Wednesday, February 15, 2012

Sejak Rasya lahir...

Sejak Rasya lahir, ada banyak sekali perubahan dalam kehidupan saya dan suami. 
Sejak Rasya lahir, status saya dan suami otomatis menjadi orang tua dari laki-laki kecil ini. Waktu, pikiran, dan tenaga kami pun banyak tercurah untuk Rasya. Semuanya menjadi tentang Rasya. Apa-apa tentang Rasya. Apalagi, bagi keluarga kami, Rasya adalah cucu pertama. Perhatian dan kasih sayang berlimpah dari Akas dan Mbay (panggilan Rasya untuk Ayah dan Ami) juga dari Atung dan Eyang Uti (panggilan Rasya untuk Papa dan Mama) menjadi berkah luar biasa bagi kami dan tentunya Rasya.

Saya ingin berbagi sedikit, beberapa hal yang sangat terasa perubahannya sejak Rasya lahir. Ehem, jujur saja, sebelumnya sama sekali tak berpikir ini akan saya alami sendiri ;)


Sejak Rasya lahir ...
  • Ayah Rasya bisa bangun lebih awal daripada saya dan memasak air panas untuk mandi Rasya.
  • Dengan senang hati, Ayah Rasya akan menggantikan popok dan bermain dengan Rasya setiap pulang kerja. Saya bisa beristirahat sejenak dan mengisi amunisi sambil membaca atau nonton (me-time!). Oh, ia tetap akan mencari mamanya kalau lapar hehehe.
  • Saya semakin ahli memandikan Rasya, yeay!
  • Saya sudah berdamai dan sobatan dengan sayur daun katuk. Kalau pas hamil saya bisa mual mencium baunya, sekarang bisa makan dengan lahap, bahkan tanpa nasi sekalipun! 
  • Saya semakin rajin membaca Mommies Daily baik di situsnya maupun forum. Bertanya sana-sini tentang segala hal pada para ibu di sana.
  • Saya dan suami jago multitasking! Sambil menggendong Rasya, bisa tuh sambil menyiapkan bedong atau merapikan sedikit tempat Rasya tidur. Kalau kata suami, main sirkus :p Tapi jangan khawatir, tangan kami berdua cukup kokoh untuk menggendong Rasya dan tentu saja kami memastikan Rasya tetap aman dalam gendongan.
  • Waktu Rasya tidur adalah me-time bagi saya. Bisa saya habiskan dengan tidur, nonton TV, baca buku, atau online
  • Waktu Rasya tidur juga menjadi waktu bagi saya dan suami, mulai dari ngobrol, nonton TV, juga kangen-kangenan hehehehe :">
  • Di sisi lain, waktu Rasya tidur justru memunculkan sedikit rasa sepi. Rasanya rumah dan hati ini lebih tenang ketika Rasya menangis, hehehe :)
  • Pendengaran saya semakin tajam! Eh, kadang malah saya merasa berhalusinasi, rasanya Rasya menangis, tapi kok pas dilihat ternyata anteng? Nah!
  • Moment favorit bersama Rasya adalah saat membuatnya bersendawa! Ekspresi wajah Rasya lucu sekaliiiiiiiii :*
  • Untel-untelan bersama Rasya dan suami juga menjadi moment kesukaan saya sekarang. Buat kami, ini menyenangkan! Godain Rasya yang lagi tidur sambil merencanakan banyak hal untuk Rasya kelak.
  • Pipi Rasya semakin tembem dan enak dikecup-kecup! Oya, saking kuatnya Rasya mimik, kurang dari 1 bulan sejak ia lahir, berat badannya sudah bertambah 1 kg! Sekarang Rasya sudah 4 kg lho!!! 
  • Wangi favorit saya: bau kecut Rasya! :D

Tuesday, February 14, 2012

Rumah Cokelat, potret keluarga muda masa kini

Sitta Karina adalah penulis favorit saya. Saya pernah menulis tentang buku-buku Sitta Karina favorit saya di sini. Selama ini ia dikenal sebagai penulis teen lit, semua novel terdahulunya banyak menceritakan kehidupan remaja dengan segala permasalahannya. Namun, kali ini ia hadir dengan genre Mom Lit, buku yang menceritakan sosok perempuan sebagai istri dan ibu, baik sebagai wanita karir maupun ibu rumah tangga.  


Rumah Cokelat mengisahkan kehidupan Hannah Andhito, seorang ibu muda yang memiliki karir menjanjikan. Ia bersuamikan Wigra Andhito, tipe suami idaman, rupawan dan gagah seperti Eric Dane (yap, Mark Sloan di Grey's Anatomy!), dan ibu dari Razsya, laki-laki kecil yang aktif dan pintar. Hidup Hannah tampak sempurna di mata orang lain, tetapi tidak bagi Hannah. Masalah bermula ketika ia merasa 'kalah saing' dengan Upik, asisten rumah tangganya yang mengasuh Razsya. Pekerjaan ditambah kemacetan Jakarta menjadi momok tersendiri bagi Hannah, terutama soal bagaimana ia membagi waktu antara karir dan keluarga. Ia merasa waktunya bersama Razsya kurang. Razsya tampak lebih akrab dan dekat dengan Upik. Keuntungan bagi Hannah memang, tetapi pada saat bersamaan juga menyayat hatinya ketika Razsya sangat mengandalkan Upik, bukan Hannah yang notabene ibunya. Belum lagi perbedaan pola asuh antara dirinya dan sang ibu. Eyang Yanni tipe nenek yang sangat memanjakan cucu, membuat Hannah panik ketika menemukan ada banyak aturan yang ia buat 'dilanggar' begitu saja oleh Razsya karena diperbolehkan oleh Eyang Yanni. Hannah pusing tujuh keliling: ia ingin memenangkan hati Razsya kembali, ia ingin punya waktu lebih banyak bersama Razsya, tetapi apa yang harus ia lakukan?

Membaca Rumah Cokelat seperti mengukuhkan semua stereotipe saya tentang seorang ibu. Ibu seolah tidak punya waktu untuk beristirahat, bahkan untuk dirinya sendiri. Menjadi ibu berarti selalu siap siaga 24/7 alias 24 jam tujuh hari seminggu (iya, seperti McDonald yang buka 24/7). Belum lagi bagaimana perasaan seorang ibu yang bisa dengan mudahnya naik turun, apalagi menyangkut anak. Ini juga yang diungkapkan oleh Sitta Karina.
Betapa jungkir baliknya perasaan seorang ibu; dari kesal ke senang ke sedih ke gemas ke protektif, namun semua dapat diwakilkan hanya dengan satu kata, yaitu cinta.(hlm. 107)
Membuka halaman-halaman awal, saya mengamini perasaan Hannah yang berusaha melakukan multitasking: mendengar cerita Razsya sambil berkonsentrasi pada majalah gosip, dan berujung kegagalan. Pun saat Eyang Yanni menuduh Hannah terlalu sibuk dengan gadget-nya saat bersama Razsya. Iyaaa, itu semua tipikal ibu-ibu muda zaman sekarang, termasuk saya! 

Meskipun demikian, ada beberapa bagian yang terasa begitu cepat alurnya. Tadinya saya berharap dapat menemukan adegan saat Razsya di day care Pelangi Kecil. Begitu juga bagaimana proses transisi Hannah dari wanita karir menjadi ibu rumah tangga. Jujur saja, bukunya terlalu tipis untuk ukuran seorang Sitta Karina. Rasanya, Lukisan Hujan, Titanium, atau Pesan Dari Bintang lebih tebal, tapi tetap dengan alur cerita yang pas. Saya ingin membaca pergulatan hati Hannah lebih lama :)

Selain itu, saya membayangkan bagaimana jika Hannah tetap bekerja. Solusi seperti apa yang akan ia ambil?   Pasti tantangannya akan lebih besar bukan? 

Nah, adegan favorit saya adalah moment Wigra dan Razsya di playground saat malam hari. Begitu intim dan hangat. Saya pun langsung membayangkan kelak Wigra versi saya (alias suami) juga punya moment serupa bersama Rasya (my Razsya, cuma beda penulisan). Apalagi tipe suami mirip-mirip dengan Wigra, ayah yang dekat dengan anak, meski sekarang Rasya belum genap sebulan. Percaya deh, melihat suami bisa begitu dekat dengan anak akan membuat kita jatuh cinta lagi, persis seperti yang Hannah rasakan! :">

Secara keseluruhan, Rumah Cokelat adalah bacaan ringan tetapi menggelitik. Di sini Sitta Karina tetap mampu membuat kita memproyeksikan diri lewat kisah yang ditulisnya, sangat khas karyanya. Perasaan hangat setiap selesai membaca buku Sitta Karina tetap muncul, seperti yang saya alami saat membaca  satu buku ke buku lainnya. Begitu juga setelah membaca Rumah Cokelat. Meski bukan buku favorit saya, cerita seperti ini tetap saya tunggu. Mudah-mudahan Sitta Karina akan menulis Mom Lit lainnya, dengan permasalahan dan tantangan yang lebih kompleks! :)

"So let's dance in the rain too, instead of just surviving the storm." ~Wigra Andhito (hlm. 199)

Wednesday, February 08, 2012

Featured on Mommies Daily! ;)

Tulisan selengkapnya bisa dibaca di sini

Sebenarnya, tulisan ini saya buat untuk dilombakan dalam 2nd Anniversary Mommies Daily beberapa waktu lalu. Tulisan ini juga saya buat saat hamil 32 minggu.
Namun, baru pada 6 Februari 2012 kemarin tulisan saya dimuat. Meski nggak menang lomba (padahal hadiahnya oke :p), tetapi saya sudah sangat senang sekali tulisan tersebut bisa dimuat. Membuat saya jadi semakin rajin menulis dan berbagi pengalaman sehari-hari, apalagi sejak berstatus Mama Rasya. 

Kadang memang sih kita merasa apa yang kita alami biasa-biasa saja. Akan tetapi, ketika kita BERANI menuangkan pengalaman itu dalam sebuah tulisan, percaya deh, pengalaman yang mungkin terdengar biasa saja bisa menjadi LUAR BIASA bagi orang lain. Seperti yang saya tulis dalam tulisan tersebut, 
After all, we just not read and listen others’ stories, but we also share what we know and what we’ve been through.
pengalaman setiap orang itu unik, itu yang mendorong saya untuk terus menulis dan berbagi apapun yang saya alami. 

Jadi, yuk berani menyuarakan isi hati dan pengalaman lewat tulisan! Mulai saja dari hal-hal kecil dari keseharian kita ;)

Saat Rasya lahir (bagian 2)

Waaahh....maaf baru sempat posting lanjutan cerita lahiran Rasya sekarang! Maklum, ibu baru, jadi masih sibuk mengurus Rasya full-time! Rasya juga lagi kuat-kuatnya mimik, kadang bisa dua ronde. Berhenti sebentar, eh minta lagi. Jadi, mamanya mesti berlomba juga mengisi amunisi ;)

Yuk, dilanjut lagi ceritanya.

(Masih) Rabu, 18 Januari 2012
Keluar ruang operasi, suami dan Mama sudah menunggu. Saya masih sadar penuh sejak Rasya lahir sampai keluar ruangan. Menurut suami, Rasya lahir kira-kira pukul 10.00 WITA, bersamaan dengan Papa mendarat di Balikpapan. Saya pun kembali ke kamar, masih dengan kondisi bagian bawah tubuh kaku karena bius. Waktu itu saya masih lemas dan pusing. Setelah dicek, tekanan darah saya rendah, mencapai 90/60. Perawat pun wanti-wanti untuk memberi tahu jika pusing saya berlanjut. Rasya masih di ruang bayi, saya masih diberikan kesempatan untuk beristirahat. Faktanya sih, saya nggak bisa tidur sama sekali siang itu.

Selama 24 jam ke depan, saya harus bed rest alias tidak boleh turun dari tempat tidur sama sekali. Ketika obat bius habis, haduuuuhhhh................sakitnya luar biasa! Rupanya selain luka bekas operasi yang sakit, saya juga merasakan kontraksi. Katanya, rahim mulai menciut pasca operasi. Memang pendarahan pasca operasi tidak sebanyak jika melahirkan normal, tetapi rasa sakitnya itu lho..... Praktis selama 24 jam pertama saya hanya bisa berbaring dan latihan miring ke kanan kiri. Itu pun harus dibantu karena sumpah, SAKIT BANGET!

Sekitar pukul 15.00, sehabis saya mandi, Rasya datang! Langsung latihan menyusui, dibantu oleh perawatnya. Alhamdulillah, ASI mulai keluar meski belum deras. Semakin sering disusui, semakin lancar ASI-nya. Oya, begitu menyusui, saya benar-benar lupa pada teori menyusui yang saya baca. Hilang semua deh....Prakteknya lebih banyak mengandalkan pengarahan dari perawat dan Mama, plus naluri keibuan saya. Teori? Lupa. Rasa sakit? Lupa. Ketika menyusui Rasya, saya malah semakin termotivasi untuk cepat sembuh dan melupakan sejenak rasa sakit. Merintih sambil menyusui akhirnya jadi hal biasa :)

Kamis, 19 Januari 2012
Setelah dokter Rahmad mengunjungi dan mengecek kondisi saya, saya pun belajar untuk duduk. Rasanya? Sakit! Namun, yang jelas saya bisa langsung duduk bersila. Konon, kalau melahirkan secara normal boro-boro duduk bersila :p Sekalinya bisa duduk, rasanya lebih nyaman. Saya pun belajar berjalan, meski saat berdiri saya harus menahan sejenak lantaran perihnya nggak ketulungan. Motivasi saya adalah lepas kateter! Begitu bisa berjalan ke kamar mandi, kateter pun dilepas. Hore!

Hari ini juga saya mulai belajar dan mencari posisi yang enak menyusui, setelah hari sebelumnya hanya bisa menyusui sambil berbaring. Untunglah suami sigap membantu saya. Oya, sejak malam pertama Rasya lahir, dia sudah tidur bersama saya alias rooming-in. Otomatis, malam pertama kami sudah begadang. Suami langsung bisa menggendong dan menggantikan popok Rasya, meski membedongnya masih berantakan. Hebat kan?! :D


Jumat, 20 Januari 2012
Saya mulai rajin jalan-jalan, meski cuma bolak-balik kamar mandi. Begitu infus saya dilepas, saya juga sudah bisa mengurus Rasya sendiri, setelah sebelumnya banyak dibantu Mama, suami, atau perawat. Rasanya, semakin nggak sabar untuk cepat pulang! Meskipun tekanan darah masih sedikit rendah, tetapi saya merasa lebih sehat dan segar. Memang setelah melahirkan secara caesar, ibu harus bisa cepat pulih. Kalau kita mau bermanja-manja dengan luka bisa saja, tetapi resikonya pemulihan juga akan lebih lama. Rasa sakit itu bisa dilawan kok, apalagi kalau melihat anak :)

Sabtu, 21 Januari 2012
Saat kunjungan dokter anak, Rasya dinyatakan sehat dan boleh pulang sore ini. Saya masih harus menunggu dokter pengganti yang baru akan datang menjelang sore. Harusnya sih, menurut perawat, saya sudah boleh pulang. Alhamdulillah, doa saya terkabul. Sore ini saya boleh pulang!!! Kondisi luka operasi bagus, diplester waterproof dan saya boleh mandi seperti biasa.

Welcome home, Rasya! :D

Tuesday, January 31, 2012

Featured on Nakita no.669!

Alhamdulillah, mejeng lagi di tabloid Nakita no.669/th.XIII/23-29 Januari 2012. Kali ini saya menjadi narasumber rubrik Dunia Batita, dengan artikel 'Stop Perlakuan Negatif' dan rubrik Topik Utama dengan artikel '12 Rahasia Anak Sehat.'

Eh,artikel terakhir saya jawab beberapa hari menjelang persalinan lho! ;)

Ayooo,cari tabloid Nakita! Mudah-mudahan masih ada di tukang koran ya. Terima kasih untuk Mas Irfan Hasuki dari tabloid Nakita!

Enjoy! :D

Sunday, January 22, 2012

Saat Rasya lahir (bagian 1)

Fiuhhh...setelah menginap di RS selama empat malam, akhirnya Rasya sudah di rumah!!! Episode begadang pun berlanjut di rumah, bagi saya dan suami tentunya.

Mumpung Rasya lagi tidur, saya ingin berbagi cerita bagaimana proses persalinan Rasya. Terima kasih pada kecanggihan teknologi yang memungkinkan saya membuat post di blog secara mobile.

Selasa, 17 Januari 2012 pukul 19.30
Saya, Mama & suami sudah tiba di RS. Sementara suami mengurus administrasi, saya & mama menunggu di bagian depan RS. Kemudian kami langsung berjalan menuju ruang perawatan kebidanan. Begitu sampai, perawat memeriksa kondisi saya di ruang periksa. Mulai dari tekanan darah, suhu tubuh, sampai rekam denyut jantung bayi. Perut saya dilingkari semacam tali dengan alat mirip stetoskop yang berfungsi merekam denyut jantung bayi dan suaranya terdengar lewat sebuah alat yang juga menghasilkan grafik denyut jantung. Selama 20 menit, denyut jantung bayi direkam. Setelah seluruh pemeriksaan selesai, saya diperbolehkan masuk ke kamar rawat inap. Malam itu, Mama menemani saya. Itulah malam terakhir saya tidur dengan perut buncit hehehe.

Kamis, 18 Januari 2012
Persiapan menjelang operasi dimulai dengan merekam denyut jantung bayi, pemasangan infus, dan yang super nggak enak adalah...pasang kateter! Ouch!! Jangan ditanya rasanya seperti apa, pasti males untuk ketemu kateter lagi. Perlengkapan komplit, sekitar pukul 9 pun saya menuju ruang operasi,ditemani suami, Mama, diikuti Ami dan Ayah. Selama menunggu, saya bolak-balik membaca doa sambil memegang tangan suami. Sempat gugup dan takut, saya pun memutuskan untuk mendengarkan beberapa lagu lewat iPod sambil tetap berdoa. Tegang? Banget!

Sekitar 30 menit kemudian, saya masuk ruang operasi. Melihat & mengamati, kurang lebih miriplah seperti ruang operasi di serial Grey's Anatomy. Dua lampu besar, peralatan yang entah untuk apa saja, dan tempat tidur operasi yang sama sekali nggak empuk.

Pertama, proses pembiusan lewat suntikan di bagian bawah punggung, atau dikenal dengan epidural. Dua kali suntik dan obat bius langsung bekerja. Saya merasa bagian perut ke bawah kesemutan, tidak bisa digerakkan. Kedua, selang oksigen dan pengukur detak jantung pun dipasang. Lalu tepat di atas dada saya dipasang tirai, sehingga saya tidak bisa melihat jalannya operasi. Salah seorang perawat sempat bertanya, apakah saya bisa melihat area yang akan dibedah lewat pantulan lampu besar itu. Saya bilang, untung minus mata saya besar, jadi nggak bisa melihat apapun dengan jelas :p

Sebelum operasi, dr. Rahmad memimpin doa agar operasi berjalan lancar. Dan...operasi dimulai! Ada rasanya? Iya, saya tahu kok perut saya diobok-obok, tetapi tidak sakit. Lagipula ada seorang perawat yang mengajak saya ngobrol sehingga perhatian saya agak teralihkan. Tak sampai 30 menit setelah perut diobok-obok, tiba-tiba saya merasa sesak dan mual. Rupanya, saat itulah bayi saya diangkat. Dua orang perawat membantu mendorong (entah apa yang didorong) dari bagian atas. Sesaat rasa sesak itu berlalu, saya mendengar tangisan bayi!!! Alhamdulillah....

Lalu perawat menunjukkan pada saya, sosok bayi mungil putih bersih, dan matanya hitam sekali. 'Cowok ya bu, beratnya sekitar 2,9 kg.' Saya tersenyum dan menangis... :')

'Halo, sayang. Kamu ganteng sekali...'


(Bersambung)

Thursday, January 19, 2012

Welcome our baby boy! :*

Finally! Alhamdulillah!
Please introduce baby Rasya, born in Bontang, Jan 18 2012, 2.88kg, 46 cm :*

Best gift from Allah SWT ever!

Monday, January 16, 2012

Waiting for a miracle(14): Counting the days!

Wow! Hari kelahiran si baby boy sudah semakin dekat! Insya Allah lusa saya akan menjalani operasi caesar. Tadi pagi bersama Mama dan Ami, saya konsultasi ke dokter anestesi, sebagai persiapan opesi. Pada kontrol terakhir minggu lalu saya juga sudah diminta melakukan cek darah. Alhamdulillah semuanya tadi berjalan lancar, sudah mendaftar rawat inap juga. Besok malam saya sudah dijadualkan masuk RS.

Bagaimana persiapan di rumah? Sudah siap sedia! Koper sudah, perlengkapan pribadi sudah, perlengkapan bayi untuk pulang juga sudah. Saya membawa dua tas, satu berisikan keperluan saya, satu lagi untuk keperluan bayi. Apa saja yang saya bawa? :)
  • 2 buah pakaian kancing depan
  • 1 buah daster kancing depan
  • 1 buah dress untuk dipakai pasca operasi (katanya, kalau pakai celana lebih sakit, enakan pakai dress)
  • pakaian dalam (celana dan bra menyusui)
  • sarung 
  • handuk
  • kosmetik dan perlengkapan mandi
  • gurita ibu
  • pembalut
  • Perlengkapan bayi: selimut topi, topi, sarung tangan, sarung kaki, pakaian bayi, celana, popok, bedong, cologne, minyak telon, diapers (ada beberapa barang yang lebih untuk jaga-jaga, just in case we need it)
Perlengkapan suami sepertinya nggak terlalu heboh, karena RS tempat saya melahirkan dekat dari rumah. Suami juga berencana menginap dan pagi pulang untuk mandi dan ganti pakaian. Oh, yang penting pastikan saja suami membawa sarung atau menggunakan jaket, supaya tidak kedinginan saat tidur. Bahkan, kami juga berencana membawa kasur lipat untuk alas tidur supaya tidak terlalu dingin. Maklum, tidur di lantai. 

Selain itu, meja untuk menggantikan pakaian si baby juga sudah siap. Segala macam perlengkapan bayi sudah duduk manis di tempatnya masing-masing, tinggal menunggu beraksi! Baby box masih menunggu tangan dingin Papa untuk memasangnya.

Tas isi perlengkapan bayi
Perlengkapan mandi dan kosmetik
Perlengkapan saya dan selimut topi
Baby tafel jadi-jadian :D
Sekarang tinggal persiapan mental saya dan suami. Eh, khususnya saya sih. Namun, setiap orang yang bertanya apakah saya deg-degan atau stres, saya sih menjawab biasa saja, bahkan cenderung santai. Saya mencoba menikmati masa-masa menjelang kelahiran si baby dengan memperbanyak waktu tidur (oye!), bermain game, nonton TV, atau kegiatan me-time lainnya. Pasti setelah si baby lahir, waktu saya=waktu si baby. Jadi, mari menikmati hari ini dan besok! Setelah hari Rabu, hidup saya pasti berubah total, tentu perubahan yang saya tunggu setelah 9 bulan ;)

Mohon doanya, semoga persalinan berjalan lancar dan si baby lahir sehat dan selamat. Amin! :D