Laman

  • Home
  • About Me
  • How we met?
  • Contact Me

Monday, May 13, 2013

Cerita dari Balik Lensa

Bukan, ini bukan tulisan tentang hobi memotret. Ini tulisan tentang nasib saya harus memandang dunia dari balik lensa bergagang alias kacamata. Saya sudah berkacamata hampir 20 tahun. Ehem, kok kesannya kayak mau merayakan kebersamaan bersama kacamata ya? :p Tapi bener lho, tahun ini persis saya 20 tahun berkacamata.

Saya ingat betul, pertama kali berkacamata saat duduk di kelas 3 SD. Dulu di kelas saya kebagian duduk di belakang. Lalu setiap kali ulangan, saya kerap salah menulis soal, akibatnya hasil hitungan pun salah. Ujungnya, nilai saya pun turun. Wali kelas saya, Ibu Anny, pun curiga dan meminta orang tua membawa saya ke dokter mata. 

Seumur-umur baru kali itu ke dokter mata. Diperiksa, disuruh membaca tulisan dalam jarak tertentu, dan mengenakan kacamata periksa yang bentuknya aneh plus berat karena berlensa kaca. Setelah dari dokter mata, orang tua pun membawa saya ke salah satu optik ternama di Jakarta. Sepanjang jalan dari dokter mata hingga optik, saya berusaha membaca plat nomor kendaraan yang seliweran di depan mobil, dan menghasilkan bayangan buram di antara angka-angkanya. Kadang, saya harus memicingkan mata supaya pandangan saya lebih jelas. 

Sampai di optik tersebut, saya diperiksa lagi. Sampai akhirnya vonis itu datang, saya harus pakai kacamata minus 2! OMG! Jadilah, saya berkacamata tepat usia 8 tahun. Itu sekitar tahun 1993. Pilihan kacamata saya ditentukan oleh Papa, yang sampai sebelum menikah sangat berperan dalam urusan perkacamataan ini. Ya namanya juga tahun 90-an, kacamata yang ada ya bermodel gede dan beraura 1980-an, minus jambul tentunya.
Hayo, saya yang mana? Bukan yang berjambul tauuu! :p
Sejak saat itu secara berkala saya memeriksakan mata ke optik tadi (yang sampai sekarang jadi andalan tiap ganti kacamata). Minimal 1-2 tahun sekali saya ganti kacamata. Nggak berasa sih, soalnya masih dibayarin orang tua. Begitu sudah bekerja, apalagi menikah, baru berasa kalau mengganti kacamata itu biayanya besar! Terlebih bagi saya yang berminus luar biasa tinggi.

Ya, nggak tahu kenapa, sejak berkacamata, minus mata kanan saya melonjak dengan cepat. Sementara mata kiri saya kenaikan minusnya terbilang wajar. Dari minus dua, mata kanan saya sempat mencapai minus 9, sementara mata kiri 'cuma' minus 4,75. Kebayang dong betapa tebalnya kacamata saya? Makanya, Papa selalu memilihkan lensa plastik yang tipis supaya saya nyaman mengenakan kacamata. Rasanya dengan minus setinggi ini nggak mungkin pakai lensa kaca. Pasti kacamata melorot terus dari hidung yang mancung ke dalam ini :p

Sialnya, semakin tipis lensa plastik itu, semakin dalam pula harus merogoh kantong. Ya nasiiibbbb, beginilah nasib berminus tinggi. Ndilalah, minus mata tinggi itu juga mendatangkan vonis lain buat saya: retina mata tipis. Kondisi ini saya ketahui saat melakukan tes kesehatan untuk melamar pekerjaan dulu. Si Om Dokter bilang, tampaknya retina mata saya tipis. Waktu itu Om Dokter menyarankan saya untuk laser, yang biayanya bisa dipakai untuk bayar dua semester kuliah pasca sarjana di UGM :p Akhirnya, melakukan lasik itu menjadi impian yang belum bisa masuk tujuan jangka pendek saya.

Oya, saya juga sempat berlensa kontak pada tahun 2008-2010. Alasannya mah singkat, pengen gaya berkacamata hitam! Demi gaya, demi tampak keren. Sampai saat menikah dan bulan madu, saya masih gandrung berlensa kontak. Cuma, sekali lagi, urusan ini juga merogoh kocek dalam. Ya itu tadi, kondisi minus mata yang berbeda membuat saya harus membeli dua kotak lensa kontak berbeda ukuran untuk sekali beli. Rogoh terus dalam-dalaaaaaammmm........................
Tahun 2007
Tahun 2008
Tahun 2010, pas nikah lens kontak itu harus!
Eksis abis pake kacamata item! 8D
Begitu menikah, saya simpan deh semua perlengkapan lensa kontak. Selain sudah malas (pakai lensa kontak, telaten itu HARUS!), saya juga lebih suka kacamata karena lebih praktis, tinggal pakai. Pun saat melahirkan, dokter kandungan minta saya melahirkan lewat operasi semata khawatir dengan kondisi minus mata saya (bisa dicek di sini dan sini untuk alasan medisnya). Kacamata saya yang terakhir itu sudah berumur. Sampai gagangnya sudah kusam karena keringat dan bantalan hidung berganti dua kali. Belum lagi sering ditarik-tarik Rasya.

Nah, pas ke Jakarta kemarin, saya sekalian memeriksa mata ke optik kondang langganan saya itu. Setelah periksa dua kali, mas-mas optik bilang minus mata saya turun! Wuaaaaah! Saya sempat nggak percaya, yang benar inih??? Jadi, sodara-sodara, minus mata kanan dan kiri saya berkurang hampir 1 angka! Alhamdulillah! 

Tinggal pertanyaan besar, kok bisa??
Entahlah, yang jelas memang ada perbedaan ketika memakai kacamata lama dan kacamata baru. Mata saya harus menyesuaikan dengan lensa baru, yang kadang menimbulkan pusing nggak enak. Begitu pakai kacamata lama, bikin pusing. Tapi dengan kacamata baru, saya masih harus menyesuaikan diri juga, terutama di tempat ramai. Mudah-mudahan sih benar ya minus mata ini turun. 

Cuma agak curiga nih, apakah minus mata yang turun ini akan berdampak pada plus mata saya? Aarrrggh, jangan! Saya masih mudaaa!!! *benerin posisi kacamata yang melorot melulu*

Kacamata pilihan suami, katanya jadi ala Diana Rikasari :D

Wednesday, May 08, 2013

Catatan Rasya (16): Menanti Kata

Beberapa minggu lalu, saya pergi ke dokter spesialis anak di RS untuk mengecek kondisi Rasya, plus minta vitamin dan obat panas untuk jaga-jaga di rumah. Setelah diperiksa, berat badan Rasya masih di angka 8,5 kg, sementara saya merasa sebetulnya Rasya sudah bertambah besar. Si dokter bilang, untuk perkembangan motorik kasar dan halus Rasya terbilang baik. Namun, kemampuan berbahasanya harus lebih distimulasi.

Iya, Rasya memang baru jelas melafalkan 'mamam' untuk makan. Sisanya, ia hanya bilang 'uh!' seraya menunjuk benda-benda di sekitanya. Meski demikian, ia bisa dan mengerti bila diajak berkomunikasi, termasuk mengikuti permintaan atau perintah kita. Rasya banyak mengandalkan bahasa non verbal untuk mengungkapkan maksudnya. Menurut si dokter, harusnya di usia 15 bulan Rasya sudah menguasai 6 kata tunggal.

Kalimat berikutnya lebih terasa seperti geledek untuk saya. Dokter bilang, bagaimana kalau Rasya ikut terapi wicara untuk membantu perkembangan bahasanya. Glek! Apakah memang segawat itu? Padahal, di rumah setiap hari Rasya minta dibacakan buku. Si mbak juga pasti ajak ia ngobrol, termasuk setiap akan melakukan aktivitas: mandi, makan, minum, tidur, main, dll.

Saya sih tetap berusaha berpikir positif ya. Saya tanyakan pula detailnya jika ingin melakukan terapi wicara. Saat bertemu teman yang biasa menangani terapi wicara, ia bilang sebetulnya belum mengkhawatirkan, terus distimulasi saja sambil mengajak anak memegang leher kita untuk merasakan getaran suara.

Pada dasarnya, setiap anak akan mencapai milestone dalam rentang waktu berbeda. Kita sebagai orang tua tak perlu memaksa anak untuk cepat sampai di sana. Kalau kata orang lama, pasti anak itu akan ada tahap yang mendahuluinya. Mereka yang tumbuh gigi dan jalan lebih dulu, biasanya baru bicara belakangan. Begitu juga sebaliknya.

Apakah saya harus khawatir?
Iya, tetapi kekhawatiran yang terkendali. Saya berkata pada suami, mungkin kita harus menetapkan deadline, kapan perlu membawanya ke dokter atau psikolog. Kami sepakat untuk terus memantaunya hingga Lebaran nanti, pas ia berusia sekitar 17-18 bulan. Sekarang tetap distimulasi secara rutin, tetapi tidak terus menerus. Ya tetap dengan membacakannya buku, menggunakan flash cards, melafalkan setiap benda dengan jelas sambil melihatnya, dan cara lain yang saya tahu. Mungkin teman-teman punya cara lain?

Setelah ke Jakarta kemarin sih, babbling Rasya lumayan banyak. Konsonannya bertambah, sekarang ada 'bababa' atau 'yayayayay'. Ia juga bisa jelas memanggil saya, 'Ma!' Selebihnya, kami masih harus bersabar menunggunya mau bicara. Semoga!

Tuesday, May 07, 2013

Kembali Ke Akar

Uhuuuii!
Lama banget nih nggak posting *bersih-bersih teras blog*
Seminggu kemarin adalah minggu tersibuk bulan ini. Setiap hari pergi, setiap hari jalan, setiap hari selalu pakai baju keren. 
Ya, kemarin saya dan Rasya, plus suami, baru pulang ke Jakarta karena ada urusan keluarga. Di tengah-tengah urusan keluarga itu, saya juga menyempatkan diri 'reuni' dengan teman-teman, ya teman SMA, rekan kerja, dan teman kuliah. Intinya memaksimalkan waktu yang ada untuk melepas kangen dengan semua orang!

Bagi saya, momen kembali ke rumah selalu menjadi momen berharga. Saya seperti pohon yang kembali ke tanah asalnya, tanah di mana saya ditanam, dipupuk, tumbuh, dan berkembang. Tanah tempat akar saya tertancap begitu dalam, tempat diri saya mengakar dan menjalar.

Setiap momen di sana adalah penting dan priceless. Di tengah kesibukan teman, keluarga, atau rekan, mengetahui mereka menyempatkan diri untuk bertemu itu saja sudah senang rasanya. Apalagi bikin janjian ketemu di kota sesibuk itu 'kan sulit. Yang jelas, perjalanan kali ini lebih banyak memberikan kegembiraan dalam bentuk psikis daripada fisik (baca: belanja). Bikin senang orang tua dan adik-adik, mengenalkan hal-hal baru pada Rasya, membeli asupan gizi penting untuk otak alias beli buku, dan tentu saja makan enak! 

Semua sepadan dengan tenaga dan dana yang dikeluarkan! 
Meski sedih saat berpisah, saya juga tahu betul, kelamaan di sana bakal bikin dompet makin tipis :p Maka, kembalilah saya ke 'hutan' untuk bekerja lagi, menabung lagi, dan Lebaran nanti pasti pulang lagi! Semangat!!!

Dengan Emak Ratih Ibrahim, psikolog kondang itu :)

Dengan teman main dari SD :D

Edisi kumpul bocah (sesama anak alumni Fak Psi UGM)

Reuni reuniiii :)

 

Wednesday, May 01, 2013

Another quick hello!

Rasya sedang keluar kandang, mencoba banyak hal baru,  dan menikmati keseruan bersama keluarga!

Monday, April 22, 2013

Langsing lagi!

Semua orang punya isu soal bentuk tubuh. Mereka yang bertubuh gemuk, ingin cepat langsing, makanya mati-matian berdiet demi tubuh ideal. Mereka yang bertubuh kurus, ingin bisa gemuk, makanya makan berkali-kali plus minum susu penambah berat badan biar lebih berisi.

Bagi perempuan, bentuk tubuh menjadi isu terhangat saat hamil. Banyak teman saya yang semasa gadisnya kurus, pas hamil jadi lebih berisi, jadi lebih percaya diri dengan lekuk tubuhnya. Begitu juga dengan saya, kehamilan sukses membuat berat saya naik 16 kg dari berat sebelum hamil! Kebayang nggak betapa besarnya saya? *tutup muka*
Gede banget! (_ _)"
Selepas melahirkan, bobot tubuh saya langsung menyusut 10 kg, jadi saya tinggal menurunkan 6 kg lagi. Namun, pikiran berdiet langsung saya tepis karena saya berkomitmen menyusui Rasya sampai 2 tahun. Maka, paniklah saya saat menemukan seragam kerja lama saya 'nyangkut' di bagian dada lantaran lingkar dada saya meningkat pesat sejak hamil hingga melahirkan. Terpaksa deh menjahit seragam baru, hiks.

Lebih frustrasi lagi ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa lingkar pinggang dan pinggul saya sama dengan Mama yang notabene sudah berbadan emak-emak (ya hasil mbrojol tiga anak). Saat pulang ke rumah Mama, celana Mama muat semua di sayaaaa!!! Huaaaaaaa............... *sembunyiin celana zaman gadis di pojok lemari* 

Saya pun menelan kenyataan itu bulat-bulat, 'terimalah, Dit, memang kamu sudah emak-emak.'
Kenyataan ini kadang membuat saya meringis sekaligus pedih, apalagi kalau melihat pakaian plus celana/rok zaman gadis dulu. Badanku dulu tak beginiiii, tapi kini tak cukup lagiiiiii.......

Akhirnya, saya akrab dengan baju yang itu-itu saja selama menyusui. Saya pun sangat sangat selektif memilih baju. Setiap membeli baju selalu dengan syarat minimal kancing depan. Lupakan pula membeli baju di ITC, dari zaman baheula saya mah nggak jodoh sama baju di ITC yang manekinnya langsing-langsing itu. Ditambah lagi saya memang punya aset luar biasa besar sejak dulu, yang semakin melebar setelah melahirkan :p 

Ajaibnya, setelah menyusui Rasya selama setahun lebih, bobot saya perlahan bergeser ke kiri alias menurun. Meski nggak langsung turun secara signifikan (iya, menurunkan 5 kg itu susah banget bo!), satu per satu celana panjang atau baju lama mulai muat. Seragam lama pun sudah muat lagi. Banyak teman mengatakan, 'Sekarang kamu lebih langsing lho!' *senyum jumawa selebar mungkin*

Kesimpulannya, menyusui itu memang bikin singset dengan sendirinya alias effortless. Cukup menyusui saja, atur makan (bagian paling susah! Ini yang selalu bikin saya lengah), plus menikmati proses menyusuinya, tahu-tahu langsing sendiri deehhh!!! Mudah-mudahan semakin lama menyusui semakin langsing. Kira-kira bisa nggak ya mencapai berat badan sebelum menikah? Hmmm......
Itu celana dan baju sebelum hamil lhoo! :D

Wednesday, April 17, 2013

Ma, aku mau jalan sendiri!

Sudah jadi naluri orang tua untuk selalu melindungi anaknya. Bukan cuma melindungi, kalau bisa mendekapnya setiap saat.

Sudah jadi hasrat orang tua juga untuk ingin punya anak dengan milestone yang tepat waktu, sesuai usianya. Bakal kelabakan heboh kalau pada usia tertentu, si anak belum mencapai milestone yang umumnya sudah dicapai teman seusianya.

Perasaan seperti ini pula yang sering menghinggapi saya sejak Rasya bisa berjalan, memanjat sana-sini, dan melakukan beragam perilaku menggemaskan tapi bikin deg-degan. Dulu pas Rasya masih merangkak, saya berharap ia cepat jalan. Begitu sudah jalan, saya langsung deg-degan setiap melihat Rasya memanjat kursi, tempat tidur, turun dari tempat tidur, atau memanjat tangga. Bahkan ketika berjalan tak mau dipegangi!

Seribu satu macam kekhawatiran selalu muncul. Khawatir Rasya jatuh, terpeleset, tersandung, ada luka, dan lain sebagainya (teringat episode Rasya jatuh dari tempat tidur, yang bikin ia sukses tampak seperti Chris John habis bertanding dengan luka memarnya di mata). Rasanya, kalau bisa saya selalu sedia safety net di sekitar Rasya, supaya ada yang menahannya ketika ia terjatuh.

Pun saat berjalan dan ia melepaskan pegangan tangannya. Khawatir dan deg-degan kembali datang. 

Namun, pada satu titik, saya tertampar oleh situasi tersebut.

Rasya, si batita 15 bulan ini, mengingatkan saya untuk mundur selangkah. Bukan mundur untuk membiarkannya tak terjaga, tetapi mundur untuk mengamati, memperhatikan, dan mendoronganya berpetualang dalam dunia barunya.

Ia membutuhkan ruang untuk bergerak dan berkembang. Ia membutuhkan ruang untuk bereksplorasi, pada rumput, aspal jalanan, tanah, air, bau asap fogging, burung, hujan, sampai sampah yang dilihatnya.

Maka, sudah menjadi keharusan bagi saya dan si Ayah untuk memberikan Rasya kesempatan bermain sebanyak mungkin, juga kesempatan mengeksplorasi apapun yang ia lihat. Sedikit kelonggaran tak menyakitkan, tetapi membantunya belajar lebih banyak, selama masih kita pantau dan perhatikan :)

Kalau kita menahannya terus, anak akan merasa terkungkung dan bahkan tak percaya diri. Rupanya, membangun rasa percaya diri itu tak perlu menunggu anak sekolah, sejak bayi pun ia harus diberikan kepercayaan. Percayai anak untuk melakukan tugas kecil di rumah, untuk Rasya, spesialis menyalakan lampu atau menaruh pakaian kotor. Percayai anak untuk (sesekali) melakukan apa instingnya, seperti memanjat tempat tidur atau tangga, sambil tetap dijaga. 

Semakin besar si anak, maka akan semakin banyak lahan untuk memberinya kepercayaan. 
Itu esensi menjadi orang tua, menjadikannya bisa berdiri sendiri!

Seperti yang terjadi pada Rasya saat kami pergi ke taman akhir pekan lalu. Tak mau dipegangi, ia melepas genggaman saya dan melangkah seolah berkata, 'Ma, aku mau jalan sendiri!' :')
 


Thursday, April 11, 2013

Pikir-pikir dulu sebelum membeli!

Saya pernah cerita ya, betapa banyak jumlah barang perlengkapan bayi yang perlu disiapkan. Tadinya, jika di kota saya ada penyewaan peralatan bayi, saya terpikir untuk menyewa beberapa peralatan bayi. Namun, karena mencari barang bagus dan berkualitas di sini sangat sulit, jadilah saya mengimpor beberapa barang dari Jakarta. Setelah 14 bulan sejak Rasya lahir, ternyata ada beberapa barang Rasya yang hanya dipakai sekejap mata.

Apakah tidak rugi?
Nggak juga sih, mengingat mencari barang bagus sulit dan saya yakin barang yang sekarang ada itu pasti akan terpakai lagi bila Rasya punya adik kelak. Cuma beberapa hari ini saya merasa sayang saja melihat barang-barang itu duduk manis tak disentuh. Penasaran apa saja itu?
  1. Bantal menyusui. Saya membeli bantal ini gara-gara merasa kurang nyaman, terutama di bagian pinggang, saat menyusui. Bantal yang harganya lumayan ini ternyata cuma terpakai sampai 3 atau 4 bulan lah. Setelah tubuh Rasya semakin panjang, eh tinggi, bantal ini malah agak mengganggu. Sekarang bantal ini sering dimainkan Rasya saja dan teronggok di balik pintu *puk puk bantal empuk*
  2. Nursing apron. Tadinya, saya mengira menyusui dengan menggunakan nursing apron itu nyaman. Saya belum pernah coba juga sih, soalnya lebih sering menyusui di rumah atau di ruang menyusui jika sedang pergi. Semakin Rasya besar, saya malah lebih koboi soal menyusui. Selama pakai baju menyusui dan baby wrap, di manapun hayuk! Yang penting tertutup. Nursing apron lebih sering saya pakai ketika harus memompa ASI saat kerja, jadi terpakai hingga usia Rasya 8 bulan. Sekarang saya lupa meletakkan barang ini di mana...
  3. Stroller alias kereta bayi. Sejak Rasya bisa berjalan, saya tidak pernah menggunakan stroller. Biasanya, jika saya pergi belanja ke pasar dekat rumah bersama Rasya, ia saya dudukkan di stroller. Ketika Rasya sudah senang jalan, tiap pergi ke pasar, ia hanya saya gendong dan baru saya turunkan saat dekat pasar. Begitu pula ketika pulang. Sebetulnya sih, kalau di sini ada mall luas kayak di Jakarta, stroller itu pasti masih bertugas, untuk membawa Rasya keliling mall. Berhubung di sini nggak ada mall, ya stroller tersebut beralih fungsi sebagai gantungan baju :p
  4. Mastela Fold Up Infant Bouncer. Barang ini sebetulnya datang agak terlambat, karena Mama baru mengirimkannya saat Rasya 6 bulan. Otomatis hanya terpakai sebulan saja. Begitu Rasya bisa duduk, dadah bye bye deh ke bouncer ini. Padahal, menggunakan bouncer ini enak lho dan bisa dilipat, sehingga bisa dibawa ke mana-mana untuk kursi Rasya jika kami sedang makan. Sekarang bouncer itu sudah pensiun dan kembali ke rumah aslinya alias kardus pembungkus.
  5. Munchkin food grinder. Sebetulnya saya sangat tergila-gila dengan barang 'ajaib' ini. Tanpa memerlukan waktu lama, kita bisa menyiapkan MPASI anak dengan cepat dan pasti jadi. Saya menggunakan food grinder ini hanya 3 bulan, saat Rasya usia 6 - 9 bulan. Begitu ia makan nasi tim kasar, alat ini bebas tugas. Tapi buat saya, perlengkapan MPASI satu ini masih masuk kategori wajib punya!
  6. Jumper atau Romper. Saya ini maniak jumper atau romper bayi. Motifnya pasti selalu lucu-lucu dengan warna mencolok mata. Padukan dengan legging, dalam sekejap tadaaaa... jadilah si kecil seperti bayi-bayi di majalah *Emak korban iklan* Sejak Rasya semakin aktif, baju semacam ini jadi tantangan untuk saya. Ya, tantangan memakaikannya tanpa harus berantem. Namanya anak yang super lincah, setiap dipakaikan baju pasti gerak sana-sini. Lupakan deh kegiatan memakaikan baju seperti di iklan bedak, minyak telon, atau diapers, Rasya mah mana mau disuruh tiduran dan tenang sejenak. Pasti pakai baju sambil gerak sana-sini bahkan jalan-jalan... Pernah sekali waktu, saya mau memakaikan jumper panjang ke Rasya, eh anaknya marah dong. Menangis sampai kejer sambil melentingkan badan. Ini baru memasukkan bajunya ke kepala, belum sampai pada tahap mengancingkan bagian bawahnya. Jadi, saya menyerah? Iya, untuk baju jenis ini tampaknya hanya cocok sampai usia 9 bulan. Setelah itu, nggak laku deh, kecuali kalau saya mau sedikit kreatif menjadikannya kaus seperti yang dilakukan Mamih Raja :D
  7. Topi-topi keren. Ah ini sih memang kasuistik untuk Rasya saja. Saya suka gemas melihat anak pakai topi lucu-lucu, ingat zaman Gilang kecil dulu yang punya topi beragam. Apalagi pas Gilang kecil zaman si Joshua pakai topi aneh-aneh, mulai yang bentuk topi badut sampai topi bertanduk seperti rusa. Saya pinginnya Rasya juga koleksi topi, tapi.....anak ini nggak betah pakai topi! Jadilah saya berusaha mengerem membeli topi. Topi yang ada saja jarang dipakai, baru kalau saya paksa baru tetap dipakai. Itu pun hanya bertahan sejenak, terus dilepas (_ _)" 
  8. Baby Box Baby Does. Ini saya taruh di urutan buncit dalam versi saya. Sampai sekarang masih dipakai, tapi bukan untuk tidur. Melainkan untuk Rasya bermain sebentar (benar-benar sebentar, nggak sampai 15 menit sudah minta keluar) saat ditinggal ke kamar mandi atau sarana Rasya belajar....memanjat! Saya sampai takjub melihat Rasya memanjat sisi luar boks bayinya. Belum sampai masuk ke dalam sih, tapi tetap bikin deg-degan. Untuk tidur, Rasya biasa tidur di kasur bersama saya atau kasur yang digelar di bawah (pas tidur siang). Jadi, benda ini masih ada di kamar saya, dan kadang beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan hehehe :p
    Aksi Spiderman cilik :p
Eh tapi, buat calon ibu jangan terus makin bingung soal beli barang bayi yaaa. Ini hanya opini saya berdasarkan pengalaman pribadi. Faktanya, pertumbuhan fisik dan perkembangan bayi itu sangat sangat cepat! Barang yang tadinya menurut kita tidak perlu, ternyata jadi perlu, demikian sebaliknya. Ada pula beberapa barang yang menurut saya masih bisa dipakai hingga Rasya 2 tahun nanti. Daftar ini pun tidak memasukkan barang kebutuhan dasar bayi, seperti kain bedong atau popok kain bertali. Soalnya, popok kain bertali hanya dipakai 1-2 bulan, selebihnya bayi akan mulai pakai celana. Namun, popok kain bertali tetap perlu, begitu juga dengan kain bedong. Ketika bayi lebih besar, kain bedong yang bahannya agak tebal bisa beralih jadi selimut tipis. Dua barang itu sih tetap wajib beli :) 

Kembali lagi, setiap bayi punya kebutuhan berbeda. Apa yang menurut saya sudah tak cocok di Rasya, belum tentu sesuai dengan anak lain. So, don't worry! Selama dana tersedia dan memang membutuhkan barang tersebut, silakan beli. Yang penting, kebutuhan si kecil terpenuhi, dan ibunya merasa nyaman. Happy hunting! ;D