi goreng tepung. Pasti suami suka deh! Ini kali kedua saya bikin cumi goreng tepung di rumah. Sejak Rasya makan makanan yang sama dengan kami, saya jarang banget nyetok tepung bumbu jadi buatan pabrik di rumah. Semua masakan bergoreng tepung, tepungnya saya buat sendiri. Bisa renyah krenyes krenyes? Bisa!

Saya minta tolong cumi dibersihkan oleh bude penjual sayur. Beda kalau kita beli cumi di supermarket yang sudah dalam keadaan bersih tanpa tinta sama sekali, cumi di pasar masih lengkap seluruh organ tubuhnya :p Awalnya, saya kira cumi itu sudah dibersihkan semua sampai ke dalam-dalamnya. Eh ternyata tentakel si cumi cuma ditarik saja, dipisahkan dari badan cuminya. Pas saya bersihkan lagi di rumah, kantong tinta cumi masih ada, belum terpisah dari tentakelnya. 

Nah, saya sempat mengintip di sini untuk urusan bersih-bersih cumi. Berhubung saya nggak pakai tinta cuminya, jadi kantung tinta itu saya pisahkan/potong dari tentakelnya dan dibuang. Lalu masukkan jari ke badan cumi, untuk memastikan tidak ada lagi bagian tubuh cumi yang tertinggal di dalamnya. Kuliti juga cumi, supaya kulit tipis di badannya terambil. Cumi siap diolah!


Cumi Goreng Tepung
Bahan:
3 - 4 ekor cumi ukuran sedang, bersihkan, potong cincin 1 cm
Susu cair secukupnya 
1/2 buah jeruk nipis
Minyak untuk menggoreng
1 butir telur, kocok lepas

Adonan tepung
150 gr tepung terigu (kira-kira saja, sesuai porsi cumi yang mau dibuat)
50 gr tepung maizena
Garam, lada putih, pala bubuk
1/4 sdt soda kue

Cara membuat:
  1. Taruh potongan cumi yang telah dibersihkan dalam wadah, beri perasan jeruk nipis, diamkan sekitar 5 menit. Setelah itu, bilas dengan air mengalir, lalu kembalikan lagi ke wadah dan tuang susu cair hingga cumi terendam. Fungsi susu cair adalah mengempukkan cumi, sekaligus menghilangkan bau amisnya. Rendam cumi dalam susu cair sekitar 15 menit.
  2. Campur seluruh bahan adonan tepung menjadi satu, aduk rata.
  3. Panaskan minyak. Tiriskan cumi dari rendaman susu, celupkan ke kocokan telur, lalu ke adonan tepung. Ratakan dan remas-remas hingga cumi tertutup adonan. Kemudian goreng dalam minyak panas hingga warnanya coklat keemasan. Angkat, tiriskan.
  4. Sajikan hangat dengan saus sambal botolan atau sambal terasi bikinan sendiri. Enak! :D
Catatan:
  • Jangan terlalu lama menggoreng cumi supaya cumi tidak alot. Pastikan minyaknya panas benar sebelum cumi dimasukkan.


Wednesday, December 04, 2013

3rd Wedding Anniversary

Alhamdulillah hari ini kami merayakan ulang tahun ke-3 pernikahan.
Masih terbilang muda, baru seusia balita. Bisa dibilang nggak banyak yang berubah setelah menikah. Oh kecuali ukuran celana dan baju :p
Saya sih merasa relatif mudah menyesuaikan diri satu sama lain. Mungkin karena kami pacaran cukup lama ya, jadi sudah hapal sifat masing-masing. Paling hanya terkejut pada kebiasaan kecil yang kadang kalau dibahas nggak akan selesai. Cukup modal kompromi saja, pasti soal beda kebiasaan itu teratasi.

Sejak Rasya hadir, kami berusaha menjadi panutan yang baik baginya. Nggak langsung jaim juga, tetapi bisa santai sekaligus tegas. Kelakuan aneh-aneh kami berdua mulai kami tularkan sedikit ke Rasya (aneh yang masih bisa ditolerir kok). Suami lebih santai daripada saya. Saya
lebih galak dan maunya tertib teratur (sounds like my mother *tutup muka*). Ada saat di mana posisi itu terbalik, suami galak saya santai. Jadi saling melengkapi satu sama lain. But we do know how to have fun!

Bagi saya, Rasya mengeluarkan segala sisi baik kami dan membantu kami belajar sebagai orang tua. Sebab pada akhirnya tujuan dari sebuah pernikahan adalah bagaimana kita, orang tua, mampu menyiapkan anak untuk hidup mandiri kelak. Pernikahan bukan cuma soal kawin, tetapi membuat pondasi yang kuat dalam sebuah keluarga. Pernikahan itu dasarnya, kesiapan mental menjadi suami istri plus orang tua adalah tiang pancangnya, sehingga kita bisa membangun sebuah rumah yang berdinding kokoh, beratap baja, dan layak huni untuk anak-anak kita.

Jadi, menikah di usia yang pas itu penting! Pengalaman kami, usia 25 terbilang pas untuk menapaki jenjang pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Pas sudah bekerja tetap, pas sudah kelamaan pacaran, pas capek LDR, pas sudah ngebet kawin hehehe ;) Apakah waktu itu kami siap 100%? Nggak juga, tapi kami mantap menjalani bersama. Kesiapan itu dengan sendirinya bertambah seiring perjalanan pernikahan kami. Ketika saya hamil pertama dan dikuret, lalu hamil kedua dan lahir Rasya, secara sadar kami menyiapkan diri lebih lanjut. Bukan cuma sekedar menjadi suami istri, tetapi menjadi orang tua.

Dan di sinilah kami sekarang, tiga tahun dan masih terus berjalan.
Semoga kami bisa selalu saling sayang dan menjaga, rukun selalu, dan langgeng hingga kakek nenek!
Semoga rencana tahun depan bisa terwujud, semoga semoga!