Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Sunday, March 08, 2015

Catatan Rasya (29): Merangsang Kemampuan Berbahasa


Setiap bertemu kenalan atau saudara yang jarang bertemu Rasya, saya merasa selalu diingatkan untuk bersyukur betapa ceriwisnya Rasya kini. Padahal, Mei tahun lalu saya masih curhat soal menunggu Rasya memproduksi kata. Bahkan, sudah berancang-ancang mau ke dokter spesialis tumbuh kembang anak. Setibanya di Jakarta, semua rencana itu buyar, seiring kemampuan Rasya meningkat pesat. Saya sempat mencatat beberapa kata awal yang meluncur dari mulutnya di sini. Kini, saya tak ingat lagi berapa banyak kata yang sudah ia simpan dalam kamus kosakatanya, saking banyaknya!

Membaca lagi kedua curhatan itu membuat saya yakin bahwa kitalah yang harus tahu persis apa yang dibutuhkan anak. Tutup telinga pada komentar orang lain yang mungkin bikin down, boleh-boleh saja, selama kita tahu bahwa kita sudah melakukan segala hal untuk merangsang kemampuan anak. Saat di Bontang saya sempat bertanya dengan seorang teman yang paham betul dunia PAUD. Beliau meyakinkan saya bahwa Rasya itu anak pintar, terlihat dari sorot matanya yang tampak cerdas. Masalah ia belum mau bicara hanya karena memang belum waktunya. Dirangsang terus saja lewat bacaan, nyanyian, dan sering ajak ngobrol. Kitalah yang harus terus menerus melakukan semua stimulasi itu, tanpa memaksa tentunya. 

Satu hal yang menggembirakan bagi saya adalah artikulasi Rasya yang super jelas saat berbicara. Hanya pada periode awal 'ledakan kata' saja ia masih berbicara dengan bahasanya sendiri, dalam arti mengucapkan kata-kata yang mengacu pada kata tertentu, tapi dengan pengucapan yang belum tepat. Misalnya, Om Kiky jadi Om Cici, Om Gilang jadi Om Jiii, Uti jadi Ui, dll. Selang beberapa bulan, ia mampu mengucapkannya dengan tepat. Bahkan mengkoreksi jika kita salah mengucapkan :p



Jadi, apa saja yang saya dan suami lakukan untuk terus merangsangnya bicara lebih banyak?
  1. Membacakan buku sejak bayi, ini salah satu rangsangan yang dengan senang hati saya lakukan sejak ia bayi. Beranjak batita, jenis buku yang saya belikan sudah lebih tebal dan panjang ceritanya. Kini pun ia bisa memilih sendiri buku yang diinginkan. Meskipun begitu, yang minta dibacakan tetap buku itu itu saja. Saking seringnya membaca buku yang sama, Rasya sudah hapal ceritanya. Namun, yang mengharukan sih, ia tetap minta dibacakan! Inilah waktu spesial kami berdua! 
  2. Bernyanyi lagu anak-anak klasik sepanjang masa. Walau kadang saya merasa nggak yakin suara saya merdu, nyatanya Rasya terus mengingat lagu-lagu yang saya nyanyikan sejak ia bayi. Malah ia kini ikut mendendangkan lagu tersebut dengan nada yang tepat! Begitu ia lancar berbicara, lagu-lagu yang pernah saya nyanyikan berhasil ia dendangkan dengan komplit, lengkap semua lirik dan nada yang pas. Salah satu lagu favoritnya adalah Pelangiku dari Sherina, sampai hapal satu lagu penuh. Dari lagu-lagu ini pula kosakata Rasya bertambah banyak. Ia jadi tahu banyak kata dan mulai memahami artinya. Emmm....walau ia belum pernah bertanya apa arti kata 'bidadari' sih, seperti yang ada dalam lagu Pelangiku :D
  3. Cerita tanpa henti tentang setiap aktivitas yang akan, sedang, dan sudah dijalankan. Saya selalu memberi tahu Rasya, apa yang akan kita lakukan nanti, sedang kita lakukan, dan tadi dilakukan, bahkan sejak ia bayi. Rutinitas ini membantunya memperoleh gambaran apa sih yang akan ia lakukan selanjutnya? Terutama jika mau pergi ke luar rumah, itu sih woro-woronya sudah sejak seminggu atau beberapa hari sebelumnya. Harapannya, Rasya nggak kaget dan nggak rewel saat pergi. Alhamdulillah, sampai hari ini Rasya termasuk anak yang mudah diajak pergi ke sana kemari. Jarang sekali ia rewel sampai akhirnya kami harus membatalkan rencana kami. Prinsip saya dan suami, anak perlu belajar menyesuaikan diri dengan beragam keadaan yang ia temui di luar rumah. Sekalipun ia menangis atau takut pada awalnya, ia tetap harus survive dalam situasi tersebut. Sekarang, Rasya bisa bercerita panjang lebar tentang apa yang ia lakukan baru-baru ini, mulai dari tadi pagi, hingga perjalanan beberapa minggu lalu.
  4. Tinggal di lingkungan yang ramai. Kepindahan keluarga kecil kami ke Jakarta adalah salah satu berkah yang sangat mendukung perkembangan bahasa Rasya. Di sini kami tinggal di rumah orang tua saya, yang ramaaaaaiii dan banyak orang. Lingkungan ini pula yang mendorong Rasya bicara lebih banyak dan dengan artikulasi yang jelas. Cuma agak nggak enaknya nih, lama-lama nada bicara Rasya seperti orang dewasa. Bahkan sudah pakai kata 'kamu' saat bicara dengan saya atau orang rumah *tepok jidat*. Saat mencari saya pun begini katanya, "Mamaaaaa, di mana kau?" Lucunya lagi, ia selalu bisa mengingatkan orang lain saat salah. Oh tambahan, kalau ia pergi dengan utinya dan pamit ke Ayut (eyang buyut, ibu dari mama saya), ia selalu titip pesan pada Mpok yang jaga Ayut, "Mpok, jagain Ayut yaaa." Ah, dapat dari mana itu kalimatnya?
  5. Sekolah di PAUD dekat rumah. Keputusan ini juga salah satu faktor pendorong 'meledaknya' kemampuan berbahasa Rasya. Dengan lingkungan baru, Rasya dapat pengalaman bersosialisasi dengan teman sebaya, sehingga di saat yang sama, mau tak mau ia harus mampu berbicara lebih banyak agar dapat berkomunikasi dengan temannya. Dari sekolah pula Rasya mengerti tentang peraturan di luar rumah, yang mana sering membuatnya lebih rajin di sekolah daripada di rumah. Di kelas ia selalu helpful, mau membantu gurunya mengambil barang dan membereskan barang. Di rumah, ia pasti punya alasan saat saya minta membereskan mainan,"Nggak mau ah, lagi males" atau "Mama aja yang beresin mainannya." *nyengir nggak tahu harus bilang apa*
Selain kelima 'hal besar' di atas yang saya lakukan, saya dan suami juga selalu berusaha mengucapkan setiap kata dengan benar. Kami memang nggak pakai 'bahasa bayi' saat berbicara dengan Rasya. Meski terdengar lucu, ternyata ini berdampak juga lho bagi pembentukan kamus kata si kecil. 

Nah, itulah yang saya dan suami lakukan untuk terus merangsang kemampuan bahasa Rasya. Semoga dapat membantu ya! Satu lagi, ingat pula bahwa setiap anak punya timing sendiri untuk mencapai milestone tersebut. Tetap berusaha sambil berdoa dan berharap, itu sepaket lengkap yang bisa kita lakukan untuk memantau terus tumbuh kembang anak.