Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Tuesday, March 15, 2011

Cepat sembuh, Ibu......

Bersama Ibu & suami pada hari resepsi pernikahan :)

Saya memanggil beliau 'Ibu'.
Sejatinya, Ibu adalah nenek saya. Namun, entah karena terbiasa mendengar para orang tua kami memanggil beliau 'Ibu', jadilah kami - cucu-cucu yang tergolong senior- ikut memanggil beliau 'Ibu'. 

Saya dan Ibu sangat dekat. Moment kedekatan kami adalah sejak saya kuliah di Jogja. Ketika Eyang Kakung meninggal tepat pada hari pertama pelaksanaan UAN SMA tahun 2003, Ibu pasti merasa kesepian. Tanpa saya sadari, saya jadi lebih sering menengok Ibu, hanya untuk sekedar melihat atau menanyakan apa yang Ibu lakukan hari itu. Begitu saya pindah ke Jogja, otomatis lebih jarang bertemu. Namun, setiap saya pulang ke rumah, saya selalu ngobrol panjang lebar dengan Ibu. Ibu jugalah yang pertama kali menyatakan setuju dengan pacar pilihan saya (yang sekarang jadi suami), sementara Mama bilang masih belum sreg.

Setelah saya bekerja pun, setiap pagi sebelum berangkat dan pulang kerja saya menyempatkan diri melihat Ibu. Selalu. Saat saya memasak sesuatu, saya pasti minta Ibu untuk mencicipi apakah rasanya sudah pas atau belum. Ibu senang sekali saat saya memasak pasta dengan saus keju. Sepiring sedang habis dimakan Ibu! Rupanya, lidah Ibu masih lidah Londo alias Belanda. Maklum, Ibu besar pada zaman penjajahan. Jadi, Ibu masih fasih berbahasa Belanda! 

Saat dipingit sebelum menikah kemarin juga saat-saat menyenangkan bagi saya. Ibu  sibuk mempercantik rumahnya yang hanya dibatasi satu pintu dengan rumah saya. Karena rumah Ibu juga akan bersolek saat hari pernikahan saya. Ibu membongkar peti yang berisi harta karun! Harta karun? Iya, harta karun Ibu adalah kain, gorden, taplak meja, sprei, dan barang-barang lain yang dulu dibeli Ibu di luar negeri, atau oleh-oleh dari teman yang baru pulang dari luar negeri. Wuiiihhh.......barang-barang vintage! Semua barang itu masih tersimpan rapi dan Ibu masih ingat ini dari siapa, beli di mana. 

Sampai kemarin sore, saya masih menelpon Ibu. Ibu menanyakan kondisi saya, mengingatkan saya untuk tidak terlalu banyak mikirin macam-macam. 'Memang apa sih yang kamu pikirin? 'Kan nggak ada apa-apa yang mesti dipikirin toh?' Begitu kata Ibu. Ibu juga mengingatkan saya untuk tidak naik turun tangga terlalu sering. Lalu saya bertanya pada Ibu, apakah Ibu sehat. Ibu bilang, Insya Allah akan sehat selalu. Ibu ingin sekali diberikan lagi umur panjang, supaya bisa menanti kelahiran cicit kedua dari saya. Saya pun berucap amin dan mengingatkan Ibu supaya tetap jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah.

Namun, semalam sepupu saya mengabarkan bahwa Ibu sakit. Saya panik dan menghubungi Mama. Saya menangis. Hampir semalaman saya sedih dan kalut. Setiap terbangun yang saya ambil selalu HP, mengecek apakah ada kabar terbaru. Ternyata, kata Mama, mendadak Ibu sesak napas dan nggak nyambung diajak berbicara. Ibu juga tidak mengenal siapapun di rumah. Menjelang tengah malam, Mama membawa Ibu ke Eka Hospital BSD, dan Ibu masuk UGD. Tadi pagi, Mama mengabarkan, Ibu masuk HCU, semacam ICU tapi tingkatnya masih di bawah ICU. Kondisi Ibu belum stabil, tekanan darahnya tinggi, dan nggak nyambung diajak ngomong. 

Saya lemes sekali mendengarnya....
Rasanya ingin bisa pulang ke Jakarta hari ini juga....
 
Alhamdulillah, menjelang siang ini kondisi Ibu sudah lebih stabil. Hasil lab juga baik, gula darah, kolesterol, asam urat, semuanya dalam kondisi normal. Memang ada pembengkakan di jantung. Selain itu, Ibu terserang stroke, yang mengenai otak kiri beliau. Akibatnya, Ibu kehilangan fungsi memori dan bicara. Ibu tidak mengenal siapapun yang mengajaknya ngobrol. 

Kondisi inilah yang membuat Mama meyakinkan saya untuk tetap di Bontang. Apalagi kondisi kandungan saya belum kuat benar. Terlalu bahaya jika pulang ke Jakarta. Dengan berat hati, saya mengiyakan saran Mama. Walaupun rasanya ingin sekali terbang ke sana.... :(

Hhhhh.............
Hari ini saya berjuang untuk mengusap air mata saya. Paling tidak, saya juga tidak ingin membuat suami, Mama dan keluarga saya lebih khawatir karena kondisi saya. Saya harus kuat! Untuk calon bayi saya dan untuk Ibu. 

Saya hanya bisa berdoa...
Semoga keadaan Ibu semakin membaik dan Ibu bisa menjalani proses pemulihan, sehingga kembali seperti sedia kala. Mudah-mudahan Allah SWT akan memberikan yang terbaik untuk Ibu. Amin. 

Mohon doa ya teman-teman...

No comments:

Post a Comment