Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Thursday, December 26, 2013

Hello Jakarta!

LIBURAN!

Akhir tahun yang ditunggu-tunggu tiba juga. Saya dan Rasya memutuskan untuk pulang ke Jakarta tercinta. Berdua saja karena suami sedang ada pekerjaan. Oh, berdua naik pesawat dengan Rasya di usia yang mau 2 tahun itu jauh lebih bikin deg-degan daripada dulu. Pas berangkat kemarin saya sampai mual, mules, dan cemas luar biasa gara-gara hal ini. Anaknya sih santai, tapi saya yang khawatir.

Benar saja, pas dipakaikan seat belt ia meronta dan menangis. Butuh waktu 5 menit sampai akhirnya mau pakai persis sesaat sebelum take off *lap keringet*

Sampai Jakarta pun Rasya butuh waktu menyesuaikan diri dengan Uti, Atung, dan om-omnya. Untunglah nggak lama-lama. Mungkin karena jarang ketemu. Cuma masih ada drama lain kalau dia rewel, menangis melenting, yang bikin dia nggak mau sama siapapun. Wajar kok, namanya anak kan punya comfort zone sendiri. Ia belum terbiasa saja. Lambat laun ia juga sudah terbiasa, nggak kaget lagi, mau main, dan siap ditanggap!

Yap, karena jarang ketemu itu semua keluarga besar saya sibuk menanggap Rasya untuk bergaya ini itu, berpose ini itu. Lucu banget deh! Rasya sih dengan senang hati beraksi, kan calon artis :p *amin!*

Sepuluh hari di Jakarta mesti pintar-pintar atur jadwal nih. Supaya bisa belanja (diskon di mana-mana!), ajak Rasya jalan, dan silaturahmi dengan keluarga juga. Doakan Rasya dan saya sehat selalu ya! ;)

Tuesday, December 10, 2013

Yang Digoyang Digoyang Yaaaanngg...

Di televisi nasional sedang marak acara berhias goyang. Mulai dari goyang cesar sampai goyang oplosan. Setiap pagi nonton TV pun, acara musik ikutan dibuka dengan goyang bersama. Entah kenapa, goyang-goyang begini jadi trend. Padahal dulu zaman saya ABG, saya cuma tahu goyang poco-poco, goyang ngebor si Inul, sampai mobil goyang *eh* :p

Saya sendiri nggak suka goyang atau joget. Nggak tahu sih, tapi saya merasa badan ini terlalu kaku untuk mengikuti irama lagu. Makanya saya selalu berpikiran kecerdasan kinestetik saya nggak bagus-bagus amat, olahraga saja nggak suka (dan memang nggak bisa!) apalagi disuruh joget. Nggak heran juga kalau saya nggak suka clubbing ke klub, selain nggak doyan joget, saya selalu memilih tidur ketimbang ajep-ajep di sana, hehehe. 

Namun, sejarah goyangan saya sebetulnya nggak kering-kering amat. Siapapun di dunia ini yang pernah sekolah di TK, pasti pernah disuruh bu guru tampil di panggung, menari entah apa itu untuk acara sekolah. Saya dulu juga. Pas SD kelas 6, sekalinya ada acara 17 Agustus gede-gedean di lingkungan RW, saya disuruh ikutan menari juga. Yaaaa mirip modern dance deh, pakai lagu Informer dari Snow, ada di album Mega Hitz 5 apa ya? *beugh, jadul benerrrrr.........* 


Habis itu, saya mundur dari dunia pergoyangan. Mau meniru alias dance cover Super Junior pun saya nggak bisa. Cuma bisa mengagumi Siwon aja. Mengikuti musik dengan goyangan lebih sering gagal dan nggak enak dilihat. Jangan deh.

Sampai akhirnya, Rasya mulai suka bergoyang. Entah siapa yang ngajarin. Bukan saya yang jelas.
Mungkin memang milestone-nya untuk senang berjoget. Apalagi Rasya punya gaya sendiri saat bergoyang. Panutan gaya goyang Rasya nggak lain nggak bukan, ya Pocoyo-Pato-Elly. Oh juga Mickey Mouse saat goyang hotdog. Ditambah gerombolan Hi-5, kakak-kakak cantik dan ganteng dari Australia yang berpakaian cerah meriah. Walhasil, Rasya menciptakan goyangan sendiri yang saya pun nggak bisa meniru, aneh kalau ditiru, selain jatuhnya jadi nggak imut :p

Jadinya kayak begini nihhh....Silakan diintip di video ini pas Rasya joget dengan iringan tari Saman di pentas seni sekolah beberapa waktu lalu. Jadi, lagu apa saja, selama itu bertempo cepat dan rancak, Rasya pasti langsung bergoyang. Yuk mariiiiiiiii yang digoyang digoyang yaaaannnnggg..............

Cumi Goreng Tepung

Saya agak jarang mengolah makanan laut di rumah. Bukannya nggak suka, cuma malas. Apalagi kalau urusan bersih-bersih bahan makanannya sebelum masak. Padahal, masak makanan laut nggak lama-lama amat. Proses memasaknya lumayan cepat, mengingat kalau kelamaan dimasak tekstur makanan laut lebih cepat berubah dan jadi kurang enak.

Beberapa minggu lalu, saya iseng membeli cumi di pasar. Dalam bayangan saya, beli cumi ya dimasak cumi goreng tepung. Pasti suami suka deh! Ini kali kedua saya bikin cumi goreng tepung di rumah. Sejak Rasya makan makanan yang sama dengan kami, saya jarang banget nyetok tepung bumbu jadi buatan pabrik di rumah. Semua masakan bergoreng tepung, tepungnya saya buat sendiri. Bisa renyah krenyes krenyes? Bisa!

Saya minta tolong cumi dibersihkan oleh bude penjual sayur. Beda kalau kita beli cumi di supermarket yang sudah dalam keadaan bersih tanpa tinta sama sekali, cumi di pasar masih lengkap seluruh organ tubuhnya :p Awalnya, saya kira cumi itu sudah dibersihkan semua sampai ke dalam-dalamnya. Eh ternyata tentakel si cumi cuma ditarik saja, dipisahkan dari badan cuminya. Pas saya bersihkan lagi di rumah, kantong tinta cumi masih ada, belum terpisah dari tentakelnya. 

Nah, saya sempat mengintip di sini untuk urusan bersih-bersih cumi. Berhubung saya nggak pakai tinta cuminya, jadi kantung tinta itu saya pisahkan/potong dari tentakelnya dan dibuang. Lalu masukkan jari ke badan cumi, untuk memastikan tidak ada lagi bagian tubuh cumi yang tertinggal di dalamnya. Kuliti juga cumi, supaya kulit tipis di badannya terambil. Cumi siap diolah!


Cumi Goreng Tepung
Bahan:
3 - 4 ekor cumi ukuran sedang, bersihkan, potong cincin 1 cm
Susu cair secukupnya 
1/2 buah jeruk nipis
Minyak untuk menggoreng
1 butir telur, kocok lepas

Adonan tepung
150 gr tepung terigu (kira-kira saja, sesuai porsi cumi yang mau dibuat)
50 gr tepung maizena
Garam, lada putih, pala bubuk
1/4 sdt soda kue

Cara membuat:
  1. Taruh potongan cumi yang telah dibersihkan dalam wadah, beri perasan jeruk nipis, diamkan sekitar 5 menit. Setelah itu, bilas dengan air mengalir, lalu kembalikan lagi ke wadah dan tuang susu cair hingga cumi terendam. Fungsi susu cair adalah mengempukkan cumi, sekaligus menghilangkan bau amisnya. Rendam cumi dalam susu cair sekitar 15 menit.
  2. Campur seluruh bahan adonan tepung menjadi satu, aduk rata.
  3. Panaskan minyak. Tiriskan cumi dari rendaman susu, celupkan ke kocokan telur, lalu ke adonan tepung. Ratakan dan remas-remas hingga cumi tertutup adonan. Kemudian goreng dalam minyak panas hingga warnanya coklat keemasan. Angkat, tiriskan.
  4. Sajikan hangat dengan saus sambal botolan atau sambal terasi bikinan sendiri. Enak! :D
Catatan:
  • Jangan terlalu lama menggoreng cumi supaya cumi tidak alot. Pastikan minyaknya panas benar sebelum cumi dimasukkan.


Wednesday, December 04, 2013

3rd Wedding Anniversary

Alhamdulillah hari ini kami merayakan ulang tahun ke-3 pernikahan.
Masih terbilang muda, baru seusia balita. Bisa dibilang nggak banyak yang berubah setelah menikah. Oh kecuali ukuran celana dan baju :p
Saya sih merasa relatif mudah menyesuaikan diri satu sama lain. Mungkin karena kami pacaran cukup lama ya, jadi sudah hapal sifat masing-masing. Paling hanya terkejut pada kebiasaan kecil yang kadang kalau dibahas nggak akan selesai. Cukup modal kompromi saja, pasti soal beda kebiasaan itu teratasi.

Sejak Rasya hadir, kami berusaha menjadi panutan yang baik baginya. Nggak langsung jaim juga, tetapi bisa santai sekaligus tegas. Kelakuan aneh-aneh kami berdua mulai kami tularkan sedikit ke Rasya (aneh yang masih bisa ditolerir kok). Suami lebih santai daripada saya. Saya
lebih galak dan maunya tertib teratur (sounds like my mother *tutup muka*). Ada saat di mana posisi itu terbalik, suami galak saya santai. Jadi saling melengkapi satu sama lain. But we do know how to have fun!

Bagi saya, Rasya mengeluarkan segala sisi baik kami dan membantu kami belajar sebagai orang tua. Sebab pada akhirnya tujuan dari sebuah pernikahan adalah bagaimana kita, orang tua, mampu menyiapkan anak untuk hidup mandiri kelak. Pernikahan bukan cuma soal kawin, tetapi membuat pondasi yang kuat dalam sebuah keluarga. Pernikahan itu dasarnya, kesiapan mental menjadi suami istri plus orang tua adalah tiang pancangnya, sehingga kita bisa membangun sebuah rumah yang berdinding kokoh, beratap baja, dan layak huni untuk anak-anak kita.

Jadi, menikah di usia yang pas itu penting! Pengalaman kami, usia 25 terbilang pas untuk menapaki jenjang pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Pas sudah bekerja tetap, pas sudah kelamaan pacaran, pas capek LDR, pas sudah ngebet kawin hehehe ;) Apakah waktu itu kami siap 100%? Nggak juga, tapi kami mantap menjalani bersama. Kesiapan itu dengan sendirinya bertambah seiring perjalanan pernikahan kami. Ketika saya hamil pertama dan dikuret, lalu hamil kedua dan lahir Rasya, secara sadar kami menyiapkan diri lebih lanjut. Bukan cuma sekedar menjadi suami istri, tetapi menjadi orang tua.

Dan di sinilah kami sekarang, tiga tahun dan masih terus berjalan.
Semoga kami bisa selalu saling sayang dan menjaga, rukun selalu, dan langgeng hingga kakek nenek!
Semoga rencana tahun depan bisa terwujud, semoga semoga!

Thursday, November 21, 2013

Catatan Rasya (20): Our Mini-me!

Bayi yang dulu sepanjang botol sekarang sudah sepanjang guling.
Begitu kata suami saya setiap melihat Rasya tidur nyenyak. Kakinya tampak lebih panjang. Rasya sudah lebih tinggi dari galon air mineral, suka jinjit mengambil barang di meja, dan memanjat semua yang bisa dipanjat.

Dua puluh dua bulan. Dua bulan menjelang dua tahun. Nggak kerasa, tahu-tahu sudah sebesar ini anak kecil di rumah saya. Kami masih menanti lebih banyak kata darinya, meski sekarang jauuuuuhhhh lebih ramai dan berisik di rumah. Di sini saya coba mencatat perkembangan apa saja yang sudah dialami Rasya, sambil mencocokkan dengan milestone chart di Baby Centre.
  • Bisa menggunakan sendok dan garpu dengan baik
  • Berlari ke mana pun ia suka
  • Melempar bola
  • Menggosok gigi dengan bantuan
  • Menunjuk gambar ketika kita mengatakan suatu kata
  • Kadang mulai tahu ketika ingin pipis (meski lebih sering berakhir jebol duluan)
  • Setiap selesai melakukan sesuatu ia akan mengatakan 'dah!' untuk sudah
  • Mau ini itu masih menunjuk, tetapi ia hapal persis di mana saja barang-barang favoritnya berada
  • Bisa melepas celana sendiri 
  • Memakai baju sendiri, meski baru memasukkan kepalanya saja
  • Bisa naik tangga sendiri (memanjat) & menuruni tangga dengan bantuan
  • Senang kalau dimintai tolong melakukan pekerjaan di rumah (menaruh baju kotor, alat makan bekas pakai, buang sampah, ambil barang, dll)
  • Mampu memahami dan menjalankan dua instruksi 
  • Mampu bermain puzzle sederhana (baru lewat aplikasi di tablet)
  • Meniru perilaku orang lain, terutama dari ayah dan mama
  • Joget-joget saat mendengar musik yang upbeat
  • Mengenal anggota tubuhnya & mampu menunjukkan dengan tepat
  • Mengendarai mobil-mobilan dengan lihai dan kadang brutal, sampai bisa melepas rodanya
Umur segini memang lagi lucu-lucunya. Namun, di balik segala kelucuan itu, drama pun mulai sering hadir di rumah kami. Soalnya, Rasya sudah jago banget urusan marah-marah jika keinginannya tidak dipenuhi. Untuk yang satu ini, kami harus pintar-pintar mengalihkan perhatiannya supaya nggak keterusan ngamuk. Entah kenapa, muncul kebiasaan Rasya guling-guling di lantai dan melentingkan badan ke belakang saat marah. Kalau sudah begitu, saya dan suami harus tegas pada Rasya. Sementara teknik yang kami pakai campur antara mengabaikan dan menegurnya. Saya belum tahu mana yang pas, tetapi kami berusaha membuat Rasya tahu bahwa itu tidak baik dan tidak boleh dilakukan. Makanya kalau keterusan sampai ngamuk, mesti langsung dialihkan ke hal lain yang ia suka atau.....clep! Kasih harta benda Rasya paling berharga.

Iya, harta itu adalah ASI. Saya masih menyusui dan memang berencana demikian sampai ia dua tahun. Meski begitu, saya pun masih belum terbayang harus mulai menyapihnya dari mana nanti hehehe. Setiap hari sering saya ajak bicara kalau saat 2 tahun ia harus berhenti minum ASI karena sudah besar. Sebagai gantinya, Rasya minum susu dari gelas. Yaaaaa, seolah ia tampak mengerti. Tapi ya menit berikutnya langsung nodong minta (>.<)
Chibi-chibi Cherry Belle (>.<)
Semakin ke sini, Rasya semakin jelas meniru setiap perilaku kami. Minum air misalnya, ia cenderung lebih antusias jika minum dari gelas yang sama seperti kami pakai. Makan juga begitu, piring makan waktu bayinya jarang dipakai. Ia juga selalu ingin makan apa yang kami makan. Dalam hal berpakaian pun begitu, Rasya ingin memilih sendiri semuanya. Nggak boleh? Siap-siap dia akan marah *garuk-garuk kepala*

Apapun yang ia lakukan, bagi kami tetap lucu, geli, kadang kesal tapi nggak bisa marah-marah juga, sekaligus bikin speechless. Seperti tadi sore, saya menemukan salah satu pintu lemari baju Rasya lepas. Eh ternyata, dia membuka dan menarik pintu itu sekuat tenaga. Hasilnya, mur dan bautnya lepas, ujung pintunya pun rusak. Hadeehhh Rasyaaaaaa..............(_ _)"

Kondisi pintu lemari yang 'dilepas' Rasya

Tuesday, November 19, 2013

Nasib Baby Wrap setelah 18 bulan

Dulu banget, pas Rasya masih bayi, saya pernah menulis soal menggendong bayi dengan baby wrap. Nggak terasa sekarang Rasya sudah besar, sudah bisa jalan sendiri, joget-joget, bahkan lari. Kemudian saya jadi teringat baby wrap di rumah. Untung cuma punya 2 buah, untung nggak kalap beli segala macam model gendongan yang nge-trend saat itu. Sempat lho, saya dan suami kepingin beli baby carrier yang macam SSC (soft structured carrier) itu. Sudah lihat-lihat, pas lagi diskon akhir tahun juga, eh...Rasya Alhamdulillah sudah jalan. Batal deh, hahaha.

Terus bagaimana nasib gendongan itu?

Sampai Rasya usia 22 bulan ini, baby wrap kadang saya pakai untuk menggendong Rasya saat dibonceng bareng ayahnya naik motor, terutama kalau perjalanan agak jauh. Begitu juga saat pergi jalan-jalan ke mall, kadang saya menyiapkan baby wrap untuk menggendong samping, supaya saya dan suami nggak pegal saat menggendong Rasya. 

Dari dua baby wrap yang saya miliki, saya lebih sering memakai Hanaroo, karena lebih tebal dan kuat untuk menopang tubuh Rasya. Syukur Rasya nggak pernah rewel kalau dipakaikan ke baby wrap. Sejauh ini baby wrap itu masih jadi andalan. 

Dari pengalaman itu, ternyata punya baby carrier nggak perlu banyak-banyak, hehehe. Cukup pilih satu atau dua model yang yakin banget bakal terpakai, plus kita dan suami (atau siapapun yang momong si kecil) bisa memakainya. Di rumah saya juga punya gendongan kain batik alias jarik yang biasa dipakai ibu mertua atau salah satu pembantu saya dulu untuk menggendong Rasya. Saya dan suami juga lebih suka menggendongnya pakai jarik kalau di rumah. Sekarang sih jariknya dipakai untuk selimut tidur Rasya saat tidur siang (pas dia mau diselimuti saja). Punya SSC yang KW pun cuma terpakai sesekali. Jadi, tergantung pilihan masing-masing, suka gendongan gaya apa ;)

Eh tapi, saya pernah lho lihat bapak-bapak di mall gendong anak batitanya di belakang dengan gendongan ransel yang ada tempat duduknya gitu. Pokoknya gede! Mungkin itu gendongan anak untuk dibawa naik gunung. Saya dan suami sampai terpukau dan langsung terlintas pertanyaan 'itu beli di mana?' 

Kayak begini nih gendongannya!
Pinjam di sini
Hmm...
Apa saya beli baby carrier eh toddler carrier lagi ya? Kali ini cari SSC yang bisa gendong belakang, kan anaknya sudah batita. Lumayan lho dipakai kalau jalan-jalan keluar kota. 

Ayaaaahhh, beli yuuukkkk! *kode ke suami*



Tuesday, November 12, 2013

Pancake Pizza yummy!

Biasanya saya cuma membuat pancake ditabur meises, keju parut, atau sosis. Bahkan kadang saya lebih suka pancake 'diguyur' madu atau taburan gula halus-kayu manis. Nah, semalam kepikiran bikin pancake pizza. Bukan resep baru, tanya Mbah Google banyak resepnya. Sebelumnya saya buat pizza roti, jadi topping pizza dioles di atas roti terus dipanggang sebentar. Kali ini topping pizza dioles di atas pancake, panggang sebentar biar kejunya meleleh. Nikmati hangat enaaakk banget!



Bahan
Pancake
7 sdm tepung terigu
1/4 sdt baking powder
1/4 sdt soda kue
Gula pasir secukupnya
1 butir telur
250 ml susu cair

Topping pizza
200 gr daging giling
1/2 buah bawang bombay, cincang kasar

4 buah tomat besar, kupas kulit dan buang bijinya, blender halus
3 buah tomat kecil, kupas kulit, buang biji, potong dadu
4 sdm saus tomat

1 sdm minyak goreng 
Air secukupnya
Garam, merica, pala, gula pasir secukupnya
2 sdm tepung maizena
Keju parut

Cara membuat
  1. Aduk semua bahan kering dalam satu wadah. Masukkan telur, aduk sebentar, lalu tambahkan susu cair hingga adonan rata. Diamkan sebentar selama 15 menit.
  1. Panaskan wajan datar. Setelah panas, tuang 1 sendok sayur adonan. Masak hingga permukaannya muncul gelembung-gelembung kecil, lalu balik dan masak hingga coklat. Masak seluruh adonan hingga habis. 
  1. Untuk topping, panaskan minyak dalam wajan. Tumis bawang bombay hingga harum, masukkan daging giling, masak hingga berubah warna. Tambahkan air dan jus tomat, aduk rata. Lalu masukkan saus tomat, potongan tomat, garam, merica, pala, dan gula pasir secukupnya. Masak sampai matang. Setelah matang, tambahkan larutan maizena untuk mengentalkan saus. 
  1. Ambil satu buah pancake, olesi dengan topping. Taburi keju parut. Masak sebentar di wajan datar yang sudah dipanaskan dan tutup dengan api kecil. Masak supaya keju meleleh. Setelah matang, angkat dan sajikan hangat.
Catatan:
  • Jika suka menggunakan mentega, saat memanaskan wajan datar boleh ditambahkan mentega. Pengalaman saya sih pancake lebih bagus warnanya ketika wajan tidak dioleskan mentega, makanya gunakan wajan datar anti lengket. Kalau pakai mentega, warna coklat merata pada pancake baru muncul saat memasak pancake ketiga. Pancake pertama akan cenderung kuning, nggak berwarna coklat seperti pancake di film-film itu hehehe.
  • Kalau lagi nggak ada tomat, pakai cara ‘curang’ sedikit boleh kok. Tambahkan saus Bolognese jadi (merek del monte lebih enak) secukupnya, 3-4 sdm deh. Lalu bumbui dengan garam, merica, pala bubuk, gula pasir.

Sunday, November 03, 2013

Tentang Kehilangan

Di tempat kerja, saya punya dua orang teman satu ruangan, satu seorang bapak, satu lagi seorang ibu. Keduanya lebih senior daripada saya, bahkan cukup mengenal suami saya saat ia sekolah dulu. Kami bertiga sering banget bercerita macam-macam, mulai dari urusan pekerjaan, rencana liburan, hingga tentang anak. 

Sebagai sesama ibu, saya dan teman saya sering sekali menceritakan perkembangan anak-anak kami. Anak beliau sudah besar, yang pertama kuliah tingkat tiga, yang kedua baru masuk kuliah. Kedua anaknya tinggal di Bandung. Sehari-hari, di sela pekerjaan kami, cerita soal si kakak sedang sibuk apa, si adik sedang asyik apa itu selalu muncul dan menjadi bahan obrolan atau malah diskusi seru. 

Hingga kemarin, saya ditelepon beliau.

Anak pertamanya, si kakak, kecelakaan motor tunggal dan kondisinya kritis.

Astagfirullah...

Seharian saya berpikir banyak hal soal anak beliau itu. Berdoa mengharapkan keajaiban, tetapi juga berusaha merelakan jika Allah SWT memutuskan yang terbaik bagi si kakak. Saya juga terus memikirkan kondisi teman saya, sehingga saya tetap berusaha berkomunikasi dengannya via sms. Satu sms terakhir dari teman saya mengatakan bahwa peluang hidup si kakak tipis, seluruh keluarga sudah diminta berkumpul dan mengikhlaskan. Si kakak juga sudah dibantu oleh banyak alat untuk bertahan hidup pasca kecelakaan itu. Satu per satu alat penopang hidupnya pun akan dicabut.

Pukul 19.55 WITA, saya dikabari suami yang juga dapat kabar dari temannya.

Si kakak meninggal dunia, dalam usia yang masih sangat muda, sekitar 20 tahun. 

Saya terdiam dalam hati, lalu menarik nafas panjang. Kebetulan saya sedang bersama seorang teman kerja dan kami saling mencurahkan perasaan kami yang tak karuan. 

Saya nggak pernah bertemu si kakak, tetapi saya mengenalnya dari cerita sang ibu. Kekhawatiran sang ibu karena si kakak ini sibuk sekali, kebanggaan sang ibu atas prestasi si kakak, hingga harapan sang ibu untuk calon istri kakak kelak. 

Saya juga merasa kehilangan... sangat kehilangan...dan berusaha merelakannya.
Saya tak kuasa membayangkan perasaan orang tua dan adiknya. Saya nggak bisa membayangkan apapun, kecuali ingin memeluk teman saya dengan erat. 

Sebab bagi seorang ibu, kami bisa kehilangan apapun atau siapapun di dunia, kecuali anak. Karena anak adalah buah hati yang dinanti, dikandung dan dibawa ke mana-mana selama 9 bulan, dilahirkan dengan mengorbankan nyawa, hingga dibesarkan dengan penuh cinta. 

Ketika takdir menjemput si anak, maka yang bisa kami lakukan sebagai seorang ibu hanya mengikhlaskan karena itu yang terbaik baginya. 

Semoga si kakak tenang di sisi Allah SWT, itu adalah tempat terindah baginya saat ini dan yang akan datang. Semoga keluarga yang ditinggalkan kuat, tabah, serta mampu menjalani hari-hari berikutnya. Amin ya robbal'alamin....

Friday, November 01, 2013

Sibuk-sibuk di Bulan November

Kenapa ya si Sibuk selalu dikambinghitamkan ketika kita nggak sempat memperbaharui blog?
Seperti saya contohnya.
Saya sering banget mengkambinghitamkan si Sibuk selama bulan Oktober ini. Padahal ide tulisan lagi banyak, tapi selalu berhenti pada ide. Belum dilanjutkan menjadi aksi.

Bulan Oktober kemarin jadi bulan yang naik turun bagi saya. Semua orang di tempat kerja sedang sibuk, malah pakai lembur. Saya sendiri sibuk mempersiapkan kegiatan besar, yang menempatkan saya sebagai ketua panitia. Acara ini termasuk gede-gedean, terlebih lagi sudah absen dari agenda kegiatan sekolah sekian belas tahun. Cuma masa persiapan terhitung pendek, saya dan teman-teman mesti putar otak dan bekerja super keras untuk memberikan yang terbaik. Di H-7 begini, kepala saya makin cenut-cenut, meski tetap dijalanin juga. Stres ya iya, tapi saya bawa enak aja. Lagian saya punya obat stresnya di rumah, main sama Rasya :D

Pada bulan lalu juga saya memutuskan untuk bercerai dengan blackberry setelah 4 tahun bersama. Gara-gara BB Onyx saya jatuh untuk kesekian kalinya dan berakhir dengan LCD rusak, putih semua, dan 'pecah' :'( Ganti LCD lumayan juga biayanya, walhasil keputusan saya adalah berganti HP. Sekarang pakai Sony Xperia J, dengan BBM Android yang sudah terpasang. Dadah-dadah sama BB, sambil pasang mata supaya HP nggak dalam jangkauan Rasya. 

Akhir tahun semakin dekat! Liburan di depan mata! Tiket pulang sudah di tangan :D Sudah kangen main ke kota, pengen ngemall dan ajak Rasya jalan-jalan, terus belanja sampai puas. Semoga saja acara besar bulan November ini berjalan lancar dan sukses! Tinggal menikmati akhir tahun dengan senang karena kerja keras sudah dilakukan. 

Memang mesti begitu ya, kerja keras dulu, baru bersenang-senang kemudian. Work hard, play hard. 
Doakan acaranya lancar yaaa! 

Silakan intip agenda Rasya di bulan Oktober, sibuk banget deh anak kecil ini di bulan lalu ;)

Bikin pas foto pertama 
Bersama murid di Bontang City Carnival 2013
Rasya di Family Day Kagama Bontang

Sunday, October 20, 2013

Catatan Rasya (19): Membiasakan Nilai-Nilai pada Rasya

Bicara soal standar, setiap orang pasti punya standar yang harus ia penuhi dalam hal tertentu.
Atau kita sebut saja standar itu sebagai nilai, value, yang kita anut sebagai individu.
Sebagai produk sekolah berdisiplin tinggi, saya sangat menjunjung kedisiplinan. Datang tepat waktu (malah kalau bisa 30 menit sebelumnya), rapi dan teliti dalam semua pekerjaan, bekerja dengan cekatan-efektif-efisien, hingga terbiasa dengan rutinitas yang sama (sebisa mungkin dilakukan pada jam yang sama). 

Jika terlambat sedikit, saya pasti panik, mau titip absen pun malas karena digelayuti rasa bersalah yang nggak hilang-hilang. Kalau bekerja tanpa deadline, pasti nggak enak rasanya, karena biasa kerja diburu deadline. Jika nggak masuk kerja, merasa bertanggung jawab pada tugas yang ditinggalkan, nggak bisa masa bodoh begitu saja. Kerapian pekerjaan itu nomor satu, berantakan sedikit, kurang sedikit, rasanya nggak enak. Sempurna, itu harus! Pun pada rutinitas, nggak enak jika biasa berangkat pagi tiba-tiba jadi berangkat siang. 

Saya selurus itu.

D u l u.

Bukan berarti sekarang nilai-nilai itu sudah terkikis dari diri saya. Namun, sejak menikah dan punya anak, saya sadar ada beberapa nilai itu yang perlu ditata ulang. Bukan menurunkan standarnya, tetapi menyesuaikan standarnya. Suami saya termasuk tipe orang yang lebih santai jika dibandingkan saya yang terkesan ribet-rempong-heboh sedunia. Awal pernikahan, entah berapa juta kali saya bete hanya karena hal kecil yang sebetulnya nggak perlu dibuat besar. Akhirnya, saya jadi stres dan gampang ngomel :p 

Respon santai suami yang bikin saya sering mengerem diri, mengingatkan diri untuk lebih menikmati hidup. Saya sering diomeli suami kalau pulang kerja langsung beberes rumah, sementara sebelumnya saya sudah ngeluh panjang lebar pada suami bahwa saya capek. Maka, ia akan menyuruh (dan memaksa!) saya istirahat, ketimbang memaksakan diri bersih-bersih tapi sambil ngomel ke sana kemari *tutup muka*

Ditambah lagi sejak punya anak. Kalau ada acara pas jam tidur Rasya, maka kami tak memaksakan diri untuk hadir pada jam tersebut. Terlambat nggak apa-apa daripada harus membangunkan Rasya yang sedang pulas tidur. Kita saja yang orang dewasa kalau dibangunkan mendadak jadi kesal, apalagi anak-anak, hehehe.

Lalu sampai kapan saya berlaku begini?

Tentu tidak seterusnya, karena saya yakin nilai-nilai yang saya anut sejak dulu itu layak untuk diwariskan pada anak-anak kelak. Perlahan tapi pasti, satu per satu nilai itu mulai saya kenalkan pada Rasya. Contoh, menjalani hari dengan kegiatan rutin pada jam-jam tertentu, seperti mandi jam 6.30, setelah mandi lalu sarapan, dan seterusnya. Begitu pula dengan menyimpan barang yang sudah selesai dipakai. Setiap habis mandi, Rasya tahu ia harus ke mana untuk mengambil pakaian dan bedaknya. Setelah itu, ia akan mengembalikan handuknya ke tempat semula. Begitu pula jika baru pulang jalan-jalan, ia langsung tahu sepatu ditaruh di mana, bahkan meletakannya dengan rapi!

Semakin besar Rasya, semakin besar pula tantangan saya dan suami untuk mengajarinya berbagai nilai yang kami miliki. Saya percaya, kami berdua dapat melakukannya. Nilai-nilai tersebut perlahan akan ditata lagi standarnya, ketika saatnya tiba.

Misalnya, soal konsep waktu. Saat Rasya mulai bersekolah, maka kami bisa menerapkan disiplin waktu dengan lebih baik. Pun ketika melakukan perjalanan dengan pesawat, ketepatan waktu adalah mutlak. Paling sederhana, Rasya mulai mengerti kapan saya harus berangkat kerja. Konsep waktu memang masih abstrak bagi anak seusia Rasya, tetapi mereka bisa belajar tentang itu dengan melihat tanda-tanda. Jika ia melihat saya sudah mengenakan seragam kerja, membawa tas, dan memakai sepatu, ia langsung melambaikan tangannya dan minta cium tangan.

Ya, masih banyak sekali PR kami sebagai orang tua, seiring tantangan yang terus diberikan Rasya lewat proses tumbuh kembangnya. Kami masih menanti lebih banyak kata dari Rasya, yang kini lebih cerewet dan ramai. Kami juga sering dibuat heran sekaligus geli dengan setiap aksi yang ia lakukan. Plus, kami harus meningkatkan kewaspadaan pada setiap perilaku yang kami lakukan. Dia mulai pandai meniru!

Ayo Rasya, lekas besar, tambah pintar, sehat selalu! Ayah dan Mama menunggu kejutan lain dari kamu! :*



Thursday, October 03, 2013

The Voice 5!

Saya sangat suka nonton TV, tapi saluran televisi berlangganan. Menu harian saya nggak jauh-jauh dari Star World, E!, Fox, TLC, AFC, kadang Universal Channel, SET, dan AXN. Hampir dua bulan belakangan saya jarang nonton AXN karena belum ada tontonan menarik. Tontonan wajib saya banyak di Star World. Oh, saya cinta banget sama channel ini :*

Sampai kemarin saya nonton The Voice 5, reuni bagi para pelatih. Christina Aguilera dan Cee Lo Green datang lagi. Asyik, ini bakal lebih seru dari musim lalu! Nggak tahu kenapa, saya senang sekali mengikuti 'perseteruan' para pelatih saat merayu penyanyi untuk masuk ke tim mereka. Ledekan dan candaan antara mereka itu lucu, tapi nggak dibuat-buat. Makanya, saya bersemangat lagi nonton The Voice 5.

Sayangnya, saya ini angin-anginan. Empat musim The Voice, saya cuma betah nonton sampai battle round saja. Begitu konser live, saya malah malas. Makanya saya nggak ngeh juga kalau Blake Shelton menang lagi di musim lalu. Yeah, Blake sudah menang tiga kali. Ini memang menunjukkan kualitas Blake sebagai seorang musisi handal yang tahu persis kualitas bintang dari artis bidikannya. But, three times seriously? Just give it all to other coaches!

Semalam saya menemukan satu penyanyi luar biasa di blind audition. Namanya, Barry Black. Penampilan biasa saja, tapi suaranya............OMG! Semoga ia terus melaju dan bikin saya tetap betah nonton The Voice 5 sampai selesai! :D