Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Tuesday, August 29, 2006

Buku yang membuatku terinspirasi

15 Agustus 2006

Pukul 12.13, Gramedia Jl. Jend. Sudirman, Jogjakarta

Penat berjalan dari Gamawisata-Gading Mas-Gamawisata, ternyata nggak cukup kuat membatalkan rencanaku ke Gramedia. Aku sudah janji pada Gilang untuk membelikan buku stiker kesukaannya. Aku membelikannya dua buku stiker sekaligus, ditambah dengan buku belajar matematika dalam bentuk komik dan buku cerita bergambar. Lalu aku teringat, aku ingin membeli buku tentang Blog. Langsung saja aku menuju rak buku-buku tentang internet. Tadaaaaaa….. aku menemukannya! Ternyata ada dua buku yang mengupas tentang blog, tetapi karena harga buku yang aku pegang pertama kali lebih murah dan kelihatannya lebih praktis, aku pun memilih buku berukuran tidak terlalu besar itu. Hmmm….kelihatan ringkas, padat, jelas, dan cukup membuatku untuk lekas mencoba langkah-langkah dalam buku itu. Meskipun aku sudah punya sebuah blog di www.blogger.com (givemuch-expectlittle di mizzygirl.blogspot.com) dan satu lagi di www.friendster.com (upperheaven), toh aku ingin membuat sebuah blog lagi. Rencananya siy blog yang satu itu untuk menuangkan ide-ideku yang kerap tak tertuliskan, meskipun belakangan ini sudah sedikit banyak aku tuangkan dalam blog di FS.

Oke, balik lagi ke acara belanjaku di Gramedia. Setelah berkeliling melihat komik dan novel remaja (sayangnya tidak ada yang menarik hati), aku teringat sesuatu. Buku biografi Wimar Witoelar (WW) yang ditulis oleh Fira Basuki. Ketika hari Minggu ke Plaza Ambarukmo dengan Nay, dia menunjukkan buku itu padaku. Saat itu aku urung membelinya karena uangku sudah terpakai untuk membeli barang lain. Nah, waktu melihat buku itu di tumpukan buku baru, tanpa ragu aku langsung membelinya. Mengapa? Pertama, aku penggemar berat Fira Basuki. Hampir semua bukunya aku baca. Buku favoritku adalah Trilogi Jendela-Jendela, Pintu, Atap, lalu Biru, dan seri Ms. B. Kedua, aku membaca di majalah bahwa Fira berjanji akan menghadirkan sebuah biografi yang berbeda dengan biografi biasanya.

Itu saja alasannya. Secara khusus, aku memang nggak pernah mengamati sepak terjang WW, kecuali tahu dia adalah juru bicara mantan presiden Gus Dur dan keahliannya sebagai pembawa acara talk show Perspektif dan Selayang Pandang (itu pun aku harus mengingat-ingat lagi apakah aku pernah menonton kedua tayangan itu). Namun, kemasan buku Wimar Witoelar:”Hell, Yeah!”* memang sangat pop, menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Apalagi, foto WW dan Fira sangat ekspresif, tidak kaku, dan memperlihatkan kehangatan hubungan mereka.

Ok, aku pun segera membayar buku-buku itu.

Pukul 13.32, kamar kos, selemparan batu saja dari kampus Atma Jaya Mrican

Dengan kaki lecet akibat ‘salah’ sepatu (kurang lebih rasanya seperti salah kostum), aku terpaksa ‘merelakan’ uang Rp 11.500,00 untuk ongkos taksi. Setelah menelpon my dear, aku pun penasaran membuka buku itu. Membuka halaman-halaman pertama, membaca kata pengantar dari Fira, sudah cukup membuatku penasaran ingin melanjutkan ke halaman-halaman berikutnya. The First Impressions, itu bagian pertama dari buku. Menarik, berisi kesan pertama orang-orang yang berada dalam lingkaran hidup WW. Semakin aku tertarik dan terhanyut dalam kisah hidup WW yang sungguh-sungguh dituturkan Fira dengan bahasa yang santai. Aku seperti diceritakan langsung oleh seorang Fira Basuki yang berada di hadapanku. Sekelebat muncul pula adegan-adegan kisah WW dalam benakku, tergambar begitu saja di sini.

Pukul 20.36, di depan laptop yang diletakkan di atas tempat tidur

Saat menulis ini, aku sudah membaca sampai bagian ketiga, Terbang Tinggi (Kupu-kupu atau Angsa Rupawan?). Sejauh ini aku sudah bisa menyimpulkan bahwa buku ini sangat inspiratif! Aku suka cara Fira menuturkan kisah WW, aku kagum dengan perjalanan hidup WW, aku penasaran tentang kisah cinta WW yang hanya sekali jatuh cinta dan menikahi Suvatchara Leeaphon, dan aku salut dengan tekadnya untuk tetap berada pada posisi netral. Hmm….buku ini bagus sekali! Buat teman-teman yang suka baca biografi orang terkenal, pastinya harus membaca buku ini. Aku pun jarang membaca biografi (biografi yang terakhir kubaca adalah biografi Bung Karno yang ditulis oleh seorang ajudannya, kalau nggak salah judulnya Sewindu Dekat Bung Karno, tapi aku lupa nama penulisnya). Namun, menurutku Fira berhasil membuktikan bahwa menulis biografi tak selamanya harus formal, serius, dan kaku. Malah dengan biografi ala Fira Basuki bisa menunjukkan betul bagaimana sosok WW sebenarnya. Terlihat olehku, WW termasuk orang yang rendah hati, low profile, dan menyenangkan. Wah……nggak sabar untuk baca lagi niy! (^^)

18 Agustus 2006

Pukul 07.41, my private room, di rumahku, Ciputat

Met pagi, dunia! Ah, senang banget niy! Aku dah kelar baca biografi WW. So excited! Nggak bisa berhenti untuk membaca setiap halaman. Jadi, kesan terakhir setelah membaca biografi ini, WW adalah seseorang yang menyenangkan, terbuka, suka menolong, ramah, dan berpikiran positif. Di sisi lain, WW bisa menjadi sangat sensitif dan moody. Ummpppphhhh… Fira dengan baik menggambarkan WW berdasarkan fakta-fakta yang ia temui setiap bersama WW. Aku suka sekali buku ini!

Bagian yang paling aku suka adalah Hell, Yeah! yang memuat cerita-cerita WW saat bersama karyawan IMX dan ketika ia bertemu sahabat-sahabatnya yang ada di mana-mana, mulai dari Echi, tukang creambath langganan WW, sampai Juddi Muljadi, sahabat WW ketika di ITB. Semua orang senang berada dekat dengan WW, semua orang yang dekat dengan WW memiliki pandangan positif tentang dirinya. Hmm… apakah kelak aku bisa seperti WW? Ia bisa membiarkan begitu saja hidupnya mengalir bak air. Ia bisa tetap layaknya seorang petualang yang selalu senang menjelajahi sisi kehidupan. Kata Dr. Greg Barton, Life is an adventure, seen with childlike wonder.” Tidak ambisius toh nggak membuat WW menyesal, malah membuat WW bersyukur dan sangat menikmati apa yang telah ia alaminya sepanjang usianya. Enak banget ya kalau kita hidup seperti itu, nggak mengejar sesuatu yang tinggi, hanya punya mimpi, tapi bisa tetap bersyukur dengan apa yang sudah dipunya. Just to love and be loved in return…Itu yang dikatakan WW.

Pasti indah banget ya kalau banyak orang berpikiran seperti WW?

Bukan kapasitasku untuk menilai seorang WW hanya dengan membaca biografinya. Namun, sejujurnya aku sangat terkesan dengan WW. Ia patut ditiru, bisa menjadi teladan. WW membuatku bersemangat untuk menjalani hidup. Aku ingin belajar menikmati hidup, setiap detik yang diberikanNya, setiap hasil yang kuraih. Menjadi orang yang lebih baik dalam arti sebenarnya.

Sungguh, aku ingin berkenalan dengan WW. Hehehehehe (^^)>

Friday, August 25, 2006

Sewaktu 17 Agustus 2006...


Menghabiskan waktu di rumah saja

Hari ini hari ulang tahun Indonesia lho! Yup, seperti tahun-tahun sebelumnya, ritualku di hari ini adalah nonton Detik-detik Proklamasi yang disiarkan langsung di televisi. Biar kata Ilham itu acara membosankan, buatku itu adalah acara yang menyenangkan dan bisa membuatku berdecak kagum sekaligus merinding! Paling keren waktu Paskibraka menjalankan tugasnya (aku selalu bermimpi andai aku bisa menjadi bagian dari mereka, hehehehe ;p habisnya mereka tampak gagah siy!). Paling bikin merinding adalah ketika menyanyikan lagu-lagu nasional, apalagi kemarin orkestra yang dipimpin Dwiki Dharmawan menambah indah aransemen lagu-lagu nasional. Lagu-lagu itu terdengar lebih indah dan megah! Apalagi sewaktu Gita Gutawa menjadi solois di lagu Indonesia Pusaka (kalau nggak salah ;p), itu terdengar indaaaahhhhhhh sekali! Sampai merinding aku! Begitu juga waktu menyanyikan lagu Syukur, salah satu lagu kesukaanku. Hmmm… itulah yang membuat aku bangga menjadi seorang Indonesia.

Kata Papa, di negara lain juga ada upacara semacam ini, tetapi di Indonesia lebih khidmat. Terlihat sangat ribet dan membosankan kadang, tetapi buatku upacara adalah penghargaan untuk bangsa dan negara ini. Pernah nggak kamu merinding dan terharu saat melihat bendera Merah Putih dikibarkan? Aku pernah, sewaktu menjadi petugas upacara (sepertinya dua kali aku mengalami ini, sewaktu SD dan SMP). Rasa haru itu sampai membuatku merasa sesak. Bangga sekali ya jadi orang Indonesia! (^^)>

Selepas nonton upacara, aku langsung bergerak ke dapur, bikin bolu kukus. Gilang sejak pagi rebut banget minta dibuatkan bolu kukus. Memang siy, aku yang janji juga, tapi aku bersikeras untuk membuatkannya setelah upacara, hehehehe. Oya, resepnya aku dapat langsung dari Bude Diah.

Bolu Kukus

500 g tepung terigu

400 g gula pasir

4 butir telur

1 sdm ovalet/TBM

1½ gelas sprite

Hasilnya? Sukses! Hehehehe, mekar sesuai kehendak dan cantik sekali! (^^)/ Cuma sedikit tambahan dari Ibu, harusnya ditambahkan esens vanili biar wanginya semerbak. Kata Papa, agak keras sedikit, mungkin terlalu kental. Lain kali kayaknya takaran tepung dikurangi atau takaran sprite yang ditambah jadi 2 gelas. Nggak apa-apa, yang penting sukses dan hari itu aku kenyang makan bolu kukus!

Wednesday, August 16, 2006

Membaca majalah TEMPO edisi 14 Agustus 2006 benar-benar menggugah hati. Kemerdekaan selama 61 tahun tak dibarengi kemerdekaan hidup. Tulisan Goenawan Mohamad sebagai pembuka amat menyentuh. Dalam tulisan itu, GM mengutip puisi W.H. Auden.

…no one exists alone;
Hunger allows no choice
To the citizen or the police
We must love one another or die.

Lalu GM menambahkan serangkaian kalimat yang menurutku sangat bermakna.

Mungkin “mencintai” bukan kata yang menggelembung. “Mencintai” berarti terpesona kepada yang-beda, menyentuh apa yang terbatas dalam diri sendiri pada saat bersua dengan yang lain, dan sadar bahwa bahasa tak bisa menangkap apa yang ada dalam diriku dan yang lain-lain itu. Dalam kalimat Auden, “Each language pours its vain, competitive excuse.”
“Mencintai” adalah sebuah laku sederhana.

Benar bukan? Aku setuju dengan GM, mencintai ada karena perbedaan, mulai dari beda dalam hal kecil sampai beda untuk suatu hal yang lebih besar. Sederhana saja, mengapa kamu mencintai pacarmu? Seseorang yang sebelumnya tidak kamu kenal dan ‘tiba-tiba’ hadir dalam hidupmu, menemani setiap langkahmu? Apakah kamu mencintainya begitu saja?

Kadang kita memang tidak tahu, apakah alasan kita mencintai seseorang yang tidak kita kenal sebelumnya. Jika kamu menjawabnya karena kalian punya banyak persamaan, menurutku itu tidak sepenuhnya benar. Sebab di antara banyak persamaan itu, kalian tetaplah dua individu yang berbeda, dua pribadi yang berbeda. Sadar atau tidak, perbedaan itulah yang membuat kalian saling mendekat karena punya keinginan untuk saling melengkapi.

Perbedaan sifat dua individu saja kadang bisa menimbulkan konflik hebat. Sering pula menghabiskan banyak energi dan waktu untuk menghadapinya. Namun, bukan berarti bila kita sering bertengkar dengan pacar karena terlalu banyak perbedaan. Toh bila kamu sedang bersama dengan sahabat masa kecil, meskipun kamu menganggap kalian punya banyak persamaan, tetap saja kalian berbeda. Kemungkinan terjadi benturan selalu ada dalam sebuah hubungan dua insan. Kata seorang teman padaku, itulah sebuah relationship, pasti ada suka dan duka. Tantangannya, sejauh mana kita bisa menyesuaikan diri dengan segala perbedaan itu. Sikap toleransi pun menjadi penting dalam membina sebuah hubungan, entah hubungan cinta, persahabatan, keluarga, maupun rekan kerja.

Lalu apa kaitan hal itu dengan renungan 17 Agustus? Sama seperti yang diutarakan GM dalam akhir tulisannya, perbedaan adalah rumah Indonesia.

Mungkin itulah Indonesia, mungkin itulah takdirnya; tempat kita pulang, juga serangkaian rantau, sebuah tempat yang dijelang tapi juga rumah yang meriah dan rumit dalam kebhinekaan.

Ya, perbedaan yang ada dalam diri bangsa kita adalah sebuah takdir. Aku menyebutnya seperti ini:

Kita tak bisa memilih dilahirkan di mana, anak siapa, suku apa, atau bangsa apa. Kita hanya bisa memilih MAU atau TIDAK melakukan sesuatu untuk diri dan lingkungan kita.

Indonesia adalah darah kita, tempat kita berpijak di bumi. Kita tak akan pernah bisa mengingkari bahwa kita orang Indonesia. Mungkin kewarganegaraan bisa diubah, tetapi darah yang sudah mengalir dalam tubuh tidak. Budaya yang telah terinternalisasi dalam diri pun akan tetap melekat.

Akan tetapi, Indonesia yang kini tak sama dengan Indonesia yang 61 tahun lalu. Kebhinekaan yang ada nyaris tercerai berai, membuat kita semakin tak tentu arah. Pertikaian di sana-sini, pertumpahan darah melibatkan saudara-saudara kita sebangsa. Media menyebutnya ancaman disintegrasi bangsa Indonesia yang harus dituntaskan. Pastilah para pendiri bangsa itu menangisi kita, kita yang hampir terpecah-pecah, kita yang ingin semuanya serba sama, kita yang sulit menerima perbedaan, kita yang melihat diri atau kelompok kita lebih baik daripada orang lain, kita yang mudah menilai orang lain berdasar prasangka, kita yang lebih senang menyalahkan orang lain ketimbang introspeksi diri, dan kita yang hanya bisa terdiam melihat kejayaan masa lalu.

Pedih, aku sedih, melihat sedikit sekali orang yang masih memiliki kebanggaan terhadap bangsa dan negara ini. Sakit melihat semakin sedikitnya orang yang menaruh rasa percaya pada pemimpinnya. Kecewa karena orang banyak selalu menuntut ini itu, memprotes ini itu, mengkritik ini itu, tetapi mereka tidak memberikan solusi. Resah karena semakin sering menemui ketidakberdayaan kita menghadapi kemajemukan masyarakat, berbeda dianggap salah, minoritas tak mendapatkan tempat di masyarakat. Semua serba salah, orang jujur tidak dihargai, orang bungkam dianggap lebih baik, abstain menjadi pilihan. Begini salah begitu salah.

61 tahun merdeka pun tak menghasilkan apa-apa. Kedewasaan bangsa Indonesia belum tampak benar. Hal ini terlihat dari sulitnya kita menerima perbedaan, terlebih lagi bila perbedaan itu tampak mencolok dalam masyarakat, seperti agama, kepercayaan, dan suku. Belakangan perbedaan sikap pro-kontra terhadap suatu permasalahan pun bisa menjadi pemicu konflik. Bisa memunculkan kemarahan kelompok mayoritas terhadap kelompok tertentu yang dianggap tak sesuai dengan nilai-nilai kelompoknya. Kelompok-kelompok itu menciptakan dinding pemisah dalam masyarakat, menimbulkan benturan, bukannya melakukan upaya guna menciptakan kerukunan hidup. Entah apa yang dipikirkan masing-masing kelompok sebab aku melihat kecenderungan setiap kelompok untuk mengedepankan kepentingan kelompoknya saja. Malah akhirnya hendak menerapkan aturan-aturan yang tidak jelas dasarnya, meskipun diklaim berdasarkan aturan agama. Padahal, jelas-jelas bangsa Indonesia tidak terdiri dari satu agama saja, mustahil menerapkan hukum berdasar agama mayoritas.

Lelah. Penat. Lalu menjadi apatis. Bukan, bukannya kami tak peduli terhadap kondisi bangsa ini. Namun, kami berpikir tak banyak yang bisa kami lakukan. Memang ada kawan-kawan mahasiswa yang memilih untuk melakukan demonstrasi dan terang-terangan menunjukkan sikap tertentu. Itu bukan pilihanku sebab aku, jujur saja, tidak menyukai demonstrasi. Aku juga mahasiswa, tetapi aku tidak menyukai demonstrasi. Sering berakhir anarkis. Kerap tidak jelas sasarannya, kepada siapa menuntut ini itu, kepada pihak mana kemarahan itu ditujukan. Apa iya benar bila berdemo anti Israel sambil membakar ban di jalan dan melakukan razia atau sweeping terhadap warga asing yang dianggap pro Israel-AS? Sulit, aku sulit mempercayai demonstrasi mahasiswa.

Sebagian dari generasi muda bangsa ini lebih memilih cara masing-masing untuk menunjukkan kami peduli. Pun aku. Lihat saja, masih ada remaja-remaja berprestasi yang mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Ada pula kawan-kawan yang menjadi relawan bencana atau mengajar anak-anak yang putus sekolah. Itu cara mereka untuk peduli dengan bangsa Indonesia.

Aksi ini mungkin tak terekam oleh kamera-kamera televisi, pun tak tersiarkan ke seluruh negeri. Namun, kami tetap peduli. Peduli pada bangsa yang besar ini, peduli akan segala perbedaan yang menjadikan Indonesia sangat kaya. Peduli pada keberlangsungan hidup rakyat Indonesia. Kami peduli dengan cara yang berbeda-beda. Hati kami, pun hatiku, tetap selalu untuk Indonesia.

61 tahun, ibarat perjalanan hidup seorang manusia, maka ia sudah memasuki fase kematangan, mencapai integritas diri, arif, dan berwibawa. Ia bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi anak cucunya, sehingga selalu menjadi tempat berbagi cerita susah dan senang, selalu menjadi tempat meminta nasehat.

Negara ini belumlah demikian. Kemapanan belumlah tercapai. Proses yang begitu lama untuk mencapai kemakmuran itu. Namun, kita tak boleh berhenti menabur asa. Berikan saja kepercayaan dan dukungan kita pada pemimpin, berikan saja kritikan-kritikan yang membangun, berikan saja cinta kita pada pemimpin, berikan saja tempat bagi pemimpin untuk mulai bekerja. Hilangkan dulu prasangka. Dewasakan diri kita untuk mau berbaur dalam kemajemukan Indonesia, bukalah mata dan hati untuk melihat dan mendengar sendiri betapa kayanya negeri ini. Cintailah Indonesiamu, Indonesiaku, Indonesia kita!

Selamat ulang tahun, Indonesia!