Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Wednesday, September 14, 2016

Tiga Cerita Bahagia

Lama tak bersua di sini.
Kembali mengatasnamakan kesibukan, meski sebetulnya semata kesulitan mengatur waktu antara pekerjaan, keluarga, dan diri sendiri. Namun, tak apa, saya kembali dengan segudang cerita yang pastinya bernuansa positif, ya kebahagiaan. Mulai dari mana ya? Hmmm...bagaimana kalau dengan ini?



27 Agustus 2016
Alhamdulillah suami telah berhasil menyelesaikan studi S2 Magister Profesi Psikologi di Universitas Indonesia. Tugas belajar dua tahun yang diemban suami tuntas dengan perjuangan luar biasa. Ada banyak sekali cerita suka duka di balik multiperan yang harus dimainkan suami selama berada di ibukota. Sebagai anak, suami, ayah, sekaligus mahasiswa full-time, suami cukup sulit membagi waktu dan perhatiannya. Apalagi kuliah profesi sangat padat, belum lagi magang di berbagai perusahaan, juga kerja kelompok yang tak ada habisnya. Menghadapi drama perkuliahan hanyalah satu episode yang hari-hari harus dijalani suami. Belum lagi drama ibukota dengan perjalanan komuter Bogor-Depok-Pamulang. Tidak setiap hari memang, tetapi ada kalanya ia harus juggling sampai seheboh itu. 

Nggak melebih-lebihkan kok, memang itu adanya. Masih ditambah begadang mengerjakan tugas, atau bimbang antara menghabiskan waktu bermain bersama Rasya atau mengerjakan tugas. Juga urusan quality time kami berdua. Wah, rasanya 24 jam 7 hari seminggu itu masih kurang! Pun saya, yang harus tetap terus-terusan menyemangati suami untuk terus maju dan berjuang dengan tugas kuliah sampai tesis. Ini masih belum menyebut kendala finansial yang juga kami hadapi. Namun, pada akhirnya seluruh tangis dan keringat itu berbuah manis saat melihat suami diwisuda pada akhir Agustus lalu. Hasil perjuangan dua tahun yang dirasa cukup panjang, tetapi ketika perjuangan itu mencapai titik akhir yang kami lihat hanyalah betapa nikmatnya melewati proses itu semua bersama-sama :)

Di saat yang sama, saya dan Rasya juga harus menerima kenyataan bahwa suami harus segera kembali ke Bontang dan bekerja seperti semula. Another LDR story will begin. Suka nggak suka, mau nggak mau, kami sudah bersepakat untuk hal ini. Saya dan Rasya akan tetap di Jakarta sampai tahun depan. Rasya masih melanjutkan kelas TK B, sementara saya tetap bekerja sambil menanti rejeki lainnya.




Menjelang Lebaran lalu...
Saya menyadari bahwa saya sudah telat datang bulan. Padahal, ketika itu saya tengah bolak-balik BSD- Bogor untuk bekerja sementara Rasya di rumah mertua. Setelah melakukan test pack kedua kalinya di akhir pekan sebelum Lebaran, Alhamdulillah kami kembali dipercayakan oleh Allah SWT seorang calon bayi. Foto di atas adalah hasil USG saya di minggu ke-13 kehamilan ini. Apakah memang program? Ya, ini memang kesepakatan saya dan suami di saat suami sibuk-sibuknya bikin tesis, hehehe. Sebuah kesepakatan yang tiba-tiba disetujui suami saat siang hari bolong dan ia langsung memberitahu saya via whatsapp :p 

Setelah keguguran tahun lalu, saya memang melonggarkan diri 6 bulan untuk tidak langsung jadi lagi, mengingat saya hamil Rasya hanya selang 45 hari setelah dikuret karena hamil kosong. Memasuki awal tahun 2016, lama-lama saya nggak tahan juga untuk membujuk suami hehe. Pertimbangan suami masuk akal sih kenapa ia belum mau: urusan kuliah dan Rasya saja sudah menyita perhatian dan waktunya, maka menambahkan saya hamil mungkin membuatnya semakin complicated. Namun, menjelang kesibukannya bikin tesis, suami malah sepakat dengan proposal yang saya ajukan hahaha. 

Si adik kecil dalam rahim saya ini adalah "percobaan" bulan ketiga kami setelah kami sepakat untuk melakukan program. Lucunya, Rasya malah beberapa kali mengatakan demikian sambil mengusap perut saya, "Di dalam perut Mama ada adik bayi ya? Mama hamil ya?" sebelum saya tahu saya benar hamil. Ia mengatakan itu sampai tiga kali! Apakah memang ia merasakannya ya? Entahlah, yang pasti Rasya cukup excited dengan kehamilan saya ini. 

Rasya juga kami ajak setiap periksa rutin ke dokter. Saat periksa di minggu ke-13 lalu, ternyata si adik pun memberikan kami kejutan. Tangan dan kakinya bergerak-gerak aktif saat di-USG. Saya, suami, dan Rasya sampai terpukau melihatnya. Sebab seingat saya dulu Rasya cukup anteng dalam usia kandungan minggu ke-12. Mungkin makin ke sini janin pun juga semakin pintar ya? 

Selain itu, berbeda dengan kehamilan Rasya dulu, aktivitas Rasya selama hamil juga lebih sibuk. Tak heran jika saya lebih cepat merasa lelah dan ngantuk. Oke sih, untuk ngantuk, dari dulu pun saya memang pelor, haha. Namun, kondisi hamil melipatgandakan semuanya. Belum lagi saat terlalu lelah saya sering migren atau sampai kliyengan parah. Mual masih sedikit saya rasakan, tetapi satu hal yang pasti adalah frekuensi makan yang lebih sering! Bisa setiap jam saya makan atau ngemil hehehe. Sejauh ini sih soal ngidam masih relatif teratasi, kecuali ngidam kepiting saus padang Melati atau gami bawis Bontang. Itu sepertinya susah diwujudkan :(

To do list berikut yang perlu saya dan suami lakukan adalah mencari rumah sakit yang tepat untuk melahirkan nanti. Tepat dalam arti segala hal: jarak, dokter, lingkungan, fasilitas, dan tentu saja biaya. Sebab kini saya masih memilih rumah sakit dekat kantor untuk periksa rutin, tetapi biaya melahirkan di sana sangatlah mahal. Maka mencari alternatif berikutnya patut dilakukan. Mudah-mudahan per akhir bulan ini kami sempat melakukan hunting rumah sakit.

Tentang Rasya
Pasti banyak sekali cerita soal tumbuh kembang Rasya. Lain kali saya akan ceritakan terpisah yaa. Namun, sepanjang tahun ini, saya melihat Rasya semakin mandiri dan sudah terdorong untuk mengandalkan dirinya sendiri. Salah satu pencapaian terbesar Rasya adalah ikut lomba mewarnai sendiri. 

Pertama kalinya Rasya beneran ikut lomba mewarnai dan mengerjakan sendiri, ya sendiri!
Saya hanya bisa menunggu dan mengamatinya dari jauh saja. Sempat deg2an, khawatir ia mencari saya, khawatir ia menangis, khawatir ia ngambek di tengah jalan.
Namun, di luar dugaan, Rasya sukses melakukannya sendiri. Mulai dari pilih warna, mewarnai, memberikan hasilnya pada panitia, sampai membereskan barang2nya sendiri. Saya kagum. Salut pada kemandirian si anak lanang ini.
Usianya belum genap 5 tahun, tapi banyak hal yang ingin ia lakukan sendiri sekarang. Ia selalu berusaha meyakinkan saya, "Aku bisa sendiri, Ma!"di saat saya khawatir atau ragu padanya. Tapi seiring waktu, saya semakin percaya pada Rasya, bahwa ia memang sudah besar dan sudah mulai belajar mengandalkan dirinya sendiri.
Hari ini Rasya membuktikan semuanya! Buat Mama, Rasya sudah memenangkan hati Mama untuk sikap mandiri Rasya yang kini sudah naik setingkat!
Selamat, Mas Rasya! 

Melihat Rasya seperti itu, saya yakin ia bisa menjadi kakak yang baik nantinya. Mungkin memang ini waktu yang tepat dirancang oleh Allah untuk kami semua. Menunggu Rasya lebih besar untuk punya adik, sehingga ia bisa lebih memahami kondisi kehamilan saya (dan beda lho hamil usia 20-an dan 30-an :p) dan juga mau mengurus dirinya sendiri, meski tak semua hal. Rasya sering bilang begini, "Mama kalau kecapekan bilang ya, harus istirahat." Ah, Nang, Mama jadi terharu mendengar ucapan itu dari kamu, yang kalau tidur kelonan masih kayak bayi. Terima kasih ya, Mas, eh Kak!

Jadi, itulah tiga hal yang membuat kami gembira sepanjang tahun 2016 ini. Semoga tahun ini juga membawa lebih banyak kebahagiaan buat kita semua yaaaa! Amin!

Wednesday, January 20, 2016

Tahun Keempat Rasya



Dear Rasya,

Hai si anak empat tahun!
Wow, sekarang Rasya sudah semakin besar ya. Rasanya baru kemarin Rasya lahir ke dunia. Rasanya baru kemarin Rasya sibuk ndusel-ndusel di dekapan Mama sambil menyusu. Rasanya baru kemarin Rasya bisa berjalan, lari-lari sampai lompat-lompat. Rasanya baru kemarin Mama panik karena Rasya belum lancar bicara, dan tiba-tiba bendungan kata Rasya runtuh begitu saja, sampai Rasya semakin lihai bertutur kata. Rasanya baru kemarin Rasya sekolah PAUD, sekarang sudah di TK A dan semakin cakap dalam banyak hal.

Celotehan "Aku bisa sendiri" atau "Ajarin aku, Ma" lebih sering Mama dengar. Tetapi nggak jarang juga jawaban "Mama aja yang beresin" sambil melengos. Belum lagi rengekan Rasya setiap minta sesuatu dan harus dituruti saat itu juga. Mama bingung, betapa anak lanang satu ini mulai pandai menjawab dan memilah kata. 

Lain waktu, Rasya sibuk merangkai kalimat menjadi sebuah cerita. Bertutur tiada henti, juga 'menghidupkan' mini-figure Lego dengan beragam karakter. Jika sedang jalan-jalan, Rasya sibuk bertanya apapun yang ingin Rasya ketahui. Kadang Mama bisa menjawab, kadang Mama harus cari tahu lagi. Tapi Rasya selalu bertanya terus sampai puas dengan jawaban Mama, dan Rasya akan bilang, "Oh begitu ya, Ma."

Sebesar-besarnya Rasya sekarang, Rasya tetap mon bébé, bayi Mama. Selalu teriak-teriak panggil Mama setiap Mama ada di rumah. "Mamaaaa! Mamaaaa! Mama di mana?" atau versi ibu, "Ibuuu!" dan Rasya minta dipanggil 'Kakak.' Bayi kecil Ayah juga. Belakangan kita bertiga senang banget kruntelan menumpuk seperti burger. Rasya kadang di tengah-tengah, "Aku jadi penyet, Ma!" sambil double kiss dan double hug

Dan tahukah Rasya, Mama paling senang jika lihat Rasya gembira menyambut Ayah setiap Ayah pulang ke rumah Uti. Rasya akan menyambut Ayah dengan teriakan kencang, "Ayaaaaahhh!" Terima kasih lho, Nang.

Please tetap terus jadi kesayangan Mama dan Ayah ya. Meski Mama tahu, Rasya semakin besar semakin bertambah banyak hal baru yang harus Mama dan Ayah pelajari juga. Semoga Ayah Mama selalu jadi orang tua terbaik untuk Rasya. We love you so much, Little Boi'! :*

Wednesday, January 13, 2016

Hello 2016!

Hello!
Tahun 2016 baru lewat 12 hari. Saat ini saya sedang siap-siap acara ulang tahun Rasya di sekolah minggu depan. Memang tahun lalu saya jarang sekali posting di blog. Jumlah post di blog menurun drastis dibandingkan tahun 2014. *tutup muka*

Namun, nggak berarti saya berhenti menulis lho. Saya masih aktif menulis kok, tapi di media yang berbeda hehehe. Saya juga sedang rajin melakoni kegiatan lain yang sama serunya, yaitu kembali aktif menggores dan (kadang) mewarnai. Beberapa coretan saya kerap saya unggah di instagram. Kalau lagi rajin, ya diwarnai, atau asyik mewarnai buku Coloring for Adult gitu. Tapi saya jarang mewarnai sekarang, males :p






Nah, akhir tahun lalu saya 'rayakan' dengan liburan singkat ala road trip ke beberapa kota di Jawa. Liburan bersama keluarga besar kebetulan, sengaja menyewa bus untuk jalan-jalan. Singkat karena hanya 5 hari 4 malam dan menginap 3 malam saja di tiga kota berbeda. Lelah tapi menyenangkan. Alhamdulillah Rasya juga kuat dan nggak rewel, meski jalanan kadang macet.

Dari liburan singkat itu saya langsung meluncur ke Bogor, ke rumah mertua. Nggak melakukan apa-apa sih di sana, tetapi lumayan untuk liburan pendek bertiga. Sempat main ke Kuntum Farmfield, sisanya hanya bermain di taman dan ke Botani Square. Liburan yang nggak ke mana-mana hehehe. Sebenarnya pengen liburan beneran, apa daya suami masih sibuk kuliah dengan tugas-tugasnya. Oya, semester genap ini jadi semester ke-4 bagi suami yang tengah menyelesaikan kuliah profesinya. Doakan lancar ya, supaya bisa berlanjut ke tesis dan wisuda tahun ini. Amin!

Bagaimana dengan Rasya?
Wah, sekarang ada-ada saja tingkah laku dan pertanyaannya. Nanti saya post di cerita terpisah ya. Satu yang pasti, menjelang usia 4 tahun, kepintaran dan keahlian Rasya bertambah! Di satu sisi saya bangga, tetapi di sisi lain harap-harap cemas juga lho, lantaran harus lebih siap siaga menjawab ragam pertanyaan yang ia lontarkan. 

Well, semoga tahun ini berjalan baik dan lancar ya! Mari kita doakan bersama :)

Thursday, November 19, 2015

Catatan Rasya (30): Corat-Coret Bermakna


Main cat dan kuas
(Oktober 2014)
Heyho!
Lama tak bersua! Maafkan saya yang meninggalkan blog ini lantaran kesibukan menggila beberapa waktu belakangan. Sebetulnya, nggak pernah ada alasan tepat untuk mengabaikan blog, bukan karena nggak sempat, tapi memang nggak mau. But anyway, rasanya ini waktu yang tepat untuk berbagi cerita terbaru tentang Rasya, si anak lanang.

Kadang nih, saya khawatir momen penting tentang Rasya terlewatkan begitu saja jika saya lupa menulisnya. Makanya, kalau saya tak sempat post di blog, saya sering post status di Path atau FB. Well, it helps me a lot. Bagaimana kabar anak lanang? 

Dia tumbuh sangaaaattttt cepat! Menjelang akhir semester I duduk di TK A, ada banyak kemampuan Rasya yang berkembang pesat, sampai saya sering takjub melihatnya. Kebetulan, saya bukan tipe orang tua yang cukup telaten untuk mengajari anak di rumah alias mengulang pelajaran sekolah (oke, kecuali saat ia SD nanti). Saya merasa, apa yang ia pelajari di sekolah sudah cukup, berlebih malah. Tanpa saya tahu, ternyata di sekolah Rasya sudah belajar mewarnai, menggambar, bahkan menebalkan huruf. Hmm...apa iya anak TK A harus sudah sampai pada tingkat itu? Terlebih lagi, wali kelas Rasya sangat telaten mengulang apa yang dipelajari anak-anak hari itu, dengan menanyai mereka satu persatu sebelum pulang sekolah. Kadang kok malah saya yang takut anak-anak ini belajar level yang lebih advance terlalu awal. Makanya, di rumah saya tidak ingin memaksa Rasya mengulang semua apa yang ia pelajari di sekolah, KECUALI ia sendiri yang memeragakannya di depan saya atau ia meminta bantuan saya untuk mengajarinya. 

Salah satu corat-coret Rasya pertama
(Desember 2013)
"Prasasti" bikinan Rasya di dinding rumah Bontang
(April 2014)

Nah, ini yang terjadi belakangan ini. Rasya tak lagi hanya sibuk bermain mobil-mobilan, sepeda, atau nonton Disney Junior, ia juga mulai tertarik corat-coret. Dari dulu, saat di Bontang, ia sebetulnya sudah tertarik corat-coret. Dinding ruang tamu jadi saksi bisu hasil coretan Rasya yang merah merona :p Sejak pindah ke sini, bukan sekali dua kali saya belikan buku mewarnai. Namun, ia belum begitu tertarik. Paling Rasya suka bermain cat dan kuas. Lama kelamaan ia suka sekali corat-coret di whiteboard dengan spidol. Kebetulan, saya pernah baca bahwa menulis di bidang vertikal adalah salah satu cara tepat untuk melatih prewriting skills anak. Jadilah Rasya dapat 'hibah' whiteboard kecil di rumah dari Uti. 

Rasya senang bermain menjadi guru, di mana ia adalah pak guru dan saya muridnya. Ia akan menunjukkan 'keahlian' barunya, membuat berbagai bentuk, angka, dan huruf. Kalau sudah begitu, Rasya tampak sangat bangga dan ia bilang, "Ma, Ma, aku bisa bikin angka 2!" Hampir setiap hari ia corat-coret whiteboard kesayangannya. Kadang ia minta saya mencontohkan, bagaimana bikin huruf ini atau angka ini. "Ma, aku nggak bisa bikin angka 7. Angka 7 gimana, Ma?" Juga saat ia terbalik membuat angka atau huruf. Hihihi, lucunya. 
Minggu ini bisa dibilang minggu pencapaian Rasya, bagi saya tentunya. Tahu-tahu ia bisa bikin gambar mobil, setelah beberapa kali melihat contoh gambar dari ayahnya, saya, dan Gilang. Kemarin malam, Uti cerita bahwa menurut gurunya, Rasya sudah bisa menulis namanya sendiri. Ia pun langsung mempraktekkannya. Meski masih perlu perbaikan sedikit, tapi ia sudah paham namanya terdiri dari huruf apa saja. Tahu tidak, mendengar dan melihat sendiri kemajuan Rasya saja bikin saya merinding sekaligus terharu. Alhamdulillah. Semoga saja kurikulum yang diterapkan sekolah masih dalam batas wajar, artinya tak mendorong anak untuk lebih cepat membaca, menulis, dan berhitung. Jika Rasya belum bisa mengikutinya dengan baik, saya tak ingin memaksanya. Biarkan ia sendiri yang 'mencari tahu' kapan ia bisa melakukan semuanya. Ia akan sampai sendiri kok ke garis finish, kita tinggal support 100% pada apa yang ia lakukan.

Dan bagian paling melegakan adalah, saat saya bertanya apakah ia senang belajar, ia menjawab,

"Aku suka belajar, Ma."

Terima kasih, Rasya, mudah-mudahan memang menyekolahkan kamu lebih awal adalah keputusan tepat Ayah dan Mama. Mama senang Rasya bisa dan mau mengikuti semua kegiatan sekolah dengan happy (eh, masih ada satu PR, yaitu supaya Rasya mau ikut berenang!). Semoga sekolah tetap akan menyenangkan untuk kamu nantinya. Kalaupun di sekolah tak sesuai harapan, kita bisa membuat pelajarannya jadi seru dan menyenangkan di rumah! *self-note*

"Anak-anak ini gambar apa?" tanya Rasya
"Roketttt!"
(Oktober 2015)
Ini mobil
(November 2015)

Wednesday, August 26, 2015

We'll Meet Again :') - part 2

Tak disangka, saya perlu menuliskan soal ini kembali, kedua kalinya. Sejauh ini, saya sudah merelakan dan ikhlas, tetapi rasanya tetap ada sebagian diri saya yang limbung, membutuhkan penopang lebih besar dari biasanya. 

Sejujurnya, sejak awal melihat dua garis merah, perasaan saya memang campur aduk. Bahagia iya, karena bisa memberikan adik untuk Rasya. Waswas juga, mengingat pengalaman hamil pertama yang ujungnya blighted ovum dan dikuret. Risau juga karena memikirkan banyak hal yang perlu dipersiapkan seterusnya. Saya sendiri kadang mempertanyakan kesiapan diri ini untuk kehamilan ketiga. Kesiapan tubuh, waktu, dana, dan kemampuan untuk membagi perhatian antara Rasya, suami, dan diri sendiri. Sampai akhirnya saya terlalu lelah dan flek berkelanjutan hingga harus bedrest total.

Saya pun sulit menemukan batas, seberapa cepat saya lelah, seberapa lama saya tahan beraktivitas. Ujungnya, minggu lalu saya flek terus menerus. Mulai dari flek pink, coklat, hingga darah segar. Panik tapi berusaha tetap cool, nggak ingin bikin suami khawatir, tapi ya nggak mungkin memang. 

Selasa lalu, saya ke dokter kandungan untuk memeriksa kondisi kandungan. Dokter bilang, penebalan rahim memang sudah ada, tetapi kantung janin mungkin belum terbentuk. Dokter mengharuskan saya bedrest total dan dirawat di RS. Bagi saya, ini pengalaman yang berbeda dari dua kehamilan sebelumnya. Jika kehamilan pertama yang blighted ovum itu berakhir dengan pendarahan super banyak dan harus dikuret, maka kehamilan ketiga ini saya flek tak berhenti, sekalipun sudah diberi anti perdarahan. Hari kedua saya bedrest, sekuat-kuatnya saya berdoa, Allah berkehendak lain. Rabu siang, saya merasa 'sesuatu' keluar saat buang air kecil. Firasat saya nggak enak. Setelah gumpalan itu diperiksa oleh perawat, saya langsung telepon Mama dan suami. Saya bilang pada suami, "Sudah pasrah saja, Yah. Rasanya ini nggak bisa lanjut." 

Benar saja, saat dokter memeriksa saya sore hari, itu memang sesuatu yang luruh dari rahim saya. Karena luruhnya tidak bersih benar, maka saya harus dikuret (lagi). Menghadapi tindakan kuretase, berarti harus mengumpulkan segenap keberanian lagi untuk melangkah ke ruang operasi. Saya hanya bisa menggandeng tangan Rasya yang ikut mengantar masuk ke ruang operasi, sambil menahan tangis. 

Sebelum operasi, dokter kandungan menyapa saya dan berpesan untuk berdoa. Saya tak sadar selama operasi, yang saya tahu ruangan itu begitu dingin. Begitu saya tersadar, saya hanya bisa bersuara pelan, mengumpulkan kesadaran, dan memanggil suami dan Rasya. Tak lama, saya pun dipindah kembali ke kamar. Di sana sudah menunggu suami, Rasya, dan keluarga. Saat melihat Rasya, saya hanya bisa menangis dan bilang, "Maaf ya, Rasya, adik bayinya nggak jadi datang." Rasya memeluk saya, tampak riang, entah dia mengerti atau tidak. Namun, melihat Rasya ceria adalah obat bagi saya.

Pemulihan adalah proses yang ternyata memakan waktu lebih lama. Rasanya sih lebih lambat daripada pasca kuret di kehamilan pertama. Mungkin karena faktor umur ya? Atau faktor lainnya, seperti kondisi psikologis saya yang tak semantap dulu. Terlalu banyak pikiran mungkin. Menulis ini pun setelah saya merasa 'lebih mantap' dan berdamai dengan keadaan. Agaknya dokter cukup bijak memberikan waktu istirahat selama tujuh hari, sehingga kondisi fisik dan psikis bisa sama-sama membaik perlahan. 

Malam setelah dikuret, saya takut sekali tidur. Saya takut jika tidur saya terbayang semua hal yang menyedihkan itu. Esok paginya pun, saya masih menangis mengingat hal ini. Dua hari setelahnya, saat seorang sahabat menghubungi saya, saya menceritakan semua dengan isak tangis lagi. Cengeng? Saya kira nggak, tapi ini proses dari menerima semuanya. Ketika saya menuliskan cerita ini di blog pribadi, saya merasa lebih ikhlas dan pasrah. Lebih tenang dan lebih bersyukur. Kondisi fisik masih 75%, sudah bisa beraktivitas normal, tetapi masih agak payah kalau harus pergi dan berdiri terlalu lama. Kondisi psikis saya boleh dibilang 85% hampir pulih. Masih ada sisa-sisa rasa sedih, tapi nggak membuat saya segitu drop-nya seperti minggu lalu. 

Ya, hidup memang harus berlanjut. Kejadian ini menjadi alarm bagi saya bahwa ketika hamil lagi nantinya (amin!), saya harus ekstra istirahat dan betul-betul tidak boleh stres atau lelah. Tubuh saya ternyata tak sekuat biasanya jika sedang hamil. Sambil bersiap-siap 'menjemput' adik bayi untuk Rasya, kami sekeluarga perlu lebih bersiap diri dalam banyak hal. Semoga kelak hal baik ini akan kembali berkunjung ke keluarga saya. We'll meet again, Lil' baby :')


Tuesday, July 21, 2015

Liburan Lebaran Istimewa


Pertama, izinkan saya dan keluarga menghaturkan 'Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H.' Semoga bulan Ramadan yang berlalu memberikan berkah dan puasa kita diterima Allah SWT. Semoga di hari raya ini kita semua bersukacita dan kembali fitrah. Mohon maaf lahir dan batin :)

Lebaran kali ini adalah Lebaran kedua kami di Jakarta. Satu tahun sejak pindah (kembali) ke ibukota, ada banyak cerita yang telah kami lalui bersama. Nanti saya ceritakan di bagian lain ya, juga tentang apa yang terjadi dua bulan belakangan ini. Liburan Lebaran tahun ini kami menyempatkan diri mudik ke Sukabumi, setelah absen tahun lalu. Walau hanya sebentar, tapi perjalanan ke sana cukup menyenangkan. Apalagi kembali ke Bogor menggunakan kereta. Pertama kalinya nih saya dan keluarga naik kereta Pangrango jurusan Sukabumi-Bogor. Rasya sih sudah pasti excited, dia nggak sabar menunggu kereta jalan. Begitu kereta jalan, wajahnya kaget tapi senyum-senyum senang. "Eh? Mama keretanya jalan! Ayo kita lihat pemandangan!" kata Rasya.

Selama di Bogor mah, kerjaan saya dan suami ya jalan-jalan terus. Kencan melulu deh! Walau nggak berduaan terus, tapi pas pergi bersama pun kami memisahkan diri dan putar-putar berdua. Kemarin malah kami niat banget pergi ke Grand Indonesia, cuma untuk makan-nonton-makan-lihat2 toko buku. Hmmm...ya memang rutinitas liburan itu nggak jauh-jauh dari makan makan dan makan :D

Cuma ya liburan itu selalu datang dengan konsekuensi: dompet tipis. THR betul-betul numpang lewat, permisi aja nggak hahaha. Tapi benar kata seorang teman, THR itu sebenarnya jatah orang lain yang harus dibagikan. Orang lain itu siapa, ya keluarga dekat, orang yang sering bantu-bantu kita, dst. Jadi, ya nggak sedih-sedih amat sih dompet tipis, yang penting keluarga senang gembira, sama-sama menikmati Lebaran, sama-sama kebagian nikmatnya hari raya. Makanya, kelamaan liburan juga nggak baik kan? *nyengir*

Ayo, ayo semangat kerja lagi, mumpung tenaga dan pikiran sudah diisi ulang. Saya masih sisa cuti satu hari nih, mau dipakai untuk kembali ke rumah dan beres-beres sedikit. Lusa masuk kerja dan sudah ditunggu berbagai deadline!

Semangat menebalkan isi dompet!

Rasya pamer amplop salam tempel, katanya untuk beli permen yupi!



Sunday, May 17, 2015

Super Show 6, Finally! (2)

Yuk mari dilanjut di sini!

Ngantri sendirian 2 jam itu nggak capek sebetulnya karena sebagian besar waktu saya habiskan dengan duduk ndlosor di lantai ICE. Plus obrolan ringan dengan sesama ELF juga lumayan menghibur. Bahkan, saya sempat beli cemilan lagi! 

Sekitar pukul 13.40 antrian Yellow A diminta masuk. Wah kami semua langsung bergerak cepat. Kirain bakal masuk beneran ke venue, tahunya masih ngantri lagi di hall sebelah tempat pertunjukan. Untung nggak lama, 10 menit kemudian kami boleh masuk ke lokasi. Semua pemegang tiket Yellow A betul-betul excited! Berlari-lari kecil menuju area tempat berdiri, berusaha cari tempat terbaik untuk nonton. 

Pertama kali masuk venue, saya langsung speechless. Nggak bisa berkata-kata pas melihat panggung sebesar dan semegah itu di depan mata. Ditambah layar lebar yang berada tepat di depan tempat saya berdiri. OMG! OMG! Malah saya merinding dan terharu karena AKHIRNYA BISA NONTON SS6! --> iya, harus di-bold, underline, dan dalam huruf kapital! 

Sudah di dalam venue!
Bagi saya, nonton SS6 adalah impian yang terwujud. Saya memang suka Super Junior dan Super Show adalah salah satu pertunjukan yang layak ditunggu. Dana besar yang dikeluarkan pun rasanya nggak akan terbuang percuma kok! Demi Siwon, pujaan hati zaman muda. Demi Super Junior, boyband favorit yang bikin saya tergila-gila lagi sebulan ini. Nonton SS6 itu seperti CLBK, Cinta Lama Bersemi Kembali hehehe :* Bener lho, sebulan belakangan saya rajin putar ulang lagu-lagu Super Junior, khususnya di album ke-7. Supaya telinga ini familiar lagi, soalnya sudah lumayan lama absen dengar lagu Super Junior.

Balik lagi ke kekaguman saya soal panggung SS6. Panggung itu dekat banget dengan section tempat saya berdiri. Saya pun sibuk foto-foto sambil nyanyi2 lagu Super Junior yang diputar. Yap, kehebohannya sudah terasa sejak belum dimulai. Tepat pukul 14.00 pertunjukan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ini juga salah satu momen mengejutkan, tapi bikin bangga! Kemudian dilanjutkan dengan VCR Super Junior dan lagu Twins sebagai opening

WOW!
Opening yang super keren! Detik itu saya cuma menganga dan geleng-geleng kepala berulang kali karena merasa takjub bisa menyaksikan SS6 dengan mata kepala sendiri. Siwon! Saya satu ruangan dengan Siwon! AAAAAAAAAA *oke, ini sudah lebay*

Berturut-turut lagu Bonamana dan Sorry Sorry. Memang nggak mungkin cuma berdiri manis sih. Walau saya nggak bisa teriak-teriak, tapi saya ikut loncat-loncat bernyanyi bersama. Apalagi komposisi lagunya lumayan berimbang antara lagu dari album terdahulu dengan lagu baru. Jadi untuk penggemar lama seperti saya nggak bengong lah nonton konsernya.

Sambil nonton saya juga sibuk merekam beberapa penampilan mereka. Habis dekat banget dengan layar, walau panggung juga lumayan dekat. Sayang, para membernya nggak begitu sering ke sisi panggung itu. Tapi tetap aja, saya histeris setiap ada yang mampir ke situ!

Dari sekian lagu yang ditampilkan hari itu, lagu Too Many Beautiful Girls adalah lagu yang paling memorable bagi saya. Selain project 'Thank You Handsome' yang dilakukan ELF, lautan Sapphire Blue juga membuat momen itu lebih spesial. 


It was beautiful!
Dan di situ saya merasa memang Super Junior ini spesial, berbeda dengan boyband lainnya. Mereka memperlakukan fans dengan begitu baik, sehingga kebanyakan ELF memang sangat loyal pada Super Junior. Makanya, saya malah jatuh cinta lagi dengan Super Junior :D


Kesempatan langka itu pun yang membuka mata saya bahwa ternyata member Super Junior ya ampun bening banget! Saya yang selama ini tergila-gila pada Siwon malah jadi ikutan ngefans ke semua member. Ah, kenapa mereka semua ganteng banget sih??? Sesi perkenalan juga jadi salah satu sesi pendekatan saya dengan member lainnya, yang sukses bikin saya senyum-senyum sendiri setiap melihat mereka bicara. Berikut pendapat saya setelah melihat sendiri semua member Super Junior.
  1. Heechul. Dulu saya nggak suka Heechul karena terlalu 'wanita', tapi pas lihat aslinya, uuuuhhh dia manisssss sekali! Lihat polah lucunya bikin gemes!
  2. Zhou Mi ramah banget! Pas Super Junior M tampil, dia sempat ke panggung dekat section saya dan ya ampun senyumnyaaaaa............................*meleleh*
  3. Henry GANTENG banget! Aslinya ganteng banget! Saya suka lihat dia beraksi dan entah kenapa dia senang sekali kedip mata yang bikin hati mahmud ini bergetar (mahmud = mamah muda :p)
  4. Donghae yang nggak pernah lepas dari kacamata hitamnya. Tapi pas dia pakai kacamata biasa malah kelihatan nerd yang super ganteng! Sini mahmud bawa pulang deh!
  5. Eunhyuk jago banget dance! Keprok keprok untuk aksi tarian Eunhyuk!
  6. Kangin, OMG, GANTEEEENGGGG POLLLL!!!! *mahmud kucek2 mata saking beningnya Kangin*
  7. Ryeowook pas nyanyi Bunga Terakhir, WOOOOOWWWW...........keren! Suaranya memang nggak perlu diragukan lagi. Mudah-mudahan KRY bakal manggung di Jakarta juga yaaa. 
  8. Kyuhyun pas handstand dan langsung dipeluk Siwon, AAAAAAAA super cute banget!!!! Kalau yang ini mahmud bawa pulang lah untuk ditowel-towel yaaaaa.
  9. Leeteuk sang leader yang manissss sekali! Usahanya menghapal beberapa kata dalam bahasa patut benar-benar keren! Di sisi lain polahnya juga lucu dan iseng, bikin saya dagdigdug lihat dia di panggung.
  10. Siwon, pujaan hati sepanjang masa. Saya sampai merekam Siwon solo khusus dengan satu handphone yang nggak digabung dengan fancam lainnya. Akhirnya, ketemu SI GANTENG BERPERUT RATA (dia sempat tunjukin perut ratanya itu dan saya ...............tersipu malu melihatnya..........). Senyumnya, suaranya, polahnya, aaaaaahh.................makin jatuh hati ini lihat Siwon. Bahkan beberapa hari setelah konser pun saya masih senyum-senyum lihat video Siwon nyanyi Lost Stars :*

Kesimpulannya, saya PUAS BANGET nonton Super Show 6! Betul-betul memanjakan mata, telinga, dan hati saya sebagai ELF. Memang kelihatan sekali Super Junior selalu berusaha menyenangkan penggemarnya dan sangat sangat menunjukkan kecintaan mereka pada fans yang begitu loyal. Super Show ini adalah wujud cinta Super Junior pada ELF, makanya mereka pun nggak tanggung-tanggung saat berkonser. Saking puasnya, sampai sekarang pun saya masih gagal move on dari SS6, sampai detik ini saya menulis post di blog.

Sepulang konser yang berlangsung 3,5 jam itu, suami langsung bertanya apakah saya happy? Jawaban saya, iya happy banget!!!! Dan saya sangat-sangat berterima kasih pada suami dan Rasya karena mengizinkan saya menikmati me-time sejenak sambil melihat cowok-cowok ganteng hehehe. Terlebih pada suami yang rela berdesak-desakan ikut antri meski nggak nonton :*

Semoga saja tahun-tahun berikutnya masih akan ada Super Show di Jakarta ya! Oh, satu alasan lagi kenapa saya cuma suka Super Junior meski banyaaakkk banget boyband Korea bertebaran. Karena Super Junior memang istimewa! :)
 
Model rambut Heechul bagus!
Lighting dan sound yang luar biasa
Megah!
Itu lho, tangan Siwon kekar banget, enak untuk peluk2 *eh*
Kangin kenapa ganteng ya?

...........................