Laman

  • Home
  • GARAGE SALE!!!
  • About Me
  • Contact Me

Thursday, August 28, 2014

Pulang ke Jogja

Sebagai orang yang kenyang menclok sana sini, kembali ke lingkungan yang dulu dikenal adalah kenikmatan tak terhingga. Terlebih lagi jika tempat itu bernama Jogjakarta. Saya yakin, siapapun yang pernah tinggal di Jogja, pasti selalu kangen untuk kembali. Katon, Lilo, dan Adi nggak bohong, suasana Jogja itu begitu melekat.
Betul sekali, Pak Anies! (dari sini)
Jogja bukan cuma penting bagi saya, tetapi bagi keluarga kecil saya. Di situlah saya dan suami bertemu. Makanya, Jogja selalu punya tempat di hati saya. Perjalanan kali ini boleh dibilang merupakan impian yang terwujud. Sejak menikah, saya belum pulang ke Jogja, suami sih lebih sering. Baru kali ini kesampaian pulang bertiga ke sana. Kami ingin berbagi kenangan dengan Rasya, ke mana dulu kami sering kencan, kampus tempat bersua, hingga keramaian kota.

Napak tilas, menelusuri lagi jejak-jejak kami dulu. Nostalgia perut, menikmati semua kuliner yang biasa kami makan dulu. Berkunjung ke rumah kedua di Jogja, kampus tercinta. Di sisi lain, saya juga ingin memberikan Rasya petualangan kecil. Dari rumah mertua di Bogor, kami berangkat dengan commuter line, turun di Gondangdia, disambung bajaj, naik kereta Bima dari Gambir. Di Jogja Rasya sempat naik bis dan andong alias delman. Petualangan kecil Rasya ditutup dengan naik pesawat kembali ke Jakarta.

Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan Rasya luar biasa senang menikmati beragam pengalaman baru. Saya dan suami juga sama-sama happy karena sempat mewujudkan beberapa rencana bertemu teman-teman. Reunited, and it feels so good! Tapi jujur nih, empat hari di Jogja kurang lama. Inginnya mah seminggu supaya bisa jalan-jalan ke pantai. Eh kalau seminggu pasti juga kurang ya? Akhirnya sih semua tergantung pada dompet. Jika sudah semakin tipis, maka itu tanda untuk kembali ke Jakarta dan menabung lagi supaya bisa liburan lagi! :D

Begitulah, liburan pasti harus berakhir. Sekarang saatnya saya dan suami memulai aktivitas baru di bulan September, sementara Rasya kembali bersekolah. 

Mudah-mudahan bisa ke Jogja dan reuni dengan lebih banyak teman. Bagi saya, banyak hal dari Jogja yang bikin kangen. Itulah kenapa setiap ke Jogja selalu terasa pulang ke rumah.

Di sini pertama kali kami bertemu :">

Sunday, August 17, 2014

Merdeka!

Pagi ini saya membaca sebuah posting seorang teman di timeline media sosial. Tertulis begini, "Independence can start early at home." Lalu ia berbagi tautan dari halaman Maria Montessori, tentang pekerjaan rumah tangga apa saja yang bisa dilakukan anak di rumah. Ya, bahkan anak usia 2 - 3 tahun pun bisa ikut melakukan pekerjaan rumah tangga. 
Semua pekerjaan rumah tangga kadang terlihat sederhana, tetapi masih ada orang yang tak terbiasa melakukannya. Ada banyak contoh hal itu di sekeliling saya. Apalagi tinggal di kota besar, umumnya setiap rumah tangga punya satu asisten rumah tangga (ART). Karena terlalu enak dibantu oleh ART, kita sering kewalahan jika nggak punya ART. Sampai lupa (atau malah nggak tahu) bagaimana mengerjakan pekerjaan rumah tangga. 

Bukan, bukan berarti saya anti ART. Butuh banget malah. Namun, saya merasa sangat penting mengajarkan anak sejak dini berbagai keterampilan urusan rumah. Mulai dari yang paling mudah: meletakkan kembali barang yang sudah dipakai di tempat semula, membuang sampah pada tempatnya, menaruh pakaian kotor di tempat khusus, dan membereskan mainan setelah bermain. Semakin besar anak, semakin bertambah pula 'tugas'-nya di rumah. Itu pun bukan 'tugas' semata, bukan juga pekerjaan rumah (PR), tetapi modal bagi anak untuk mandiri, berusaha memenuhi kebutuhan diri sendiri. 

Pada dasarnya, itulah peran orang tua, yakni mendidik anak untuk mandiri, sehingga anak mampu mengurus dirinya sendiri. Yang kadang terjadi malah sebaliknya, mengurus semua keperluan anak sampai hal terkecil, dengan alasan supaya cepat dan nggak ribet. Anak pun akhirnya jadi enggan dan tak tahu cara mengurus dirinya, karena TERBIASA diurus oleh orang tua. Bayangkan kalau ini berlangsung bertahun-tahun hingga si anak remaja, pusing 'kan? 

Usaha memenuhi kebutuhan diri sendiri itulah yang disebut merdeka, belajar untuk bergantung pada diri sendiri. Pelajaran ini susah susah gampang lho mengajarkannya. Ya itu tadi, balik pada hasrat orang tua ingin melindungi dan membantu anak sebisa mungkin. Sering merasa nggak tega minta tolong pada anak, atau merasa kasihan kalau anak diberi pekerjaan rumah tangga padahal sudah capek seharian sekolah.

Namun, pernyataan berikutnya adalah kita, orang tua, belum tentu bisa mendampingi anak terus menerus. Nanti ada masanya si anak akan pergi berkemah di gunung bersama teman-temannya, ikut kegiatan karyawisata seminggu, atau bahkan kuliah di kota lain dan harus nge-kost. Kalau semua urusan rumah, yang sebetulnya keperluan pribadi si anak, kita kerjakan terus, bagaimana ia akan melakukan itu nanti saat tak bersama kita? 

Jadi, yuk mulai memberikan kesempatan pada anak untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Sedini mungkin, seperti check list yang saya dapat dari posting teman saya di atas. Membiasakan suatu hal pada anak tak akan membuat pekerjaan itu terasa berat, karena sudah terbiasa dan tahu itu kebutuhannya. Dengan memberikan kesempatan, anak belajar mencoba melakukannya, sehingga tahu kalau melakukan pekerjaan rumah tangga itu nggak sulit. Ia pun akan percaya diri dan yakin bahwa ia bisa mengandalkan diri sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Sesekali pasti ia akan bertanya dan meminta tolong pada kita, tapi lambat laun ia akan terbiasa dan mau melakukan urusan rumah tangga dengan senang hati. Semua itu demi masa depan anak!

Bantu anak memperoleh kemerdekaan diri, ini tugas utama kita sebagai orang tua. :)

DIRGAHAYU KE-69 NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

MERDEKA!


Wednesday, August 06, 2014

Idul Fitri 1435 H

Alhamdulillah, tahun ini saya bisa berlebaran bersama keluarga besar di Jakarta, seiring kepindahan kami sekeluarga secara bertahap ke ibukota. Rasanya nikmat bisa berpuasa dekat orang tua, tetapi nggak enak juga jauh-jauhan sebulan dengan suami, hehehe. Semoga bulan ini kami segera kruntelan bertiga lagi, suami, saya, dan Rasya :)
Masih dalam masa transisi begini, semua masih abu-abu, belum terang benar. Namun, ada enaknya juga, waktu bersama Rasya lebih banyak dan saya banyak mengamati perkembangan bahasa Rasya yang luar biasa pesat! Sangat mengagumkan, mengingat tiga bulan lalu ia baru bisa mengucapkan 'Mama' saja. Nggak enaknya ya.....belum ada dana segar yang mengalir ke rekening hihihi. Mohon doa ya supaya saya lekas berjodoh dengan pekerjaan baru. Amiiinnn! 

Oya, saya juga berutang cerita soal sekolah Rasya nih, dan beberapa cerita lain yang masih tertunda. Tunggu ya! :D

Atas nama saya pribadi, saya menghaturkan:

Selamat Idul Fitri 1435 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Amplop, amploppp! Ada yang mau?

Thursday, July 17, 2014

Catatan Rasya (27): Tak Terbendung Lagi!

Jadi ibu itu harus sabar. Sabar menghadapi segala tingkah laku anak, dari yang lucu menggemaskan sampai yang bikin sebal plus kesal. Penambahan ekstra sabar juga berlaku untuk urusan pencapaian milestone anak. Dalam cerita ini, saya sempat berpikir ingin membawa Rasya ke dokter spesialis tumbuh kembang anak, mungkin saja perlu terapi wicara. Sampai saya menulis cerita ini, bahkan saat saya sudah di Jakarta pun, saya belum membawa Rasya ke sana. 

Alasannya, tanggul Rasya sudah jebol! 

Iya, bendungan yang selama ini menahan kemampuan Rasya memproduksi kata sudah terbuka perlahan tapi pasti! Dalam waktu kurang dari 30 hari sejak saya berhenti bekerja, kamus kosakata Rasya bertambah banyak. Apalagi sejak saya pindah ke rumah orang tua yang lebih ramai, membuat Rasya semakin cepat dan aktif belajar kata-kata baru. Setiap hari ada saja kata-kata baru yang ia ucapkan. Itu saja sudah mengundang decak kagum dari diri saya, dan tentu saja rasa bangga serta syukur, Alhamdulillah.

Ditambah lagi Rasya mulai masuk PAUD di dekat rumah, semoga saja ini mampu merangsang Rasya untuk lebih pintar merangkai kata dan bersosialisasi. Soal sekolah akan saya ceritakan pada tulisan lain ya. 

Sebelum lupa, saya coba mendaftar kata-kata apa saja yang sudah fasih dilafalkan Rasya.

Nama orang/keluarga
Benda
Warna
Kata kerja
Rasya (caa-caah)
air (aa-iii)
biru (bi-uu)
mau
Mama
cincin (ci-cin)
merah (me-haa)
main
Yayah
bis
hijau (hi-jau)
bobo
Akas (aaa-kaass)
pampers (paepes)
kuning (ku-ni)
makan (mam)
Mbay (mbai)
(shuttle) cock
ungu (u-uu)
minum (mi)
Uti (uuu-iii)
bola (bol)
putih (pu-ti)
nggak (gak!)
Atung (aaaa-uung)
kue (kueh)
hitam (hi-taa)
naik
Oom Gilang (om jiii)
jeans (jis)
jingga (ji-gaa)
best : hebat, pintar
Oom Kiky (om cici)
keju (ke-hu)
pink (ping)
bau 
Memey



Nova (ooo-paa)



Nin



Mbak



Kakak



Dedek



Ibu



Bapak



Bayi, baby (be-bi)




Dari pengalaman ini, saya semakin yakin bahwa anak punya timing sendiri untuk mencapai milestone-nya. Berhentilah membandingkan anak dengan anak orang lain, nyaris tak ada hasilnya, kecuali kita sendiri yang makin stress dan pusing. Bandingkan saja perkembangan anak dari bulan ke bulan, peningkatan sekecil apapun pasti membuat kita bahagia luar biasa melihatnya! Oya, sedikit menutup telinga terhadap komentar-komentar negatif soal tumbuh kembang anak juga boleh kok. Saya pernah merasa agak tersinggung dibilang kurang bawel gara-gara Rasya masih sedikit bicara. Tapi dipikir-pikir lagi, kok rugi amat tersinggung, saya juga yang capek ati kan

Selama kita tahu bahwa anak betul sehat dan proses tumbuh kembangnya baik, lakukan saja apa yang menurut kita BENAR untuk ANAK KITA. Perhatikan juga masukan dari orang terdekat, yang tahu persis bagaimana perkembangan anak kita. Kalau ada yang mengkhawatirkan, nggak ada salahnya kok pergi ke dokter. Browsing sana-sini juga boleh, tetapi jangan menyimpulkan sendiri yaa, terutama jika kita tidak punya latar belakang medis. 

Sudah tentu, stok sabar juga harus diperbanyak! Percaya deh, buah kesabaran itu manis dan nikmat, senikmat mendengarkan kata-kata mengalir deras dari bibir mungil si kecil :D

Aaa-iiii(r)!

Tuesday, July 08, 2014

Cinta Ibu, Dari Kandungan ke Dunia

Setiap melihat Rasya tidur, ingatan saya kerap kembali ke waktu 39 bulan lalu: 30 bulan usia Rasya dan 9 bulan ia dalam rahim saya. Beratus-ratus kali saya menceritakan kembali proses kehamilan dan melahirkan Rasya, tetapi selalu terselip perasaan hangat dan haru tiap saya menuliskan ini. Bagi ibu, pengalaman hamil dan melahirkan itu ajaib! Bagi saya, membawa Rasya selama 9 bulan, melahirkannya, dan membesarkannya adalah bentuk cinta yang tak ternilai. Beginilah cerita saya.

Kehamilan kedua
Pasca blighted ovum pada 'kehamilan' pertama, Alhamdulillah saya dihadiahi lagi 45 hari setelah dikuret. Kalau kata dokter, terlalu cepat, tapi ya maklumlah, namanya juga (waktu itu) masih pengantin baru. Senggol sedikit, eh jadi! Berbekal pengalaman tak menyenangkan sebelumnya, saya pun baru mengumumkan pada dunia tentang kehamilan itu saat usia 12 minggu.

Trimester pertama saya lewati dengan mual muntah setiap pagi, baru trimester kedua saya merasa lebih nyaman dan happy. Bahkan saya sempat terbang ke Jakarta sendiri, dan rasanya bangga sekali saat ditanya, 'Mbak lagi hamil?' oleh orang-orang yang melihat perut nyembul sedikit. Apalagi, nafsu makan lebih enak, mau melakukan apapun bisa. Jadilah, momen pulang kampung itu saya rayakan dengan memuaskan ngidam yang tertunda.

Namun, masuk trimester ketiga, perut yang semakin buncit bikin saya mudah lelah dan sulit tidur. Lupakan posisi tidur telentang, posisi tidur miring dengan perut disangga bantal tipis dan punggung disangga guling adalah posisi terbaik. Hobi masak pun agak terlantar gara-gara saya nggak kuat berdiri lama. Lumayan banyak keluhan sih, tetapi nggak menghentikan saya untuk melakukan sesi foto perut buncit bersama suami, hehehe.
Usia kehamilan 34 minggu
Rasya datang!
Suatu pagi di bulan Januari 2012, sesuai kesepakatan dengan dokter kandungan, saya bersiap menuju ruang operasi. Saya sempat menunggu sekitar 15 menit di luar ruang operasi. Tangan saya terus menggenggam tangan suami dan Mama saya, karena saya hanya sendirian saat dioperasi. Begitu semua siap, saya pun digiring ke ruang operasi yang besar dan dingin. Tepat di bawah lampu super terang saya terbaring. Setelah disuntik obat bius, perlahan bagian bawah tubuh saya terasa kebas. Dokter sempat berkata, 'Ibu kalau mau lihat operasinya bisa lho lewat pantulan di lampu itu.' Saya cuma tertawa dan bilang, 'Waduh, ngeri dok. Untung minus mata saya tinggi, jadi nggak bisa lihat jelas bayangan proses operasinya!' 

Operasi pun dimulai. Perut yang terasa kebas tetap seperti digelitik saat dokter mengoperasinya. Saya merasakan perut saya diobok-obok. Satu waktu saya merasa sesak ketika perut dirogoh-rogoh. Susah payah saya bilang bahwa saya sesak dan mual, dan tahu-tahu saya muntah. Tak lama setelah 'sensasi' itu berlalu, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi. Saya terkesiap, itu anak saya? Hingga perawat menunjukkan seorang bayi mungil terbungkus kain kelinci berwarna hijau, 'Selamat ya, Bu. Anaknya laki-laki, sehat dan sempurna.' Sekali lagi saya terpana, dan mengucap syukur dalam hati, lalu berkata, 'Kamu ganteng sekali, Nak.' Seperti mimpi! :')
Ekspresi pertama Rasya yang terekam kamera Ayah
Pasca operasi, saya masih harus istirahat dan belum bertemu Rasya. Selang beberapa jam, perawat membawa Rasya dan untuk pertama kalinya, saya menyusui si jagoan kecil. Kulit Rasya tampak memerah, lapisan putih yang menyelimuti tubuhnya belum bersih betul, rambutnya masih lengket, tetapi saya tetap merengkuh dan menciuminya berkali-kali. 'Ini lho, mahluk mungil yang sering nendang-nendang perut saya,' begitu pikir saya, takjub.

Malam pertama rawat inap di RS, kami sudah tidur dalam satu kamar, saya, suami, dan Rasya. Saya ingat betul, justru suami yang pertama kali menenangkan Rasya yang terbangun tengah malam karena buang air besar. Ia pula yang menggantikan diapers Rasya dengan Pampers New Baby Diapers, yang memang sudah saya siapkan sebelum lahiran. Saya saja kalah sigap, hehehe, maklum baru selesai operasi caesar, duduk saja sulit. Namun, setidaknya saya juga ikut berkontribusi dalam adegan pertama suami mengganti popok Rasya, yakni memilihkan diapers yang tepat :)

Perawatan Kulit Bayi
Sebagai ibu baru, masukan-masukan dari orang tua maupun teman selalu saya ingat baik-baik. Apalagi perawatan kulit bayi baru lahir kan berbeda dengan perawatan kulit orang dewasa, jadi tidak boleh sembarangan. Ada banyak hal yang harus dilakukan kalau bicara soal perawatan kulit bayi, from head to toe! Ini catatan penting yang saya dapatkan selama mengurus bayi Rasya.
Senyum lebar Rasya sehabis berganti popok :)
  • Mandi dengan suhu air yang tepat. Ritual mandi selalu menarik untuk diikuti. Awalnya saya takut memandikan Rasya, tapi lama-lama jadi biasa dan menyenangkan. Siapkan seluruh perlengkapan sebelum mulai memandikan. Pakai sabun khusus bayi ya, sehingga kulit bayi tetap lembut dan halus.
  • Pilih kosmetik bayi yang aman. Untuk bayi baru lahir, penggunaan minyak telon hanya di sekitar perut dan punggung, gunakan secukupnya. Begitu pula dengan bedak dan jangan memberikan bedak di area kelamin. 
  • Perhatikan kebersihan tali pusar dan area kelamin. Sehabis mandi, saya membersihkan tali pusar, diseka dan dikeringkan. Begitu pula setiap Rasya buang air kecil atau buang air besar, bersihkan dengan kapas yang dicelupkan air hangat secara lembut, dan keringkan, baru pakai popok kain bertali. Jika tidur malam atau jalan-jalan, baru saya pakaikan diapers alias popok sekali pakai kualitas terbaik.
  • Pilih pakaian bayi dengan bahan katun yang lembut dan menyerap keringat. 
  • Pastikan kebersihan pakaian bayi. Ingat banget, saat baru melahirkan tiba-tiba pembantu yang biasa cuci-seterika mendadak berhenti. Saya pun turun tangan langsung, mulai dari menyediakan dua ember untuk pakaian kotor Rasya, selalu mengucek popok Rasya yang kotor secara terpisah, menggunakan sabun pencuci dan pelembut pakaian khusus bayi, mengeringkannya dengan baik, dan menyeterikanya dengan seksama. Pantang bagi saya untuk memakaikan langsung pakaian yang baru kering, tanpa diseterika lebih dulu. Panas seterika akan membantu pakaian lebih bersih dan rapi, sekaligus mematikan 'kuman' yang tak terlihat, begitu pesan seorang teman.
  • Bersih-bersih sebelum dan sesudah menyusui. Saat menyusui Rasya pun saya selalu membersihkan diri lebih dulu, cuci tangan, dan membasuh puting dengan kapas hangat, keringkan, baru menyusui Rasya. Setelah menyusui pun, area sekitar mulut Rasya saya basuh kembali, memastikan tidak ada sisa ASI.
  • Minimalkan penggunaan obat-obatan jika terjadi masalah pada kulit bayi. Alhamdulillah kulit Rasya terbilang sehat dan baik saat awal kelahirannya. Namun, beranjak usia dua bulan, wajah Rasya pernah dihiasi oleh tujuh luka kecil bekas gigitan nyamuk! Aduh, saya panik banget! Akan tetapi, saya nggak berani memberikan salep, apalagi luka itu ada di wajah. Browsing sana-sini, tanya ke beberapa teman, saya malah memperoleh informasi bahwa luka bekas gigitan nyamuk bisa teratasi hanya dengan mengoleskan ASI. Iya, ASI kita, ibunya. Oles saja tipis-tipis pada luka yang kering, 2 - 3 hari kemudian bekas luka itu mulai memudar. Berhasil!
Pampers dengan #5starsprotection
Perawatan kulit bayi baru lahir harus didukung oleh pemilihan produk yang tepat, termasuk memilih diapers. Setiap bayi punya kondisi kulit yang berbeda, sehingga memilih diapers yang tepat bisa mengurangi resiko terjadinya alergi pada kulit bayi, selain dengan selalu menjaga kebersihan area yang tertutup popok tentunya. Diapers andalan harus punya kriteria ini: punya daya serap baik, ergonomis - nyaman dipakai dan mengikuti pergerakan bayi, dan lembut untuk kulit bayi, sehingga tidak menimbulkan iritasi kulit atau ruam popok. 

Kini Pampers memperkenalkan inovasi baru #5starsprotection untuk bayi baru lahir. Menilik lima keunggulan Pampers ini sudah pasti menjadikan Pampers sebagai andalan, terutama untuk si kecil yang baru saja melihat dunia. Apa saja sih keunggulan #5starsprotection dari Pampers ini?
  1. Lapisan dalam Pampers #5starsprotection mengandung lidah buaya, sehingga mampu melindungi kulit bayi agar tetap lembut dan menghindari resiko ruam popok.
  2. Daya serap Pampers #5starsprotection yang tinggi mampu menjaga kulit bayi tetap kering selama 12 jam, bayi pun bisa tidur nyenyak.
  3. Bahan Pampers #5starsprotection berkualitas tinggi, selembut kapas, bayi pun nyaman mengenakannya, tanpa khawatir terkena iritasi akibat gesekan kulit dan popok.
  4. Pampers #5starsprotection memiliki rongga udara yang berfungsi sebagai sirkulasi udara, sehingga kulit bayi tetap bisa 'bernafas' meski mengenakan popok untuk waktu lama. 
  5. Desain popok Pampers #5starsprotection dibuat senyaman dan sefleksibel mungkin, sesuai bentuk tubuh bayi yang baru lahir. 
Inovasi terbaru dari Pampers ini betul-betul menakjubkan, apalagi untuk ibu yang sering khawatir soal perawatan kulit bayi. Seperti mendapatkan mitra jempolan untuk membantu merawat kulit si kecil! 

Menceritakan kembali bagaimana merawat Rasya saat bayi dengan segala tantangannya, terutama perawatan kulit, rasanya ingin punya bayi lagi, hehehe. Saya yakin, perjalanan hamil-melahirkan selalu menjadi fase luar biasa bagi setiap perempuan, ibarat jatuh cinta lagi. Cinta ibu adalah keinginan merawat, menjaga, dan melindungi, bahkan sejak hari pertama kita sadar ada makhluk kecil yang tinggal dalam kandungan ini.

Saat anak lahir ke dunia, bagaimana merawat, menjaga, dan melindungi anak adalah tantangan sepanjang hidup orang tua, ayah dan ibu. Salah satu cara yang tepat yakni memilih Pampers dengan #5starsprotection sebagai mitra untuk memberikan perlindungan lebih pada kulit anak. Tentu saja ini pun bentuk cinta ibu. Karena Pampers dan ibu punya satu kesamaan, ingin memberikan perlindungan terbaik bagi kesehatan kulit si kecil.   

Semua itu berawal dari cinta ibu, dari kandungan ke dunia. 




Punya pengalaman berkesan selama hamil, melahirkan, dan merawat kulit bayi baru lahir? Yuk, ikuti lomba Dari Kandungan ke Dunia Bloggers Writing Competition, klik di sini ya :) 

Saturday, June 28, 2014

Here I Am :)

Pinjam di sini

Sebetulnya, apa sih comfort zone itu?

Comfort zone adalah suatu keadaan saat kita selalu melakukan sesuatu yang rutin, dan berubah menjadi kebiasaan yang membuat kita merasa nyaman. Comfort zone bukan soal apakah ini baik atau buruk, tetapi hal ini memang sangat manusiawi. Di mana pun kita berada, kita akan membangun zona nyaman kita sendiri.[1] Berada di zona nyaman memang menyenangkan, tetapi bagaimana jika kita malah merasa terjebak, stuck di dalamnya? Hingga kita berpikir bahwa kita harus melakukan aktivitas baru untuk membuat hidup lebih berwarna atau malah melakukan suatu lompatan besar!

Cara pertama untuk me-refresh zona nyaman kita adalah: melakukan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan. Sekedar menata ulang perabot rumah, mencoba menu baru di resto favorit, berekreasi ke alam terbuka daripada ke mall, atau menginap semalam di hotel dekat rumah bersama keluarga. Hal kecil yang membuat kita lebih bersyukur betapa menyenangkannya rutinitas harian itu!

Namun, bagaimana dengan perubahan besar dalam hidup keluarga? Ya, merencanakan sebuah lompatan besar!

Seperti yang tengah saya alami bersama keluarga kecil saya. Pertama kali mendengar rencana besar suami, saya super excited! It was a year ago. Seiring waktu, satu persatu langkah mewujudkan rencana itu mulai nyata, salah satunya kini saya seorang job-seeker. Kini, saya sudah berada di depan pintu rencana besar yang telah terwujud itu. Tinggal membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Namun, perasaan takut dan khawatir kerap bermunculan dalam diri.

Lha kok bisa?

Ya, karena saya tahu saya akan berhadapan dengan sesuatu yang besar: tinggal kembali dalam hiruk pikuk ibukota. Setelah tiga tahun saya tinggal di kota kecil, saya merasa khawatir pada banyak hal, terutama soal fleksibilitas waktu. Sudah lama macet tidak menjadi sahabat saya, sebab saya terlalu terbiasa dengan waktu tempuh yang nggak sampai durasi satu lagu dari rumah ke tempat kerja. Saya pun terlalu santai dengan jam kerja yang super nyaman, yang memungkinkan saya pulang istirahat siang bertemu Rasya di rumah.

But the show must go on. Berita Mama sakit membuat saya harus berangkat lebih awal dari rencana. Dan di sinilah saya sekarang, di rumah orang tua, bersiap untuk mengurus Mama pasca rawat inap, bersiap untuk membesarkan Rasya di sini, dan tentunya bersiap untuk bikin zona nyaman lagi.

Toh pada akhirnya, kita sendiri juga yang menentukan, mau hidup ribet atau hidup simpel. Kalau mikirin ketakutan mah, malah nggak bisa berbuat apapun yang mengubah ketakutan itu. Segala ketakutan dan kekhawatiran itu harus dihadapi, dijalani, dan dinikmati. Masa penyesuaian diri seperti ini ibarat transisi dari satu fase kehidupan ke fase kehidupan berikutnya. Saya yakin, saya, suami, dan Rasya dapat menyesuaikan diri dengan cukup baik di kota super sibuk ini.

Here I am now, in my hometown  :)



[1] Are Your Comfort Zones Holding You Back? Published on September 2, 2010 by Carolyn L. Rubenstein in Now Is Everything, diakses lewat http://www.psychologytoday.com/blog/now-is-everything/201009/are-your-comfort-zones-holding-you-back

Wednesday, June 18, 2014

Semangat Membaca dalam Keluarga Kami

Toko buku adalah tempat kencan favorit saya dan suami saat kuliah dulu. Pun setelah menikah, toko buku selalu ada di daftar teratas tempat wajib kunjung di mana pun kami berada. Apalagi kalau jalan-jalan di Jakarta! Bahkan, kami rela merogoh kocek lebih dalam supaya bisa terbang dengan Garuda Indonesia. Alasannya satu, agar bisa cuci mata di Periplus, Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta :D

Semua berawal dari kecintaan saya pada buku. Membaca merupakan hobi pertama saya, sejak kecil. Mama saya berulang kali bercerita bahwa saya sudah langganan majalah Bobo sejak usia 1 tahun dan selalu minta dibacakan. Orang tua saya pun dengan senang hati menyediakan fasilitas buku-buku di rumah. Mulai dari majalah, surat kabar, tabloid, ensiklopedi, kamus, buku cerita, hingga komik. 

Membaca bagi saya menjadi jiwa dari segala rangkaian kata yang saya buat. Karena saya punya pengetahuan, maka saya bisa menguraikan pengetahuan yang saya miliki dengan kata-kata. Karena membacalah, saya bisa menulis. Alhamdulillah, pengalaman membaca sejak kecil membuahkan hasil manis lewat sebuah tulisan. Saya pun semakin yakin, saya harus menularkan hobi membaca pada Rasya!
Rak buku pertama kami
Sebagian koleksi buku di rumah 
Untunglah suami punya hobi sama. Sejak menikah, saya dan suami bercita-cita suatu hari punya pojok baca di rumah. Koleksi buku kami pun terus bertambah, dan tak akan berhenti karena kami selalu lapar mata setiap ada di toko buku manapun! Terlebih lagi setelah Rasya hadir, pasti ada alasan untuk membeli buku!

Rasya sudah sering saya bacakan buku saat dalam kandungan. Usia tiga bulan ia punya soft-book yang bisa digigit-gigit. Beranjak 6 bulan, ayahnya membelikan board-book pertama. Usia 11 bulan, Rasya punya satu set board-book Mickey Mouse dan tetap menjadi favoritnya hingga saat ini! 

Membaca jugalah yang membantu Rasya meningkatkan kemampuan berbahasa. Setelah mengenal huruf, ia mulai melafalkan setiap huruf yang ia lihat, tinggal merangkaikannya menjadi kata. Kini ia mampu melafalkan hampir seluruh huruf dengan tepat! Belakangan, Rasya semakin lihai meniru kata dan perbendaharaan kosakatanya perlahan bertambah.

Setiap hari saya atau suami membacakan buku-buku favorit pilihannya. Jika ada buku atau majalah baru, pasti ia segera membuka dan minta dibacakan. Rasya yang super aktif pun langsung tenang dan tekun menyimak cerita yang saya bacakan.

Halaman aktivitas sekarang jadi favorit Rasya
Kini, membaca adalah bagian dari keseharian keluarga kami di rumah. Saat Rasya bermain, saya sempatkan intip majalah atau buku sejenak (me-time singkat yang berharga!). Menjelang tidur, suami membolak-balik halaman buku Quiet karya Susan Cain. Sebelum kelonan dengan Rasya, saya membacakan cerita rakyat mini: Lutung Kasarung – Keong Mas – Cindelaras, sampai ia mengantuk dan kami pun tidur bersama.

Dulu saya membaca untuk diri sendiri. Sekarang, saya membacakan cerita untuk Rasya, membaca buku-buku njelimet dan penuh teori untuk berdiskusi dengan suami, dan membaca novel favorit untuk memuaskan imajinasi!

Sudah baca buku hari ini?
“Books are the plane, and the train, and the road. They are the destination, and the journey. They are home.” 
― Anna QuindlenHow Reading Changed My Life

*)Tulisan ini disertakan dalam "3rd Giveaway: Tanakita - Hobi dan Keluarga"