Laman

  • Home
  • GARAGE SALE!!!
  • About Me
  • Contact Me

Wednesday, January 28, 2015

Tahun Ketiga Rasya


Dear Rasya,

Rasya sudah tiga tahun sekarang!
Jagoan kecil Mama sudah tambah besar.
Tiap Ayah ketemu Rasya pasti terheran-heran dan takjub dengan segala kelihaian Rasya berbicara
Mama saja yang ketemu setiap hari bingung, kok Rasya bisa berkata macam-macam

Rasya tumbuh jadi anak yang aktif dan cerdas
Matamu yang bulat dan besar itu, kata orang mata anak pintar
Ada banyak sekali hal kecil yang dulu Mama tuturkan (bahkan sejak kamu dalam perut!) mulai tampak buah manisnya
Alhamdulillah apa yang Mama ajarkan bisa Rasya serap dengan sangaaaaattt baik
Belum lagi cerita Uti, Atung, dan semua orang di rumah tentang polah Rasya
Bikin Mama senyum-senyum bangga dan senang dengan setiap hal kecil yang sudah Rasya kuasai

Rasya,
perjalananmu masih panjang
Nantinya ada banyak hal yang akan lebih kamu kenali, ketahui, dan dalami
Juga tantangan yang harus kamu hadapi

Doa Mama dan Ayah selalu teruntai
untuk setiap kata yang kamu ucap
untuk setiap langkah yang kamu jalani
Semoga Rasya terus tumbuh dan berkembang menjadi anak hebat
Kelak bisa jadi kakak kesayangan untuk adik-adikmu (jadi kapan Rasya mau punya adik?)
dan tentunya kebanggaan Ayah Mama

Selamat naik kelas, Rasya! :*

Saturday, January 17, 2015

Pertama di Tahun Baru 2015

Halo!
Selamat Tahun Baru!

Saya sedikit galau gara-gara lihat jumlah post di tahun 2014 menurun drastis dibandingkan tahun 2013. Sebetulnya itu bisa berarti banyak sih, bisa jadi karena di tahun sebelumnya saya sering punya waktu luang atau karena tahun lalu saya terlalu sibuk atau malah........malas! Yah, apapun itu saya berniat untuk lebih produktif di tahun ini, tahun di mana saya bakal berkepala 3 :p

Liburan akhir tahun saya lewati bersama suami dan Rasya, menikmati liburan bertiga di tengah kota. Maklumlah, kami masih terkena euforia 'baru pindah ke kota habis dari pelosok' jadi ya tetap tujuannya apalagi kalau bukan mall. Pilihan menginap di Hotel Whiz Cikini menjadi pilihan tepat karena memang kami berniat dolan di sekitar sana. Sempat ingin mampir ke Planetarium, sayang saat kami ke sana sudah kemalaman dan esok harinya tidak sempat ke sana lagi. Untung kami sempat icip-icip Bus City Tour (gratis!). Kami pilih naik dari halte Sarinah dan turun di Pasar Baru. Walaupun tidak kebagian tempat duduk di atas, tapi lumayanlah. Kapan-kapan bisa dicoba lagi! 


Di Pasar Baru kami makan bakmi Gang Kelinci dan berlanjut window shopping baju-baju second plus suami beli perlengkapan kameranya. Iya, saya baru kali ini benar-benar menjelajahi Pasar Baru dan takjub lihat pakaian second itu. Ada beberapa yang bagus, dan membuat saya seperti menemukan harta karun. Saya naksir beberapa  dress, tapi sayang ukurannya terlalu kecil. Uhuk! 

Dari situ kami melaju ke Thamrin City. Ini kali pertama saya menyambangi Thamrin City dan cuma satu kata yang tepat untuk mendeskripsikannya: surga! Kalau nggak ingat rekening itu punya batas, pasti saya bisa belanja macam-macam! Itu saja sudah banyak dan saya nyaris kalap. Keluar dari sana tentengan kami beranak-pinak. 

Save the best for last. Dari Thamrin City, kami menyeberang ke Grand Indonesia. Tujuan kami ke sana cuma beli mainan Rasya dan ke Uniqlo. Eh ternyata suami pun ikut melipir ke Plastic Culture. Pulang dari sana, tentengan kami pun tambah. Rasanya hepi banget pulang jalan seharian, masing-masing punya belanjaan sendiri. 

Sepulang belanja, kami hanya di kamar menunggu pergantian tahun. Awalnya sih ingin ke Monas, cuma kami mengurungkan niat itu lantaran sempat hujan dan Rasya juga capek jalan seharian. Akhirnya ya di kamar saja, bahkan saya sempat tidur. Sejak pukul 8 malam, kembang api sudah bergantian mewarnai langit malam dan terlihat jelas lewat jendela kamar. Rasya pun sempat melihat kembang api bersahut-sahutan, sehingga ia nggak perlu tunggu sampai tengah malam. Pas jam 12 saya dan suami saling bertukar ucapan. Lalu berlanjut dengan minta makan ke suami, hihihi. Ia pun jalan ke Seven Eleven, membelikan cemilan tengah malam yang berkalori tinggi. Nggak apa-apalah ya, daripada tidur pun nggak tenang :p

Oya, salah satu alasan kami memilih hotel di Cikini juga karena dekat dengan stasiun. Kami memang pulang pergi dengan commuter line dari Bogor. Jadi, liburan kali ini walau nggak jauh, tetap bisa berganti suasana. Lumayan banget memangkas budget ongkos, dibandingkan saat pergi ke Jogja bulan Agustus lalu. Kalau saya pribadi sih, ingin selalu mengusahakan liburan bertiga, apalagi akses kami ke daerah-daerah sekitar Jakarta atau Jawa lebih dekat sekarang. 

Meskipun tabungan lumayan terkuras, tapi saya ikhlas karena toh uang dipakai untuk bersenang-senang bersama keluarga. Tabungan habis, maka waktunya bekerja lebih keras lagi. Next time, saya ingin liburan ke pantai deh. Kangen sama pantai, jadi ingat main-main ke Beras Basah dulu. Bau pantai itu lain banget! Mudah-mudahan bisa terwujud!

Satu lagi, tengah bulan ini anak lanang saya akan berusia 3 tahun. Saya sudah menyiapkan pernak-pernik untuk merayakannya di sekolah. Ini ulang tahun pertama Rasya yang dirayakan. Saya pun ingin menjadikannya spesial. Temanya tentu saja Cars, favorit Rasya. Di post selanjutnya akan saya bahas detil persiapannya ya! 

Semangat baru di tahun baru! :)

Wednesday, December 17, 2014

Sebuah Catatan Diri tentang Tumbuh Kembang Rasya


Ini bukan catatan perkembangan Rasya.
Ini adalah perenungan saya sebagai seorang ibu, yang kebetulan pernah mengenyam pendidikan di jurusan psikologi.

Sejak kuliah saya memang tertarik dengan isu-isu pendidikan dan perkembangan. Saya merasa di situlah passion saya. Dulu banyak sekali teori perkembangan yang saya lahap, bahkan saya punya satu buah buku teks psikologi perkembangan asli dan berbahasa Inggris. Saya tahu teori A, B, C, dan seterusnya, tetapi setelah menikah dan punya anak, mendadak teori itu menguap.

Nggak butuh teori untuk menjadi ibu, walaupun saya membaca banyak buku bagaimana merawat bayi saat hamil. Saya juga membaca bagaimana cara menyusui yang baik dan benar, tapi saat menyusui langsung saya lupa apa saja yang terbaca. Saya tahu teorinya, tetapi saat (ujian) praktek, mendadak hilang semua hapalannya :p

Saya hanya punya insting dan naluri saya sebagai seorang ibu, berikut perasaan ingin melindungi, menjaga, dan merawat makhluk mungil hadiah dari Tuhan ini, yang jumlahnya unlimited, tak terbatas. Kadang insting dan naluri itu juga yang 'menjebak' saya dalam sederet kekhawatiran tentang tantangan tumbuh kembang Rasya. Belum lagi rentetan pertanyaan dari orang-orang di sekitar yang turut khawatir pada perkembangan Rasya, saya pun makin khawatir. Seperti yang saya cemaskan soal kapan ia berjalan, alergi, disapih, potty training, sampai berbicara.

Pada akhirnya, saya menjalani saja semua kekhawatiran itu. Walaupun saya sangat khawatir, beruntung suami saya tipe orang yang santai, tidak terburu-buru menilai sesuatu, dan terus mengajak saya memandang tantangan itu dari berbagai perspektif. Itu pedoman kami dalam menghadapi tantangan tumbuh kembang Rasya. Kami percaya bahwa Rasya punya timeline-nya sendiri untuk menyelesaikan tugas perkembangannya. So, meski saya sering khawatir berlebihan, kekhawatiran itu hanya sebatas ucapan saja. Seperti saat Rasya belum lancar bicara hingga usia 2 tahun 4 bulan. Saya sudah ancang-ancang pergi ke dokter spesialis tumbuh kembang, tapi nggak jadi lantaran pas pindah ke Jakarta dan sekolah, tahu-tahu bicaranya sudah lancar.

Kalau duluuuu saat Rasya masih bayi saya rajin banget isi development charts, sekarang Alhamdulillah cukup dipantau saja. Untungnya Rasya sudah bersekolah, sehingga saya jadi tahu bagaimana perkembangan teman-teman seusianya. Bukan mencari pembanding, tapi untuk tahu apakah Rasya berada pada jalur yang tepat atau melihat lagi keterampilan apa yang perlu dibangun dalam dirinya.
There's one basic rule you should remember about development charts that will save you countless hours of worry. The fact that a child passes through a particular developmental stage is always more important than the age of that child when he or she does it. In the long run, it really doesn't matter whether you learn to walk at ten months or fifteen months—as long as you learn how to walk.
- Lawrence Kutner, child psychologist
Khawatir berlebihan terhadap apapun itu tak selamanya baik, apalagi sampai merespon dengan reaktif. Begitu pula jika bicara tentang tantangan yang muncul dalam masa tumbuh kembang anak. Hal terpenting adalah kenyataan bahwa anak dapat menyelesaikan tugas perkembangannya atau lulus pada setiap tahap perkembangannya, bukan soal kapan atau umur berapa ia mencapainya. Ya itu tadi, anak punya timeline sendiri yang pasti berbeda dengan anak lainnya, bahkan saudara kembarnya sekalipun. Kecenderungan kita untuk membandingkan anak itulah yang sebetulnya bikin kita khawatir tingkat tinggi 'kan? Kalau sudah begitu, saya sering mengingatkan diri sendiri, bikin self-reminder untuk tidak membandingkan pencapaian anak saya dengan anak lain, dan sebaliknya.

Hal terakhir itu yang mendorong saya menuliskan pemikiran ini, as a self-reminder for me. Perjalanan Rasya masih panjang, ia masih akan melewati banyak fase perkembangan yang akan lebih menantang dari saat ini. Daripada bingung kenapa anak belum bisa ini itu, lebih baik berpikir sebaliknya: apa yang sudah bisa ia lakukan, apa yang sudah ia capai? Supaya rasa khawatir itu berkurang, tapi tetap berusaha mencari tahu atau memberi stimulus untuk merangsang keterampilan tersebut. 

Inginnya sih, sikap ini terus terbawa sampai Rasya dewasa kelak (juga adik-adiknya nanti). Mudah-mudahan bisa! :)


Saturday, November 22, 2014

Kata Rasya (3): Sejuta Alasan

Salah satu konsekuensi yang harus saya dapatkan ketika memilih untuk bekerja adalah melewatkan beragam celoteh Rasya sejak ia bangun tidur di pagi hingga sore hari. Beruntung saya masih bisa mendengarnya lewat cerita orang rumah, yang kadang membuahkan tawa geli. Namun, bagi saya, lebih beruntung lagi karena Rasya tetap mau berbagi celotehnya pada saya.

Sudah sebulan ini ia semakin pintar berbicara, bahkan bercerita panjang lebar dengan sedikit panduan pertanyaan. Belum lagi selalu ada saja alasan yang dibuatnya untuk menjawab kalimat yang dilontarkan orang dewasa di sekitarnya. Jawaban dan alasan yang dibuatnya, kok bisa selalu masuk akal. Saya jadi geli mendengar Rasya berbicara dengan logika sederhana yang mulai ia kuasai dengan baik. Kenapa? Karena saya tidak pernah berpikir akan mendengar alasan itu dari bocah kecil yang usianya hampir 3 tahun.

Cerita Satu
Uti Rasya pamit padanya karena mau berangkat mengajar piano.
Uti     : Rasya, Uti berangkat ngajar piano dulu ya. Rasya di rumah sama Nin.
Rasya : Nggak. Nin aja yang ngajar pineno (piano), Uti di rumah aja sama Caca.

Sudah bisa bolak-balik logika! 

Cerita Dua
Rasya disuruh mandi sore oleh Atung.
Atung : Rasya, mandi yuk, udah sore nih!
Rasya : Nggak mau mandi, aku udah wangi, Atung!

Sepertinya dia tahu bahwa mandi atau nggak mandi, Mama tetap suka bau asyemnya dan buat dia itu 'wangi' :p

Cerita Tiga
Rasya sedang memohon pada Ayah supaya dibukakan pocky, cemilan favoritnya.
Rasya  : Ayah, bukain pocky!
Ayah   : Nggak mau, Rasya belum makan malam. Makan dulu baru boleh makan pocky.
Rasya  : Bukain pocky! Bukain!
Ayah   : Pocky-nya nggak ada (ambil pocky dan plastik isi cemilan Rasya)
Rasya  : ..... ya beliin lagi aja!
Ayah   : Nggak
Rasya  : (menunduk sambil menghela nafas)

Jawaban cerdas! Kalau pocky nggak ada, ya minta beliin lagi aja. Saya cuma ketawa cekikikan ngeliat dialog ini berlangsung. 

Cerita Empat
Ini dapat laporan dari Ayah Rasya, saya tulis alasannya saja ya. Suatu pagi di hari Senin, kebetulan suami lagi di rumah dan sedang berusaha membujuk Rasya untuk sekolah. Tapi Rasya nggak mau sekolah, alasannya banyak banget:
  • mau sama Ayah aja! (pasti Ayahnya senang banget dijawab begini, tapi kan tetep harus sekolah)
  • mau minum susu!
  • nonton Masha aja!
  • mau bobo lagi!
  • mau makan buah! 
Makin lama alasannya makin nggak jelas, tapi ya begitulah, show must go on. Akhirnya Rasya pun pergi sekolah meski ia marah-marah. Toh di sekolah pun dia tetap senang bermain dan lupa dengan marah-marahnya tadi :p

Cerita Lima
Weekend adalah waktu spesial bagi kami bertiga. Kami harus menyempatkan diri untuk berkumpul dan pergi bersama. Suatu siang di mall, Rasya asyik main di Fun World. Dia suka banget segala macam permainan pemadam kebakaran dan mobil-mobilan. Karena sudah lama main, kami memutuskan untuk pindah ke tempat lain. Ya sesuai dugaan, reaksi Rasya adalah tidak mau pindah, masih mau main. Ia pun rewel setelah keluar dari Fun World, apalagi begitu kami ajak makan. 
Rasya  : Nggak mau makan, mau main ajaaaaa (sambil merengek)
Ayah    : Kan Rasya harus makan dulu. Atau Rasya sini aja sama Ayah, bobo? Bobo koala? (sambil peluk Rasya)
Rasya   :  Nggak mau bobo koalaaaaaa (tapi pas kepalanya direbahkan di dada Ayah, dia nurut eh...nggak lama tidur pulas)

Kata suami, kalau Rasya sudah memberi alasan aneh-aneh atas sesuatu hal, sebetulnya ia sudah mengantuk. Tinggal peluk dan usap-usap, ia pasti tidur :)

Kayaknya sih masih banyak lagi alasan yang sering dikumandangkan Rasya. Kadang saat melihat dia berceloteh panjang lebar, saya sangaaaaaattt berterima kasih pada Allah SWT karena sudah melahirkannya. Melihatnya tumbuh besar adalah kenikmatan paling yang saya syukuri saat ini!



Tuesday, November 04, 2014

Ke Mana Bayi Kecil Itu?

Ke mana ya, bayi kecil yang dulu selalu membutuhkan bantuan untuk melakukan banyak hal?
Ke mana ya, bayi kecil yang dulu hanya bisa tidur tenang setelah disusui?
Ke mana ya, bayi kecil yang dulu hanya bisa menangis kala ingin sesuatu?

Bayi kecil itu sudah tumbuh besar!

Lihat saja kakinya, sudah bisa pakai ukuran 23
dan bisa mengayuh sepeda dengan cepat, walau kadang jalannya sepeda miring-miring
Baju bayinya jelas nggak muat lagi
Celana piyamanya sudah nyingkrang semua
Lengan bajunya seolah memendek mendekati bahu
Rasanya perlu beli pakaian baru beberapa bulan sekali (asyik! alasan untuk belanja lagi!)

Enam bulan lalu pun ia belum pandai berbicara
Kini bicaranya sudah paaaaaannnnnjjjjjaaaaaannnngggg
Bukan cuma merangkai kata menjadi satu kalimat panjang,
tapi juga berceloteh, bercerita tentang apa yang dilakukannya di sekolah, atau buku kesukaannya
Juga menjawab semua kalimat Ayah Mama dengan jawaban yang masuk akal
Membolak-balik logika
Bahkan mengklaim 'ini punyaku!'

Tapi, ia tetap bayi kecil Mama

Sampai sebesar apapun ia tetap bayi kecil Mama
yang selalu Mama peluk setiap malam
yang senang ndesel ndesel di pelukan Mama
yang senang nangkring di atas perut, 'mau tidur koala,' begitu katanya
yang menangis sedih kalau dilarang Mama, tapi tetap mau peluk Mama walau (mungkin) kesal ke Mama

Anak lanang,
Mama menunggu lebih banyak kejutan kecil yang akan kamu berikan bertahun-tahun ke depan!
Tapi, kamu tetap bayi kecil Mama

sampai kapanpun :*

Monday, October 13, 2014

Kata Rasya (2): Panas-Dingin

Saya sering bingung, kok anak seusia Rasya sudah punya pemahaman sendiri mengenai berbagai hal. Padahal, tak semua yang ia pahami itu diajarkan oleh saya, suami, atau orang-orang yang ada di rumah. Tahu tahu ia datang dengan sejumlah pemahaman baru yang membuat saya geli atau terpana.

Ini terjadi beberapa minggu lalu. Jarum jam sudah beranjak dari angka 8 malam. Teorinya sih, Rasya sudah mengantuk, tapi kenyataannya belum. Rupanya ia lapar, dan bergegas ke meja makan, duduk di kursi yang biasa ditempati Atung-nya. Ia lalu mengambil sepiring mie goreng yang sengaja dibeli oleh Uti-nya. Rasya menyentuh mie goreng itu.
'Rasya mau mie goreng?'
'Mie dingin, panas(in),' kata Rasya sambil mendorong mie itu menjauh darinya.
'Lho, nggak apa-apa, kan tetap enak mie-nya. Rasya makan mie goreng ya?' Jawab saya sambil mengambil piring itu lagi.
Rasya memegang lagi mie-nya dan mendorong lagi piring itu.
'Nggak, mie panas(in). Panas(in)!' begitu respon Rasya sambil setengah merengek. Akhirnya, mie itu pun dipanaskan, baru deh ia mau makan lahap sampai habis.

Lain waktu, Rasya saya suguhi susu UHT yang sengaja saya hangatkan. Ketika saya berikan padanya, serta merta ia menolak keras sambil bilang, 'Mau mooo dingin! Mooo dingin!' Saya pun memasukkan susu itu ke lemari es beberapa saat, bahkan saya tambahkan susu dingin supaya terasa 'dingin'. 

Rupanya, dalam pemahaman Rasya, susu UHT itu paling enak diminum dingin. Untung kalau saya berikan susu kotak yang tidak dingin dia nggak masalah. Dia cuma nggak mau minum susu UHT hangat saja, sementara susu bubuk yang diseduh air panas ia tetap mau minum sampai habis.

Inilah serunya jadi orang tua, mengamati anak belajar dan memahami banyak hal. Perasaannya campur aduk, geli, bingung, kagum, dan pastinya, bangga luar biasa :)

Friday, October 10, 2014

Kata Rasya (1): Uis!

Satu hal yang saya kagum dari Rasya adalah ia sangat cepat menyerap segala informasi yang pernah ia lihat, dengar, dan rasakan. Bahkan, beberapa saat setelah informasi itu ia 'pelajari' ia langsung bisa menirunya, contoh tarian atau gerakan kungfu shaolin yang pernah ia tonton atraksinya beberapa waktu lalu. 

Bagaimana dengan segala sesuatu yang ia lihat sehari-hari? Ini salah satu contohnya.

Suatu malam, saat saya dan Kiky, adik saya sedang santai di kamar, Rasya tiba-tiba mengambil payung kecil dan menggulungnya beberapa kali.
Saya
:
Rasya lagi gulung apa?
Rasya
:
Gulung gulung uis
Kiky
:
Uis? Risoles, coba bilang risoles
Rasya
:
Risowes! Uis!
Saya
:
Emang risolesnya isi apa, Sya?
Rasya
:
Isi ragut ayam, ragut papi! Ragut ayam, ragut papi!
(Ragout ayam & ragout sapi maksudnya)
Saya & Kiky
:
Wuaahaahahahahaha :'D
(ketawa geli sampai sakit perut--> nggak berharap kata 'ragut'
keluar dari mulut Rasya soalnya)
Saya
:
Ada isi Bolognese juga?
Rasya
:
Bonenes! Bonenes!
Kiky
:
(lapor ke Juragan Risoles) Maaa, ini cucunya tahu
Uti sering gulung risoles, sampai tahu ada isi
ragout ayam dan ragout sapi

Nah lho! Next time kalau Uti Rasya jualan risoles, sepertinya Rasya bisa bantu jadi pemasar cilik. Soalnya, dia pun tahu Risoles Risolkoe punya berbagai rasa hehehe :D

Rasya dan risoles favoritnya, rasa bolognese