Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Thursday, October 20, 2011

Mama serep untuk seorang laki-laki kecil

Ya, saya menyebut diri saya sebagai mama serep alias mama pengganti alias mama kedua untuk seorang laki-laki kecil yang kini nggak kecil lagi.

Bukaaaannn, laki-laki kecil itu bukan anak saya. Sumpah deh! Meskipun orang yang tidak tahu akan berkata,'Bu, anaknya ya?' atau bahkan bertanya begini pada Mama,'Bu, cucunya ya?' (dan kami akan melengos nggak peduli)

Ini lho penampakan laki-laki kecil yang saya maksud.

Baru belajar duduk nih!
Begini wajahnya kalau lagi mewek
Sewaktu laki-laki kecil ini lahir, usia kami terpaut 15 tahun. Saya sudah duduk di kelas 1 SMA. Senang bukan main begitu ia lahir, punya mainan baru di rumah! Ada yang bisa diajak main atau digendong-gendong. Meskipun saya baru berani menggendongnya saat usia 3 bulan, saya diajari Mama untuk bisa menggantikan popok, memakaikan pampers, membedong, memakaikan sarung dan kaos kaki. Saya juga sering disuruh membuatkan susu sampai menyuapinya. Semakin dia besar, saya mulai berani memandikannya. Bahkan, saya adalah pengurus tetap si laki-laki kecil setiap kami sekeluarga bepergian keluar kota. Mulai dari mandi, ganti pakaian, sampai urusan makan. 

Bahkan, untuk pertama kalinya saya berurusan dengan 'buang hajat' seorang anak, ya dengan si laki-laki kecil ini! Hahaha :P

Kegiatan favorit saya dengan si laki-laki kecil adalah menemaninya tidur. Apalagi kalau Mama sedang dinas, saya adalah orang pertama yang akan dicarinya setiap ia mau tidur. Dia akan merengek ditemani tidur. Kalau nggak ditemani, nggak bisa tidur. Dulu dia baru tidur pulas setelah minum susu sambil memegang waslap (kain untuk membasuh mandi bayi) andalannya. Meskipun kadang saya juga ikutan tidur pada akhirnya.

Saya jugalah yang mewek luar biasa pas si laki-laki kecil ini diinfus dan dirawat di rumah sakit. Nggak tega melihatnya. Begitu juga saat dia disunat dan menangis histeris. Duh, sedih banget melihatnya. Malah mungkin lebih heboh saya meweknya daripada Mama. 

Foto tahun 2005, badannya masih kurus kecil
Tahun 2005, dulu masih mau dibotakin

Tahun 2007, pengantin sunat
Tahun 2010, rambut poni pendek bikin pipi bulet!
Saya jugalah yang bakal menjadi wali muridnya dan mengambilkan rapor atau datang ke pertemuan orang tua saat orang tua saya berhalangan hadir. Nggak heran kalau saya sering dikira mama si laki-laki kecil oleh orang tua murid lainnya. 

Jadiiii, semakin layaklah saya menyandang status 'mama serep' buat si laki-laki kecil itu.
Meskipun sejak menikah dan pindah, saya hanya bisa menjadi tempat cerita si laki-laki kecil via telepon, kami tetap sering ngobrol. 

Boleh jadi mengapa saya sangat menginginkan anak laki-laki karena saya lebih terbiasa dengan si adik ini selama 12 tahun. Well, saya memang belum sempat mengalami bagian seru-serunya dari perkembangan seorang anak, yakni memasuki masa remaja (saya juga penasaran sih, bagaimana laki-laki kecil ini bertransformasi menjadi seorang remaja). Namun, pengalaman 'membesarkan' si laki-laki kecil menjadi pengalaman pertama saya sebagai seorang 'ibu'. Sekalipun akan berbeda rasanya dengan menjadi seorang ibu sebenar-benarnya. 

Perkenalkanlah laki-laki kecil itu, namanya Gilang. 
Lihat, tingginya sudah setelinga saya!

Monday, October 17, 2011

Waiting for a miracle(6): Berburu keperluan bayi

Satu-satunya kegiatan yang tidak bisa sering saya lakukan di Bontang adalah...ke mall!
Kalau sedang tidak hamil sih, hasrat nge-mall bisa ditahan atau dilakukan sewaktu-waktu. Namun, seiring semakin membuncitnya perut, saya juga pengen banget bisa ke mall HANYA untuk sekadar window shopping alias cuci mata, terutama untuk perlengkapan bayi. Di Bontang ada baby shop, tapi yaaa.....terbatas ya jenisnya. Jadi teringat, waktu ke Jakarta kemarin saya sempat ke Mothercare dengan sahabat. Itu baru gerai Mothercare yang nggak terlalu besar dan bikin saya betah lama-lama di sana. Walaupun harga barangnya mahal-mahal, tetapi kalau cuma cuci mata boleh dong. Sayangnya, di Bontang nggak ada Mothercare. Hiks.

Kata Mama, beli perlengkapan bayi baru boleh dilakukan saat kandungan sudah usia 7 bulan. Maklum orang Jawa, jadi Mama sangat percaya pada hal-hal semacam itu dan dipegang teguh sampai sekarang. Saya pun demikian. Masih ingat betul bagaimana hebohnya si Mama saat hamil Gilang dulu. Usia kandungan 7 bulan bukan jadi penghalang Mama untuk mencari dan membeli keperluan Gilang di Mangga Dua. Yap, kami sengaja jauh-jauh ke Mangga Dua, demi perlengkapan bayi yang memang jauh lebih murah harganya. 

Saya pun membayangkan, seandainya saya di Jakarta, pasti saya mulai rajin window shopping, keluar masuk mall atau ITC untuk memburu perlengkapan bayi.


Seandainya...


Untung sekarang bukan 12 tahun lalu, ketika penggunaan internet hanya terbatas di kalangan tertentu. 
Untung sekarang ada internet. Bertaburan toko-toko yang menyediakan jasa belanja online. Jika sebelum hamil saya lebih suka berburu pakaian, sepatu, buku, atau aksesoris, maka sekarang saya lebih suka berburu perlengkapan bayi. 

Memang sih kalau beli perlengkapan bayi secara online, apalagi jika kita membeli dalam jumlah banyak, pasti bakal berat di ongkos. Namun, bukan berarti saya membelinya kok. Keberadaan toko perlengkapan bayi online memudahkan saya untuk window shopping alias survei awal tentang barang-barang apa saja yang diperlukan. Selain itu, saya juga bisa memperhitungkan dan menyiapkan anggaran berapa yang saya butuhkan. Cita-cita saya sih tetap ingin membelinya langsung, entah di Samarinda atau Balikpapan. Memilih langsung tetap lebih asyik. Errr....ya hitung-hitung memenuhi hasrat jalan-jalan ke mall juga, sebelum nanti saya tidak bisa ke mana-mana setelah si baby lahir. 

Nah, berikut ini adalah beberapa situs toko perlengkapan bayi online yang cukup lengkap dan banyak pilihan. 


Daftar perlengkapan bayi dari Klikbabylove ini bisa dijadikan panduan juga lho!


Yuk, kita berburu! ;)

Thursday, October 13, 2011

Waiting for a miracle(5): we feel your move, baby!

Memasuki minggu ke-24, si baby semakin heboh gerakannya.
Sukses membuat perut saya membal, naik turun, bergetar, sampai geli. 
Kadang saat tangan suami memegang perut saya, sesekali ia mau bergerak dan suami pun merasakan gerakannya. Kadang ia masih enggan bergerak.
Yang jelas, gerakannya semakin aktif. 

Kalau sudah lelah setelah bekerja, saya memang lebih suka langsung tidur begitu sampai rumah.
Kadang saya lupa menyapa si baby, saking kepingin tidur.
Lucunya, pas saat mengajar pun si baby sering ikut heboh gerak sana sini. Apalagi kalau saya lagi mengeluarkan tenaga untuk bersuara lantang, sepertinya dia agak kaget, hehehe.

Saya juga semakin senang bermain dengan si baby. Mulai dari mengajaknya ngobrol, menyanyikan lagu anak-anak, mengelus perut saat mandi sambil bercerita, mendengarkan musik bersama, sampai dengan....foto-foto bareng! 

Seperti ini hasilnya ;)
Intip hasil lengkapnya di blog milik suami saya di sini




Thursday, October 06, 2011

Goodbye, Mr. Jobs


Halaman depan Apple hari ini
RIP Steve Jobs (1955-2011)
Pagi ini suami mengirimkan link berita bahwa Steve Jobs meninggal dunia, dan sudah dikonfirmasi juga oleh pihak Apple. Saya pun terperangah dan terkejut.

Saya memang tidak mengenal Mr. Jobs secara personal, tetapi siapa manusia di dunia ini yang tidak mengenal Apple dan produk-produknya yang inovatif?

Selama ini pun saya sedikit banyak tahu mengenai kisah hidup Mr. Jobs karena Mbak Ratih Ibrahim, pendiri Personal Growth, adalah penggemar berat beliau. Mendirikan kantor Personal Growth di atas garasi rumah pun terinspirasi dari bagaimana Mr. Jobs mendirikan Apple di garasi rumahnya.

Semangat dan pemikiran Mr. Jobs menjadi inspirasi banyak orang di dunia ini. Mr. Jobs berhasil mengubah gaya hidup manusia dalam  menggunakan komputer, mendengarkan musik, hingga berkomunikasi. Belum lagi, bagaimana Mr. Jobs selalu tampil total setiap mempresentasikan produk terbaru Apple. Setiap Mr. Jobs selesai mempresentasikan produknya, berbondong-bondong jutaan konsumen segera mengantri dan membeli produk keluaran Apple, hampir di seluruh penjuru dunia.

Saya sendiri sampai saat ini masih setia dengan iPod Nano 2nd Generation. Benda itu adalah kesayangan saya. Saya selalu membawanya ke mana saja, untuk mendengarkan ratusan lagu kesukaan. Keinginan untuk memiliki produk Apple lainnya? Tentu saja! Saya selalu menahan napas (dan menelan ludah) setiap pergi ke iBox Store, melihat Macbook, iPhone, sampai iPad.

Bayangkan, betapa Apple sukses membuat banyak orang tergiur melihat produk-produknya!
Dan semua itu adalah buah pemikiran Mr. Jobs.

Jika Mr. Jobs berhenti berpikir kreatif dan inovatif, mungkin kita hanya mengenal satu OS saja di dunia ini.
Seperti motto Mr. Jobs, 'Stay hungry, stay foolish!' Dengan tetap merasa 'lapar' dan penuh rasa ingin tahu, maka kita akan terus berusaha kreatif dan menciptakan sesuatu. Karena pada dasarnya, belajar itu adalah proses seumur hidup. Mr. Jobs tidak pernah cepat puas dengan segala hasil yang didapat, tetapi ia terus berusaha 'thinking out of the box' dan mewujudkan imajinasi semua orang di dunia.

Selamat jalan, Steve Jobs.
Dunia akan mengenang Anda sebagai sosok jenius, kreatif, dan visioner, yang belum tergantikan oleh siapapun.



Tuesday, October 04, 2011

Life is like a roller coaster!

Source here


Life is tough, but we'll get through it!


Hidup kadang berjalan di luar rencana
Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa kita kendalikan, sesuatu yang terjadi di luar kekuasaan kita
Kejadian tidak terduga, cuaca yang tak sesuai harapan, sampai opini negatif dari orang lain tentang diri kita

Adalah pilihan kita sendiri untuk menentukan, apakah kita akan tetap happy atau malah jadi bete luar biasa (bahkan menganggap hari itu hari tersial dalam hidup!)
Kita sendiri yang menentukan, apakah semua hal yang tidak terkendalikan itu membuat kita semakin terpuruk atau terdorong bangkit lagi

Jika memang hal itu membuat kita sedih, maka bersedihlah, luapkan semua rasa lara yang membuat hati gundah
Tetapi, selalu bersiap untuk bangkit dan berdiri lagi

Jika hal itu mampu membuat kita tetap tegak berdiri, maka tunjukkanlah bahwa kita memang kuat!
Bersyukur akan setiap hal kecil yang berhasil kita lakukan dengan baik
Bersyukur akan setiap orang yang selalu mendukung dan menerima kita apa adanya
Itulah sumber kekuatan kita!

Hidup memang sulit,
tetapi pelangi akan selalu terbit setelah derasnya hujan membasahi bumi!







*terinspirasi dari sesi curhat dengan seorang siswa*

Gambar dipinjam di sini