Laman

  • Home
  • About Me
  • Contact Me

Monday, May 13, 2013

Cerita dari Balik Lensa

Bukan, ini bukan tulisan tentang hobi memotret. Ini tulisan tentang nasib saya harus memandang dunia dari balik lensa bergagang alias kacamata. Saya sudah berkacamata hampir 20 tahun. Ehem, kok kesannya kayak mau merayakan kebersamaan bersama kacamata ya? :p Tapi bener lho, tahun ini persis saya 20 tahun berkacamata.

Saya ingat betul, pertama kali berkacamata saat duduk di kelas 3 SD. Dulu di kelas saya kebagian duduk di belakang. Lalu setiap kali ulangan, saya kerap salah menulis soal, akibatnya hasil hitungan pun salah. Ujungnya, nilai saya pun turun. Wali kelas saya, Ibu Anny, pun curiga dan meminta orang tua membawa saya ke dokter mata. 

Seumur-umur baru kali itu ke dokter mata. Diperiksa, disuruh membaca tulisan dalam jarak tertentu, dan mengenakan kacamata periksa yang bentuknya aneh plus berat karena berlensa kaca. Setelah dari dokter mata, orang tua pun membawa saya ke salah satu optik ternama di Jakarta. Sepanjang jalan dari dokter mata hingga optik, saya berusaha membaca plat nomor kendaraan yang seliweran di depan mobil, dan menghasilkan bayangan buram di antara angka-angkanya. Kadang, saya harus memicingkan mata supaya pandangan saya lebih jelas. 

Sampai di optik tersebut, saya diperiksa lagi. Sampai akhirnya vonis itu datang, saya harus pakai kacamata minus 2! OMG! Jadilah, saya berkacamata tepat usia 8 tahun. Itu sekitar tahun 1993. Pilihan kacamata saya ditentukan oleh Papa, yang sampai sebelum menikah sangat berperan dalam urusan perkacamataan ini. Ya namanya juga tahun 90-an, kacamata yang ada ya bermodel gede dan beraura 1980-an, minus jambul tentunya.
Hayo, saya yang mana? Bukan yang berjambul tauuu! :p
Sejak saat itu secara berkala saya memeriksakan mata ke optik tadi (yang sampai sekarang jadi andalan tiap ganti kacamata). Minimal 1-2 tahun sekali saya ganti kacamata. Nggak berasa sih, soalnya masih dibayarin orang tua. Begitu sudah bekerja, apalagi menikah, baru berasa kalau mengganti kacamata itu biayanya besar! Terlebih bagi saya yang berminus luar biasa tinggi.

Ya, nggak tahu kenapa, sejak berkacamata, minus mata kanan saya melonjak dengan cepat. Sementara mata kiri saya kenaikan minusnya terbilang wajar. Dari minus dua, mata kanan saya sempat mencapai minus 9, sementara mata kiri 'cuma' minus 4,75. Kebayang dong betapa tebalnya kacamata saya? Makanya, Papa selalu memilihkan lensa plastik yang tipis supaya saya nyaman mengenakan kacamata. Rasanya dengan minus setinggi ini nggak mungkin pakai lensa kaca. Pasti kacamata melorot terus dari hidung yang mancung ke dalam ini :p

Sialnya, semakin tipis lensa plastik itu, semakin dalam pula harus merogoh kantong. Ya nasiiibbbb, beginilah nasib berminus tinggi. Ndilalah, minus mata tinggi itu juga mendatangkan vonis lain buat saya: retina mata tipis. Kondisi ini saya ketahui saat melakukan tes kesehatan untuk melamar pekerjaan dulu. Si Om Dokter bilang, tampaknya retina mata saya tipis. Waktu itu Om Dokter menyarankan saya untuk laser, yang biayanya bisa dipakai untuk bayar dua semester kuliah pasca sarjana di UGM :p Akhirnya, melakukan lasik itu menjadi impian yang belum bisa masuk tujuan jangka pendek saya.

Oya, saya juga sempat berlensa kontak pada tahun 2008-2010. Alasannya mah singkat, pengen gaya berkacamata hitam! Demi gaya, demi tampak keren. Sampai saat menikah dan bulan madu, saya masih gandrung berlensa kontak. Cuma, sekali lagi, urusan ini juga merogoh kocek dalam. Ya itu tadi, kondisi minus mata yang berbeda membuat saya harus membeli dua kotak lensa kontak berbeda ukuran untuk sekali beli. Rogoh terus dalam-dalaaaaaammmm........................
Tahun 2007
Tahun 2008
Tahun 2010, pas nikah lens kontak itu harus!
Eksis abis pake kacamata item! 8D
Begitu menikah, saya simpan deh semua perlengkapan lensa kontak. Selain sudah malas (pakai lensa kontak, telaten itu HARUS!), saya juga lebih suka kacamata karena lebih praktis, tinggal pakai. Pun saat melahirkan, dokter kandungan minta saya melahirkan lewat operasi semata khawatir dengan kondisi minus mata saya (bisa dicek di sini dan sini untuk alasan medisnya). Kacamata saya yang terakhir itu sudah berumur. Sampai gagangnya sudah kusam karena keringat dan bantalan hidung berganti dua kali. Belum lagi sering ditarik-tarik Rasya.

Nah, pas ke Jakarta kemarin, saya sekalian memeriksa mata ke optik kondang langganan saya itu. Setelah periksa dua kali, mas-mas optik bilang minus mata saya turun! Wuaaaaah! Saya sempat nggak percaya, yang benar inih??? Jadi, sodara-sodara, minus mata kanan dan kiri saya berkurang hampir 1 angka! Alhamdulillah! 

Tinggal pertanyaan besar, kok bisa??
Entahlah, yang jelas memang ada perbedaan ketika memakai kacamata lama dan kacamata baru. Mata saya harus menyesuaikan dengan lensa baru, yang kadang menimbulkan pusing nggak enak. Begitu pakai kacamata lama, bikin pusing. Tapi dengan kacamata baru, saya masih harus menyesuaikan diri juga, terutama di tempat ramai. Mudah-mudahan sih benar ya minus mata ini turun. 

Cuma agak curiga nih, apakah minus mata yang turun ini akan berdampak pada plus mata saya? Aarrrggh, jangan! Saya masih mudaaa!!! *benerin posisi kacamata yang melorot melulu*

Kacamata pilihan suami, katanya jadi ala Diana Rikasari :D

1 comment:

  1. Penggunaan Kontak lens akan sangat berbahaya jika kita tidak tau cara penggunaan dan perawatannya. Tp, akan sangat bermanfaat jika hal itu kita kuasai.

    Saya menemukan online shop baru yang menjual SoftLens warna online x2, geo lens, omega dengan harga terjangkau dan gratis ongkos kirim serta dapat dipercaya. ayo cekidott...

    ReplyDelete