Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Saturday, March 18, 2017

BPJS Berkah bagi Kelahiran Runa (1)

Apa yang paling membuat saya deg-degan menjelang persalinan kali ini?

Karena ini untuk pertama kalinya saya memanfaatkan BPJS untuk persalinan. Saat melahirkan Rasya dulu, saya dan suami sepakat memilih RS Pupuk Kaltim sebagai tempat melahirkan. Konsekuensinya, ya kami harus mengeluarkan biaya sendiri. Waktu itu, kami agak terlambat mencari informasi mengenai ASKES yang memang menjadi fasilitas kesehatan suami dari kantornya. Karena sudah kadung nyaman di RS tersebut, kami enggan pindah RS. Namun, untuk anak kedua kami ini, kami harus berkompromi dengan keadaan finansial. Jujur saja, persiapan finansial kami kali ini nggak begitu oke. Jadi, hanya bermodalkan dana seadanya saja sesuai estimasi untuk membayar keperluan perawatan bayi setelah lahir. Kami berharap BPJS bisa membantu menanggung biaya bersalin, sesuai fasilitas yang memang menjadi hak suami sebagai PNS. 

Mungkin memang benar, ketika kita terlalu banyak membaca berita negatif tentang suatu hal, kita jadi ketakutan sendiri. Seperti itulah yang saya pikirkan awalnya tentang BPJS ini. Sampai akhirnya, saya dan suami coba membiasakan diri untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan tersebut. Mulai dari saat saya atau Rasya sakit, hingga melahirkan si kecil kemarin. Ternyata, semuanya nggak seburuk yang saya kira lho. Lagipula, mau pakai BPJS atau asuransi lain pun, rasa sakit melahirkan ya sama saja. Nggak berarti melahirkan di RS yang lebih yahud atau bagus lalu rasa sakitnya juga lebih minim hihihi. 

Jadi, bagaimana cerita persalinan si kecil?

Kontrol Kandungan Rutin
Setelah mendapatkan rekomendasi dokter kandungan dari dokter favorit saya di Eka Hospital, bermodalkan surat rujukan dari faskes 1, saya pun melakukan kontrol kandungan di RS Bunda Dalima. Seperti saya ceritakan di sini, staf dan perawat di RS ini cukup informatif soal pemanfaatan BPJS untuk layanan kesehatan. Saya hanya perlu membawa surat rujukan (jangan lupa difotokopi seperlunya) dan fotokopi kartu BPJS. Biasanya satu surat rujukan berlaku satu bulan sejak tanggal dikeluarkan. Karena memasuki trimester III saya harus kontrol kandungan dua minggu sekali, maka satu surat rujukan bisa terpakai untuk dua kali kontrol kandungan. 

Ketika kontrol kandungan, dokter akan melakukan USG. USG sendiri termasuk dalam komponen biaya yang ditanggung BPJS, tetapi jika kita ingin mencetak hasil USG akan dikenakan biaya. Di RS Bunda Dalima, biaya cetak hasil USG sekitar Rp 80.000,-. Lalu saya juga mendapatkan kartu kontrol prenatal yang harus dibawa setiap kunjungan ke dokter. 

Menjelang melahirkan, waktu kontrol saya menjadi seminggu sekali. Saya sempat kembali ke faskes untuk meminta surat rujukan. Lantaran tenggang waktu antara kontrol terakhir dan melahirkan tak berbeda jauh, saya bertanya kepada bidan di faskes, apakah mungkin surat rujukan tersebut langsung untuk melahirkan di RS. Ketika itu, dokter sudah memutuskan bahwa saya akan menjalani sectio caesaria (SC) karena melahirkan pertama sudah SC, ditambah minus mata kanan saya yang di atas 6 (hampir minus 9), sehingga beresiko tinggi untuk melahirkan normal. Informasi tersebut saya teruskan pula kepada bidan di faskes, sehingga faskes bersedia mengeluarkan surat rujukan yang dimaksud. Nah, surat rujukan inilah yang jadi modal saya melahirkan di RS.

Hari Pertama
Berbeda dengan RS swasta yang biasa saya datangi, untuk RS Bunda Dalima ini memang saya harus proaktif mencari informasi atau bertanya kepada pihak RS sekadar memastikan jadwal praktek dokter. Apalagi jadwal kontrol terakhir saya bertepatan dengan jadwal pilkada, bingunglah saya apakah dokter praktek atau tidak. Saya sampai menelpon tiga kali pada hari itu :p 

Akhirnya, karena dokter tidak praktek, saya pun bicara dengan bidan/perawat dari bagian Kebidanan. Saya sampaikan bahwa saya ada jadwal operasi dengan dokter pada hari Jumat. Bidan pun mengatakan, sudah dapat konfirmasi dari dokter, saya datang langsung saja pada Kamis malam dengan membawa perlengkapan bersalin. 

Kamis malam ditemani kedua orang tua dan Rasya, saya ke RS membawa perlengkapan bersalin. Setelah mendaftar ke bagian pendaftaran, saya menunggu sekitar satu jam sebelum akhirnya bisa masuk ke kamar. Rupanya, di RS tersebut memang pelayanan untuk BPJS sudah cukup jelas standarnya. Kamar yang disediakan pun di satu ruang khusus. Memang terlihat agak sumpek karena kelas I, II, dan III hanya dipisahkan dinding saja. Saya sendiri menempati kelas I yang satu kamar terdiri dari empat tempat tidur. Kamar mandi pun hanya ada satu kamar mandi yang digunakan bersama-sama oleh seluruh pasien dari ketiga kelas tersebut. Awalnya, saya merasa kurang nyaman dengan situasi itu. Namun, saya meneguhkan diri sendiri, "Hei, nggak boleh protes. Namanya pakai fasilitas 'gratis', jadi mesti terima apa adanya." Sebelum ke kamar, saya menjalani pengecekan kondisi janin. Perawat mengukur detak jantung bayi. Sebelumnya, saya juga melakukan tes darah untuk mengecek HB saya. Malam itu akhirnya saya ditemani adik, dan belum diinfus. Bisa tidur? Ya nggaklah :p dan sejak hari itu saya lupa kapan terakhir saya tidur nyenyak....

Hari Kedua
Jumat pagi, suami saya sudah datang. Horeee! Seenggaknya rasa senewen ini berkurang sedikit karena ditemani suami. Orang tua dan Rasya juga sudah berkunjung ke RS pagi itu. Setelah mandi, saya pun diinfus oleh perawat, sambil menunggu jadwal operasi. Berdasarkan hasil lab, HB saya di bawah 10, yakni 9,3. Dokter menyarankan untuk dilakukan transfusi darah lebih dulu agar saat operasi kondisi saya cukup prima. Satu kantung darah pun dipasang untuk menggenjot HB saya.

Menjelang pukul 11.00, saya bersiap menuju ruang operasi. Duh, jangan tanya bagaimana deg-degannya saya ya. Meski ini keempat kalinya saya masuk ruang operasi, dan kedua kalinya melahirkan secara SC, tetap saja rasa khawatir melanda. Ditambah melihat wajah Rasya dan suami sebelum masuk ruang operasi, bikin saya mewek deh ..., untuk alasan yang saya pun tak bisa menjelaskan. Masuk ruang operasi yang dingin pun, saya cuma bisa tergolek pasrah disuruh ini itu atau dipakaikan apapun oleh perawat. Sudah nggak bisa mundur lagi. Hanya bisa terus mengucapkan doa dalam hati, semoga operasinya lancar!

bersambung ke bagian 2 ya :)

No comments:

Post a Comment