Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Monday, April 25, 2011

Kicau Kacau - kicauan yang menggelitik


Saya mengagumi Indra Herlambang. Dua kali pertemuan dengan seorang Indra Herlambang, saat saya masih menjadi teman setia 'Emak' Ratih Ibrahim, masih terekam dengan jelas. Pembawaan Indra yang santai, lucu, hangat, dan juga bisa serius memang sukses membuat saya mengaguminya. Lucu dan serius terkesan bertolak belakang. Namun, kalau kamu mengikuti kicauan Indra di twitter (@indraherlambang) setiap tweet yang dikicaukan mewakili suatu pemikiran yang kritis, dibalut dengan rasa jenaka. Itulah mengapa saya merasa saya HARUS membeli dan membaca buku Kicau Kacau. 

Untunglah, saat saya ke Gramedia PIM pada Sabtu lalu buku bersampul kuning itu - lengkap dengan gaya Indra yang berpose dan berkostum burung - langsung mencuri pandangan. Kebetulan sore itu juga akan ada acara book signing Kicau Kacau. Sayangnya, saya tidak sempat mengikuti acara tersebut. Buku sudah di tangan. Buku yang terhitung cetakan ke-4 itu adalah incaran saya selama ini. Rasanya, saya seperti mendapat berkah begitu memegang buku ini! 

Dua hari saya butuhkan untuk melahap habis buku ini. Tulisan-tulisan dalam buku tersebut lebih dari sekadar lucu bagi saya. Bayangkan, ketika kita membaca tweet Indra saja kita bisa tersenyum simpul dibuatnya. Bagaimana jika membaca tulisannya? Tulisan yang terkumpul dari beberapa majalah ini cukup memikat. Saya sering senyum-senyum sendiri membaca kalimat-kalimat yang dituangkan oleh Indra. Di balik itu semua, ada pikiran-pikiran kritis yang muncul. 

Meskipun seorang Indra Herlambang menyebut semua pendapatnya berasal dari hasil analisa sederhana dan bodoh, saya justru berpikir sebaliknya. Dengan berpikir sederhana, kita malah bisa melihat hal-hal kecil yang bisa jadi selama ini kita abaikan. Tanpa berteori panjang lebar nan rumit, berpikir sederhana membantu kita berpijak dan berakar pada esensi kita sebagai manusia sejati. 

Di bawah ini saya ingin mengutip beberapa bagian tulisan dan mengena bagi saya. Izinkan saya ikut mengomentarinya meski sedikit.
  • Lupa adalah hal lumrah. Manusia dikarunia sebuah perangkat canggih bernama otak. Bayangkan otak tersebut diisi banyak hal setiap harinya. Banyak hal yang harus diingat, banyak hal yang harus disimpan. Lupa adalah manusiawi. Namun, bagi Indra lupa adalah anugerah terbesar yang membuat kita tetap waras.
Saya sih cukup yakin bahwa manusia dibikin untuk bisa lupa demi kebaikan kita sendiri. Karena ada banyak hal yang lebih baik dilupakan supaya kita bisa tetap waras. Lupa menurut saya, adalah anugerah terbesar dari Sang Maha. Bayangin kalau kita bisa dan selalu ingat semua hal? Apa nggak ribet hidup kita? (Mengingat Lupa, hal. 37)
  • Boleh dibilang, manusia suka sekali berprasangka. Menilai orang dari apa yang dilihatnya, menilai orang dari penampilan semata. Prasangka tersebut kadang menjadi asumsi, bahkan seolah dianggap memang begitu adanya orang tersebut. Padahal, kita tidak pernah tahu apa saja yang telah dilalui orang itu, karena kita tidak pernah menjadi mereka.
Jadi untuk menjawab pertanyaan: bagaimana rasanya mewawancara Miyabi? Saya hanya bisa bilang: rasanya seperti ditampar dan diingatkan untuk berhenti menghakimi. (Mengulik Miyabi, hal.89)
  • Mengingatkan saya pada artikel Soliter yang menjadikan saya sebagai narasumber di majalah Cita Cinta. Soliter adalah kebutuhan, soliter adalah me time, waktu yang tepat untuk berdialog dengan diri sendiri, tentang apa saja: pilihan hidup, pekerjaan, percintaan, keluarga, juga urusan dengan Tuhan. Justru dari kesendirianlah membuat kita siap untuk nyemplung ke dunia nyata.
Saya cinta keluarga saya, saya cinta sahabat dan teman-teman saya. Tapi saya juga cinta diri saya. Karenanya menikmati waktu dengan diri sendiri. Berteman dengan diri sendiri. Berdialog panjang dengan diri sendiri. Buat saya bukan merupakan pilihan, tapi keharusan. Apalagi sebenarnya di ujung hidup ini ada kematian. Sesuatu yang harus benar-benar dijalani sendirian. Tanpa teman. (Satu Telunjuk untuk Menjawab Banyak Pertanyaan, hal. 151)
  • Saya adalah pelanggan setia taksi saat bekerja di Jakarta dulu. Entah berapa puluh supir taksi yang sudah saya temui. Penggolongan yang dilakukan Indra dalam tulisan Inter(t)aksi saya amini. Setuju banget! Sekalinya bertemu supir yang doyan curhat, ia curhat panjang lebar soal istri dan anak. Lain waktu saya bertemu dengan supir gaul, lantaran dia memasang lagu Jason Mraz untuk saya, lengkap dengan cerita selera musik dan pelanggan setianya. Pendek kata, interaksi dengan supir taksi bisa membawa kita pada dunia lain, dunia bapak/ibu supir taksi yang memberikan sudut pandang berbeda pada setiap persoalan.
Namun jika mau sedikit saja berinteraksi, kita tidak pernah tahu apa yang akan didapat nanti. Mungkin saja banyak hal berguna. Seperti pengalaman, sudut pandang atau pengetahuan yang baru. (Inter(t)aksi, hal. 172)
  • Kunci penjara yang mengekang kita tak lain adalah kita sendiri. Waktu yang cuma 24 jam ini kita mampatkan dan padatkan sedemikian rupa. Kita yang membatasi waktu dan kesempatan, kita yang membatasi ruang gerak kita sendiri. Jadi, bergantung pada kita saja, mau lepas bebas atau sekreatif mungkin menghias penjara kita?
Kali ini dengan senang hati saya akan mengakui bahwa dalam hidup saya masih banyak penjara kecil yang saya ciptakan sendiri. Mengingat masa tahanan di dalam 'penjara-penjara' ini masih cukup lama, pilihan yang ada tinggal dua. Segera kabur atau mencoba menikmatinya dan mendekorasi 'penjara' ini dengan wallpaper serta pendingin ruangan, hingga menjadi terasa lebih nyaman. (Siapa yang Ada di dalam Penjara? hal. 241)
  • Dalam kehilangan, selalu ada sisi terang yang harus kita lihat. Kehilangan boleh jadi membawa kita kembali ke titik awal, membuka kembali lembaran baru, atau menyadari bahwa semua miliki kita berstatus titipan. Ikhlas, itulah obat mujarab mengatasi kehilangan.
Mungkin benar, orang yang paling beruntung adalah mereka yang sadar bahwa di dunia ini mereka tidak punya apa-apa. Karena mereka pasti tidak akan pernah kehilangan. (Hilang, hal. 256)

Bagi saya, tulisan-tulisan Indra sukses menggelitik untuk berpikir lebih dalam tentang apa saja yang kita lihat. Hal remeh temeh sekalipun bisa menjadi bahan pemikiran menarik dan bisa disikapi dengan kritis. Bukan soal apa yang dibicarakan atau dibahas, tetapi bagaimana kita melihat segala sesuatu hal secara mendalam, mengupasnya selapis demi selapis, hingga kita bisa melihat dasar permasalahnnya. 

Buku ini adalah salah satu buku WAJIB punya di rak buku. Bacalah dan pasti kita tersenyum super lebar dibuatnya!
 

4 comments:

  1. Aku udah sering main ke blog ka dita loh hehe. Mau dooong bukunyaaaa :D

    ReplyDelete
  2. hahaha, iya yaaa..makasih lhooo ;)
    minta indri cari di jkt trus kirim ke aussie! :D
    buku ini dapet nilai 4,5/5 dari gue hehehe

    ReplyDelete
  3. Ups! ralat, kirim ke NZ! hehehe :D

    ReplyDelete
  4. Haha kalo kaya gitu entar berat diongkos ka dita haha. Tp boleh jg sih kalo besok2 skalian mau ngirim barang dr indooo.

    ReplyDelete