Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Sunday, March 19, 2017

BPJS Berkah bagi Kelahiran Runa (2)

Foto pertama Runa!
Masih Hari Kedua

Saya menunggu cukup lama sampai akhirnya dokter anastesi dan dokter kandungan datang. Saat itu terdengar suara lagu-lagu yang diputar lewat radio KISS FM. Entah kenapa harus ada suara lagu-lagu, mungkin untuk membangun mood para perawat dan dokter saat operasi ya. Tetapi lagu-lagu itu cukup membuat saya sedikit rileks dan tenang sih. Rasanya nggak terlalu tegang di tengah suasana siap-siap operasi dan dinginnya ruang operasi tersebut. Memang perawat bertanya ini itu soal kehamilan saya. Ya, saya jawab singkat-singkat juga karena agak kedinginan sehingga sulit menjawab panjang lebar hehehe.

Memasuki ruang operasi, suasana jauh lebih terang dan jauuuuuhhh lebih dingin. Sementara tubuh saya hanya ditutupi selembar kain saja. Perawat mulai menyiapkan peralatan operasi, tubuh saya diposisikan sedemikian rupa. Lalu dokter anastesi pun menyuntikkan obat bius ke tulang belakang saya. Nggak sampai 10 menit, tubuh bawah saya sudah terasa kebas, seperti kesemutan tetapi lebih baal rasanya. Sementara itu lagu-lagu dari radio masih terdengar jelas. 

Sama saat melahirkan Rasya dulu, meski tubuh bawah terasa kebas, saya merasakan isi perut diobok-obok. Sambil mencoba membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana (oke, ini kebanyakan nonton Grey's Anatomy), tetapi saya bersyukur juga ada tirai yang menutupi penglihatan saya terhadap jalannya operasi. Kalau nggak, mungkin setelah itu saya jadi ngeri atau trauma melihat tubuh saya sendiri ya. Entah berapa lama sampai akhirnya si adik lahir, mungkin sekitar 15 - 20 menit sejak operasi dimulai. Yang jelas, saya masih terngiang-ngiang soundtrack yang mengiringi kelahiran adik, yaitu lagu Don't Wanna Know dari Maroon 5! Jadi, saat perawat siap mendorong adik dari bagian atas tubuh saya, saya malah berusaha mengalihkan perhatian dengan menyanyikan lagu Don't Wanna Know :D

Atau mestinya saya bayangkan Adam Levine saja yang khusus menyanyikannya untuk saya ya?

Setelah itu, saya mendengar tangisan bayi. "Eh udah lahir ya, Sus? Laki-laki atau perempuan?" begitu pertanyaan saya. Perawat menjawab si bayi sedang dicek. Lalu proses operasi pun dilanjutkan. Tak lama, perawat membawa si adik kepada saya, "Perempuan ya, Bu. Lahirnya pukul 11.25," kata perawat sambil menunjukkan gelang kaki si adik. Alhamdulillah! *sujud syukur*

Yang saya ingat kemudian adalah (mungkin) proses penjahitan bekas operasi saya, yang ternyata memakan waktu lama. Dengan kondisi nggak bisa ngapa-ngapain seperti itu, saya cuma bisa bernyanyi saja mengikuti lagu-lagu di radio. Pun setelah selesai, saya masih teler dan nggak bisa bergerak banyak. Yang jelas, drama kesakitan baru dimulai! Selamat datang rasa sakit!!! 

Setibanya kembali di kamar, perawat mengingatkan saya untuk segera minum jika kaki sudah mulai bisa digerakkan. Setelah efek obat bius hilang, saya harus belajar miring kanan kiri. Dan seperti yang sudah diperkirakan, hari Minggu pagi saya harus pulang. Maka, belajar miring kanan kiri, duduk, dan berjalan mesti saya lakukan dalam hitungan 2 x 24 jam saja! Dahsyat ya kalau dipikir-pikir. Soalnya, rasa sakit di luka operasi itu ya ampuuuuunnnnnn................sakit banget! Meringis terus setiap lukanya nyut nyutan. 

Sore hari saya baru bertemu si adik, yang resmi bernama Farunaya Ilmi Adhisya. Kami memanggilnya Runa. Ini lho satu-satunya nama yang disiapkan oleh suami. Sempat suami berpesan sebelum ia kembali bekerja di Bontang, "Anaknya perempuan aja ya, Ma. Ayah cuma siapin nama anak perempuan soalnya." Wah! Untung doa Ayah kesampaian yaaa.

Alhamdulillah ASI saya sudah keluar dan bisa segera menyusui Runa. Awalnya saya kagok saat menyusui Runa, maklum sudah lima tahun nggak pegang bayi. Ditambah bobot dan perawakan Runa yang begitu mungil, saya sempat bingung juga lho. Runa lahir dengan bobot 2,8 kg dan panjang 49 cm. Ya, ia sedikit lebih panjang daripada Rasya, tetapi tubuhnya terasa lebih mungil. Malah saat menyusui, saya harus ekstra perhatian melihat perlekatan Runa. Meski begitu, sejak hari pertama, saya dan Runa tak mengalami kesulitan berarti saat menyusui.

Oya, salah satu yang saya pastikan sebelum melahirkan adalah apakah bayi akan dirawat gabung dengan ibunya. Meski menggunakan fasilitas BPJS, RS punya kebijakan untuk rawat gabung sejak hari kelahiran bayi. Otomatis malam pertama setelah Runa lahir pun ia sudah berada di dekat kami, sama seperti Rasya dulu. Seperti biasa, yang kebagian tugas ganti popok tentu saja suami, mengingat saya nggak bisa banyak bergerak. Saat penggantian popok perdana Runa, suami sempat kagok juga. "Ini gimana ya, Ma? Kok nggak bisa rekat sih diapers-nya? Bersihinnya gimana?" begitu tanya suami. Maklum, biasanya mengurus anak laki-laki ya hehehe.

Hari Ketiga
Dalam waktu 24 jam, perawat meminta saya untuk berlatih duduk, berdiri, serta berjalan. Well, meski saya sudah tahu langkah demi langkah pemulihan tubuh pasca operasi, tetap saja melawan rasa nyeri itu bukan sesuatu yang mudah. Sialnya, pada sore hari ketiga itu saya menyadari tubuh saya demam tinggi. Meski sudah mulai bisa duduk, berdiri, dan berjalan, karena saya demam dan kepala pusing sekali, rasanya tubuh ini nggak karuan. Sempat saya menggigil kedinginan saat di kamar mandi.

Selidik punya selidik, penyebab demam adalah karena tangan saya membengkak akibat jarum infus yang terhambat. Ditambah saya sulit tidur nyenyak, sehingga migren di kepala membuat kepala saya sakiiiittt sekali! Walalupun begitu, saya tetap harus membiasakan diri untuk duduk, berdiri, dan berjalan. Memang luka bekas operasi itu nyerinya bukan main. Operasi kedua pun nggak kalah sakit dibandingkan operasi pertama. Namun, rasa nyeri itu harus dilawan lho! Bagian tersulit adalah saat harus bangun dari posisi tidur ke posisi duduk. Di situlah rasa nyeri bukan main sangat terasa. Ajaibnya, ketika saya berdiri, rasa sakit itu tak begitu kentara. Malah begitu berjalan rasanya biasa saja, tetapi karena kepala saya pusing, saya tetap mengeluh kesakitan setiap berjalan.

Dengan double combo seperti itu, apakah membuat malam itu saya tidur nyenyak?

Nggak sayangnya. Dan saya benar-benar berharap bisa segera pulang pada Minggu pagi!

Hari Keempat
Sesuai prosedur melahirkan dengan menggunakan BPJS, pasien hanya dirawat tiga hari (sejak hari operasi) dan harus pulang pada hari ketiga. Meskipun boleh-boleh saja kalau mau diperpanjang (mungkin dengan biaya sendiri ya), tetapi dengan kondisi kepala super berat karena migren dan nggak bisa tidur, saya setuju saja saat diperbolehkan pulang pada Minggu pagi. Selama di RS, setiap malam saya cukup terganggu dengan tangisan bayi-bayi lain atau hilir mudik orang-orang yang sekamar dengan saya. Mungkin karena saya terlalu awas dengan suara-suara, sehingga saya pun kurang tidur. Yang saya inginkan cuma satu: tidur nyenyak tanpa gangguan!

Pagi itu, suami dan Mama segera mengurus administrasi kepulangan saya dan Runa. Karena kami menggunakan BPJS, maka seluruh biaya melahirkan sekitar 8 juta sekian ditanggung penuh oleh BPJS. Sementara itu perawatan Runa (termasuk vaksin polio dan hepatitis) harus kami bayarkan lebih dulu karena Runa belum punya BPJS. Jumlahnya sekitar 3,8 juta. Kabar baiknya, jika kami sudah mengurus BPJS Runa, kami bisa memberikan fotokopi kartu BPJS Runa dan uang tersebut akan kembali!

Wow! Jujur saya dan keluarga merasa cukup terkejut dengan hal tersebut. Kami sudah bersiap-siap jika harus membayar sejumlah uang untuk perawatan Runa karena memang kami belum mendaftarkannya BPJS. Namun, pernyataan uang itu bisa kembali membuat kami merasa sangat-sangat beruntung. Artinya, untuk melahirkan Runa ini, kami tak mengeluarkan biaya sepeser pun! BPJS telah menanggung seluruh biaya sesuai peruntukannya, dan kami telah memanfaatkan fasilitas kesehatan yang memang menjadi hak kami sekeluarga sebagai keluarga PNS. Saya tidak mengatakan melahirkan dengan BPJS itu 'gratis' ya, karena faktanya gaji suami saya dipotong setiap bulannya untuk iuran BPJS. Namun, hal itu ternyata cukup sepadan untuk memperoleh layanan kesehatan yang layak bagi kami sekeluarga.

Ah kembali ke cerita saya tadi. Akhirnya Minggu pagi itu pun saya dan Runa pulang ke rumah. Kondisi saya masih demam dan kepala berat, sampai perlu naik kursi roda untuk ke mobil. Namun, sesampainya di rumah, tidur nyenyak dua jam cukup membuat saya merasa lebih baik. Sedikit pusing, tetapi jauuuuhhh lebih segar dan sehat. Ya, memang proses pemulihan itu lebih nyaman di rumah. Seenak-enaknya rumah sakit, tetap lebih enak di rumah, bukan?


Sudah di Rumah!
Saya bersyukur ada banyak bala bantuan yang siap membantu menjaga Runa selama saya pemulihan. Ditambah melihat betapa excited-nya Rasya melihat kehadiran adik kecilnya, cukuplah itu semua menjadi pendorong bagi saya untuk lekas pulih. Sayangnya, suami hanya punya waktu seminggu sebelum ia kembali bekerja di pulau seberang :(

Meskipun demikian, kami mencoba memanfaatkan waktu bersama sebaik-baiknya, termasuk membiasakan tidur berempat karena bagi kami itu adalah suatu kemewahan!

Oya, saya coba membiasakan Runa tidur di boks bayi. Sebab Rasya tidurnya sangat polah! Saya khawatir kakinya ke sana kemari, dan bisa mengenai Runa. Namun demikian, saya juga menyadari Runa tampak lebih nyaman ketika tidur bersama saya, di dekat saya. Pada akhirnya, sayalah yang harus berkompromi soal posisi tidur ini. Ada kalanya saya berada di tengah-tengah Runa dan Rasya. Kadang saya harus tidur miring di pinggir tempat tidur dan membatasi Rasya dan Runa dengan guling. Harus bermain akrobat sedikit nih, hehehe. Namun, kebahagiaan paling nikmat adalah ketika saya menyusui Runa dan Rasya tidur di paha saya. Rasanya, saya itu segalanya bagi kedua anak ini :')

Satu hal yang masih terasa janggal: perut saya ke mana ya? Kok kempes dalam semalam? :D

Selamat datang di rumah, Runa sayang!

--

Ekstra Tips tentang BPJS!
Saya pribadi merasa sangat bersyukur atas kemudahan yang saya dapatkan dalam menggunakan BPJS. Ternyata mengalami sendiri membuat kita lebih paham pada sesuatu hal yang baru. Mungkin ketakutan atau kekhawatiran menggunakan BPJS muncul karena kita cenderung melihat sisi negatifnya saja, tanpa pernah merasakan sisi positifnya. Saya membayangkan pastinya ada banyak orang yang terbantu dengan adanya BPJS ini!

Bagi teman-teman yang akan memanfaatkan BPJS untuk melahirkan, coba intip tips berikut ya.

  1. Rutinlah kontrol kandungan ke bidan di faskes 1 atau dokter kandungan sesuai rujukan dari faskes. Untuk obat-obatan, biasanya dokter akan memberikan sesuai tanggungan BPJS dan berupa obat generik. Jangan khawatir, efeknya sama saja kok dengan obat paten. 
  2. Pastikan surat rujukan dari faskes 1 masih berlaku setiap kita kontrol ke dokter. Umumnya masa berlaku surat rujukan adalah satu bulan sejak diterbitkan. Jika sudah lewat batas waktu, maka kita harus kembali ke faskes 1 untuk minta rujukan. Sebenarnya untuk kehamilan, perawat bilang ada satu surat rujukan yang punya masa berlaku lebih panjang. Namun, saat saya menanyakan kepada faskes tempat saya berobat, mereka tidak bisa menerbitkan surat itu dan tetap menggunakan surat rujukan seperti biasa. 
  3. Rajin-rajinlah mencari informasi tentang apa yang akan kita dapatkan saat akan menjalani persalinan dengan BPJS, dalam hal ini saya dengan operasi. Proaktif, itu kuncinya. 
  4. Sebelum bersalin, siapkan seluruh dokumen penting terkait persalinan. Saya menyiapkan satu buah amplop khusus yang berisi seluruh dokumen pribadi saya dalam bentuk fotokopi, mulai dari surat rujukan, kartu BPJS, KTP, dan KK. Ini akan memudahkan suami atau anggota keluarga lain yang akan mengurus administrasi melahirkan.
  5. Fotokopi sebanyak-banyaknya surat rujukan dan kartu BPJS, sehingga kita tidak perlu repot menyiapkannya setiap kali berobat. 
  6. Siapkan dana cadangan untuk jaga-jaga.
  7. Sebaiknya kita mendaftarkan bayi dalam kandungan dengan BPJS sejak usia kandungan 6 atau 7 bulan. Hal ini akan sangat membantu jika bayi membutuhkan perawatan intensif setelah melahirkan akibat kondisi tertentu (misalnya, lahir prematur, sakit kuning, berat badan lahir rendah, dst). Bagusnya di RS tempat saya melahirkan, perawat juga informatif soal pendaftaran BPJS bayi ini. Ada pasien sebelah saya yang anaknya dirawat khusus karena lahir prematur. Beberapa kali saya mendengar perawat mengingatkan orang tua bayi untuk segera mengurus BPJS si bayi, sehingga orang tua akan terbantu dalam perawatan si bayi. BPJS ini juga akan memudahkan kita saat anak harus melakukan imunisasi, karena ada beberapa jenis imunisasi dasar yang ditanggung oleh BPJS

Semoga tips ini berguna! 

Saturday, March 18, 2017

BPJS Berkah bagi Kelahiran Runa (1)

Apa yang paling membuat saya deg-degan menjelang persalinan kali ini?

Karena ini untuk pertama kalinya saya memanfaatkan BPJS untuk persalinan. Saat melahirkan Rasya dulu, saya dan suami sepakat memilih RS Pupuk Kaltim sebagai tempat melahirkan. Konsekuensinya, ya kami harus mengeluarkan biaya sendiri. Waktu itu, kami agak terlambat mencari informasi mengenai ASKES yang memang menjadi fasilitas kesehatan suami dari kantornya. Karena sudah kadung nyaman di RS tersebut, kami enggan pindah RS. Namun, untuk anak kedua kami ini, kami harus berkompromi dengan keadaan finansial. Jujur saja, persiapan finansial kami kali ini nggak begitu oke. Jadi, hanya bermodalkan dana seadanya saja sesuai estimasi untuk membayar keperluan perawatan bayi setelah lahir. Kami berharap BPJS bisa membantu menanggung biaya bersalin, sesuai fasilitas yang memang menjadi hak suami sebagai PNS. 

Mungkin memang benar, ketika kita terlalu banyak membaca berita negatif tentang suatu hal, kita jadi ketakutan sendiri. Seperti itulah yang saya pikirkan awalnya tentang BPJS ini. Sampai akhirnya, saya dan suami coba membiasakan diri untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan tersebut. Mulai dari saat saya atau Rasya sakit, hingga melahirkan si kecil kemarin. Ternyata, semuanya nggak seburuk yang saya kira lho. Lagipula, mau pakai BPJS atau asuransi lain pun, rasa sakit melahirkan ya sama saja. Nggak berarti melahirkan di RS yang lebih yahud atau bagus lalu rasa sakitnya juga lebih minim hihihi. 

Jadi, bagaimana cerita persalinan si kecil?

Kontrol Kandungan Rutin
Setelah mendapatkan rekomendasi dokter kandungan dari dokter favorit saya di Eka Hospital, bermodalkan surat rujukan dari faskes 1, saya pun melakukan kontrol kandungan di RS Bunda Dalima. Seperti saya ceritakan di sini, staf dan perawat di RS ini cukup informatif soal pemanfaatan BPJS untuk layanan kesehatan. Saya hanya perlu membawa surat rujukan (jangan lupa difotokopi seperlunya) dan fotokopi kartu BPJS. Biasanya satu surat rujukan berlaku satu bulan sejak tanggal dikeluarkan. Karena memasuki trimester III saya harus kontrol kandungan dua minggu sekali, maka satu surat rujukan bisa terpakai untuk dua kali kontrol kandungan. 

Ketika kontrol kandungan, dokter akan melakukan USG. USG sendiri termasuk dalam komponen biaya yang ditanggung BPJS, tetapi jika kita ingin mencetak hasil USG akan dikenakan biaya. Di RS Bunda Dalima, biaya cetak hasil USG sekitar Rp 80.000,-. Lalu saya juga mendapatkan kartu kontrol prenatal yang harus dibawa setiap kunjungan ke dokter. 

Menjelang melahirkan, waktu kontrol saya menjadi seminggu sekali. Saya sempat kembali ke faskes untuk meminta surat rujukan. Lantaran tenggang waktu antara kontrol terakhir dan melahirkan tak berbeda jauh, saya bertanya kepada bidan di faskes, apakah mungkin surat rujukan tersebut langsung untuk melahirkan di RS. Ketika itu, dokter sudah memutuskan bahwa saya akan menjalani sectio caesaria (SC) karena melahirkan pertama sudah SC, ditambah minus mata kanan saya yang di atas 6 (hampir minus 9), sehingga beresiko tinggi untuk melahirkan normal. Informasi tersebut saya teruskan pula kepada bidan di faskes, sehingga faskes bersedia mengeluarkan surat rujukan yang dimaksud. Nah, surat rujukan inilah yang jadi modal saya melahirkan di RS.

Hari Pertama
Berbeda dengan RS swasta yang biasa saya datangi, untuk RS Bunda Dalima ini memang saya harus proaktif mencari informasi atau bertanya kepada pihak RS sekadar memastikan jadwal praktek dokter. Apalagi jadwal kontrol terakhir saya bertepatan dengan jadwal pilkada, bingunglah saya apakah dokter praktek atau tidak. Saya sampai menelpon tiga kali pada hari itu :p 

Akhirnya, karena dokter tidak praktek, saya pun bicara dengan bidan/perawat dari bagian Kebidanan. Saya sampaikan bahwa saya ada jadwal operasi dengan dokter pada hari Jumat. Bidan pun mengatakan, sudah dapat konfirmasi dari dokter, saya datang langsung saja pada Kamis malam dengan membawa perlengkapan bersalin. 

Kamis malam ditemani kedua orang tua dan Rasya, saya ke RS membawa perlengkapan bersalin. Setelah mendaftar ke bagian pendaftaran, saya menunggu sekitar satu jam sebelum akhirnya bisa masuk ke kamar. Rupanya, di RS tersebut memang pelayanan untuk BPJS sudah cukup jelas standarnya. Kamar yang disediakan pun di satu ruang khusus. Memang terlihat agak sumpek karena kelas I, II, dan III hanya dipisahkan dinding saja. Saya sendiri menempati kelas I yang satu kamar terdiri dari empat tempat tidur. Kamar mandi pun hanya ada satu kamar mandi yang digunakan bersama-sama oleh seluruh pasien dari ketiga kelas tersebut. Awalnya, saya merasa kurang nyaman dengan situasi itu. Namun, saya meneguhkan diri sendiri, "Hei, nggak boleh protes. Namanya pakai fasilitas 'gratis', jadi mesti terima apa adanya." Sebelum ke kamar, saya menjalani pengecekan kondisi janin. Perawat mengukur detak jantung bayi. Sebelumnya, saya juga melakukan tes darah untuk mengecek HB saya. Malam itu akhirnya saya ditemani adik, dan belum diinfus. Bisa tidur? Ya nggaklah :p dan sejak hari itu saya lupa kapan terakhir saya tidur nyenyak....

Hari Kedua
Jumat pagi, suami saya sudah datang. Horeee! Seenggaknya rasa senewen ini berkurang sedikit karena ditemani suami. Orang tua dan Rasya juga sudah berkunjung ke RS pagi itu. Setelah mandi, saya pun diinfus oleh perawat, sambil menunggu jadwal operasi. Berdasarkan hasil lab, HB saya di bawah 10, yakni 9,3. Dokter menyarankan untuk dilakukan transfusi darah lebih dulu agar saat operasi kondisi saya cukup prima. Satu kantung darah pun dipasang untuk menggenjot HB saya.

Menjelang pukul 11.00, saya bersiap menuju ruang operasi. Duh, jangan tanya bagaimana deg-degannya saya ya. Meski ini keempat kalinya saya masuk ruang operasi, dan kedua kalinya melahirkan secara SC, tetap saja rasa khawatir melanda. Ditambah melihat wajah Rasya dan suami sebelum masuk ruang operasi, bikin saya mewek deh ..., untuk alasan yang saya pun tak bisa menjelaskan. Masuk ruang operasi yang dingin pun, saya cuma bisa tergolek pasrah disuruh ini itu atau dipakaikan apapun oleh perawat. Sudah nggak bisa mundur lagi. Hanya bisa terus mengucapkan doa dalam hati, semoga operasinya lancar!

bersambung ke bagian 2 ya :)

Tuesday, January 31, 2017

Cerita Kehamilan Keempat Saya


Di penghujung kehamilan saya, ada banyak cerita yang terlewatkan untuk saya bagi di sini. Maklum, pada kehamilan keempat ini, saya lebih sibuk bekerja dan sibuk menghabiskan waktu bersama Rasya. Berbeda dengan kehamilan Rasya dulu, yang mana saya hanya berdua suami dan beban kerja juga tak sebanyak sekarang. Pada kehamilan keempat ini, saya lebih cepat lelah, lebih banyak keluhan terutama seputar rasa sakit di bagian kaki (sering kram). Mungkin memang hamil usia 20-an dan usia 30-an itu berbeda ya, hahaha.

Namun, cerita paling hits-nya adalah saya sempat dirawat di rumah sakit pada usia kehamilan 28 minggu lantaran badan demam tinggi dan.....gondongan! Ya, rupanya saya tertular gondongan dari Rasya yang lebih dulu sakit serupa seminggu sebelum saya sakit. Persis saat ulang tahun pernikahan saya dan suami, sore harinya saya demam sampai 39 derajat Celcius. Buru-buru Mama membawa saya ke UGD Eka Hospital, BSD. Ujung-ujungnya, saya harus dirawat di ruang isolasi karena dianggap membawa virus. Jadilah saya ngendon di RS selama 3 hari 2 malam. Seenak-enaknya di RS tetap lebih enak di rumah sendirilah yaaaa. Lagipula janggal banget masa dirawat di RS gara-gara gondongan. Sepulang dari RS pun, saya masih harus jadi tahanan rumah karena masih bengkak di dekat leher. Untunglah, bayi dalam kandungan saya sehat-sehat saja, meski sempat bikin khawatir lantaran gerakannya aktif banget saat demam saya meninggi. Pada usia kehamilan 28 minggu itu pula jenis kelamin si kecil berhasil diperkirakan oleh dokter kandungan favorit saya hehehe. Alhamdulillah sesuai harapan saya dan suami :D

Memasuki usia kandungan 7 bulan inilah, saya dan suami sepakat berganti dokter kandungan. Sebetulnya, dokter kandungan favorit saya ya di Eka Hospital itu. Namun, apa daya, dana kami berdua tak mencukupi untuk biaya bersalin di sana. Apalagi saya harus menjalani operasi SC untuk melahirkan, karena minus mata kanan tinggi. Jadi, cukup tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk melahirkan di sana, sembari berandai-andai saja. Dokter favorit saya pun berbaik hati menginformasikan rekannya yang berpraktek di RS Bunda Dalima, sehingga saya dan suami sepakat memilih RS tersebut untuk bersalin nanti, dengan menggunakan fasilitas BPJS yang kami sekeluarga miliki (suami saya PNS). 

Minggu-minggu berikutnya, saya jadi rajin bolak-balik ke klinik faskes 1 dan ke RS untuk kontrol kandungan. Alhamdulillah prosesnya relatif mudah, meski dibilang ribet juga nggak, gampang juga nggak. Prinsipnya kalau pakai BPJS adalah, cukup terima saja apa yang diberikan, lha wong bayarnya sudah dipotong dari gaji bulanan suami. Modal fotokopi KTP dan kartu BPJS itu penting, dan jangan lupa selalu cek surat rujukan dari faskes 1. Memang sih saya cukup senang karena pilihan rumah sakit rujukan saya cukup oke, dalam arti tidak terlalu ramai, antri pasien juga tidak banyak, dan fasilitas cukup (meski butuh upgrade banyak untuk beberapa hal). Dokter kandungan yang direkomendasikan juga cukup oke, meski yaaa tidak sekomunikatif dokter favorit tadi hihihi (ada rupa ada harga!). Namun, yang saya sukai dari RS ini adalah hampir seluruh staf dan perawatnya sangat informatif soal BPJS. Jadi, bagi pasien yang sudah punya BPJS selalu didorong untuk mau memanfaatkan BPJS-nya. Pertanyaan "Bayinya sudah didaftarkan BPJS?" selalu diajukan, karena itu akan memudahkan orang tua juga saat si kecil lahir nanti. 

Meskipun demikian, saya agak terintimidasi dengan kenyataan bahwa melahirkan SC dengan BPJS itu artinya sistem paket 3 hari saja. Cukup 3 hari di RS dan langsung pulang! Sementara waktu saya melahirkan Rasya dulu, saya menghabiskan hampir 5 hari di RS. Cuma 3 hari? Gimana itu belajar jalannya? Ngilu membayangkannya saja.....Tapi di titik ini, saya cuma bisa pasrah sih....

Pada kehamilan keempat ini pula, saya dan suami dihadapkan pada pilihan long distance marriage, sejak usia kandungan saya 4 bulan. Seselesainya studi S2 suami, bulan Oktober lalu suami saya harus kembali ke Bontang untuk bekerja. Jangan tanya betapa galaunya saya yaaaa........... Namanya hamil, kan pengennya deket-deket suami, manja-manja sama suami. Lha ini....jauh-jauhan dari suami. Praktis tiga bulan saya nggak ketemu suami. Baru Januari lalu suami sempat ke Jakarta, itu pun hanya saat weekend. Sebentar banget dan rasanya nggak rela pisah. Saya sampai ambil cuti satu hari agar bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama suami. Rencananya, saat melahirkan nanti suami akan cuti seminggu untuk mendampingi saya melahirkan. Semoga lancar, amin!

Satu hal yang pasti dan nyata terlihat adalah selama hamil keempat ini saya lebih rajin dandan dan gandrung dengan lipstik merah. Dulu mah saya cuma suka warna nude. Sekarang lebih centil, hihihihi. Nggak lupa juga foto-foto untuk kirim ke suami, seperti foto-foto di atas itu. Berat badan saya naik 12 kg, dan tubuh saya nggak berubah banyak, kecuali perut tentunya. Yang jelas saya menikmati sekali hamil ini. Sekarang giliran berdoa lebih dan ekstra jaga kesehatan untuk persalinan nanti. Doakan semoga lancar yaaa! :)

Thursday, January 26, 2017

Tahun Kelima Rasya



Dear Kakak Rasya,

Hai, Kak! Sebentar lagi beneran jadi 'kakak' nih. Mama juga mulai membiasakan panggil Rasya dengan sebutan 'kakak.' Tadinya sih Mama lebih suka panggilan 'mas,' tapi Rasya maunya dipanggil 'Kak Rasya.' Okelah, boleh juga.

Pada hari ke-18 di bulan Januari ini, Kak Rasya sudah berusia 5 tahun. Setiap hari melihat tumbuh kembang Kakak itu bikin Mama selalu bersemangat dan juga terus belajar hal-hal baru. Kakak sekarang bukan lagi bayi kecil Ayah Mama yang mudah nurut ikutin ini itu. Kakak punya banyak keinginan, punya banyak kemauan, dan punya banyak ide. Satu hal yang paling Mama lihat adalah daya ingat Kakak yang kuat. Satu dua kali Mama bacakan buku, semua isinya bisa Kakak ingat dan serap dengan baik. Nggak heran, penguasaan kosakata Kakak terbilang luar biasa. Apalagi mengingat dulu Kakak baru bisa bicara beneran pada usia 2 tahun 4 bulan. Sekarang? Wah, Mama sampai selalu bertanya, "Kakak tahu dari mana kata itu?" Belum lagi Kakak suka belajar bahasa Inggris dari apa yang biasa Kakak dengar dan lihat di Disney Junior. Lucunya, Mama nggak pernah khusus mengajarkan Kakak, tapi Kakak bisa mempelajari semua dengan cukup baik.

Soal ini jugalah yang bikin Mama nggak banyak menuntut Rasya untuk bisa baca tulis di usia ke-5. Sementara teman-teman sekelas Kakak sibuk ikutan bimbel di sekolah karena mau masuk SD, Mama berpikir apa yang sudah Kakak kuasai saat ini lebih dari cukup untuk usia Kakak. Kakak sudah bisa menulis, membaca huruf (meski belum bisa merangkainya menjadi kata), menggambar macam-macam, bahkan membuat cerita dari gambar yang Kakak buat. Meski Mama percaya Kakak bisa, tapi Mama ingin Rasya lebih banyak menikmati masa bermain di usia prasekolah Kakak sepuas-puasnya. Maka, tahun depan Ayah dan Mama memutuskan Kakak tetap di kelas TK B. Kita tunggu usia Kakak sampai 6 tahun ya supaya bisa masuk SD!

Bulan depan Insya Allah adik akan lahir. Kakak sudah mulai menunjukkan rasa sayang (dan sedikit posesif) sama adik. Mama senang Kakak tampak siap untuk punya adik. Mama senang setiap Kakak membayangkan nanti mau bantu Mama menjaga adik. Semoga saat adik lahir nanti, Kakak juga tetap semangat dan selalu sayang sama adik ya.

Bagi Ayah dan Mama, Kakak adalah guru pertama kami dalam menjadi orang tua. Kakak juga selalu menjadi cinta pertama kami. Kelahiran adik nanti akan menggenapi cinta Ayah Mama untuk kalian berdua, dan melengkapi kebahagiaan keluarga kecil kita.

Semoga di pertambahan usia Kakak ini bisa menjadikan Kakak lebih mandiri, lebih pintar, lebih sehat, dan lebih baik dalam segala hal. Selalu menjadi the best boi! Ayah, Mama, dan adik sayang Kakak!

Happy birthday, Cakrasyadhia!



Wednesday, September 14, 2016

Tiga Cerita Bahagia

Lama tak bersua di sini.
Kembali mengatasnamakan kesibukan, meski sebetulnya semata kesulitan mengatur waktu antara pekerjaan, keluarga, dan diri sendiri. Namun, tak apa, saya kembali dengan segudang cerita yang pastinya bernuansa positif, ya kebahagiaan. Mulai dari mana ya? Hmmm...bagaimana kalau dengan ini?



27 Agustus 2016
Alhamdulillah suami telah berhasil menyelesaikan studi S2 Magister Profesi Psikologi di Universitas Indonesia. Tugas belajar dua tahun yang diemban suami tuntas dengan perjuangan luar biasa. Ada banyak sekali cerita suka duka di balik multiperan yang harus dimainkan suami selama berada di ibukota. Sebagai anak, suami, ayah, sekaligus mahasiswa full-time, suami cukup sulit membagi waktu dan perhatiannya. Apalagi kuliah profesi sangat padat, belum lagi magang di berbagai perusahaan, juga kerja kelompok yang tak ada habisnya. Menghadapi drama perkuliahan hanyalah satu episode yang hari-hari harus dijalani suami. Belum lagi drama ibukota dengan perjalanan komuter Bogor-Depok-Pamulang. Tidak setiap hari memang, tetapi ada kalanya ia harus juggling sampai seheboh itu. 

Nggak melebih-lebihkan kok, memang itu adanya. Masih ditambah begadang mengerjakan tugas, atau bimbang antara menghabiskan waktu bermain bersama Rasya atau mengerjakan tugas. Juga urusan quality time kami berdua. Wah, rasanya 24 jam 7 hari seminggu itu masih kurang! Pun saya, yang harus tetap terus-terusan menyemangati suami untuk terus maju dan berjuang dengan tugas kuliah sampai tesis. Ini masih belum menyebut kendala finansial yang juga kami hadapi. Namun, pada akhirnya seluruh tangis dan keringat itu berbuah manis saat melihat suami diwisuda pada akhir Agustus lalu. Hasil perjuangan dua tahun yang dirasa cukup panjang, tetapi ketika perjuangan itu mencapai titik akhir yang kami lihat hanyalah betapa nikmatnya melewati proses itu semua bersama-sama :)

Di saat yang sama, saya dan Rasya juga harus menerima kenyataan bahwa suami harus segera kembali ke Bontang dan bekerja seperti semula. Another LDR story will begin. Suka nggak suka, mau nggak mau, kami sudah bersepakat untuk hal ini. Saya dan Rasya akan tetap di Jakarta sampai tahun depan. Rasya masih melanjutkan kelas TK B, sementara saya tetap bekerja sambil menanti rejeki lainnya.




Menjelang Lebaran lalu...
Saya menyadari bahwa saya sudah telat datang bulan. Padahal, ketika itu saya tengah bolak-balik BSD- Bogor untuk bekerja sementara Rasya di rumah mertua. Setelah melakukan test pack kedua kalinya di akhir pekan sebelum Lebaran, Alhamdulillah kami kembali dipercayakan oleh Allah SWT seorang calon bayi. Foto di atas adalah hasil USG saya di minggu ke-13 kehamilan ini. Apakah memang program? Ya, ini memang kesepakatan saya dan suami di saat suami sibuk-sibuknya bikin tesis, hehehe. Sebuah kesepakatan yang tiba-tiba disetujui suami saat siang hari bolong dan ia langsung memberitahu saya via whatsapp :p 

Setelah keguguran tahun lalu, saya memang melonggarkan diri 6 bulan untuk tidak langsung jadi lagi, mengingat saya hamil Rasya hanya selang 45 hari setelah dikuret karena hamil kosong. Memasuki awal tahun 2016, lama-lama saya nggak tahan juga untuk membujuk suami hehe. Pertimbangan suami masuk akal sih kenapa ia belum mau: urusan kuliah dan Rasya saja sudah menyita perhatian dan waktunya, maka menambahkan saya hamil mungkin membuatnya semakin complicated. Namun, menjelang kesibukannya bikin tesis, suami malah sepakat dengan proposal yang saya ajukan hahaha. 

Si adik kecil dalam rahim saya ini adalah "percobaan" bulan ketiga kami setelah kami sepakat untuk melakukan program. Lucunya, Rasya malah beberapa kali mengatakan demikian sambil mengusap perut saya, "Di dalam perut Mama ada adik bayi ya? Mama hamil ya?" sebelum saya tahu saya benar hamil. Ia mengatakan itu sampai tiga kali! Apakah memang ia merasakannya ya? Entahlah, yang pasti Rasya cukup excited dengan kehamilan saya ini. 

Rasya juga kami ajak setiap periksa rutin ke dokter. Saat periksa di minggu ke-13 lalu, ternyata si adik pun memberikan kami kejutan. Tangan dan kakinya bergerak-gerak aktif saat di-USG. Saya, suami, dan Rasya sampai terpukau melihatnya. Sebab seingat saya dulu Rasya cukup anteng dalam usia kandungan minggu ke-12. Mungkin makin ke sini janin pun juga semakin pintar ya? 

Selain itu, berbeda dengan kehamilan Rasya dulu, aktivitas Rasya selama hamil juga lebih sibuk. Tak heran jika saya lebih cepat merasa lelah dan ngantuk. Oke sih, untuk ngantuk, dari dulu pun saya memang pelor, haha. Namun, kondisi hamil melipatgandakan semuanya. Belum lagi saat terlalu lelah saya sering migren atau sampai kliyengan parah. Mual masih sedikit saya rasakan, tetapi satu hal yang pasti adalah frekuensi makan yang lebih sering! Bisa setiap jam saya makan atau ngemil hehehe. Sejauh ini sih soal ngidam masih relatif teratasi, kecuali ngidam kepiting saus padang Melati atau gami bawis Bontang. Itu sepertinya susah diwujudkan :(

To do list berikut yang perlu saya dan suami lakukan adalah mencari rumah sakit yang tepat untuk melahirkan nanti. Tepat dalam arti segala hal: jarak, dokter, lingkungan, fasilitas, dan tentu saja biaya. Sebab kini saya masih memilih rumah sakit dekat kantor untuk periksa rutin, tetapi biaya melahirkan di sana sangatlah mahal. Maka mencari alternatif berikutnya patut dilakukan. Mudah-mudahan per akhir bulan ini kami sempat melakukan hunting rumah sakit.

Tentang Rasya
Pasti banyak sekali cerita soal tumbuh kembang Rasya. Lain kali saya akan ceritakan terpisah yaa. Namun, sepanjang tahun ini, saya melihat Rasya semakin mandiri dan sudah terdorong untuk mengandalkan dirinya sendiri. Salah satu pencapaian terbesar Rasya adalah ikut lomba mewarnai sendiri. 

Pertama kalinya Rasya beneran ikut lomba mewarnai dan mengerjakan sendiri, ya sendiri!
Saya hanya bisa menunggu dan mengamatinya dari jauh saja. Sempat deg2an, khawatir ia mencari saya, khawatir ia menangis, khawatir ia ngambek di tengah jalan.
Namun, di luar dugaan, Rasya sukses melakukannya sendiri. Mulai dari pilih warna, mewarnai, memberikan hasilnya pada panitia, sampai membereskan barang2nya sendiri. Saya kagum. Salut pada kemandirian si anak lanang ini.
Usianya belum genap 5 tahun, tapi banyak hal yang ingin ia lakukan sendiri sekarang. Ia selalu berusaha meyakinkan saya, "Aku bisa sendiri, Ma!"di saat saya khawatir atau ragu padanya. Tapi seiring waktu, saya semakin percaya pada Rasya, bahwa ia memang sudah besar dan sudah mulai belajar mengandalkan dirinya sendiri.
Hari ini Rasya membuktikan semuanya! Buat Mama, Rasya sudah memenangkan hati Mama untuk sikap mandiri Rasya yang kini sudah naik setingkat!
Selamat, Mas Rasya! 

Melihat Rasya seperti itu, saya yakin ia bisa menjadi kakak yang baik nantinya. Mungkin memang ini waktu yang tepat dirancang oleh Allah untuk kami semua. Menunggu Rasya lebih besar untuk punya adik, sehingga ia bisa lebih memahami kondisi kehamilan saya (dan beda lho hamil usia 20-an dan 30-an :p) dan juga mau mengurus dirinya sendiri, meski tak semua hal. Rasya sering bilang begini, "Mama kalau kecapekan bilang ya, harus istirahat." Ah, Nang, Mama jadi terharu mendengar ucapan itu dari kamu, yang kalau tidur kelonan masih kayak bayi. Terima kasih ya, Mas, eh Kak!

Jadi, itulah tiga hal yang membuat kami gembira sepanjang tahun 2016 ini. Semoga tahun ini juga membawa lebih banyak kebahagiaan buat kita semua yaaaa! Amin!

Wednesday, January 20, 2016

Tahun Keempat Rasya



Dear Rasya,

Hai si anak empat tahun!
Wow, sekarang Rasya sudah semakin besar ya. Rasanya baru kemarin Rasya lahir ke dunia. Rasanya baru kemarin Rasya sibuk ndusel-ndusel di dekapan Mama sambil menyusu. Rasanya baru kemarin Rasya bisa berjalan, lari-lari sampai lompat-lompat. Rasanya baru kemarin Mama panik karena Rasya belum lancar bicara, dan tiba-tiba bendungan kata Rasya runtuh begitu saja, sampai Rasya semakin lihai bertutur kata. Rasanya baru kemarin Rasya sekolah PAUD, sekarang sudah di TK A dan semakin cakap dalam banyak hal.

Celotehan "Aku bisa sendiri" atau "Ajarin aku, Ma" lebih sering Mama dengar. Tetapi nggak jarang juga jawaban "Mama aja yang beresin" sambil melengos. Belum lagi rengekan Rasya setiap minta sesuatu dan harus dituruti saat itu juga. Mama bingung, betapa anak lanang satu ini mulai pandai menjawab dan memilah kata. 

Lain waktu, Rasya sibuk merangkai kalimat menjadi sebuah cerita. Bertutur tiada henti, juga 'menghidupkan' mini-figure Lego dengan beragam karakter. Jika sedang jalan-jalan, Rasya sibuk bertanya apapun yang ingin Rasya ketahui. Kadang Mama bisa menjawab, kadang Mama harus cari tahu lagi. Tapi Rasya selalu bertanya terus sampai puas dengan jawaban Mama, dan Rasya akan bilang, "Oh begitu ya, Ma."

Sebesar-besarnya Rasya sekarang, Rasya tetap mon bébé, bayi Mama. Selalu teriak-teriak panggil Mama setiap Mama ada di rumah. "Mamaaaa! Mamaaaa! Mama di mana?" atau versi ibu, "Ibuuu!" dan Rasya minta dipanggil 'Kakak.' Bayi kecil Ayah juga. Belakangan kita bertiga senang banget kruntelan menumpuk seperti burger. Rasya kadang di tengah-tengah, "Aku jadi penyet, Ma!" sambil double kiss dan double hug

Dan tahukah Rasya, Mama paling senang jika lihat Rasya gembira menyambut Ayah setiap Ayah pulang ke rumah Uti. Rasya akan menyambut Ayah dengan teriakan kencang, "Ayaaaaahhh!" Terima kasih lho, Nang.

Please tetap terus jadi kesayangan Mama dan Ayah ya. Meski Mama tahu, Rasya semakin besar semakin bertambah banyak hal baru yang harus Mama dan Ayah pelajari juga. Semoga Ayah Mama selalu jadi orang tua terbaik untuk Rasya. We love you so much, Little Boi'! :*

Wednesday, January 13, 2016

Hello 2016!

Hello!
Tahun 2016 baru lewat 12 hari. Saat ini saya sedang siap-siap acara ulang tahun Rasya di sekolah minggu depan. Memang tahun lalu saya jarang sekali posting di blog. Jumlah post di blog menurun drastis dibandingkan tahun 2014. *tutup muka*

Namun, nggak berarti saya berhenti menulis lho. Saya masih aktif menulis kok, tapi di media yang berbeda hehehe. Saya juga sedang rajin melakoni kegiatan lain yang sama serunya, yaitu kembali aktif menggores dan (kadang) mewarnai. Beberapa coretan saya kerap saya unggah di instagram. Kalau lagi rajin, ya diwarnai, atau asyik mewarnai buku Coloring for Adult gitu. Tapi saya jarang mewarnai sekarang, males :p






Nah, akhir tahun lalu saya 'rayakan' dengan liburan singkat ala road trip ke beberapa kota di Jawa. Liburan bersama keluarga besar kebetulan, sengaja menyewa bus untuk jalan-jalan. Singkat karena hanya 5 hari 4 malam dan menginap 3 malam saja di tiga kota berbeda. Lelah tapi menyenangkan. Alhamdulillah Rasya juga kuat dan nggak rewel, meski jalanan kadang macet.

Dari liburan singkat itu saya langsung meluncur ke Bogor, ke rumah mertua. Nggak melakukan apa-apa sih di sana, tetapi lumayan untuk liburan pendek bertiga. Sempat main ke Kuntum Farmfield, sisanya hanya bermain di taman dan ke Botani Square. Liburan yang nggak ke mana-mana hehehe. Sebenarnya pengen liburan beneran, apa daya suami masih sibuk kuliah dengan tugas-tugasnya. Oya, semester genap ini jadi semester ke-4 bagi suami yang tengah menyelesaikan kuliah profesinya. Doakan lancar ya, supaya bisa berlanjut ke tesis dan wisuda tahun ini. Amin!

Bagaimana dengan Rasya?
Wah, sekarang ada-ada saja tingkah laku dan pertanyaannya. Nanti saya post di cerita terpisah ya. Satu yang pasti, menjelang usia 4 tahun, kepintaran dan keahlian Rasya bertambah! Di satu sisi saya bangga, tetapi di sisi lain harap-harap cemas juga lho, lantaran harus lebih siap siaga menjawab ragam pertanyaan yang ia lontarkan. 

Well, semoga tahun ini berjalan baik dan lancar ya! Mari kita doakan bersama :)