Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Thursday, November 19, 2015

Catatan Rasya (30): Corat-Coret Bermakna


Main cat dan kuas
(Oktober 2014)
Heyho!
Lama tak bersua! Maafkan saya yang meninggalkan blog ini lantaran kesibukan menggila beberapa waktu belakangan. Sebetulnya, nggak pernah ada alasan tepat untuk mengabaikan blog, bukan karena nggak sempat, tapi memang nggak mau. But anyway, rasanya ini waktu yang tepat untuk berbagi cerita terbaru tentang Rasya, si anak lanang.

Kadang nih, saya khawatir momen penting tentang Rasya terlewatkan begitu saja jika saya lupa menulisnya. Makanya, kalau saya tak sempat post di blog, saya sering post status di Path atau FB. Well, it helps me a lot. Bagaimana kabar anak lanang? 

Dia tumbuh sangaaaattttt cepat! Menjelang akhir semester I duduk di TK A, ada banyak kemampuan Rasya yang berkembang pesat, sampai saya sering takjub melihatnya. Kebetulan, saya bukan tipe orang tua yang cukup telaten untuk mengajari anak di rumah alias mengulang pelajaran sekolah (oke, kecuali saat ia SD nanti). Saya merasa, apa yang ia pelajari di sekolah sudah cukup, berlebih malah. Tanpa saya tahu, ternyata di sekolah Rasya sudah belajar mewarnai, menggambar, bahkan menebalkan huruf. Hmm...apa iya anak TK A harus sudah sampai pada tingkat itu? Terlebih lagi, wali kelas Rasya sangat telaten mengulang apa yang dipelajari anak-anak hari itu, dengan menanyai mereka satu persatu sebelum pulang sekolah. Kadang kok malah saya yang takut anak-anak ini belajar level yang lebih advance terlalu awal. Makanya, di rumah saya tidak ingin memaksa Rasya mengulang semua apa yang ia pelajari di sekolah, KECUALI ia sendiri yang memeragakannya di depan saya atau ia meminta bantuan saya untuk mengajarinya. 

Salah satu corat-coret Rasya pertama
(Desember 2013)
"Prasasti" bikinan Rasya di dinding rumah Bontang
(April 2014)

Nah, ini yang terjadi belakangan ini. Rasya tak lagi hanya sibuk bermain mobil-mobilan, sepeda, atau nonton Disney Junior, ia juga mulai tertarik corat-coret. Dari dulu, saat di Bontang, ia sebetulnya sudah tertarik corat-coret. Dinding ruang tamu jadi saksi bisu hasil coretan Rasya yang merah merona :p Sejak pindah ke sini, bukan sekali dua kali saya belikan buku mewarnai. Namun, ia belum begitu tertarik. Paling Rasya suka bermain cat dan kuas. Lama kelamaan ia suka sekali corat-coret di whiteboard dengan spidol. Kebetulan, saya pernah baca bahwa menulis di bidang vertikal adalah salah satu cara tepat untuk melatih prewriting skills anak. Jadilah Rasya dapat 'hibah' whiteboard kecil di rumah dari Uti. 

Rasya senang bermain menjadi guru, di mana ia adalah pak guru dan saya muridnya. Ia akan menunjukkan 'keahlian' barunya, membuat berbagai bentuk, angka, dan huruf. Kalau sudah begitu, Rasya tampak sangat bangga dan ia bilang, "Ma, Ma, aku bisa bikin angka 2!" Hampir setiap hari ia corat-coret whiteboard kesayangannya. Kadang ia minta saya mencontohkan, bagaimana bikin huruf ini atau angka ini. "Ma, aku nggak bisa bikin angka 7. Angka 7 gimana, Ma?" Juga saat ia terbalik membuat angka atau huruf. Hihihi, lucunya. 
Minggu ini bisa dibilang minggu pencapaian Rasya, bagi saya tentunya. Tahu-tahu ia bisa bikin gambar mobil, setelah beberapa kali melihat contoh gambar dari ayahnya, saya, dan Gilang. Kemarin malam, Uti cerita bahwa menurut gurunya, Rasya sudah bisa menulis namanya sendiri. Ia pun langsung mempraktekkannya. Meski masih perlu perbaikan sedikit, tapi ia sudah paham namanya terdiri dari huruf apa saja. Tahu tidak, mendengar dan melihat sendiri kemajuan Rasya saja bikin saya merinding sekaligus terharu. Alhamdulillah. Semoga saja kurikulum yang diterapkan sekolah masih dalam batas wajar, artinya tak mendorong anak untuk lebih cepat membaca, menulis, dan berhitung. Jika Rasya belum bisa mengikutinya dengan baik, saya tak ingin memaksanya. Biarkan ia sendiri yang 'mencari tahu' kapan ia bisa melakukan semuanya. Ia akan sampai sendiri kok ke garis finish, kita tinggal support 100% pada apa yang ia lakukan.

Dan bagian paling melegakan adalah, saat saya bertanya apakah ia senang belajar, ia menjawab,

"Aku suka belajar, Ma."

Terima kasih, Rasya, mudah-mudahan memang menyekolahkan kamu lebih awal adalah keputusan tepat Ayah dan Mama. Mama senang Rasya bisa dan mau mengikuti semua kegiatan sekolah dengan happy (eh, masih ada satu PR, yaitu supaya Rasya mau ikut berenang!). Semoga sekolah tetap akan menyenangkan untuk kamu nantinya. Kalaupun di sekolah tak sesuai harapan, kita bisa membuat pelajarannya jadi seru dan menyenangkan di rumah! *self-note*

"Anak-anak ini gambar apa?" tanya Rasya
"Roketttt!"
(Oktober 2015)
Ini mobil
(November 2015)

No comments:

Post a Comment