Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Sunday, October 20, 2013

Catatan Rasya (19): Membiasakan Nilai-Nilai pada Rasya

Bicara soal standar, setiap orang pasti punya standar yang harus ia penuhi dalam hal tertentu.
Atau kita sebut saja standar itu sebagai nilai, value, yang kita anut sebagai individu.
Sebagai produk sekolah berdisiplin tinggi, saya sangat menjunjung kedisiplinan. Datang tepat waktu (malah kalau bisa 30 menit sebelumnya), rapi dan teliti dalam semua pekerjaan, bekerja dengan cekatan-efektif-efisien, hingga terbiasa dengan rutinitas yang sama (sebisa mungkin dilakukan pada jam yang sama). 

Jika terlambat sedikit, saya pasti panik, mau titip absen pun malas karena digelayuti rasa bersalah yang nggak hilang-hilang. Kalau bekerja tanpa deadline, pasti nggak enak rasanya, karena biasa kerja diburu deadline. Jika nggak masuk kerja, merasa bertanggung jawab pada tugas yang ditinggalkan, nggak bisa masa bodoh begitu saja. Kerapian pekerjaan itu nomor satu, berantakan sedikit, kurang sedikit, rasanya nggak enak. Sempurna, itu harus! Pun pada rutinitas, nggak enak jika biasa berangkat pagi tiba-tiba jadi berangkat siang. 

Saya selurus itu.

D u l u.

Bukan berarti sekarang nilai-nilai itu sudah terkikis dari diri saya. Namun, sejak menikah dan punya anak, saya sadar ada beberapa nilai itu yang perlu ditata ulang. Bukan menurunkan standarnya, tetapi menyesuaikan standarnya. Suami saya termasuk tipe orang yang lebih santai jika dibandingkan saya yang terkesan ribet-rempong-heboh sedunia. Awal pernikahan, entah berapa juta kali saya bete hanya karena hal kecil yang sebetulnya nggak perlu dibuat besar. Akhirnya, saya jadi stres dan gampang ngomel :p 

Respon santai suami yang bikin saya sering mengerem diri, mengingatkan diri untuk lebih menikmati hidup. Saya sering diomeli suami kalau pulang kerja langsung beberes rumah, sementara sebelumnya saya sudah ngeluh panjang lebar pada suami bahwa saya capek. Maka, ia akan menyuruh (dan memaksa!) saya istirahat, ketimbang memaksakan diri bersih-bersih tapi sambil ngomel ke sana kemari *tutup muka*

Ditambah lagi sejak punya anak. Kalau ada acara pas jam tidur Rasya, maka kami tak memaksakan diri untuk hadir pada jam tersebut. Terlambat nggak apa-apa daripada harus membangunkan Rasya yang sedang pulas tidur. Kita saja yang orang dewasa kalau dibangunkan mendadak jadi kesal, apalagi anak-anak, hehehe.

Lalu sampai kapan saya berlaku begini?

Tentu tidak seterusnya, karena saya yakin nilai-nilai yang saya anut sejak dulu itu layak untuk diwariskan pada anak-anak kelak. Perlahan tapi pasti, satu per satu nilai itu mulai saya kenalkan pada Rasya. Contoh, menjalani hari dengan kegiatan rutin pada jam-jam tertentu, seperti mandi jam 6.30, setelah mandi lalu sarapan, dan seterusnya. Begitu pula dengan menyimpan barang yang sudah selesai dipakai. Setiap habis mandi, Rasya tahu ia harus ke mana untuk mengambil pakaian dan bedaknya. Setelah itu, ia akan mengembalikan handuknya ke tempat semula. Begitu pula jika baru pulang jalan-jalan, ia langsung tahu sepatu ditaruh di mana, bahkan meletakannya dengan rapi!

Semakin besar Rasya, semakin besar pula tantangan saya dan suami untuk mengajarinya berbagai nilai yang kami miliki. Saya percaya, kami berdua dapat melakukannya. Nilai-nilai tersebut perlahan akan ditata lagi standarnya, ketika saatnya tiba.

Misalnya, soal konsep waktu. Saat Rasya mulai bersekolah, maka kami bisa menerapkan disiplin waktu dengan lebih baik. Pun ketika melakukan perjalanan dengan pesawat, ketepatan waktu adalah mutlak. Paling sederhana, Rasya mulai mengerti kapan saya harus berangkat kerja. Konsep waktu memang masih abstrak bagi anak seusia Rasya, tetapi mereka bisa belajar tentang itu dengan melihat tanda-tanda. Jika ia melihat saya sudah mengenakan seragam kerja, membawa tas, dan memakai sepatu, ia langsung melambaikan tangannya dan minta cium tangan.

Ya, masih banyak sekali PR kami sebagai orang tua, seiring tantangan yang terus diberikan Rasya lewat proses tumbuh kembangnya. Kami masih menanti lebih banyak kata dari Rasya, yang kini lebih cerewet dan ramai. Kami juga sering dibuat heran sekaligus geli dengan setiap aksi yang ia lakukan. Plus, kami harus meningkatkan kewaspadaan pada setiap perilaku yang kami lakukan. Dia mulai pandai meniru!

Ayo Rasya, lekas besar, tambah pintar, sehat selalu! Ayah dan Mama menunggu kejutan lain dari kamu! :*



Thursday, October 03, 2013

The Voice 5!

Saya sangat suka nonton TV, tapi saluran televisi berlangganan. Menu harian saya nggak jauh-jauh dari Star World, E!, Fox, TLC, AFC, kadang Universal Channel, SET, dan AXN. Hampir dua bulan belakangan saya jarang nonton AXN karena belum ada tontonan menarik. Tontonan wajib saya banyak di Star World. Oh, saya cinta banget sama channel ini :*

Sampai kemarin saya nonton The Voice 5, reuni bagi para pelatih. Christina Aguilera dan Cee Lo Green datang lagi. Asyik, ini bakal lebih seru dari musim lalu! Nggak tahu kenapa, saya senang sekali mengikuti 'perseteruan' para pelatih saat merayu penyanyi untuk masuk ke tim mereka. Ledekan dan candaan antara mereka itu lucu, tapi nggak dibuat-buat. Makanya, saya bersemangat lagi nonton The Voice 5.

Sayangnya, saya ini angin-anginan. Empat musim The Voice, saya cuma betah nonton sampai battle round saja. Begitu konser live, saya malah malas. Makanya saya nggak ngeh juga kalau Blake Shelton menang lagi di musim lalu. Yeah, Blake sudah menang tiga kali. Ini memang menunjukkan kualitas Blake sebagai seorang musisi handal yang tahu persis kualitas bintang dari artis bidikannya. But, three times seriously? Just give it all to other coaches!

Semalam saya menemukan satu penyanyi luar biasa di blind audition. Namanya, Barry Black. Penampilan biasa saja, tapi suaranya............OMG! Semoga ia terus melaju dan bikin saya tetap betah nonton The Voice 5 sampai selesai! :D