Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Friday, February 16, 2018

#Modyarhood - Kapan Terakhir Kali Kencan dengan Suami?


Halo blog!
Sudah bulan ke-2 di 2018 dan saya belum menyempatkan diri untuk bercerita di sini. Sibuk? He eh, sibuk main instagram, sibuk jualan buku anak, sibuk jadi content writer lepas, sibuk ngurusin rumah, sibuk leyeh-leyeh. Iyes, seperti biasa, kebanyakan alasan.
Padahal, utang cerita menumpuk, salah satunya ulang tahun si Kakak dan cerita tumbuh kembang The Pwettiest Baby. Tapi ya atas nama kesibukan yang nggak sibuk beneran, beginilah jadinya. Mungkin ya memang harus diniatin untuk posting setidaknya seminggu sekali!

Seminggu belakangan ini saya rajin follow @byputy dan ternyata bareng mamamolilo punya blogging project #Modyarhood. Saya langsung cari-cari dong itu apa dan seru juga! Jadi, mereka menginisiasi tema berbeda setiap bulannya dengan semangat "Walau kadang bikin mau modyar tapi tetap yahud." Oke, ini wadah yang cocok buat saya yang sering galau-galau nggak jelas sejak jadi working-at-home-mom *nyengir kuda*

Tema bulan ini, berhubung katanya Februari itu bulan penuh cintah, adalah ....... Kencan setelah punya anak! Wait, what??

Pagi2 hunting buku di BBW 2017

Kencan? Apa itu kencan?
Saya aja lupa kapan terakhir kali naik motor berdua suami aja, nggak pakai ditemplokin bayi atau bocah dalam kurun waktu enam bulan terakhir.


Oh pernah.

Saat terpaksa hujan-hujanan suami antar saya untuk bantu teman melakukan rekrutmen karyawan. Waktu itu anak-anak saya titip Bude Tetangga karena hujan lumayan deras. Romantis? Nggak sama sekali, yang ada celana saya basah dan jaket suami mendadak kisut setelah dicuci. Padahal, itu jaket JKT48 kesayangannya lho. Uhuk! Maaf ya Yah :*

Balik lagi ke pertanyaan tadi. Kapan terakhir kali kencan dengan suami?
Kalau jawaban jujur beneran sih, terakhir pergi berdua aja itu pas Big Bad Wolf 2017. Pas suami datang ke Jakarta (iya, waktu itu saya masih LDR), kami rela pergi pagi-pagi jam 7 teng naik motor dari rumah untuk hunting buku. Berhubung di rumah orang tua saya banyak bala bantuan, makanya saya bisa tenang titip bocah dan bayi. Itu pun jam 10 saya sudah disuruh pulang lantaran bayi pengen mimik ASI segar.

Sejak pindah ke Bontang pertengahan Agustus 2017, artinya kami cuma berempat di sini. Saling bergantian aja ngurus anak. Kalau saya alhamdulillah lagi ada kerjaan, giliran suami yang jaga anak-anak. Bisa juga titip di rumah teman yang anak gadisnya jago momong bayi dan bocah :D

Boro-boro kencan, bisa berduaan naik motor aja jarang.

Hal berbeda terjadi ketika kami masih tinggal di Jabodeta (minus -bek) kurun waktu 2014 - 2017, sebelum si bayi lahir. Sebagai suami istri Sabtu-Minggu alias ketemu weekend aja, kami sering kabur kencan tiap ada libur agak panjang. Paling sering sih dari Bogor naik KRL ke Grand Indonesia atau KoKas. Kadang keliling Bogor aja cari kafe buat makan minum cantik. Anak? Si bocah mah seneng diajak keliling mall sama Mbay-nya (nenek dalam bahasa Palembang). Jika pas di Tangsel, paling naik motor ke Pamulang, atau janjian ketemu di Aeon setelah pulang kerja dan pulang kuliah, atau curi-curi waktu makan siang buat makan di Aeon. Sering juga ya ternyata hehehe.

Makanya, pas di Jabodeta minus -bek itu saya bisa sombong dan bilang, "Kencan setelah menikah itu harus!" soalnya memang itu bikin hubungan dengan pasangan lebih berkualitas. Kapan lagi bisa ngobrol A-Z ngalor ngidul tanpa ngomongin soal baju anak yang sudah kekecilan, urusan sekolah anak, bikin list panjang mainan anak, atau dipotong obrolannya sama bocah :P Iya, karena kalau ngobrol depan bocah itu banyak interupsinya, plus harus filter omongan juga ya hahaha.

Namun, setelah tinggal berempat lagi, cara kami 'kencan' harus dirombak ulang dong. Kencan versi kami berarti menunggu anak-anak tidur, dengan syarat saya nggak ikutan ketiduran (lebih sering begini soalnya). Ngapain? Ngobrol aja, isu-isu paling hits, gosip-gosip nggak jelas, gundah gulana tentang masalah dunia, sambil ditemenin sekantung micin, eh salah, keripik kentang atau snack lain yang gurih-gurih. Kostumnya ya kostum rumah dong, saya dengan daster, suami dengan sarung. Nggak sampai dua jam, ada suara bayi ngeeeekkk minta mimik. Ya udah kelar begitu saja :D

Maunya sih mesra terus kayak begini. Foto sebelum wisuda S2 suami

Satu hal yang pasti, di tahun ke-13 kami bersama, saya senang bisa kumpul serumah lagi setelah 3 tahun nggak serumah lantaran suami nomaden, wara-wiri tiga kota tiga provinsi. Saya pun merasa waktu berduaan itu selalu mahal harganya, karena bisa sesekali disela teriakan bocah atau tangisan bayi. Pintar-pintar aja atur waktu supaya bisa tetap mesra selalu dengan pasangan. Dan ya sepertinya, kalau kami mudik ke Jabodeta minus -bek, kami bisa kencan berdua walau cuma ke warung burjo atau McD dekat rumah ;)

Kalau kencan dengan pasangan versi teman-teman bagaimana?

Wednesday, December 27, 2017

Selamat Hari Ibu!

Kapan kamu sadar bahwa kamu adalah seorang ibu?

Ketika tiba-tiba kamu meniru semua perilaku ibumu tanpa sadar. Mulai dari mendadak rajin beberes rumah, pusing mikirin masak apa hari ini, mendahulukan keperluan anak, hingga ngomel panjang lebar kalau lihat rumah berantakan 

“Oh tidak, kok gue persis Mama begini sih?” Itu sering terjadi pada saya.

Dulu saya paling sebal kalau weekend, Mama sudah membangunkan seisi rumah untuk beres-beres. Atau bolak-balik telepon saat saya belum sampai di rumah. Juga terus mengingatkan hal-hal kecil yang kadang saya tunda kerjakan.

Sampai saya jadi ibu. Mendadak saya melihat sosok Mama dalam diri saya. Sudah jadi makanan sehari-hari saat Rasya kesal dan bilang, “Mama jahat!” ketika saya menolak permintaannya. Pun soal beberes, entah berapa ratus kali omelan saya lontarkan pada Rasya melihat ia sembarangan menaruh barang. Pokoknya sekarang ya sekarang, nggak boleh nanti.

Tuh kan, Mama saya banget? *tutup muka*

Tapi ya begitulah.

Jadi ibu berarti tugas 24/7 tanpa henti terus menanti. Mau weekdays, weekend, ibu tetap yang paling pagi bangun. Ibu yang mengatur urusan rumah agar bisa berjalan baik. Ibu ibarat otak dari sebuah rumah.

Jadi, berterimakasihlah pada ibu.
Ibu yang menjadikan diri kita hari ini, untuk kelak melanjutkannya pada anak-anak kita.
Ibu yang membekali kita ketangguhan seorang perempuan untuk bisa menghadapi segala tantangan hidup.

Dari ibu, kita bermula.
Karena ibu, kita bisa menjadi ibu.
Selamat hari ibu, untuk seluruh perempuan hebat!

Wednesday, November 22, 2017

Antara SAHM dan Freelancer

Tidak terasa sudah empat bulan saya berhenti bekerja kantoran. Kepindahan saya dan anak-anak ke Bontang membuat saya harus memilih antara keluarga dan kerja. Tentu saja, prioritas utama adalah keluarga. Rasa enggan berjauhan dengan suami mendorong saya dan anak-anak untuk boyongan mengikuti suami.

Harapan saya ketika pindah, saya segera mendapat pekerjaan baru. Namun, ternyata mencari kerja yang sesuai dengan situasi saya saat ini nggak gampang. Alhamdulillah saya masih disibukkan dengan pekerjaan freelance writer, tester psikotes, atau menjadi narasumber parenting class sesuai permintaan. Honornya bisa untuk tambah-tambah uang belanja hehehe.

Namun, saya tetap berharap bisa bekerja lagi. Bukan apa-apa, penghasilan bulanan itu membuat hidup kami bisa lebih pasti. Menghidupi dua anak hanya dengan gaji suami bisa, tetapi pas. Sementara, kebutuhan kami juga nggak sedikit. Jadi, ya memang harus realistis kan?

Di atas semua itu, saya perlahan mengakrabkan diri lagi dengan peran utama saya sebagai ibu. Tiga tahun di Jakarta dan menumpang di rumah orang tua itu sungguh membuat tugas saya lebih mudah. Saya absen memasak makanan rumah, nggak pusing urusan cuci setrika baju, plus bersih-bersih. Cukup fokus pada pekerjaan dan Rasya.

Namun, di sini, di rumah kami sendiri, saya harus jadi full-time manager. Semua saya urus sendiri: masak, cuci setrika (kadang panggil orang sih, atau jasa laundry), bersih-bersih, urus anak-anak, dan semuanya, you name it.

Nikmatnya, saya bisa tidur siang. Oh, tapi jam kerjanya nggak tentu. Sebagai morning person, saya lebih suka bangun pagi buta dan menyelesaikan semuanya sebelum anak-anak bangun. Jadi, pagi hari saya tinggal leyeh-leyeh bareng Runa, dan jemput Rasya. Setelahnya? Ya tergantung anak-anak. Kalau pada bisa diajak tidur siang, enak, bisa tidur juga. Kalau nggak, ya selamat deh, nemenin mereka main hahaha.

Jadwal bisa berubah kalau saya sedang ada kerjaan, terutama yang bisa dikerjakan di rumah. Pagi dan siang saya sempatkan untuk menyicil kerjaan, meski berarti mengurangi waktu bermain dengan anak-anak. Malam juga begitu, terutama habis Runa tidur, baru saya kerja. Atau ya sama-sama tidur dulu, dan saya bangun jam 2 pagi untuk bekerja.

Jujur, bekerja freelance begini lebih melelahkan dari segi waktu. Saya harus fleksibel dan betul-betul pintar mengelola waktu yang ada. Kalau kita termasuk suka jadwal rutin, pasti bakal kaget banget awalnya. Plus, buat target sendiri itu harus! Karena kalau nggak ada target, kita jadi terlena dan nggak memaksakan diri untuk mengerjakan tugas yang ada.

Maka itu, menurut saya, kerja freelance lebih cocok untuk orang yang bisa memacu dirinya sendiri bekerja dengan batas waktu tertentu. Motivasinya harus dari dalam diri, bukan dari orang lain.
Sederhananya begini: nggak aktif cari kerja, uang nggak datang.

Serius, kenyataannya begitu. Peluang selalu ada, tapi berapa kali kita mau tergerak menyambar peluang itu?

Dan ya, kembali lagi ke tugas utama saya sebagai ibu. Sesibuk apapun, saya harus atur prioritasnya. Keluarga nomor satu, kerjaan nomor dua, cucian dan setrika nomor tiga dan bisa oper ke jasa laundry :D

Walau saya sendiri masih berjuang untuk menemukan pola yang pas dalam berbagi peran ini, saya tetap bersyukur bisa bertahan di sini. Kadang kalau lagi capek banget, saya bisa cranky berat. Suami sih paham kalau saya lagi keluar tanduknya, tinggal disuruh tidur aja bisa adem lagi. Atau libur masak dan beli makanan favorit, senyum saya pasti mengembang lagi.

Jadi, siapa saya sekarang: stay at home mom atau freelancer?
Keduanya!

Wednesday, August 30, 2017

Kembali Bersama!

Setelah tiga tahun lebih menetap (sementara) di Jakarta, eh di Tangerang Selatan, minggu lalu saya dan anak-anak, plus Mama, kembali ke Bontang. Ya, saya harus kembali bersama mendampingi suami yang bekerja di sini. Apalagi kalau dihitung-hitung, hampir tiga tahun pula kami nggak serumah.

Sebab saat suami kuliah S2, ia mobile sana sini, antara Pamulang-Depok-Bogor, sesuai kebutuhannya. Jadi yaaa kami pun menyandang status suami istri sabtu minggu. Alhamdulillah kini sudah serumah lagi hehe.

Siapa yang paling butuh waktu beradaptasi? Tentu saja Rasya. Dari yang semua serba ada dan serba gampang, jadi apa-apa harus ditunda dan ditunggu. Saya juga harus ekstra sabar dan panjang akal untuk membujuk dan mengalihkan perhatiannya. Sekolah pun lagi-lagi menjadi cara jitu untuk membantunya beradaptasi. Beruntung Rasya termasuk anak yang supel, temannya langsung banyak dan ia senang bisa bermain sama-sama. Ditambah sistem sekolah yang berbeda, meski ia mengulang TK B, ia tampak senang dan bisa mengikutinya.

Runa? Ah dia mah yang penting ada mamanya. Susah juga nih, dia belum akur sama ayahnya, mungkin jarang ketemu. Jadi setiap digendong Ayah pasti nangis kejer. Padahal, ya kami cuma berempat, kalau saya masak dan beres ini itu, Runa cuma bisa dengan ayahnya kan. PR banget nih untuk kami berdua.

Saya sendiri masih terkaget-kaget dengan situasi ini. Beda sekali karena apa-apa harus sendiri, belum lagi lebih sepi. Biasa di rumah ramai, tapi sekarang nggak. Ritme harian mulai ketemu, tapi saya juga masih punya kekhawatiran tentang ini itu. Mudah-mudahan sambil jalan bisa teratasi ya.

Apapun, akhirnya kami kembali bersama. Completset! Rasanya itu jauuuuuuhh lebih penting🙌

Sunday, March 19, 2017

BPJS Berkah bagi Kelahiran Runa (2)

Foto pertama Runa!
Masih Hari Kedua

Saya menunggu cukup lama sampai akhirnya dokter anastesi dan dokter kandungan datang. Saat itu terdengar suara lagu-lagu yang diputar lewat radio KISS FM. Entah kenapa harus ada suara lagu-lagu, mungkin untuk membangun mood para perawat dan dokter saat operasi ya. Tetapi lagu-lagu itu cukup membuat saya sedikit rileks dan tenang sih. Rasanya nggak terlalu tegang di tengah suasana siap-siap operasi dan dinginnya ruang operasi tersebut. Memang perawat bertanya ini itu soal kehamilan saya. Ya, saya jawab singkat-singkat juga karena agak kedinginan sehingga sulit menjawab panjang lebar hehehe.

Memasuki ruang operasi, suasana jauh lebih terang dan jauuuuuhhh lebih dingin. Sementara tubuh saya hanya ditutupi selembar kain saja. Perawat mulai menyiapkan peralatan operasi, tubuh saya diposisikan sedemikian rupa. Lalu dokter anastesi pun menyuntikkan obat bius ke tulang belakang saya. Nggak sampai 10 menit, tubuh bawah saya sudah terasa kebas, seperti kesemutan tetapi lebih baal rasanya. Sementara itu lagu-lagu dari radio masih terdengar jelas. 

Sama saat melahirkan Rasya dulu, meski tubuh bawah terasa kebas, saya merasakan isi perut diobok-obok. Sambil mencoba membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana (oke, ini kebanyakan nonton Grey's Anatomy), tetapi saya bersyukur juga ada tirai yang menutupi penglihatan saya terhadap jalannya operasi. Kalau nggak, mungkin setelah itu saya jadi ngeri atau trauma melihat tubuh saya sendiri ya. Entah berapa lama sampai akhirnya si adik lahir, mungkin sekitar 15 - 20 menit sejak operasi dimulai. Yang jelas, saya masih terngiang-ngiang soundtrack yang mengiringi kelahiran adik, yaitu lagu Don't Wanna Know dari Maroon 5! Jadi, saat perawat siap mendorong adik dari bagian atas tubuh saya, saya malah berusaha mengalihkan perhatian dengan menyanyikan lagu Don't Wanna Know :D

Atau mestinya saya bayangkan Adam Levine saja yang khusus menyanyikannya untuk saya ya?

Setelah itu, saya mendengar tangisan bayi. "Eh udah lahir ya, Sus? Laki-laki atau perempuan?" begitu pertanyaan saya. Perawat menjawab si bayi sedang dicek. Lalu proses operasi pun dilanjutkan. Tak lama, perawat membawa si adik kepada saya, "Perempuan ya, Bu. Lahirnya pukul 11.25," kata perawat sambil menunjukkan gelang kaki si adik. Alhamdulillah! *sujud syukur*

Yang saya ingat kemudian adalah (mungkin) proses penjahitan bekas operasi saya, yang ternyata memakan waktu lama. Dengan kondisi nggak bisa ngapa-ngapain seperti itu, saya cuma bisa bernyanyi saja mengikuti lagu-lagu di radio. Pun setelah selesai, saya masih teler dan nggak bisa bergerak banyak. Yang jelas, drama kesakitan baru dimulai! Selamat datang rasa sakit!!! 

Setibanya kembali di kamar, perawat mengingatkan saya untuk segera minum jika kaki sudah mulai bisa digerakkan. Setelah efek obat bius hilang, saya harus belajar miring kanan kiri. Dan seperti yang sudah diperkirakan, hari Minggu pagi saya harus pulang. Maka, belajar miring kanan kiri, duduk, dan berjalan mesti saya lakukan dalam hitungan 2 x 24 jam saja! Dahsyat ya kalau dipikir-pikir. Soalnya, rasa sakit di luka operasi itu ya ampuuuuunnnnnn................sakit banget! Meringis terus setiap lukanya nyut nyutan. 

Sore hari saya baru bertemu si adik, yang resmi bernama Farunaya Ilmi Adhisya. Kami memanggilnya Runa. Ini lho satu-satunya nama yang disiapkan oleh suami. Sempat suami berpesan sebelum ia kembali bekerja di Bontang, "Anaknya perempuan aja ya, Ma. Ayah cuma siapin nama anak perempuan soalnya." Wah! Untung doa Ayah kesampaian yaaa.

Alhamdulillah ASI saya sudah keluar dan bisa segera menyusui Runa. Awalnya saya kagok saat menyusui Runa, maklum sudah lima tahun nggak pegang bayi. Ditambah bobot dan perawakan Runa yang begitu mungil, saya sempat bingung juga lho. Runa lahir dengan bobot 2,8 kg dan panjang 49 cm. Ya, ia sedikit lebih panjang daripada Rasya, tetapi tubuhnya terasa lebih mungil. Malah saat menyusui, saya harus ekstra perhatian melihat perlekatan Runa. Meski begitu, sejak hari pertama, saya dan Runa tak mengalami kesulitan berarti saat menyusui.

Oya, salah satu yang saya pastikan sebelum melahirkan adalah apakah bayi akan dirawat gabung dengan ibunya. Meski menggunakan fasilitas BPJS, RS punya kebijakan untuk rawat gabung sejak hari kelahiran bayi. Otomatis malam pertama setelah Runa lahir pun ia sudah berada di dekat kami, sama seperti Rasya dulu. Seperti biasa, yang kebagian tugas ganti popok tentu saja suami, mengingat saya nggak bisa banyak bergerak. Saat penggantian popok perdana Runa, suami sempat kagok juga. "Ini gimana ya, Ma? Kok nggak bisa rekat sih diapers-nya? Bersihinnya gimana?" begitu tanya suami. Maklum, biasanya mengurus anak laki-laki ya hehehe.

Hari Ketiga
Dalam waktu 24 jam, perawat meminta saya untuk berlatih duduk, berdiri, serta berjalan. Well, meski saya sudah tahu langkah demi langkah pemulihan tubuh pasca operasi, tetap saja melawan rasa nyeri itu bukan sesuatu yang mudah. Sialnya, pada sore hari ketiga itu saya menyadari tubuh saya demam tinggi. Meski sudah mulai bisa duduk, berdiri, dan berjalan, karena saya demam dan kepala pusing sekali, rasanya tubuh ini nggak karuan. Sempat saya menggigil kedinginan saat di kamar mandi.

Selidik punya selidik, penyebab demam adalah karena tangan saya membengkak akibat jarum infus yang terhambat. Ditambah saya sulit tidur nyenyak, sehingga migren di kepala membuat kepala saya sakiiiittt sekali! Walalupun begitu, saya tetap harus membiasakan diri untuk duduk, berdiri, dan berjalan. Memang luka bekas operasi itu nyerinya bukan main. Operasi kedua pun nggak kalah sakit dibandingkan operasi pertama. Namun, rasa nyeri itu harus dilawan lho! Bagian tersulit adalah saat harus bangun dari posisi tidur ke posisi duduk. Di situlah rasa nyeri bukan main sangat terasa. Ajaibnya, ketika saya berdiri, rasa sakit itu tak begitu kentara. Malah begitu berjalan rasanya biasa saja, tetapi karena kepala saya pusing, saya tetap mengeluh kesakitan setiap berjalan.

Dengan double combo seperti itu, apakah membuat malam itu saya tidur nyenyak?

Nggak sayangnya. Dan saya benar-benar berharap bisa segera pulang pada Minggu pagi!

Hari Keempat
Sesuai prosedur melahirkan dengan menggunakan BPJS, pasien hanya dirawat tiga hari (sejak hari operasi) dan harus pulang pada hari ketiga. Meskipun boleh-boleh saja kalau mau diperpanjang (mungkin dengan biaya sendiri ya), tetapi dengan kondisi kepala super berat karena migren dan nggak bisa tidur, saya setuju saja saat diperbolehkan pulang pada Minggu pagi. Selama di RS, setiap malam saya cukup terganggu dengan tangisan bayi-bayi lain atau hilir mudik orang-orang yang sekamar dengan saya. Mungkin karena saya terlalu awas dengan suara-suara, sehingga saya pun kurang tidur. Yang saya inginkan cuma satu: tidur nyenyak tanpa gangguan!

Pagi itu, suami dan Mama segera mengurus administrasi kepulangan saya dan Runa. Karena kami menggunakan BPJS, maka seluruh biaya melahirkan sekitar 8 juta sekian ditanggung penuh oleh BPJS. Sementara itu perawatan Runa (termasuk vaksin polio dan hepatitis) harus kami bayarkan lebih dulu karena Runa belum punya BPJS. Jumlahnya sekitar 3,8 juta. Kabar baiknya, jika kami sudah mengurus BPJS Runa, kami bisa memberikan fotokopi kartu BPJS Runa dan uang tersebut akan kembali!

Wow! Jujur saya dan keluarga merasa cukup terkejut dengan hal tersebut. Kami sudah bersiap-siap jika harus membayar sejumlah uang untuk perawatan Runa karena memang kami belum mendaftarkannya BPJS. Namun, pernyataan uang itu bisa kembali membuat kami merasa sangat-sangat beruntung. Artinya, untuk melahirkan Runa ini, kami tak mengeluarkan biaya sepeser pun! BPJS telah menanggung seluruh biaya sesuai peruntukannya, dan kami telah memanfaatkan fasilitas kesehatan yang memang menjadi hak kami sekeluarga sebagai keluarga PNS. Saya tidak mengatakan melahirkan dengan BPJS itu 'gratis' ya, karena faktanya gaji suami saya dipotong setiap bulannya untuk iuran BPJS. Namun, hal itu ternyata cukup sepadan untuk memperoleh layanan kesehatan yang layak bagi kami sekeluarga.

Ah kembali ke cerita saya tadi. Akhirnya Minggu pagi itu pun saya dan Runa pulang ke rumah. Kondisi saya masih demam dan kepala berat, sampai perlu naik kursi roda untuk ke mobil. Namun, sesampainya di rumah, tidur nyenyak dua jam cukup membuat saya merasa lebih baik. Sedikit pusing, tetapi jauuuuhhh lebih segar dan sehat. Ya, memang proses pemulihan itu lebih nyaman di rumah. Seenak-enaknya rumah sakit, tetap lebih enak di rumah, bukan?


Sudah di Rumah!
Saya bersyukur ada banyak bala bantuan yang siap membantu menjaga Runa selama saya pemulihan. Ditambah melihat betapa excited-nya Rasya melihat kehadiran adik kecilnya, cukuplah itu semua menjadi pendorong bagi saya untuk lekas pulih. Sayangnya, suami hanya punya waktu seminggu sebelum ia kembali bekerja di pulau seberang :(

Meskipun demikian, kami mencoba memanfaatkan waktu bersama sebaik-baiknya, termasuk membiasakan tidur berempat karena bagi kami itu adalah suatu kemewahan!

Oya, saya coba membiasakan Runa tidur di boks bayi. Sebab Rasya tidurnya sangat polah! Saya khawatir kakinya ke sana kemari, dan bisa mengenai Runa. Namun demikian, saya juga menyadari Runa tampak lebih nyaman ketika tidur bersama saya, di dekat saya. Pada akhirnya, sayalah yang harus berkompromi soal posisi tidur ini. Ada kalanya saya berada di tengah-tengah Runa dan Rasya. Kadang saya harus tidur miring di pinggir tempat tidur dan membatasi Rasya dan Runa dengan guling. Harus bermain akrobat sedikit nih, hehehe. Namun, kebahagiaan paling nikmat adalah ketika saya menyusui Runa dan Rasya tidur di paha saya. Rasanya, saya itu segalanya bagi kedua anak ini :')

Satu hal yang masih terasa janggal: perut saya ke mana ya? Kok kempes dalam semalam? :D

Selamat datang di rumah, Runa sayang!

--

Ekstra Tips tentang BPJS!
Saya pribadi merasa sangat bersyukur atas kemudahan yang saya dapatkan dalam menggunakan BPJS. Ternyata mengalami sendiri membuat kita lebih paham pada sesuatu hal yang baru. Mungkin ketakutan atau kekhawatiran menggunakan BPJS muncul karena kita cenderung melihat sisi negatifnya saja, tanpa pernah merasakan sisi positifnya. Saya membayangkan pastinya ada banyak orang yang terbantu dengan adanya BPJS ini!

Bagi teman-teman yang akan memanfaatkan BPJS untuk melahirkan, coba intip tips berikut ya.

  1. Rutinlah kontrol kandungan ke bidan di faskes 1 atau dokter kandungan sesuai rujukan dari faskes. Untuk obat-obatan, biasanya dokter akan memberikan sesuai tanggungan BPJS dan berupa obat generik. Jangan khawatir, efeknya sama saja kok dengan obat paten. 
  2. Pastikan surat rujukan dari faskes 1 masih berlaku setiap kita kontrol ke dokter. Umumnya masa berlaku surat rujukan adalah satu bulan sejak diterbitkan. Jika sudah lewat batas waktu, maka kita harus kembali ke faskes 1 untuk minta rujukan. Sebenarnya untuk kehamilan, perawat bilang ada satu surat rujukan yang punya masa berlaku lebih panjang. Namun, saat saya menanyakan kepada faskes tempat saya berobat, mereka tidak bisa menerbitkan surat itu dan tetap menggunakan surat rujukan seperti biasa. 
  3. Rajin-rajinlah mencari informasi tentang apa yang akan kita dapatkan saat akan menjalani persalinan dengan BPJS, dalam hal ini saya dengan operasi. Proaktif, itu kuncinya. 
  4. Sebelum bersalin, siapkan seluruh dokumen penting terkait persalinan. Saya menyiapkan satu buah amplop khusus yang berisi seluruh dokumen pribadi saya dalam bentuk fotokopi, mulai dari surat rujukan, kartu BPJS, KTP, dan KK. Ini akan memudahkan suami atau anggota keluarga lain yang akan mengurus administrasi melahirkan.
  5. Fotokopi sebanyak-banyaknya surat rujukan dan kartu BPJS, sehingga kita tidak perlu repot menyiapkannya setiap kali berobat. 
  6. Siapkan dana cadangan untuk jaga-jaga.
  7. Sebaiknya kita mendaftarkan bayi dalam kandungan dengan BPJS sejak usia kandungan 6 atau 7 bulan. Hal ini akan sangat membantu jika bayi membutuhkan perawatan intensif setelah melahirkan akibat kondisi tertentu (misalnya, lahir prematur, sakit kuning, berat badan lahir rendah, dst). Bagusnya di RS tempat saya melahirkan, perawat juga informatif soal pendaftaran BPJS bayi ini. Ada pasien sebelah saya yang anaknya dirawat khusus karena lahir prematur. Beberapa kali saya mendengar perawat mengingatkan orang tua bayi untuk segera mengurus BPJS si bayi, sehingga orang tua akan terbantu dalam perawatan si bayi. BPJS ini juga akan memudahkan kita saat anak harus melakukan imunisasi, karena ada beberapa jenis imunisasi dasar yang ditanggung oleh BPJS

Semoga tips ini berguna! 

Saturday, March 18, 2017

BPJS Berkah bagi Kelahiran Runa (1)

Apa yang paling membuat saya deg-degan menjelang persalinan kali ini?

Karena ini untuk pertama kalinya saya memanfaatkan BPJS untuk persalinan. Saat melahirkan Rasya dulu, saya dan suami sepakat memilih RS Pupuk Kaltim sebagai tempat melahirkan. Konsekuensinya, ya kami harus mengeluarkan biaya sendiri. Waktu itu, kami agak terlambat mencari informasi mengenai ASKES yang memang menjadi fasilitas kesehatan suami dari kantornya. Karena sudah kadung nyaman di RS tersebut, kami enggan pindah RS. Namun, untuk anak kedua kami ini, kami harus berkompromi dengan keadaan finansial. Jujur saja, persiapan finansial kami kali ini nggak begitu oke. Jadi, hanya bermodalkan dana seadanya saja sesuai estimasi untuk membayar keperluan perawatan bayi setelah lahir. Kami berharap BPJS bisa membantu menanggung biaya bersalin, sesuai fasilitas yang memang menjadi hak suami sebagai PNS. 

Mungkin memang benar, ketika kita terlalu banyak membaca berita negatif tentang suatu hal, kita jadi ketakutan sendiri. Seperti itulah yang saya pikirkan awalnya tentang BPJS ini. Sampai akhirnya, saya dan suami coba membiasakan diri untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan tersebut. Mulai dari saat saya atau Rasya sakit, hingga melahirkan si kecil kemarin. Ternyata, semuanya nggak seburuk yang saya kira lho. Lagipula, mau pakai BPJS atau asuransi lain pun, rasa sakit melahirkan ya sama saja. Nggak berarti melahirkan di RS yang lebih yahud atau bagus lalu rasa sakitnya juga lebih minim hihihi. 

Jadi, bagaimana cerita persalinan si kecil?

Kontrol Kandungan Rutin
Setelah mendapatkan rekomendasi dokter kandungan dari dokter favorit saya di Eka Hospital, bermodalkan surat rujukan dari faskes 1, saya pun melakukan kontrol kandungan di RS Bunda Dalima. Seperti saya ceritakan di sini, staf dan perawat di RS ini cukup informatif soal pemanfaatan BPJS untuk layanan kesehatan. Saya hanya perlu membawa surat rujukan (jangan lupa difotokopi seperlunya) dan fotokopi kartu BPJS. Biasanya satu surat rujukan berlaku satu bulan sejak tanggal dikeluarkan. Karena memasuki trimester III saya harus kontrol kandungan dua minggu sekali, maka satu surat rujukan bisa terpakai untuk dua kali kontrol kandungan. 

Ketika kontrol kandungan, dokter akan melakukan USG. USG sendiri termasuk dalam komponen biaya yang ditanggung BPJS, tetapi jika kita ingin mencetak hasil USG akan dikenakan biaya. Di RS Bunda Dalima, biaya cetak hasil USG sekitar Rp 80.000,-. Lalu saya juga mendapatkan kartu kontrol prenatal yang harus dibawa setiap kunjungan ke dokter. 

Menjelang melahirkan, waktu kontrol saya menjadi seminggu sekali. Saya sempat kembali ke faskes untuk meminta surat rujukan. Lantaran tenggang waktu antara kontrol terakhir dan melahirkan tak berbeda jauh, saya bertanya kepada bidan di faskes, apakah mungkin surat rujukan tersebut langsung untuk melahirkan di RS. Ketika itu, dokter sudah memutuskan bahwa saya akan menjalani sectio caesaria (SC) karena melahirkan pertama sudah SC, ditambah minus mata kanan saya yang di atas 6 (hampir minus 9), sehingga beresiko tinggi untuk melahirkan normal. Informasi tersebut saya teruskan pula kepada bidan di faskes, sehingga faskes bersedia mengeluarkan surat rujukan yang dimaksud. Nah, surat rujukan inilah yang jadi modal saya melahirkan di RS.

Hari Pertama
Berbeda dengan RS swasta yang biasa saya datangi, untuk RS Bunda Dalima ini memang saya harus proaktif mencari informasi atau bertanya kepada pihak RS sekadar memastikan jadwal praktek dokter. Apalagi jadwal kontrol terakhir saya bertepatan dengan jadwal pilkada, bingunglah saya apakah dokter praktek atau tidak. Saya sampai menelpon tiga kali pada hari itu :p 

Akhirnya, karena dokter tidak praktek, saya pun bicara dengan bidan/perawat dari bagian Kebidanan. Saya sampaikan bahwa saya ada jadwal operasi dengan dokter pada hari Jumat. Bidan pun mengatakan, sudah dapat konfirmasi dari dokter, saya datang langsung saja pada Kamis malam dengan membawa perlengkapan bersalin. 

Kamis malam ditemani kedua orang tua dan Rasya, saya ke RS membawa perlengkapan bersalin. Setelah mendaftar ke bagian pendaftaran, saya menunggu sekitar satu jam sebelum akhirnya bisa masuk ke kamar. Rupanya, di RS tersebut memang pelayanan untuk BPJS sudah cukup jelas standarnya. Kamar yang disediakan pun di satu ruang khusus. Memang terlihat agak sumpek karena kelas I, II, dan III hanya dipisahkan dinding saja. Saya sendiri menempati kelas I yang satu kamar terdiri dari empat tempat tidur. Kamar mandi pun hanya ada satu kamar mandi yang digunakan bersama-sama oleh seluruh pasien dari ketiga kelas tersebut. Awalnya, saya merasa kurang nyaman dengan situasi itu. Namun, saya meneguhkan diri sendiri, "Hei, nggak boleh protes. Namanya pakai fasilitas 'gratis', jadi mesti terima apa adanya." Sebelum ke kamar, saya menjalani pengecekan kondisi janin. Perawat mengukur detak jantung bayi. Sebelumnya, saya juga melakukan tes darah untuk mengecek HB saya. Malam itu akhirnya saya ditemani adik, dan belum diinfus. Bisa tidur? Ya nggaklah :p dan sejak hari itu saya lupa kapan terakhir saya tidur nyenyak....

Hari Kedua
Jumat pagi, suami saya sudah datang. Horeee! Seenggaknya rasa senewen ini berkurang sedikit karena ditemani suami. Orang tua dan Rasya juga sudah berkunjung ke RS pagi itu. Setelah mandi, saya pun diinfus oleh perawat, sambil menunggu jadwal operasi. Berdasarkan hasil lab, HB saya di bawah 10, yakni 9,3. Dokter menyarankan untuk dilakukan transfusi darah lebih dulu agar saat operasi kondisi saya cukup prima. Satu kantung darah pun dipasang untuk menggenjot HB saya.

Menjelang pukul 11.00, saya bersiap menuju ruang operasi. Duh, jangan tanya bagaimana deg-degannya saya ya. Meski ini keempat kalinya saya masuk ruang operasi, dan kedua kalinya melahirkan secara SC, tetap saja rasa khawatir melanda. Ditambah melihat wajah Rasya dan suami sebelum masuk ruang operasi, bikin saya mewek deh ..., untuk alasan yang saya pun tak bisa menjelaskan. Masuk ruang operasi yang dingin pun, saya cuma bisa tergolek pasrah disuruh ini itu atau dipakaikan apapun oleh perawat. Sudah nggak bisa mundur lagi. Hanya bisa terus mengucapkan doa dalam hati, semoga operasinya lancar!

bersambung ke bagian 2 ya :)

Tuesday, January 31, 2017

Cerita Kehamilan Keempat Saya


Di penghujung kehamilan saya, ada banyak cerita yang terlewatkan untuk saya bagi di sini. Maklum, pada kehamilan keempat ini, saya lebih sibuk bekerja dan sibuk menghabiskan waktu bersama Rasya. Berbeda dengan kehamilan Rasya dulu, yang mana saya hanya berdua suami dan beban kerja juga tak sebanyak sekarang. Pada kehamilan keempat ini, saya lebih cepat lelah, lebih banyak keluhan terutama seputar rasa sakit di bagian kaki (sering kram). Mungkin memang hamil usia 20-an dan usia 30-an itu berbeda ya, hahaha.

Namun, cerita paling hits-nya adalah saya sempat dirawat di rumah sakit pada usia kehamilan 28 minggu lantaran badan demam tinggi dan.....gondongan! Ya, rupanya saya tertular gondongan dari Rasya yang lebih dulu sakit serupa seminggu sebelum saya sakit. Persis saat ulang tahun pernikahan saya dan suami, sore harinya saya demam sampai 39 derajat Celcius. Buru-buru Mama membawa saya ke UGD Eka Hospital, BSD. Ujung-ujungnya, saya harus dirawat di ruang isolasi karena dianggap membawa virus. Jadilah saya ngendon di RS selama 3 hari 2 malam. Seenak-enaknya di RS tetap lebih enak di rumah sendirilah yaaaa. Lagipula janggal banget masa dirawat di RS gara-gara gondongan. Sepulang dari RS pun, saya masih harus jadi tahanan rumah karena masih bengkak di dekat leher. Untunglah, bayi dalam kandungan saya sehat-sehat saja, meski sempat bikin khawatir lantaran gerakannya aktif banget saat demam saya meninggi. Pada usia kehamilan 28 minggu itu pula jenis kelamin si kecil berhasil diperkirakan oleh dokter kandungan favorit saya hehehe. Alhamdulillah sesuai harapan saya dan suami :D

Memasuki usia kandungan 7 bulan inilah, saya dan suami sepakat berganti dokter kandungan. Sebetulnya, dokter kandungan favorit saya ya di Eka Hospital itu. Namun, apa daya, dana kami berdua tak mencukupi untuk biaya bersalin di sana. Apalagi saya harus menjalani operasi SC untuk melahirkan, karena minus mata kanan tinggi. Jadi, cukup tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk melahirkan di sana, sembari berandai-andai saja. Dokter favorit saya pun berbaik hati menginformasikan rekannya yang berpraktek di RS Bunda Dalima, sehingga saya dan suami sepakat memilih RS tersebut untuk bersalin nanti, dengan menggunakan fasilitas BPJS yang kami sekeluarga miliki (suami saya PNS). 

Minggu-minggu berikutnya, saya jadi rajin bolak-balik ke klinik faskes 1 dan ke RS untuk kontrol kandungan. Alhamdulillah prosesnya relatif mudah, meski dibilang ribet juga nggak, gampang juga nggak. Prinsipnya kalau pakai BPJS adalah, cukup terima saja apa yang diberikan, lha wong bayarnya sudah dipotong dari gaji bulanan suami. Modal fotokopi KTP dan kartu BPJS itu penting, dan jangan lupa selalu cek surat rujukan dari faskes 1. Memang sih saya cukup senang karena pilihan rumah sakit rujukan saya cukup oke, dalam arti tidak terlalu ramai, antri pasien juga tidak banyak, dan fasilitas cukup (meski butuh upgrade banyak untuk beberapa hal). Dokter kandungan yang direkomendasikan juga cukup oke, meski yaaa tidak sekomunikatif dokter favorit tadi hihihi (ada rupa ada harga!). Namun, yang saya sukai dari RS ini adalah hampir seluruh staf dan perawatnya sangat informatif soal BPJS. Jadi, bagi pasien yang sudah punya BPJS selalu didorong untuk mau memanfaatkan BPJS-nya. Pertanyaan "Bayinya sudah didaftarkan BPJS?" selalu diajukan, karena itu akan memudahkan orang tua juga saat si kecil lahir nanti. 

Meskipun demikian, saya agak terintimidasi dengan kenyataan bahwa melahirkan SC dengan BPJS itu artinya sistem paket 3 hari saja. Cukup 3 hari di RS dan langsung pulang! Sementara waktu saya melahirkan Rasya dulu, saya menghabiskan hampir 5 hari di RS. Cuma 3 hari? Gimana itu belajar jalannya? Ngilu membayangkannya saja.....Tapi di titik ini, saya cuma bisa pasrah sih....

Pada kehamilan keempat ini pula, saya dan suami dihadapkan pada pilihan long distance marriage, sejak usia kandungan saya 4 bulan. Seselesainya studi S2 suami, bulan Oktober lalu suami saya harus kembali ke Bontang untuk bekerja. Jangan tanya betapa galaunya saya yaaaa........... Namanya hamil, kan pengennya deket-deket suami, manja-manja sama suami. Lha ini....jauh-jauhan dari suami. Praktis tiga bulan saya nggak ketemu suami. Baru Januari lalu suami sempat ke Jakarta, itu pun hanya saat weekend. Sebentar banget dan rasanya nggak rela pisah. Saya sampai ambil cuti satu hari agar bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama suami. Rencananya, saat melahirkan nanti suami akan cuti seminggu untuk mendampingi saya melahirkan. Semoga lancar, amin!

Satu hal yang pasti dan nyata terlihat adalah selama hamil keempat ini saya lebih rajin dandan dan gandrung dengan lipstik merah. Dulu mah saya cuma suka warna nude. Sekarang lebih centil, hihihihi. Nggak lupa juga foto-foto untuk kirim ke suami, seperti foto-foto di atas itu. Berat badan saya naik 12 kg, dan tubuh saya nggak berubah banyak, kecuali perut tentunya. Yang jelas saya menikmati sekali hamil ini. Sekarang giliran berdoa lebih dan ekstra jaga kesehatan untuk persalinan nanti. Doakan semoga lancar yaaa! :)