Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Wednesday, May 08, 2013

Catatan Rasya (16): Menanti Kata

Beberapa minggu lalu, saya pergi ke dokter spesialis anak di RS untuk mengecek kondisi Rasya, plus minta vitamin dan obat panas untuk jaga-jaga di rumah. Setelah diperiksa, berat badan Rasya masih di angka 8,5 kg, sementara saya merasa sebetulnya Rasya sudah bertambah besar. Si dokter bilang, untuk perkembangan motorik kasar dan halus Rasya terbilang baik. Namun, kemampuan berbahasanya harus lebih distimulasi.

Iya, Rasya memang baru jelas melafalkan 'mamam' untuk makan. Sisanya, ia hanya bilang 'uh!' seraya menunjuk benda-benda di sekitanya. Meski demikian, ia bisa dan mengerti bila diajak berkomunikasi, termasuk mengikuti permintaan atau perintah kita. Rasya banyak mengandalkan bahasa non verbal untuk mengungkapkan maksudnya. Menurut si dokter, harusnya di usia 15 bulan Rasya sudah menguasai 6 kata tunggal.

Kalimat berikutnya lebih terasa seperti geledek untuk saya. Dokter bilang, bagaimana kalau Rasya ikut terapi wicara untuk membantu perkembangan bahasanya. Glek! Apakah memang segawat itu? Padahal, di rumah setiap hari Rasya minta dibacakan buku. Si mbak juga pasti ajak ia ngobrol, termasuk setiap akan melakukan aktivitas: mandi, makan, minum, tidur, main, dll.

Saya sih tetap berusaha berpikir positif ya. Saya tanyakan pula detailnya jika ingin melakukan terapi wicara. Saat bertemu teman yang biasa menangani terapi wicara, ia bilang sebetulnya belum mengkhawatirkan, terus distimulasi saja sambil mengajak anak memegang leher kita untuk merasakan getaran suara.

Pada dasarnya, setiap anak akan mencapai milestone dalam rentang waktu berbeda. Kita sebagai orang tua tak perlu memaksa anak untuk cepat sampai di sana. Kalau kata orang lama, pasti anak itu akan ada tahap yang mendahuluinya. Mereka yang tumbuh gigi dan jalan lebih dulu, biasanya baru bicara belakangan. Begitu juga sebaliknya.

Apakah saya harus khawatir?
Iya, tetapi kekhawatiran yang terkendali. Saya berkata pada suami, mungkin kita harus menetapkan deadline, kapan perlu membawanya ke dokter atau psikolog. Kami sepakat untuk terus memantaunya hingga Lebaran nanti, pas ia berusia sekitar 17-18 bulan. Sekarang tetap distimulasi secara rutin, tetapi tidak terus menerus. Ya tetap dengan membacakannya buku, menggunakan flash cards, melafalkan setiap benda dengan jelas sambil melihatnya, dan cara lain yang saya tahu. Mungkin teman-teman punya cara lain?

Setelah ke Jakarta kemarin sih, babbling Rasya lumayan banyak. Konsonannya bertambah, sekarang ada 'bababa' atau 'yayayayay'. Ia juga bisa jelas memanggil saya, 'Ma!' Selebihnya, kami masih harus bersabar menunggunya mau bicara. Semoga!

No comments:

Post a Comment