Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Monday, April 22, 2013

Langsing lagi!

Semua orang punya isu soal bentuk tubuh. Mereka yang bertubuh gemuk, ingin cepat langsing, makanya mati-matian berdiet demi tubuh ideal. Mereka yang bertubuh kurus, ingin bisa gemuk, makanya makan berkali-kali plus minum susu penambah berat badan biar lebih berisi.

Bagi perempuan, bentuk tubuh menjadi isu terhangat saat hamil. Banyak teman saya yang semasa gadisnya kurus, pas hamil jadi lebih berisi, jadi lebih percaya diri dengan lekuk tubuhnya. Begitu juga dengan saya, kehamilan sukses membuat berat saya naik 16 kg dari berat sebelum hamil! Kebayang nggak betapa besarnya saya? *tutup muka*
Gede banget! (_ _)"
Selepas melahirkan, bobot tubuh saya langsung menyusut 10 kg, jadi saya tinggal menurunkan 6 kg lagi. Namun, pikiran berdiet langsung saya tepis karena saya berkomitmen menyusui Rasya sampai 2 tahun. Maka, paniklah saya saat menemukan seragam kerja lama saya 'nyangkut' di bagian dada lantaran lingkar dada saya meningkat pesat sejak hamil hingga melahirkan. Terpaksa deh menjahit seragam baru, hiks.

Lebih frustrasi lagi ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa lingkar pinggang dan pinggul saya sama dengan Mama yang notabene sudah berbadan emak-emak (ya hasil mbrojol tiga anak). Saat pulang ke rumah Mama, celana Mama muat semua di sayaaaa!!! Huaaaaaaa............... *sembunyiin celana zaman gadis di pojok lemari* 

Saya pun menelan kenyataan itu bulat-bulat, 'terimalah, Dit, memang kamu sudah emak-emak.'
Kenyataan ini kadang membuat saya meringis sekaligus pedih, apalagi kalau melihat pakaian plus celana/rok zaman gadis dulu. Badanku dulu tak beginiiii, tapi kini tak cukup lagiiiiii.......

Akhirnya, saya akrab dengan baju yang itu-itu saja selama menyusui. Saya pun sangat sangat selektif memilih baju. Setiap membeli baju selalu dengan syarat minimal kancing depan. Lupakan pula membeli baju di ITC, dari zaman baheula saya mah nggak jodoh sama baju di ITC yang manekinnya langsing-langsing itu. Ditambah lagi saya memang punya aset luar biasa besar sejak dulu, yang semakin melebar setelah melahirkan :p 

Ajaibnya, setelah menyusui Rasya selama setahun lebih, bobot saya perlahan bergeser ke kiri alias menurun. Meski nggak langsung turun secara signifikan (iya, menurunkan 5 kg itu susah banget bo!), satu per satu celana panjang atau baju lama mulai muat. Seragam lama pun sudah muat lagi. Banyak teman mengatakan, 'Sekarang kamu lebih langsing lho!' *senyum jumawa selebar mungkin*

Kesimpulannya, menyusui itu memang bikin singset dengan sendirinya alias effortless. Cukup menyusui saja, atur makan (bagian paling susah! Ini yang selalu bikin saya lengah), plus menikmati proses menyusuinya, tahu-tahu langsing sendiri deehhh!!! Mudah-mudahan semakin lama menyusui semakin langsing. Kira-kira bisa nggak ya mencapai berat badan sebelum menikah? Hmmm......
Itu celana dan baju sebelum hamil lhoo! :D

Wednesday, April 17, 2013

Ma, aku mau jalan sendiri!

Sudah jadi naluri orang tua untuk selalu melindungi anaknya. Bukan cuma melindungi, kalau bisa mendekapnya setiap saat.

Sudah jadi hasrat orang tua juga untuk ingin punya anak dengan milestone yang tepat waktu, sesuai usianya. Bakal kelabakan heboh kalau pada usia tertentu, si anak belum mencapai milestone yang umumnya sudah dicapai teman seusianya.

Perasaan seperti ini pula yang sering menghinggapi saya sejak Rasya bisa berjalan, memanjat sana-sini, dan melakukan beragam perilaku menggemaskan tapi bikin deg-degan. Dulu pas Rasya masih merangkak, saya berharap ia cepat jalan. Begitu sudah jalan, saya langsung deg-degan setiap melihat Rasya memanjat kursi, tempat tidur, turun dari tempat tidur, atau memanjat tangga. Bahkan ketika berjalan tak mau dipegangi!

Seribu satu macam kekhawatiran selalu muncul. Khawatir Rasya jatuh, terpeleset, tersandung, ada luka, dan lain sebagainya (teringat episode Rasya jatuh dari tempat tidur, yang bikin ia sukses tampak seperti Chris John habis bertanding dengan luka memarnya di mata). Rasanya, kalau bisa saya selalu sedia safety net di sekitar Rasya, supaya ada yang menahannya ketika ia terjatuh.

Pun saat berjalan dan ia melepaskan pegangan tangannya. Khawatir dan deg-degan kembali datang. 

Namun, pada satu titik, saya tertampar oleh situasi tersebut.

Rasya, si batita 15 bulan ini, mengingatkan saya untuk mundur selangkah. Bukan mundur untuk membiarkannya tak terjaga, tetapi mundur untuk mengamati, memperhatikan, dan mendoronganya berpetualang dalam dunia barunya.

Ia membutuhkan ruang untuk bergerak dan berkembang. Ia membutuhkan ruang untuk bereksplorasi, pada rumput, aspal jalanan, tanah, air, bau asap fogging, burung, hujan, sampai sampah yang dilihatnya.

Maka, sudah menjadi keharusan bagi saya dan si Ayah untuk memberikan Rasya kesempatan bermain sebanyak mungkin, juga kesempatan mengeksplorasi apapun yang ia lihat. Sedikit kelonggaran tak menyakitkan, tetapi membantunya belajar lebih banyak, selama masih kita pantau dan perhatikan :)

Kalau kita menahannya terus, anak akan merasa terkungkung dan bahkan tak percaya diri. Rupanya, membangun rasa percaya diri itu tak perlu menunggu anak sekolah, sejak bayi pun ia harus diberikan kepercayaan. Percayai anak untuk melakukan tugas kecil di rumah, untuk Rasya, spesialis menyalakan lampu atau menaruh pakaian kotor. Percayai anak untuk (sesekali) melakukan apa instingnya, seperti memanjat tempat tidur atau tangga, sambil tetap dijaga. 

Semakin besar si anak, maka akan semakin banyak lahan untuk memberinya kepercayaan. 
Itu esensi menjadi orang tua, menjadikannya bisa berdiri sendiri!

Seperti yang terjadi pada Rasya saat kami pergi ke taman akhir pekan lalu. Tak mau dipegangi, ia melepas genggaman saya dan melangkah seolah berkata, 'Ma, aku mau jalan sendiri!' :')
 


Thursday, April 11, 2013

Pikir-pikir dulu sebelum membeli!

Saya pernah cerita ya, betapa banyak jumlah barang perlengkapan bayi yang perlu disiapkan. Tadinya, jika di kota saya ada penyewaan peralatan bayi, saya terpikir untuk menyewa beberapa peralatan bayi. Namun, karena mencari barang bagus dan berkualitas di sini sangat sulit, jadilah saya mengimpor beberapa barang dari Jakarta. Setelah 14 bulan sejak Rasya lahir, ternyata ada beberapa barang Rasya yang hanya dipakai sekejap mata.

Apakah tidak rugi?
Nggak juga sih, mengingat mencari barang bagus sulit dan saya yakin barang yang sekarang ada itu pasti akan terpakai lagi bila Rasya punya adik kelak. Cuma beberapa hari ini saya merasa sayang saja melihat barang-barang itu duduk manis tak disentuh. Penasaran apa saja itu?
  1. Bantal menyusui. Saya membeli bantal ini gara-gara merasa kurang nyaman, terutama di bagian pinggang, saat menyusui. Bantal yang harganya lumayan ini ternyata cuma terpakai sampai 3 atau 4 bulan lah. Setelah tubuh Rasya semakin panjang, eh tinggi, bantal ini malah agak mengganggu. Sekarang bantal ini sering dimainkan Rasya saja dan teronggok di balik pintu *puk puk bantal empuk*
  2. Nursing apron. Tadinya, saya mengira menyusui dengan menggunakan nursing apron itu nyaman. Saya belum pernah coba juga sih, soalnya lebih sering menyusui di rumah atau di ruang menyusui jika sedang pergi. Semakin Rasya besar, saya malah lebih koboi soal menyusui. Selama pakai baju menyusui dan baby wrap, di manapun hayuk! Yang penting tertutup. Nursing apron lebih sering saya pakai ketika harus memompa ASI saat kerja, jadi terpakai hingga usia Rasya 8 bulan. Sekarang saya lupa meletakkan barang ini di mana...
  3. Stroller alias kereta bayi. Sejak Rasya bisa berjalan, saya tidak pernah menggunakan stroller. Biasanya, jika saya pergi belanja ke pasar dekat rumah bersama Rasya, ia saya dudukkan di stroller. Ketika Rasya sudah senang jalan, tiap pergi ke pasar, ia hanya saya gendong dan baru saya turunkan saat dekat pasar. Begitu pula ketika pulang. Sebetulnya sih, kalau di sini ada mall luas kayak di Jakarta, stroller itu pasti masih bertugas, untuk membawa Rasya keliling mall. Berhubung di sini nggak ada mall, ya stroller tersebut beralih fungsi sebagai gantungan baju :p
  4. Mastela Fold Up Infant Bouncer. Barang ini sebetulnya datang agak terlambat, karena Mama baru mengirimkannya saat Rasya 6 bulan. Otomatis hanya terpakai sebulan saja. Begitu Rasya bisa duduk, dadah bye bye deh ke bouncer ini. Padahal, menggunakan bouncer ini enak lho dan bisa dilipat, sehingga bisa dibawa ke mana-mana untuk kursi Rasya jika kami sedang makan. Sekarang bouncer itu sudah pensiun dan kembali ke rumah aslinya alias kardus pembungkus.
  5. Munchkin food grinder. Sebetulnya saya sangat tergila-gila dengan barang 'ajaib' ini. Tanpa memerlukan waktu lama, kita bisa menyiapkan MPASI anak dengan cepat dan pasti jadi. Saya menggunakan food grinder ini hanya 3 bulan, saat Rasya usia 6 - 9 bulan. Begitu ia makan nasi tim kasar, alat ini bebas tugas. Tapi buat saya, perlengkapan MPASI satu ini masih masuk kategori wajib punya!
  6. Jumper atau Romper. Saya ini maniak jumper atau romper bayi. Motifnya pasti selalu lucu-lucu dengan warna mencolok mata. Padukan dengan legging, dalam sekejap tadaaaa... jadilah si kecil seperti bayi-bayi di majalah *Emak korban iklan* Sejak Rasya semakin aktif, baju semacam ini jadi tantangan untuk saya. Ya, tantangan memakaikannya tanpa harus berantem. Namanya anak yang super lincah, setiap dipakaikan baju pasti gerak sana-sini. Lupakan deh kegiatan memakaikan baju seperti di iklan bedak, minyak telon, atau diapers, Rasya mah mana mau disuruh tiduran dan tenang sejenak. Pasti pakai baju sambil gerak sana-sini bahkan jalan-jalan... Pernah sekali waktu, saya mau memakaikan jumper panjang ke Rasya, eh anaknya marah dong. Menangis sampai kejer sambil melentingkan badan. Ini baru memasukkan bajunya ke kepala, belum sampai pada tahap mengancingkan bagian bawahnya. Jadi, saya menyerah? Iya, untuk baju jenis ini tampaknya hanya cocok sampai usia 9 bulan. Setelah itu, nggak laku deh, kecuali kalau saya mau sedikit kreatif menjadikannya kaus seperti yang dilakukan Mamih Raja :D
  7. Topi-topi keren. Ah ini sih memang kasuistik untuk Rasya saja. Saya suka gemas melihat anak pakai topi lucu-lucu, ingat zaman Gilang kecil dulu yang punya topi beragam. Apalagi pas Gilang kecil zaman si Joshua pakai topi aneh-aneh, mulai yang bentuk topi badut sampai topi bertanduk seperti rusa. Saya pinginnya Rasya juga koleksi topi, tapi.....anak ini nggak betah pakai topi! Jadilah saya berusaha mengerem membeli topi. Topi yang ada saja jarang dipakai, baru kalau saya paksa baru tetap dipakai. Itu pun hanya bertahan sejenak, terus dilepas (_ _)" 
  8. Baby Box Baby Does. Ini saya taruh di urutan buncit dalam versi saya. Sampai sekarang masih dipakai, tapi bukan untuk tidur. Melainkan untuk Rasya bermain sebentar (benar-benar sebentar, nggak sampai 15 menit sudah minta keluar) saat ditinggal ke kamar mandi atau sarana Rasya belajar....memanjat! Saya sampai takjub melihat Rasya memanjat sisi luar boks bayinya. Belum sampai masuk ke dalam sih, tapi tetap bikin deg-degan. Untuk tidur, Rasya biasa tidur di kasur bersama saya atau kasur yang digelar di bawah (pas tidur siang). Jadi, benda ini masih ada di kamar saya, dan kadang beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan hehehe :p
    Aksi Spiderman cilik :p
Eh tapi, buat calon ibu jangan terus makin bingung soal beli barang bayi yaaa. Ini hanya opini saya berdasarkan pengalaman pribadi. Faktanya, pertumbuhan fisik dan perkembangan bayi itu sangat sangat cepat! Barang yang tadinya menurut kita tidak perlu, ternyata jadi perlu, demikian sebaliknya. Ada pula beberapa barang yang menurut saya masih bisa dipakai hingga Rasya 2 tahun nanti. Daftar ini pun tidak memasukkan barang kebutuhan dasar bayi, seperti kain bedong atau popok kain bertali. Soalnya, popok kain bertali hanya dipakai 1-2 bulan, selebihnya bayi akan mulai pakai celana. Namun, popok kain bertali tetap perlu, begitu juga dengan kain bedong. Ketika bayi lebih besar, kain bedong yang bahannya agak tebal bisa beralih jadi selimut tipis. Dua barang itu sih tetap wajib beli :) 

Kembali lagi, setiap bayi punya kebutuhan berbeda. Apa yang menurut saya sudah tak cocok di Rasya, belum tentu sesuai dengan anak lain. So, don't worry! Selama dana tersedia dan memang membutuhkan barang tersebut, silakan beli. Yang penting, kebutuhan si kecil terpenuhi, dan ibunya merasa nyaman. Happy hunting! ;D

Wednesday, April 10, 2013

Featured on Mommies Daily (again!)

Setelah hanya menjadi silent reader di Mommies Daily beberapa bulan belakangan, akhirnya saya mengirimkan tulisan lagi ke Mommies Daily. Alhamdulillah dalam waktu tak begitu lama, tulisan tersebut dimuat dengan judul Dua Perahu Working Mom.

Kali ini saya berbagi cerita tentang pandangan saya sebagai seorang ibu bekerja, label yang tengah marak diperbincangkan dan diperdebatkan dengan ibu rumah tangga (stay at home mom). Penasaran? Silakan intip di sini! :)


Tuesday, April 09, 2013

Nikmatnya mengunyah Risolkoe!



Siapa yang suka risoles?

Saya adalah penikmat risoles. Suami saya cinta banget dengan risoles. Adik-adik saya juga doyan risoles, sekali makan bisa habis beberapa potong. 

Maka, berjualan risoles dengan resep rahasia Mama adalah langkah tepat!

Ya, sejak pertengahan tahun lalu, Mama saya berjualan risoles. Risoles bikinan Mama terasa spesial karena berupa ragout yang enaaaakkkk dan super creamy! Resep ragout ini bisa dibilang turun temurun dalam keluarga Mama. Soalnya, saat saya ekstrakurikuler memasak di SMA, ragout bikinan Mama dapat acungan jempol saking enaknya! Supaya membuat asap dapur rumah tetap ngepul, menjual risoles di Warung Risolkoe atau menerima pesanan menjadi topangan hidup keluarga orang tua saya kini. 

Berhubung saya nun jauh di pulau seberang, saya baru sempat mencoba risoles buatan Mama awal tahun ini. Rasanya, hmmmmm....................apalagi kalau dicocol dengan saus mustard. Meleleh di mulut! Dari tiga varian rasa Risolkoe, favorit saya adalah Beef Mayo, yang berisi smoked beef dengan mayonnaise creamy. Makan selagi hangat, dan mayonnaise langsung lumer, mmmm...........
Risoles Beef Mayo
Buat pecinta serba original, ada juga Risoles Ragout Ayam yang super mak nyus!! Ragout bikinan Mama nggak ada duanya deh, benar-benar ragout yang gurih dan padat isinya. Selain ragout ayam, ada juga ragout sapi. 
Risoles Ragout Ayam, lihat isinya padat 'kan? :9
Hmmm...lapar nih!
Ayooo, pesan risoles yang banyak dan ngunyah terus yuuukk!

Untuk pemesanan, bisa telepon ke Ibu Pungky/Ibu Etty di 021-7416453 atau Ibu Pungky di 081574177339. Buruan pesan! :D
Pilih yang mana? :)

Monday, April 08, 2013

Featured on Nakita No. 730/Th. XIV/25 - 31 Maret 2013


Alhamdulillah, hasil wawancara dengan Mas Zali dari Tabloid Nakita (cover Deasy Novianti) sudah dimuat! Kali ini dalam rubrik Topik Utama dengan judul 'Aneka Permainan Kotor-kotoran.' Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sambil mendorong diri sendiri untuk melakukan hal sama pada Rasya. 

Tampaknya, saya yang harus berani membuka diri dengan segala macam permainan. Kadang kita sebagai orang tua yang cenderung membatasi diri dan anak, seraya mengatakan 'ini kotor!' atau 'itu jorok!' Akibatnya, anak jadi kurang terstimulasi. Saya pun merasa demikian, terus terang saya lebih khawatir dengan kotornya daripada proses dan pengalaman anak yang didapat, hehehe. 

Untung Mas Zali meminta saya membahas tentang permainan kotor-kotoran ini. Pikiran saya pun jadi lebih terbuka dan mulai berani mendorong Rasya menikmati permainan sederhana tetapi seru. Tentu disesuaikan dengan usia ya. Sejauh ini sih beberapa sudah saya lakukan, seperti bermain pasir, bermain air (hujan-hujanan belum berani :p), dan coret-coret. 

Rasya juga antusias, apalagi bila bermain air dengan selang. Bisa berkali-kali ia memutar keran dan tertawa melihat air mengalir. Habis itu basah bareng-bareng deh :D

Bagaimana, sudah berani bermain kotor? ;)

Wednesday, April 03, 2013

Catatan Rasya (15): Berpetualang di Dunia Rasa


Sejak full makan nasi dan lauk yang sama seperti kami, Rasya memulai petualangannya di dunia rasa. Sehari-hari Rasya makan lauk yang sama, ya nasinya ya lauknya. Paling saya memvariasikan jenis sarapan, supaya Rasya nggak bosan. Sarapan bisa nasi goreng, nasi plus lauk, roti, hingga kue jajan pasar seperti singkong rebus atau nagasari, bahkan buras (sejenis ketupat yang biasa jadi teman makan coto makassar). Baru siang dan makan sore makan lauk yang sudah saya siapkan. Bumbu pun juga dibuat secukupnya (bukan seminimal mungkin), sehingga tetap ada 'rasa' untuk lidah orang dewasa, tetapi tidak terlalu tajam untuk Rasya. 

Belakangan ini saya juga jarang makan pedas. Soalnya, Rasya suka nimbrung makan apa yang sedang saya makan. Khawatir ia main comot, terus kepedesan. Malah kadang melihat saya makan, ia langsung duduk di hadapan saya sambil bilang, 'Maam, maem, maam, maem' berkali-kali. Kalau sudah begitu, mana tega membiarkan Rasya mupeng hihihihi :D

Jika sehari-hari Rasya sudah kenyang makan masakan Mama, akhir pekan malah jadi ajang petualangan dunia rasa untuk Rasya. Jujur, pas akhir pekan saya kadang malas masak. Kalaupun masak, ya masak yang gampang-gampang saja, sekedar untuk sarapan atau lauk tambahan Rasya. Jadilah, kami sering makan di luar atau beli bungkus. 

Kesepakatan saya dan suami adalah memperkenalkan jenis makanan sebanyak-banyaknya pada Rasya. Sampai usia 2 tahun menjadi periode terbaik untuk memperkenalkan beragam rasa pada anak. Setelah usia 2 tahun, anak mulai bisa memilih jenis makanan, mana yang ia suka dan tidak suka. Ehm, sekarang pun sebetulnya mulai tampak. Contoh, Rasya sudah nggak suka biskuit bayi. Ia lebih tertarik pada biskuit lain yang bentuknya beragam. 

Rasya juga lagi senang-senangnya minum jus buah dengan sedotan. Pernah sekali waktu, jus melon pesanan saya habis diseruput Rasya. Itulah mengapa sekarang saya kerap memesankan jus buah saja (tanpa gula dan es) atau sesekali membuatkan jus di rumah. 

Apakah kami tak khawatir dengan MSG yang ada dalam masakan di rumah makan? Hmmm...kalau saya sih selama masih bisa request (tanpa penyedap, nggak pedas, dll) nggak masalah. Kalau memang nggak bisa disesuaikan ya nggak apa-apa juga. Toh Rasya makannya juga tidak banyak dan hanya sesekali. Yang penting Rasya makan :) 

Seperti saat libur panjang kemarin, Rasya icip-icip soto banjar. Rasya suka dan makannya lahap, apalagi ditemani kerupuk. Ia juga suka tempe bacem (saya bisa juga bikin sendiri), sudah icip-icip ikan bakar juga (ambil daging ikan yang tak terbakar, biasanya makan ikan baronang yang dagingnya banyak dan duri sedikit), bubur ayam (favoritnya!), dan masih banyak lagi. 

Pendek kata, kami ingin Rasya terbiasa makan apa yang tersedia di hadapannya, sekaligus merangsang indera perasanya dengan beragam rasa. Sejauh ini, saya merasa sangat terbantu dengan Rasya yang doyan apa saja. Mudah-mudahan ini berlanjut terus :D
Rasya dan singkong rebus