Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Wednesday, October 31, 2012

Catatan Rasya(11): bermain dan bermain!


Rasya, 9,5 bulan
Hobi yang lagi ngehits sekarang:

  • makan, ngemil, mimik susu
  • nemplok ke Mama
  • menjelajah seisi rumah
  • teriak-teriak sambil bilang 'bababadadadamamamamam'
  • merambat kalau pegangan ke meja/kursi/box
  • bergaya kalau difoto
  • marah-marah kalau didudukkan di high chair, tapi langsung anteng pas dikasih cemilan
  • main air (pas mandi atau pas makan)
  • ikutan duduk pegang setir mobil bareng Ayah atau Akas
  • kepo, pengen lihat apa yang lagi ditulis Ayah atau Mama di HP
  • gigit semua barang
  • nangis kalau barang yang dipegang diambil
  • heboh mencari barang yang disembunyikan Mama
  • tidur berserakan alias melintang sana-sini
  • bisa cium pipi Mama atau Ayah, tapi ada jejak ilernya
  • sering nyempil-nyempil di sekitar meja dan bawah meja 
  • berdiri di mana saja, asal ada pegangan
  • ngeliatin orang yang baru dikenal dengan seksama
  • ketawa ngikik ketika dikelitik, main cilukba, atau nyanyi bareng
  • belajar sikat gigi!(minus pasta gigi tentunya)


almost a year! :D

Monday, October 29, 2012

Sop kambing segaaar!!

Saya termasuk jarang memasak daging di rumah. Daging sapi saja jarang, apalagi daging kambing. Buta soal cara mengolah daging-dagingan. Kadang bumbu sudah oke tapi daging kurang empuk. Bikin rada kapok bin malas masak daging.

Namun, karena Idul Adha dan ada daging kambing jadi deh tetap coba masak. Pas banget suami lagi nggak dibolehin makan santan sama dokter, buat sop kambing menjadi pilihan paling oke. Pengennya mah kambing guling, tapi begimana lagi tuh masaknya? Mending ke kondangan aja kalau mau kambing guling, hehehe :p

Setelah browsing di internet & hasil tanya Bi Eti, jadilah sop kambing segar ala Mama Bhuy ;)

Bahan:
250-300 gr daging kambing, potong dadu kecil, rebus bersama tulangnya kalau ada
1 buah wortel, iris bundar
2 buah kentang, potong dadu
1/2 buah bawang bombay, potong dadu
3 siung bawang putih, geprek
1 sdt pala bubuk
1 batang kayu manis
5 buah cengkeh
1 ruas jahe, geprek
2 sdt garam
1 sdt merica bubuk
1 sdt gula pasir
5 buah tomat kecil, belah jadi 4
1 btg seledri, potong sebesar satu ruas jari
1 btg daun bawang, potong sebesar satu ruas jari
1 L air
Minyak untuk menumis
Daun bawang & daun seledri, iris tipis untuk taburan

Cara membuat:
1. Panaskan air dalam panci bersama daging & tulang hingga mendidih. Ketika mendidih, buang busa-busa yang mengambang dari rebusan daging. Teruskan masak dengan api sedang, sampai daging agak empuk.
2. Tumis bawang bombay & bawang putih hingga harum. Tambahkan wortel & kentang, aduk rata.
3. Masukkan tumisan ke panci berisi rebusan daging, aduk rata. Beri bumbu-bumbu: pala, kayu manis, cengkeh, jahe, garam, merica, gula, serta batang daun bawang & seledri. Masak sampai daging benar-benar empuk & wortel-kentang lunak.
4. Setelah daging empuk, baru masukkan tomat. Masak sebentar hingga tomat matang.
5. Setelah matang semua, matikan api. Taburi dengan daun bawang & seledri. Sajikan hangat bersama nasi.

Enaaaaaakkkkk! :9

Busy baby on the (long) weekend!

Howdy!
Akhir pekan lalu menjadi akhir pekan sibuk untuk Rasya. Pas banget lagi long weekend, bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Jadilah Rasya wara-wiri sana-sini, main dan gegayaan. Di sekolah, di rumah, di mana-mana selalu jadi bayi super sibuk! Di rumah pun Rasya nggak berhenti wara-wiri, menclok sana, menclok sini, sampai bikin saya rajin lap keringat *phew*

Baru 9 bulan nih, kalau sudah bisa jalan pasti lebih heboh lagi. Kalau nitah kamu bisa bikin Mama kurus nggak ya, Rasya? :p
Kambing berwajah sendu
Rasya terpana lihat kambing :p
Gayaaaaa :D
Haaaaa ada apa tuh, Yah?
Asyik makan puding labu kuning bikinan Mama

Rasya syubidubpapapppp.....*Rasya's jazz style*
Ohiyaaa, kemarin Sabtu saya juga masak sop kambing. Nanti ya di post berikutnya, kali aja ada yang mau intip resepnya ;)

Wednesday, October 24, 2012

Tim Roti Amuntel :9

Berhubung Rasya sudah 9 bulan, semakin banyak variasi makanan yang bisa saya kenalkan padanya. Bisa semakin seru bereksperimen juga deh! Sekali lagi, saya sangat suka dengan cara Rasya makan. Semua mau, semua dimakan lahap, semua tandas! Benar-benar anak Ayah dan Mama, ketahuan sama-sama doyan makan :D

Nah, minggu ini saya memperkenalkan roti tawar gandum ke Rasya. Variasi jenis karbohidrat juga, supaya Rasya nggak bosan makan nasi-kentang-jagung-oatmeal melulu. Tes hari pertama, saya iseng memberikan potongan roti pada Rasya. Eh doyan! Giliran saya mau ambil lantaran Rasya agak seret, nggak boleh dong sama Rasya. Rotinya tetap dikekepin, hehehe.

Hari kedua, saya buatkan tim roti spesial untuk Rasya. Resepnya saya ambil dari 112 Resep Makanan Tim Bayi karya Tuti Soenardi, dimodifikasi sesuai sayuran yang ada di rumah. 

Namanya Tim Roti Amuntel (AyaM-bUNcis-worTEL) *maksa dikit boleh yaaaaaaa*

Bahan:
2 lembar roti tawar gandum, potong pinggirannya dan iris dadu atau dicabik-cabik
40 gram daging ayam cincang
1/2 buah wortel, serut kasar
2 buah buncis, iris tipis
1/4 buah bawang bombay, cincang halus
100 ml susu 
1 butir kuning telur 
5 gram keju (pakai bellcubes)
1 sdt unsalted butter 
Sedikit air

Cara membuat:

  1. Panaskan butter, tumis bawang bombay hingga harum. Masukkan ayam cincang, tambahkan sedikit air. Masak hingga ayam sedikit matang. Tambahkan wortel serut dan irisan buncis, masak sampai matang dan kuah menyusut. Angkat.
  2. Campurkan susu dan kuning telur, kocok ringan. Masukkan tumisan isi dan campur merata. 
  3. Susun sebagian potongan roti tawar di dasar wadah tahan panas (saya pakai yang stainless steel). Tuangkan campuran susu dan isi. Tutup dengan potongan roti tawar lagi di atasnya. Beri parutan keju.
  4. Kukus selama 25 menit hingga matang.
  5. Hidangkan hangat. 
Kalau Rasya, satu mangkok stainless steel bisa untuk tiga kali makan. Ambil secukupnya (2-3 sendok makan), sisanya bisa disimpan di lemari es.  Oiya, pas mengukus, tutup pancinya dikasih serbet kain ya, supaya uapnya tidak langsung kena tim roti :) 


Hasilnya? Doyan banget! Teksturnya lembut dan mirip schotel, jadi Rasya makan dengan cepat dan lahap. Asyik!!!!

Minggu depan mau coba makaroni ah!


Monday, October 22, 2012

Ayahbunda, sumber inspirasi saya

Pertama kali saya baca majalah Ayahbunda justru ketika masih SD. Iya, baca sisipan Buncil di rumah tante yang kebetulan baru melahirkan anak pertamanya. Setiap ke rumah tante, saya pasti langsung ngubek tempat majalah, mencari Ayahbunda dan melahap habis Buncil. Waktu itu, Buncil masih mengisahkan Si Tongki Bebek, juga Koko-Moni dan Moko. Favorit saya? Tentu saja cerita pendek yang nama tokohnya diganti gambar si tokoh. Lagi senang-senangnya membaca, jadi cerita model tersebut bikin semangat membaca!

Berpisah dengan Ayahbunda sekian lama (dan bergaul dengan para saudara sedarah Ayahbunda), saya kembali melirik Ayahbunda saat dinyatakan hamil pada bulan ke-2 pernikahan kami. Pertama kali hamil, saya jadi sering membeli atau meminjam Ayahbunda di perpustakaan sekolah tempat saya bekerja. Ketika saya keguguran pada usia kehamilan 10 minggu karena blighted ovum, saya sempat terpuruk, sedih luar biasa. Saya pun mundur teratur dulu dari dunia para calon ibu.

Alhamdulillah, Allah Maha Baik, selang 45 hari kemudian saya kembali hamil (meski dokter menyuruh saya libur 3 bulan, seperti dikatakan di sini). Kehamilan kedua ini membuat saya lebih hati-hati. Termasuk menunda pengumuman kehamilan pada dunia, kecuali pada keluarga dekat dan rekan kerja. Saya kembali rajin membaca Ayahbunda. Entah mengapa, setiap kegelisahan atau kekhawatiran yang saya risaukan, pasti Ayahbunda tengah mengupas tuntas masalah tersebut. Mulai dari mitos-mitos kehamilan, perubahan fisik yang dialami, hingga memperdengarkanmusik ke si calon bayi. Saya juga langganan newsletter kehamilan Ayahbunda. Setiap menerima newsletter, saya langsung mencocokkan dengan kondisi saya, maklum sering khawatir. Pendek kata, saya coba memberi nutrisi terbaik bagi pikiran saya selama hamil, supaya “rumah kontrakan”  ini nyaman bagi si kecil selama 9 bulan berada di dalamnya! J
Rasya saat baru lahir
Pagi hari sekitar pukul 10.00 WITA pada Rabu, 18 Januari 2012, seorang bayi laki-laki lahir dari rahim saya melalui operasi caesar di rumah sakit terbesar di kota saya. Dengan berat badan 2,88 kg dan panjang 46 cm, laki-laki paling tampan di dunia itu (versi saya tentunya!) kami beri nama Cakrasyadhia Nafii Pradana. Lengkaplah sudah kebahagiaan saya sebagai seorang ibu.

Pulang ke rumah, hari-hari sebagai ibu dimulai. Menimang, memandikan, mengganti popok,  menyusui Rasya, semua menjadi kebiasaan baru bagi saya dan suami. Pertama kali kami menjadi orang tua, pertama kali kami menjadi ayah dan mama untuk Rasya. Meskipun kami berdua lulusan psikologi, teori-teori psikologi perkembangan yang kami pelajari langsung menguap begitu saja! Semua kembali ke nol, kami belajar dari awal.
Foto JUARA! :D
Lagi-lagi Ayahbunda menjadi teman setia kami, betul-betul bacaan yang cocok untuk pasangan muda! Malah Ayahbunda sudah menyemarakkan dapur saya dengan hadiah yang kami dapatkan dari lomba Twitpic Ayahbunda. Ketika itu foto Peluk Anak versi Ayah dan Rasya berhasil menjadi juara. Ada hadiahnya lho, yaitu Philips Citrus Press Juicer. Keren banget! Selain itu, saya dan suami kerap mencocokkan tumbuh kembang Rasya dengan tumbuh kembang bayi pada umumnya, seperti yang selalu disajikan dalam Ayahbunda. Benar lho, mendampingi Rasya yang sedang asyik menjelajah dunia barunya itu terasa lebih menyenangkan berbekal segudang tips Ayahbunda.

Pun ketika Rasya sudah makan, mengintip resep-resep Ayahbunda itu HARUS! Saya sering kehabisan ide membuat makanan Rasya, maka berburu resep di web Ayahbunda bisa memunculkan inspirasi untuk memasak. Apalagi Rasya selalu lahap menghabiskan makanan buatan saya. Bikin saya bersemangat memasak!

Tak terasa, artikel yang saya baca mulai bergeser ke bagian tengah majalah Ayahbunda, karena Rasya sudah 9 bulan. Persahabatan saya dengan Ayahbunda tampaknya masih akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan, saat Rasya menyandang status balita, ketika ia siap masuk ke dunia sekolah, hingga ia memiliki adik nantinya ;)

Selamat ulang tahun, Ayahbunda! Terima kasih sudah menjadi sahabat setia dan inspirasi bagi semua orang tua di Indonesia!   


*) Tulisan ini disertakan dalam Lomba Menulis Blog "Aku dan Ayahbunda" dalam rangka ulang tahun ke-35 majalah Ayahbunda.

Wednesday, October 17, 2012

Permainan masa kecil

Terinspirasi post Randompeps #317 tentang mainan yang sering dimainkan saat kecil dulu, saya jadi dibawa flash back ke zaman kecil. Besar di lingkungan komplek perumahan BTN dengan tetangga yang itu-itu saja (bahkan sampai sekarang), membuat saya cukup sering bergaul dengan teman-teman sebaya. Tahu sendiri lah, bocah kan senangnya ya main, apa lagi? :D

Frekuensi cukup sering ini masih berlanjut sampai SD saja seingat saya. Begitu masuk SMP jarang banget deh, sibuk bo, sama tugas-tugas sekolah seabrek dan ulangan yang bertubi-tubi. Lupa sama main (di luar rumah). Main di rumah saja, paling ya nonton TV, baca komik, ganggu adik, dll.

Balik lagi ke zaman SD, ada empat jenis permainan yang paling sering saya mainkan. Memang banyaaaaaaakkkk sekali permainan anak-anak yang seru, tak terhitung! Semuanya itu seru, asyik, dan pengen main lagi!

dipinjam dari nyunyu.com
Baju-bajuan/orang-orangan/boneka kertas, ah apa lagi istilahnya ya? Ini semacam boneka kertas yang sering dijual di abang-abang mainan, terus bisa kita bongkar pasang bajunya. Bajunya macam-macam, mulai baju tidur sampai baju pesta. Kadang ada sepatu atau aksesoris lain. Saya sering main ini sama tetangga seumur (yang perempuan tentunya), plus ada ceritanya. Malah saya suka menggambar sendiri rumah, persisnya denah rumah, di buku, maksudnya jadi arena cerita si boneka kertas itu. Seru! 

dipinjam dari nyunyu.com
Tepok kartu/gambar-gambaran. Eh, memang ya bocah itu menyebut mainan seharafiah apa yang dimainkan. Permainan ini menggunakan kartu-kartu bergambar, beli di abang-abang donk, biasanya satu lembar kertas ukuran A4, terus digunting sesuai garis. Cara mainnya? POK!!! Iya, adu tepok kartu, yang menang adalah yang kartunya terbuka. Kartu yang tertutup jadi hak milik si pemenang. Pemenang ya yang berhasil mengumpulkan kartu terbanyak. 
dipinjam di sini
Bola bekel. Juara banget deh ini! Saya rajin banget main bekel pas kelas 4 - 6 SD, tapi ngetop pas kelas 5 SD. Setiap hari pasti main bekel di sekolah. Datang pagi langsung keluarin biji & bola bekel, main di depan kelas sambil tunggu jam masuk. Istirahat, sambil makan bekal, main bekel. Pulang, nunggu jemputan, main bekel di hall. Main bekel berkelompok, ganti-gantian. Di kelas tuh kayak ada kompetisi bola bekel, hahaha. Nggak cuma anak perempuan yang main, anak laki-laki juga. Yang suka bikin bete adalah kalau main bekel dengan biji lebih dari 12 (malah pernah sampai 20!), anak laki kan tangannya mulai lebih gede daripada perempuan ya, jadi mereka gampang aja mainnya. 

ini tingkat merdeka, tinggi bener yaaa
dipinjam di sini
Lompat karet, bisa karet satu atau karet dua. Ini eranya berbarengan dengan bola bekel. Ngehits bersamaan di sekolah saya dulu. Minimal bertiga, terus kita main sampai ada yang 'mati' baru gantian jaga (pegang karet). Yang main anak perempuan, tapi banyak anak laki yang ikutan juga. Bikin iri kalau posisi yang tinggi mereka pasti bisa loncat karena mereka lebih tinggi daripada kami (_ _)" 
Main karet satu lebih gampang, tinggal loncat-loncat aja, bisa sampai setinggi 'merdeka' alias setinggi tangan jika kita berpekik merdeka. Kalau karet dua, ada beberapa jenis lompatan dan nggak boleh kena karet pas setinggi mata kaki. Menantang kan? 

Di sini, di sini, dan di sini, bisa diintip jenis permainan apa yang dimainkan oleh saya dan teman-teman seumuran saya dulu. Mulai dari yang asli Indonesia, sampai yang impor budaya negara lain. Dari yang sederhana, sampai yang melibatkan unsur teknologi. Dari yang bisa dimainkan sendiri, berdua, hingga kelompok besar. 

Semoga permainan masa kecil tersebut tetap bertahan di tengah gempuran mainan canggih masa kini!
Coba kita mainkan lagi bersama anak dan keponakan kita yuk! :)

Monday, October 15, 2012

Spaghetti Zucchini Schotel



Lazimnya schotel itu dipanggang. Seumur-umur saya bikin macaroni schotel selalu dipanggang. Nah, kali ini gara-gara belum punya oven, maka saya mengukus schotel. Schotel ini saya buat dari spaghetti sisa yang rasnya bosan kalau harus dibuat spaghetti bologneise. Lalu ada zucchini, jadi kepingin buat schotel!

Ilmu membuat schotel turun temurun dari Ibu lalu ke Mama, dan lanjut ke saya. Resepnya sih sederhana. Gampang dipraktekkan dan pasti enak mantap!

Bahan:
250 g spaghetti, rebus hingga al dente
2 butir telur
daging ayam/sapi giling
susu cair
1/2 buah bawang bombay, iris kasar
1 buah zucchini, potong melintang tipis-tipis
garam
merica
bubuk pala
kecap maggi
keju cheddar
mentega
sedikit air

Cara membuat:

  1. Lelehkan mentega di wajan, tumis bawang bombay hingga harum. Masukkan daging giling, beri sedikit air, aduk hingga berubah warna dan matang. Tambahkan garam dan merica secukupnya.
  2. Tempatkan spaghetti matang di wadah tahan panas, campurkan tumisan daging dan aduk rata. Masukkan telur, susu cair (dikira-kira aja), bubuk pala, kecap maggi, dan sebagian irisan zucchini. Setelah rata, tambahkan parutan keju, aduk hingga seluruh adonan tercampur baik. 
  3. Untuk sentuhan akhir, ratakan permukaan adonan. Susun irisan zucchini dan tutup dengan parutan keju.
  4. Siapkan panci kukus. Setelah air mendidih, masukkan schotel dan kukus selama 25-30 menit (hingga bagian tengah tidak terlalu basah. Karena dikukus, agak sulit untuk sampai kering benar). 
  5. Setelah matang, angkat, diamkan sebentar, baru sajikan dengan saus sambal.
Yummy!
Schotel bikinan pabrik lewat deh! :9

Rasya & High Chair

Dalam wish list perlengkapan bayi saya, sebetulnya high chair alias kursi makan bayi tidak terpikirkan untuk dibeli. Maklum, seingat saya, dari dulu kami bertiga (saya dan adik-adik saya) tidak ada yang makan di kursi makan khusus. 

Ketika teman-teman kantor suami bertanya mau dihadiahi apa, suami bilang yang biasa-biasa saja, lantaran beberapa perlengkapan 'besar' (kereta bayi, tempat tidur, baby tafel) sudah tersedia di rumah. Apa yang belum punya ya? Sampai akhirnya saya kepingin high chair untuk kado lahiran Rasya. Gara-gara 'terdoktrin' ibu-ibu di Mommies Daily tentang pentingnya untuk membiasakan anak duduk tenang saat makan di kursi. 

Beberapa minggu setelah Rasya lahir, rombongan teman kantor suami bertandanglah ke rumah, membawa sebuah high chair merek Baby Does! Yeay! Saya melonjak kegirangan, hehehehe. Ternyata, menurut suami, high chair tersebut dibeli mbak atasannya saat dinas ke Jakarta. Jadi, high chair tersebut sudah menempuh perjalanan panjang sebelum sampai ke rumah kami. Alhamdulillah, memang rejeki Rasya ya :)
Debut Rasya di high chair, ganjelannya banyak :p
Debut Rasya duduk di high chair saya lakukan saat ia 6 bulan, ketika ia mulai makan. Namun, ketika itu Rasya belum terlalu mantap posisi duduknya, ditambah senderan kursi tersebut tidak bisa disesuaikan tinggi rendahnya. Terlalu tegak, saya pun khawatir Rasya tidak nyaman, meski ia sih senang-senang saja.  Kursi itu pun saya simpan lagi. Akhirnya, Rasya duduk di bouncer portable merek Mastella yang dibelikan Mama.

Sepulang dari Jakarta, saat makan siang di bandara Sepinggan, Balikpapan, Rasya didudukkan di high chair lagi setelah absen 1 bulan. Eh ternyata, dia sudah bisa!!! Berhubung sudah lebih jago duduk juga, Rasya pun duduk lebih mantap di high chair restoran tersebut. Sampai rumah, saya langsung mengeluarkan high chair dan Rasya mulai belajar makan di situ. Awalnya Rasya enggan apalagi kalau sudah pasang seat belt. Meronta menangis heboh. Namun, begitu disuapi makanan, langsung deh tenang. Biasanya, saat makan ia harus menggenggam sesuatu, supaya sibuk! Kalau tidak, ia pasti akan dengan sigap meraih piring atau sendok yang saya pegang.

Hingga kini, Rasya masih duduk di kursi makan setiap kali ia makan, terutama bila disuapi saya. Begitu juga jika saya memberikan finger food alias cemilan ke Rasya, wajib hukumnya duduk di high chair. Dengan pembantu saya, Rasya biasanya digendong pakai jarik (iya, orang Jawa banget deh!). Nggak masalah kok, yang penting Rasya tenang saat makan, tidak lari-lari sana-sini. 
High chair di Bakso Lapangan Tembak, Balikpapan
High chair di Pizza Hut
Makan ubi kukus
Makan puding bikinan Mama, berantakan :p
Pendek kata, saya berusaha sedini mungkin membiasakan Rasya makan dengan duduk tenang sampai habis. Kalaupun Rasya heboh bikin berantakan meja makannya, ya nggak apa-apa, kan bisa dibereskan nanti. Yang penting Rasya senang dan belajar bagaimana makan! :D

Sunday, October 07, 2012

Jalan-jalan dengan Hanaroo Baby Wrap

Seiring semakin besarnya Rasya, saya sangat mengandalkan gendongan ke mana pun pergi. Menggendong Rasya tanpa gendongan saat pergi ke tempat publik selama berjam-jam itu cukup bikin tangan pegal dan kemeng. Walhasil, setiap pergi saya selalu siap sedia dengan baby wrap andalan.

Karena tubuh Rasya juga semakin besar, sesekali saya mencoba gendongan ransel hadiah dari teman suami. Lumayan sih untuk pergi yang dekat-dekat. Namun, kalau pergi ke tempat agak jauh dan menggunakan motor, saya lebih suka dengan baby wrap, khususnya Hanaroo. Mengapa? Bahan Hanaroo yang lebih tebal mampu melindungi Rasya dari angin (meskipun tubuhnya yang berjaket tetap tertutup tubuh besar si ayah) plus mampu menahan beban tubuh Rasya. Kalau ia tidur, ia tetap hangat dalam dekapan baby wrap dan saya tinggal memeluknya. Di sisi lain, gendongan ransel bikin punggung dan bahu pegal lebih cepat. Pakai baby wrap saja tetap lumayan pegal (ya faktor Rasya sudah besar juga sih), apalagi dengan gendongan ransel *pijat-pijat bahu*

Pun saat pergi ke luar kota, saya memilih Hanaroo untuk menggendong Rasya. Lebih mantap dan tidak melorot. Apalagi Rasya nggak betah digendong menghadap tubuh saya, pasti ia memiringkan kepala ingin hadap depan. Dengan Hanaroo, posisi baby face the world itu memungkinkan mengingat bahannya lebih tebal, jadi tidak terlalu menggantung. Meski begitu sebaiknya jangan lama-lama menggendong dalam posisi demikian, sering berganti posisi saja :)

Jalan-jalan lagi yuk, Rasya!
Mommy kangaroo!




Friday, October 05, 2012

MPASI 8 bulan versi Rasya

Masuk bulan ke-3 sejak Rasya mulai makan, semakin banyak jenis makanan yang sudah dilahap Rasya. Jika di bulan ke-7 kemarin Rasya masih makan bubur tim saring, sejak akhir bulan ke-7 makanan Rasya sudah nggak disaring lagi. Alasannya, satu, saringan Pigeon Foodmaker itu membuat nasi tim jadi super halus. Dua, gigi Rasya sudah empat, dua bawah dua atas, kemampuan ngunyah semakin terasah. Makanya Rasya nggak doyan bubur yang terlalu halus, encer, atau nyaris tanpa sesuatu yang bisa dikunyah. Wong sekarang hobinya gigit-gigit barang keras kok (_ _)"

Bulan ke-8 usianya, saya juga memperkenalkan Rasya pada ati dan kuning telur ayam kampung. Sebetulnya sudah gatal pengen ngasih ini sejak akhir bulan ke-7, tetapi masih saya tahan sampai bulan ke-8. Khawatir ada alergi, khususnya telur. Karena sempat ketika saya makan omelete, sorenya Rasya merah-merah di wajah (ya, Rasya masih FULL ASI). Pas mau ke dokter juga dan memang alergi kata dokter. Duh. Jadi, sekarang saya lebih hati-hati makan telur. Saya absen dulu makan lauk telur, kecuali telur ayam kampung. Sepertinya untuk telur ayam kampung lebih cocok untuk Rasya daripada telur ayam negeri.

Benar saja, saat diberikan kuning telur (direbus matang lalu kuningnya dilumatkan dengan sendok dan dicampur ke nasi tim), Rasya makan dengan lahap. Rasya doyan semua! Pun ketika saya masak ati ayam (dikukus bersama kaldu, daun bawang, dan jahe, lalu dilumatkan dengan sendok dan dicampur ke nasi tim), tetap disantap hingga tandas! Dibuat liver gravy (ala MPASI Rumahan) untuk teman nasi tim saat ke Samarinda juga Rasya suka. Senangnya si Mama kalau Rasya mau makan semuanya! :D

Di bulan ke-8 ini, saya juga mencoba berbagai macam metode memasak nasi tim. Yang paling hits di kalangan emak-emak era internet tentu saja dengan slow cooker! Akhirnya saya coba juga, meski tetap lebih suka masak cara biasa. Memasak dengan SC saya lakukan bila ada daging sapi utuh. Karena pakai SC, daging jadi lembuuuttt banget dan mudah dikunyah! Enaknya pakai SC, nggak perlu saring atau dilumatkan lagi karena buburnya sudah lembut. Plus baunya harum!
Hasil masak perdana dengan SC, terlalu lembut malahan.
Hari berikutnya air dikurangi jadi lebih pas!
Metode lama yang saya jalankan setiap hari ya memasak nasi tim dari beras (kadang malas masak nasi baru :p). Beras dimasak hingga empuk, lalu masukkan kaldu/air+ceker+daun bawang/bawang putih/bawang bombay, daging giling, dan sayuran keras (wortel, labu, dll) dan dimasak sampai jadi air habis dan nasi mirip bubur. Baru dipindah ke mangkuk stainless steel dan dikukus 20 menit. Sepuluh menit terakhir tinggal tambahkan sayuran hijau (brokoli, bayam, caisim, sawi, dll). Sebagai variasi, kadang saya tambah irisan tempe atau kacang merah cincang (yang sudah direbus tentunya). Pengen beli tahu tapi di sini jarang ada tahu sutra/tofu. Nah, bagian paling seru adalah jika sudah matang, beri sedikit unsalted butter pas masih panas, bikin baunya makin harum! Kadang saya tambahkan sedikit keju (Diamond Cheddar atau Belcubes). Hmmmm.....*laper deh*

Oiya, karena Rasya juga makin ahli menggenggam, saya memberikan Rasya finger food dalam tingkat yang lebih advance, bukan cuma sekedar biskuit saja. Saya sudah mencoba agar-agar+jus buah melon dan sayuran kukus (wortel, ubi, dll). Empuk dan mudah lumer di mulut, sekalipun tidak selembut biskuit. Kalau buah-buahan, sementara sih masih dipegangi, diparut, atau masuk teething feeder. Rasya kadang menggigit terlalu besar, khawatir tersedak. 
Seru makan agar-agar bikinan Mama
Belepotan, hehehe
Pendek kata, semakin besar Rasya, semakin banyak ragam makanan yang bisa ia coba. Saya harus sering-sering intip resep atau coba bahan dan variasi makanan baru supaya Rasya tetap doyan makan. Memang sih saya nggak bikin menu terjadual seperti bulan pertama, tetapi tetap direncanakan dulu sehubungan dengan beli bahan masakannya. Seminggu saya variasikan, misalnya 5 hari makan nasi tim, 2 hari makan bahan pangan lain (kentang, oatmeal, jagung, ubi). Setiap kali masak menu baru, saya lebih excited dari biasanya! Apalagi Rasya, pasti jadi lebih lahap! 

Mau coba makanan apa lagi, Rasya? :*

Tuesday, October 02, 2012

Lil's weekend vacation!

Akhir pekan lalu jadi pengalaman pertama Rasya menginap di Samarinda. Pengalaman pertama menginap di hotel, pengalaman pertama berenang, tetapi bukan pengalaman pertama pergi ke mal, hehehe. Meski begitu, rasanya ini kali pertama kami pergi ke mal bertiga, sekeluarga, Rasya-Ayah-Mama. Kemarin pas Lebaran pergi ke mal cuma bareng Mama atau Ayah dan Mama saja, ya Rasya?

Ini nih cuplikan jalan-jalan Rasya.











Catatan Rasya (10): mau ini, mau itu!

Dear Rasya,
sekarang usiamu sudah 8 bulan. Mama mengamati setiap detil tumbuh kembangmu dari hari ke hari. Makin lama, makin banyak keahlian yang Rasya kuasai.

Setiap minggu selalu saja ada keahlian baru yang kamu kuasai. Pelan tapi pasti, kamu semakin pintar duduk, merangkak, bahkan berdiri. Begitu juga soal pegang barang. Semua barang kamu pegang dan masukkan mulut. Majalah, kertas, buku, dan tissu sedang menjadi favorit Rasya bulan ini. Artinya, Rasya mulai pandai menggenggam benda-benda tipis! 

Saat mandi menjadi saat menyenangkan buat Rasya. Habis nangis seheboh apapun, Rasya pasti anteng kalau mandi. Main air, main air, kecipak kecipak! Teman mandi Rasya adalah Mr. Kodok, Bebek kuning, dan Spongebob. Kalau mandi sama Ayah, Rasya bisa main air sampai puas! Tapiii....sehabis mandi menjadi tantangan lain untuk Ayah atau Mama, karena Rasya aktif luar biasa saat dipakaikan baju. Ambil ini ambil itu, minyak telon, bedak, baju, celana, apa saja yang ada di sekitar Rasya! Sering banget Ayah atau Mama mengingatkan 'Rasyaaaaaaa' sampai berkali-kali. Tetap saja Rasya heboh! Pokoknya harus selalu ada yang dipegang Rasya, biar tangannya sibuk!

Pas makan, kalau sama Mama, Rasya duduk di high chair. Sama Bude Titik, Rasya makan sambil digendong. Nggak apa-apa, yang penting Rasya makannya banyak! Soalnya, Rasya semakin besar, jadi butuh energi banyak untuk menjelajah setiap sudut rumah. Makanan favorit Rasya apa ya? Pisang! Nasi tim pakai lauk apa yang Rasya suka? Kayaknya semua lauk jadi kesukaan Rasya. Ditambah kuning telur, Rasya suka. Ditambah ati, Rasya suka. Dikasih parutan wortel dan irisan tomat, hmmm, Rasya juga suka. Dicampur keju, Rasya doyan. Bahkan agar-agar melon buatan Mama, Rasya juga doyan banget! Mama paling senang kalau masakan Mama habis dilahap Rasya. 

Rasya,
setiap Mama lihat Rasya, Mama sadar kalau Rasya sekarang sudah jadi seorang anak, bukan bayi kecil Mama lagi. Di usia 8 bulan, Rasya mulai menunjukkan bahwa Rasya punya keinginan. Ketika makan misalnya, Rasya akan menunjuk gelas sambil merengek kalau ingin minum. Rasya sibuk pukul-pukul meja high chair jika ingin makan lagi. Rasya juga nggak suka ditinggal-tinggal, maunya ditemani main. Mama harus pintar-pintar mengenali keinginan Rasya, supaya nggak sering-sering dimarahi Rasya, hehehe.

Nah, tapi yang paling Mama kagumi dari kebisaan Rasya, keahlian Rasya senyum setiap kali difoto! Setiap difoto, Rasya pasti melihat ke kamera, kadang sambil pamer gigi :D Oiya, Rasya juga mulai mengenali siapa yang difoto pas Mama tunjuk foto atau video Rasya. Ehhh....Rasya juga suka kepo! Kalau Mama atau Ayah lagi balas bbm, Rasya pasti ngintip malah sampai memiringkan kepala, hahahaha.

Rasya,
Mama menunggu kebisaan lain kamu. Mudah-mudahan, semakin banyak makanan yang dimakan Rasya, membuat Rasya juga semakin cepat tumbuh besar. Sehat selalu ya, Nang! :*