Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Friday, June 29, 2012

Menyusui VS demam berdarah


Demam berdarah, atau DENGUE HEMORRHAGIC FEVER (DHF), demikian diagnosa dokter jaga di UGD pada saya Sabtu pagi itu. Trombosit dan leukosit menurun, saya pun harus dirawat. Huhuhuhu, langsung saya meringis menangis, karena nyeri infus, karena sakit kepala, dan tentu saja karena saya harus berpisah sejenak dengan Rasya. Benarlah dugaan saya setelah tiga hari berturut-turut didera demam dan pusing, plus alergi obat di kulit. Apalagi seminggu sebelumnya suami baru saja pulang dari RS karena DB dan tipes, sekarang...dengan sangat terpaksa mengaku kalah pada DB.

Ketakutan saya terjadi, dan pagi itu, saya yang masih menyusui Rasya, 5 bulan, hanya meninggalkan dua botol ASIP di rumah. Perasaan enggan dirawat tetap tak bisa dipertahankan. Untunglah, perawat mengizinkan saya tetap memompa dan Rasya dibawa ke RS untuk menyusui langsung. Dokter pun sengaja tidak memberikan saya antibiotik apapun, sehingga saya tetap bisa aman menyusui. Hanya saja, permasalahannya bukan itu!

Sejak demam dua hari sebelumnya, produksi ASI saya tak sebanyak biasa. Bila menyusui langsung masih memungkinkan Rasya mendapatkan ASI, maka lain ceritanya bila harus memompa. Oh, saya betul-betul menangis sedih melihat hasil pompa ASI. Pabrik susu ini pun tak sempat kencang, malah cenderung kosong. Sampai pompa ASI tak mampu mengeluarkan ASI yang tersisa. Alih-alih menyerah, saya memerah dengan tangan. Naluri saya mengatakan, saya tetap harus memberikan ASI untuk Rasya! Dengan sisa-sisa tenaga, sambil menunggu kedatangan Rasya, saya menghabiskan waktu dengan memerah ASI. Hari pertama, Rasya membawa pulang dua kantung masing-masing 30 ml saja. Malam pertama di RS suami menemani saya, sementara Rasya di rumah bersama Mama yang kebetulan sedang datang. 

Esok pagi sebelum suami pulang, saya sudah membekali suami dengan ASI perah lagi. Kali ini agak lumayan, dapatlah dua kantong, salah satunya 60 ml. Porsi biasa Rasya minum ASI perah 90 ml, kali ini terpaksa dikurangi jatahnya. Mudah-mudahan nanti siang bisa dapat lagi. Sampai sore, stok ASI aman. Namun, menjelang malam kedua saya dirawat, Rasya menangis tak berhenti di rumah. Ia kelaparan. Ibu mertua datang mengambil ASI di RS. Saya memerah dengan terburu-buru, lepas pompa, ganti tangan, pakai pompa, lepas, ganti tangan lagi. Hasilnya, 'cuma' 30 ml saja. Nggak apa-apa, yang penting ada, akhirnya ASI itu dibawa pulang. Sebelum suami saya pulang pun saya membekalinya lagi dengan ASI untuk besok pagi, yang ternyata....habis diminum Rasya malam itu.

Syukurlah ada Piala Eropa 2012, saya tiap pagi buta ikut bangun dan begadang. Bukan nonton bola, tetapi memerah ASI. Demi kelancaran memerah ASI, saya melakukan stimulasi LDR. Ah memang, dalam setiap permasalahan, kita selalu bisa menemukan cara baru untuk mengatasinya. Jika sebelumnya saya hanya mengandalkan ready stock, kencang baru memerah, maka kini saya bisa menstimulus LDR dan langsung memompanya, sehingga ASI bisa mengalir deras! Pagi itu hari ketiga di RS, saya tersenyum lebar. 

Sampai sore stok ASI aman. Rasya datang setiap siang, menyusui langsung sambil saya keloni hingga tertidur pulas. Mama dan adik bolak-balik menemani saya setiap hari. Saat Rasya pulang, saya membawakan dua kantong ASI perah. Seiring nafsu makan saya membaik, produksi ASI juga mulai meningkat. Namun, ujian terberat justru baru datang hari ini. Saat saya sedang memompa ASI dan berhasil mendapat 90 ml malam itu, Mama menelpon suami dan mengatakan Rasya terus-terusan menangis lapar. Tangisannya sangat heboh sampai tidak bisa dihentikan. Papa juga menelpon saya dan mengatakan sesuatu yang membuat saya patah hati."Kasihan Rasya, kasihkan saja susu tambahan. Kamu nggak boleh egois atau memaksakan diri untuk full ASI eksklusif, sekarang kan keadaannya beda. Kamu sakit. Anakmu nangis terus-terusan sampai semua bingung. Nggak usah mikir lama-lama, kasihkan saja susu tambahan!"

Itu terdengar seperti ultimatum ketimbang saran. Saya langsung menangis sedih. Apalagi saya baru saja berhasil memompa 90 ml!! Saya cuma bisa memeluk suami. Rasanya....perjuangan saya beberapa hari ini tak ada arti. Ultimatum itu membuat saya berpikir...apa iya saya egois? Apa iya saya terlalu memaksakan diri? Namun, selama ini kan berhasil tuh. Saya tetap bisa memberi ASI untuk Rasya! Kenapa harus diberikan susu tambahan??? Ya, saya nggak rela.

Untunglah suami membesarkan hati saya. Dia mengatakan ya sudahlah, yang penting Rasya bisa tenang di rumah, sambil mengingatkan saya untuk tetap tenang dan rileks supaya produksi ASI juga terjaga. Toh akhirnya, susu formula sudah dibeli, tetapi malam itu Rasya pun enggan meminumnya. Suami bilang, dia hanya meminumnya sedikit lalu memasang wajah aneh dan melepeh kembali susu itu. Mendengar cerita tersebut, saya nggak tahu harus bersyukur atau merasa bagaimana, hehehe. Ah, Rasya, kamu memang pintar :D

Apa yang saya pelajari dari pengalaman berharga ini?

  • Lesson learned, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi. Saya memang tidak terbiasa menyetok ASI berbotol-botol. Sekalipun saya bekerja, tetapi saya terlena dengan jarak tempat kerja dekat, sehingga selama ini hanya memerah ASI untuk diminum besok. 
  • Saat sakit, obat terbaik untuk mengembalikan produksi ASI tentu dengan banyak makan dan minum. Nggak doyan makan, gantilah dengan buah. Dalam kondisi DB, buah-buahan adalah penyelamat saya dari kelaparan, saat makan bubur pun terasa hambar! 
  • Selalu katakan pada dokter jika sedang menyusui, sehingga dokter memberikan obat yang sesuai. Tetangga saya, busui juga, diberikan antibiotik saat dirawat karena DB. Ujung-ujungnya, malah tidak bisa menyusui karena ASI yang sudah diperah terpaksa dibuang akibat mengandung antibiotik. Pun jika terpaksa sekali harus minum antibiotik, ada kok antibiotik yang pasti aman untuk ibu menyusui.
  • Selalu berusaha untuk tetap memompa ASI! Berapapun yang kita dapat itu berharga! Semakin sering kita pompa, semakin cepat jumlah produksi ASI bertambah. Saya saja sampai membawa bantal Rasya yang berbau asem itu supaya membuat saya terus teringat padanya saat memompa dan berhasil! ;)
  • Katakan apa yang kita butuhkan pada para perawat. Bawalah breastpump dan kantong penyimpan ASI. Minta saja disediakan air panas, sehingga setiap selesai memompa, pompa bisa langsung dibilas dan disteril dengan air panas. Alhamdulillah, para perawat di RS sangat mengerti dengan kondisi saya. Mereka sangat membantu saya dalam menjaga produksi ASI. Setiap selesai memompa, saya menitipkan ASI perah di lemari es. Malah, seorang perawat ikut tertarik dengan jenis breastpump dan kantong penyimpan ASI yang saya gunakan dan bertanya-tanya beli di mana, hehehe.

Alhamdulillah, sekarang produksi ASI saya sudah kembali seperti semula. Jangan pernah menyerah untuk menyusui, dalam kondisi apapun! Selama dokter bilang boleh menyusui, sakit apapun yang kita alami, sok atuh!  Yang jelas, ketika ibu terinfeksi suatu penyakit, ASI otomatis membangun antibodi terhadap penyakit itu, sehingga bayi Insya Allah bisa terlindungi. 

Ah ya, dan Rasya pun sudah bisa memilih mana yang terbaik untuk dirinya sendiri! ASI! :)



Just a quick hello!

Sabtu minggu lalu, masuk UGD dan berakhir dengan rawat inap gara-gara DB.

Plus meringis menangis sedih gara-gara produksi ASI tipis pis...(Cerita selengkapnya ditunggu ya).Alhamdulillah sudah balik lagi :)

Rabu siang kemarin sudah pulang tapi tetap melayang-layang di rumah. Namun, tetap paling menyenangkan di rumah! Rasyaaaaaaaaaaa!!!! *kecup-kecup sampe basah*

Sunday, June 17, 2012

PicMix it!

Mainan baruuu....tapi isinya Rasya semuaaaa....syalalalalalala






Ganteeeeennngggg!!! :*



Catatan Rasya(6): Si Tukang Ngoceh

18 Juni 2012, Rasya genap 5 bulan! Satu bulan lagi menuju makanan padat! 

Sebulan terakhir, perkembangan Rasya semakin pesat. Saya terkagum-kagum pada setiap hal kecil yang mampu ia lakukan. Ia sudah tidak mau lagi lama-lama tidur telentang, bahkan ia bisa mengangkat tubuhnya untuk bangun! Kalau disandarkan pada bantal yang agak tebal, dengan cerdik ia menahan tubuh dengan kedua tangannya sehingga tidak bersandar. Peganglah kedua tangannya, maka Rasya akan menyambut dengan berusaha bangun alias posisi mini sit-up. Soal tengkurap, tubuhnya sudah bisa miring-miring, pun sudah lancar juga kembali dari posisi tengkurap. Namun, Rasya masih belum mau tengkurap sendiri. Saya curiga sepertinya ia akan lebih cepat duduk daripada tengkurap, hadeuh...

Teether! Jika sebulan lalu untuk bermain teether masih harus dipegangi, sekarang ia sudah mampu mengambil teether dengan kedua atau satu tangan dan memutar-mutarnya sedemikian rupa sambil diemut. Seperti saya ceritakan pada post sebelumnya, Rasya hobi sekali menghabiskan me-time dengan teether jagung atau nanas miliknya. Ia terfokus pada barang tersebut saja.


Nah, minggu lalu suami saya masuk RS karena demam berdarah dan tipes. Saya pun hanya berdua saja di rumah bersama Rasya. Ada kalanya ibu pengasuh Rasya tidak bisa datang pagi, sementara saya harus bekerja. Akhirnya, tak ada pilihan, Rasya saya ajak ke sekolah. Hari pertama, Rasya masih banyak diam, tidak ngoceh, dan mengamati. Namun, ia sudah mau digendong sana-sini. Syukurlah teman-teman bersedia memomong Rasya saat saya mengerjakan sesuatu. Hari kedua, saya mengajak Rasya dengan naik kereta dorongnya. Begitu sampai, ia langsung disapa banyak orang. Tanpa diduga, ia langsung meresponnya dengan berteriak 'aaaah!' sambil tertawa lebar. Wah, tentu saja respon Rasya ini disambut gembira teman-teman. Langsung deh Rasya ditanggap, diajak bercanda, dan ia sukses tertawa lebar. Bahkan, ketika saya sibuk mengerjakan laporan, Rasya dipindah-pindah dari satu bude ke satu pakde, ke tante lain, lalu ke pakde lainnya. Semua berkomentar sama, Rasya sumeh alias murah senyum dan ramah. Ia pun akan serta merta menerima ajakan digendong jika kita menyodorkan tangan padanya.

Si tukang ngoceh ini pun beraksi heboh sampai berteriak-teriak. Kata ibu pengasuhnya, Rasya kalau teriak-teriak seperti burung berkaok-kaok! Kadang ia berteriak sampai suaranya hampir habis. Kalau sudah begitu, jurus andalan saya adalah langsung menyanyikan lagu. Biasanya, ia akan segera diam dan memperhatikan saya bernyanyi. Malah, kalau saya berhenti bernyanyi, ia akan berteriak lagi hehehe. Begitu juga saat saya sedang berbicara dengan Mama di telepon, ia akan memperhatikan saya dengan seksama. Ya, dengan sepasang mata bulatnya itu! Seolah dia mengerti apa yang sedang saya bicarakan. Satu lagi, Rasya juga mulai sadar bahwa ia bernama 'Rasya.' Jika ia menangis atau berteriak-teriak, cukup panggil nama Rasya atau Lil' (panggilan sayang suami), ia akan segera mencari suara itu dan diam sejenak.

Ia juga sudah merespon pada setiap ekspresi atau suara aneh, dan permainan cilukba. Tertawanya sampai terkekek-kekek geli, meski belum seheboh yang banyak di video-video bayi itu. Oh, kamu akan segera menuju ke sana, Lil'! Oya, dia sudah mampu melihat sesuatu dari jarak agak jauh. Setiap saya pulang bekerja, saya memanggil namanya dan ia langsung menoleh sambil tertawa.

Aaaaahhh....itu senyum paling bikin kangen!!! *meleleh sambil uyel-uyel Rasya*
Kebayang kan betapa kangennya suami saya selama seminggu menginap di RS? Ini nih ketawa yang paling bikin kangen sedunia!!!




Thursday, June 07, 2012

Kapan Rasya siap untuk MPASI?

Kalau kemarin saya sudah bercerita tentang apa yang akan saya mulai untuk MPASI Rasya, hari ini saya ingin merangkum kapan waktu yang tepat untuk memulai MPASI. Saat ini semua dokter spesialis anak sepakat untuk merujuk pada ketentuan WHO bahwa makanan padat harus mulai diperkenalkan pada bayi enam bulan. Alasannya, setelah lulus ASI eksklusif, sistem pencernaan bayi sudah berfungsi baik dan kekebalan tubuh sudah terbentuk. Pun dengan sistem saraf dan otot mulut bayi yang sudah berkembang. Jika selama ASI eksklusif ia masih mengandalkan refleks mengisap, maka sejak 6 bulan refleks itu menghilang. Sebaliknya, ia mulai mampu membuka mulut saat ada sendok mendekat, mengatupkan bibir atas atau bawah ke dalam, dan menelan makanan. Dengan demikian, secara fisiologis bayi lebih siap untuk makan. 

Selain itu, bila pada usia 0-6 bulan ASI mampu mencukupi 100% kebutuhan gizi bayi, maka pada usia 6-9 bulan ASI hanya mencukupi 60% kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu, diperlukan makanan pendamping (MP) ASI supaya kebutuhan gizi bayi terpenuhi. 

Bayi juga bisa menunjukkan tanda-tanda fisik lain guna melihat apakah ia siap makan atau belum. Pertama, ia sudah bisa duduk meski dengan sedikit bantuan. Kedua, ia mampu mengontrol kepala dan lehernya. Ketiga, ia tampak tertarik melihat makanan, sendok, dan garpu. Keempat, ia hobi memasukkan apapun ke mulut.

Hmm, sebenarnya beberapa tanda memang sudah muncul pada Rasya, tapiiiiii tetap bukan jadi patokan untuk memberinya makan lebih awal!! Catat! :p Rasya memang sudah lihai mengontrol kepala dan leher, tetapi masih perlu bantuan untuk duduk. Tengkurap sendiri saja belum lancar, meski bisa kembali telentang setelah tengkurap. Kalau duduk pun, maunya bangun sendiri dan merosot ke bawah. Lalu, ia sangat hobi menggigiti teether dengan berbagai pose, bahkan sampai marah-marah kalau teether itu 'terbang ke dimensi lain'(ini istilah suami) a.k.a 'hilang dari pandangannya.' 




Rasya punya waktu 1,5 bulan untuk memantapkan kesiapan fisik dan juga sistem pencernaannya. Saya dan suami semangat melatihnya tengkurap dan duduk. Ngesot sudah jadi keahlian Rasya, seperti kemampuannya mengangkat dan memegang kakinya sendiri (saya enggan membayangkan dia memakan kakinya....). 

Ngomong-ngomong, selama riset tentang MPASI, saya cenderung mencari 'pembenaran' atau alasan logis-ilmiah atas pilihan yang sudah saya pikirkan. Semisal tentang memulai MPASI dengan buah-buahan, maka saya akan mencari literatur atau informasi yang sesuai dengan itu. Mengapa harus buah, mengapa bukan serealia, buah apa yang baik dan mudah dicerna, dan bagaimana cara pemberiannya. Setidaknya, pilihan awal ini membantu saya memilah informasi mana yang saya pegang dan percayai, sehingga saya tidak terlalu 'tenggelam' dalam berbagai informasi MPASI. 

Alhamdulillah, significant person Rasya (pengasuh dan ibu mertua) menyerahkan semuanya pada saya, termasuk kapan waktu terbaik untuk mulai MPASI. Meskipun ibu pengasuh Rasya sudah bolak-balik menggoda saya, 'kasih makan saja, Bu!' Untung saya cukup 'keras' dan teguh memegang prinsip, paling saya hanya senyum-senyum saja, hehehehe. Pun dengan Mama yang tetap menyerahkan sepenuhnya pada saya, tetapi tetap menjadi konsultan nomor satu untuk urusan tumbuh kembang Rasya.

Pada akhirnya, apapun pilihan MPASI pertama bayi, sangat tergantung pada sang ibu. Setiap ibu memiliki pandangan sendiri dan punya hak penuh untuk menentukan mana yang akan dilakukan. Saya memilih pure pisang atau pure alpukat sebagai makanan pertama Rasya nanti (kata suami, makan pisang benyek!). Bagaimana dengan Anda? :) 


Wednesday, June 06, 2012

MPASI, what to do? what to start?

Sekitar 1,5 bulan lagi Rasya akan memulai makanan pertamanya! Yeay! 
Saya membutuhkan waktu berbulan-bulan (bahkan sejak Rasya masih dalam kandungan) untuk melakukan riset kecil-kecilan tentang apa saja yang perlu dilakukan saat MPASI (Makanan Pendamping ASI). Teknologi internet sangat memudahkan saya untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang MPASI. Pada akhirnya, too much information will kill you! Terlalu banyak informasi malah semakin bikin bingung!

Bulan-bulan awal riset, saya melahap semua informasi tentang MPASI. Saya banyak membaca thread Chit-chat: MPASI, what to start? di forum Mommies Daily. Dari awal sampai akhir saya membaca semua post para ibu di sana, ternyata ada banyak aliran yaaaa.... Glek! Saya pun makin bingung, enaknya ikut aliran yang mana nih? Apalagi trend MPASI sekarang semua mengarah pada homemade meal, alias makanan bikinan sendiri. Belum lagi dengan bahan-bahan yang serba organik. Aduh! Kenapa agak ribet ya? Begitu pikiran saya berbicara saat awal-awal Rasya lahir (YES! Saya memikirkan MPASI ini sejak lamaaaaaaaaaa.......).

Nah, kembali ke beragam aliran MPASI tadi. Rupanya, ada aliran MPASI awal dengan bubur beras atau serealia VS MPASI awal dengan buah/sayur. Jenis MPASI yang digunakan pun beragam, mulai dari yang serba instan, serba organik, ala vegetarian, sampai yang homemade. Belum lagi metodenya, ada metode konvensional alias disuapi (macam pure, bubur susu, nasi tim saring) VS metode baby-led weaning (asupan bayi ditentukan oleh bayi sendiri, membuatnya makan sendiri, tanpa perlu disuapi). Setelah bersemedi berbulan-bulan lamanya, menjadi silent reader di berbagai thread MPASI, membaca buku-buku MPASI, plus mengubek-ubek 'kitab' MPASI di MPASI Rumahan atau Wholesome Baby Food, saya memutuskan untuk memulai MPASI Rasya dengan buah-buahan, dengan metode campuran disuapi+BLW dan tentu saja menyiapkan dan membuatnya sendiri. 

Mengapa buah-buahan? 
Pertama, buah-buahan relatif mudah dicerna dan memiliki resiko alergi relatif kecil (meski tetap ada kemungkinan alergi pada beberapa bayi). Kedua, buah-buahan memiliki rasa manis asli yang mudah disukai bayi. Ketiga, vitamin dan zat-zat penting lainnya yang diperlukan tubuh banyak terdapat pada buah-buahan. Keempat, Insya Allah berat badan Rasya saat ini cukup, sehingga kebutuhan karbohidrat sederhana dari buah sudah dapat memenuhi kebutuhan Rasya. Kelima, dari semua sumber informasi yang saya baca, ujung-ujungnya saya tetap lebih percaya dan mengacu pada apa kata Mama atau kakak sepupu saya, hehehe. Karena apa yang mereka lakukan sudah terbukti sahih dan meyakinkan hasilnya!

Gambar dari sini

Langkah pertama saya adalah menyusun jadual MPASI Rasya. Sudah selesai lho! Sudah diperiksa dan direvisi pula oleh Mama (kayak ujian skripsi ya?). Langkah kedua dan rencana saya dalam beberapa minggu ke depan adalah melengkapi peralatan MPASI Rasya. Alhamdulillah sebagian besar peralatan MPASI di rumah sudah ada. Tinggal membeli beberapa peralatan tambahan saja :)

Saya tahu saya memang tipe emak-emak yang serba-terencana-biar-repot-dikit-tapi-mesti-jelas. Rempong? Iya! Ribet? Iya banget! Heboh? Iyaaaaa! Saya akui saya memang tipe emak-emak demikian (eh, akhirnya ngaku juga sudah emak-emak). Namun, saya selalu merasa segala kerepotan dan kerempongan saya ini adalah mutlak dimiliki semua ibu. Karena ini tentang tumbuh kembang anak saya. Soal repot, ribet, riweuh, heboh, banyak maunya, dll itu wajar kok. Ibu selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya kan? :)

Jadiiii, satu setengah bulan itu sudah dekat! Rasyaaaaa, ayo cepat bersiap-siap, Mama sudah sangat senang menyiapkan makanan kamu!! :*

Saturday, June 02, 2012

Saya remaja lho...pada masanya! :p

Saya pernah bercerita tentang aksi panggung super keren NKOTBSB pada AMA 2010 di sini. Saat itu, saya dan Kiky, adik saya, terpukau dengan aksi om-om yang menjadi idola para ABG pada zamannya. Kami langsung berpikir, aih kalau mereka konser pasti KEREN banget!!!

Nah, semalam konser itu menjadi kenyataan! Setelah melakukan tur keliling dunia di berbagai negara, akhirnya NKOTBSB tampil di Jakarta dengan konser bertajuk One Night One Stage Tour di MEIS, Ancol, Jakarta. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!

I wish I could go there

Tahu apa yang pertama kali saya lakukan tadi pagi? Buka Youtube dan mencari fancam konser semalam! Argh! Berasa kembali ke tahun 1996 di masa awal munculnya BSB! 

Saya bukan penggila NKOTB, saya masih terlalu kecil untuk mengerti konser mereka di Jakarta pada 1992. Namun, saya tahu lagu hits mereka, Step by Step atau If You Go Away. Saya juga sukaaaaa sekali dengan Jordan Knight ketika mengeluarkan single Give It To You (saya punya kasetnya!!) dan Joey Mcintyre dengan single Stay The Same dan I Love You Came Too Late. Terutama Jordan Knight, aih....he really takes my breath away!!!

Soal BSB, saya dan Kiky adalah fans berat! Bisa dibilang koleksi album kami lengkap. Album pertama sampai album terbaru kami punya. Wuih! Nick Carter idola saya, ganteng, tinggi, cool, dan imut! Adik-adik, percayalah di balik tubuh mereka yang sudah om-om itu mereka masih punya aura mempesona dan menjerat hati semua perempuan. 

Pun saat saya menonton fancam di Youtube, saya berteriak heboh melihat penampilan mereka. Suami hanya mendelik dengan wajah aneh (padahal dia juga suka boyband macam BSB lho!). Rasya terbengong-bengong melihat saya heboh (karena saya menonton video itu sambil memangkunya), sampai akhirnya suami menggendong Rasya dan menyelamatkannya dari kehebohan saya :p 

Daaannn......saya lebih histeris lagi saat BSB menyanyikan lagu I'll Never Break Your Heart dan mengundang empat perempuan ke atas panggung! IRI!


Aaaaaahhh............rasanya memang benar jika konser tadi malam itu ibarat kumpulan para remaja (pada masanya masing-masing) yang hidup kembali di tengah alunan lagu dan aksi panggung NKOTBSB. Lupa sejenak pada status, lupa sejenak pada anak, lupa sejenak pada suami, dan lupa sejenak pada usia! Hahahaha :D :D

NKOTBSB, you guys rock!!!


PS.
BSB, you'll never break my heart! *smooches* :">